
Alby sudah rapi dengan pakaian formal. Dia tampak semakin mempesona dengan kemeja lengan panjang berwarna biru muda.
"Jang, meuni kasep pisan maneh teh?!", sapa Mila pagi-pagi sudah berkutat dengan peralatan tempur nya di dapur.
(Jang, ganteng banget kamu)
"Hehehe sok kitu teh Mila mah. Era ning urang teh", kata Alby tersipu malu.
(Sok gitu teh Mila mah. Malu jadinya aku tuh)
"Mau ke mana pake baju rapi kaya gitu?", tanya suami teh Mila yang sedang meminum kopi.
"Kata Tuan, habis anterin non Silvy suruh ke kantor nya mang. Kerja nya dobel mang, di kantor sama jadi supir non Silvy!", kata Alby.
Mila meletakkan segelas teh dihadapan Alby.
"Hatur nuhun teh!", kata Alby.
Tapi teh Mila tak menyahut apa-apa. Dia kembali dengan pekerjaannya memasak.
"Di kantor? Kerja apa dek?", tanya Mang Sapto, suami teh Mila yang memang orang Jawa. Dia baru kembali dari kampung kemarin malam.
"Di tempatkan di bagian apa, saya kurang tahu mang. Bilangnya mah suruh ke kantor habis anterin non Silvy."
Mang Sapto melirik istrinya yang sepertinya tak ikut nimbrung obrolan. Padahal biasanya Mila suka ikut merecoki obrolan suaminya.
"Kok aneh ya? Tumben tuan Hartama mau mempekerjakan supir sekaligus di kantor juga", tanya Sapto heran.
"Kamu sarjana dek?", tanya Sapto lagi.
Alby yang sedang menyesap teh nya pun menggeleng.
"Cuma SMA mang, tepat nya SMK."
Kini mang Sapto gantian mengangguk pelan.
"Awalnya saya juga bingung mang. Kok tuan nawarin gitu, apalagi...tuan bilang mau bantu biayai pengobatan Mak saya. insyaallah Mak saya mau pasang ring jantung, biayanya kan mahal."
"Tuan mau ngasih pinjeman cuma-cuma begitu?", tanya Sapto sambil melirik istrinya. Dan di saat yang sama, sang istri pun melirik suaminya. Pandangan mereka bertemu.
"Kalo di bilang cuma-cuma saya ngga tahu deh mang. kayanya ngga deh. Soalnya itu kan duit banyak banget. Makanya... mungkin...tuan nyuruh saya kerja di kantor biar gaji saya dobel, jadi di potong buat cicilan nya lebih gampang!"
"Apa pikiran mu sepositif itu sama orang lain dek?", tanya mang Sapto. Dia merasa ada yang kurang wajar. Tapi dia tak sampai hati mengatakan kepada Alby. Terlebih, Alby begitu semangat saat menceritakan pengobatan ibunya.
"Udah sarapan aja dulu, nanti baru ngobrol lagi."
Mila meletakkan makanan di depan dua pria beda usia itu. Setelah itu ia beralih ke meja makan. Ia menyiapkan roti bakar dan juga susu untuk anak majikannya. Tak lupa secangkir kopi hitam untuk sang tuan.
"Mila!", panggil Hartama. Mila yang awalnya akan beranjak meninggalkan meja makan pun menghampiri tuannya.
"Iya tuan?!", kata Mila.
"Saya ingin bicara!", kata Hartama, dia meninggalkan Mila yang bengong di hadapannya. Lalu, Mila pun mengikuti tuannya menuju ruang kerjanya.
"Duduk!", titah Hartama.
"Iya tuan!", kata Mila patuh duduk di depan Hartama sambil tertunduk.
"Saya tahu, kamu tahu rencana saya!",kata Hartama melipat kedua tangannya di atas meja.
__ADS_1
"Re ... rencana apa ya tuan?", kata Mila gagap.
"Silvy tertarik dengan Alby!", kata Hartama.
Mila mendongakan wajahnya menatap tuannya.
"Hah?", Mila terperangah.
"Kenapa? Ada yang salah?", tanya Hartama.
"Tuan, Alby sudah beristri."
"Saya tahu!", sahut Hartama santai.
"Jadi?", tanya Mila.
"Jadi??? jadi apa? Tentu saja saya akan mewujudkan keinginan putri saya untuk memiliki Alby."
"Astaghfirullah, tuan!",desis Mila.
"Saya tahu, Alby dekat sama kamu. Tugas mu, bantu saja membuat Alby setuju!"
"Astaghfirullah, tuan. Saya tidak bisa melakukan hal itu."
"Kenapa? Toh dia bukan siapa-siapa kamu? Kamu kerja buat saya!", Hartama menekan kata 'kerja' di ucapan nya.
Mila mendongak sambil menggeleng. Mila sudah puluhan tahun ikut majikannya itu. Dia paham sekali, seperti apa sayangnya sang majikan kepada putri saya. Terlebih setelah Silvy mengalami kecelakaan parah yang membuat kaki nona muda nya terluka.
"Maaf sebelumnya tuan, tapi...non Silvy masih muda. Dia cantik. Siapalah Alby, dia hanya orang kampung sama seperti saya. Lagi pula dia juga sudah memiliki istri tuan."
"Memangnya kenapa kalo dia orang kampung? Saya tak pernah membeda-bedakan status sosial orang lain kan?"
"Apa salahnya poligami Mila?"
"Poligami ngga salah tuan, tapi..."
"Tugas mu hanya membuat Alby menyetujui keinginan Silvy!"
"Astaghfirullah!", gumam Mila.
"Setelah saya mengatakan keinginan putri saya, saat itu juga kamu mendukung saya untuk membuat Alby menyetujui nya."
"Tuan, saya sebagai seorang perempuan terus terang tidak mau di madu tuan!"
"Bukan kamu yang di madu kan Mil?",kata Hartama.
"Memang bukan tuan, tapi non Silvy masih muda tuan. Juga...gimana dengan istrinya Alby di kampung tuan. Pasti akan sakit hati jika tahu suaminya menikah lagi."
"Kalo Silvy yang muda saja bersedia, kenapa istrinya tidak? Toh yang penting Alby masih sanggup menafkahinya tiap bulan?Masih membiayai pengobatan ibunya?"
"Maaf tuan, bukan maksud saya lancang. Tapi... bagaimanapun jika istrinya Alby nanti tahu. Kasian non Silvy, nanti di cap sebagai pelakor. Apa kata orang nanti tuan?"
Hartama mencoba mencerna ucapan Mila. Dia diam sejenak.
"Apa peduliku dengan omongan orang? Yang penting putri ku bahagia! Saya tinggal mengarang cerita saja, jika putri saya jatuh cinta terhadap supir pribadinya. Kami tidak pernah memandang kasta kan? Kamu tahu seperti apa saya!"
Ya, benar! Meski tampak arogan, tuan Hartama tak pernah mengecilkan kami sebagai kaum rendahan seperti ini.
Tapi untuk kasus ini, apakah tindakan bos nya itu di luar batas kewajaran? Menginginkan putrinya menikah dengan suami orang???
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi...maaf sekali lagi. Bukan maksud saya tidak mematuhi perintah anda. Tapi ... kali ini saya tidak ingin ikut campur dalam urusan tersebut tuan. Saya janji tidak akan mengatakannya rencana anda, tapi maaf...saya tidak bisa mengikuti permintaan anda untuk membujuk Alby. Sekali lah maaf tuan!", Mila berkata dengan takut-takut.
"Ya sudah lah, dengan atau tanpa bantuan mu aku yakin Alby akan bersedia menikah dengan putriku! Silahkan keluar!", Hartama mengibaskan tangannya menyuruh Mila pergi. Mila pun keluar dari ruangan bosnya. Dia langsung kembali ke dapur.
"Dari mana Bu?", tanya Sapto.
"Tadi di panggil sama Tuan di ruang kerjanya."
"Tumben, ada apa?", Sapto kembali penasaran.
"Nggak apa-apa pak!", sahut Mila. Dia melanjutkan aktivitas memasaknya.
Alby masih memanasi mobilnya.
"Alby, ini kartu nama saya. Selesai mengantar Silvy, langsung ke kantor temui saya!", perintah Hartama.
"Baik Tuan!", Alby menerima kartu nama majikannya itu.
Usai menerima kartu itu, Alby langsung menyimpan disaku kemejanya. Silvy pun keluar dari ruang tamu langsung menghampiri papanya.
"Pa, Silvy berangkat dulu ya!", kata Silvy manja.
"Iya sayang!", kata Hartama.
Tanpa di minta, Alby membukakan pintu belakang untuk nonanya. Sayangnya Silvy justru duduk di samping kemudi. Mau tak mau Alby menutup pintu belakang.
"Alby, turuti semua perintah putriku. Dan... setelah tiba di kantor nanti, kamu berikan jawaban dari pertanyaan saya semalam!"
"Baik tuan. Kalo begitu, saya permisi", Alby pun duduk di belakang kemudi.
Di perjalanan ke kampus, Silvy terlihat girang. Wajahnya selalu berbinar. Sesekali ia menatap wajah tampan supir nya itu.
Kenapa sih suami orang bikin gue terpesona??? Batin Silvy. Alby sebenarnya sadar sedang di perhatikan oleh anak majikannya, tapi dia memilih bungkam.
Akhirnya mobil pun masuk ke area kampus.
"Temani gue turun, anter sampe kelas!", titah Silvy.
"Hah? Sampe kelas non?", tanya Alby ragu.
"Kenapa? Ngga mau Lo?", tanya Silvy ketus.
"Bukan gitu non, tapi....?!"
"Tapi apa? Bukannya papa udah bilang sama Lo? Turuti apa kata gue?", arogansi seorang Silvy pun sempat jelas di depan mata Alby.
"Ngga non. Baiklah, saya temani anda!", ujar Alby. Dia pun turun terlibat dulu, lalu membukanya pintu mobil untuk Silvy.
Silvy lalu menggelayut manja di lengan Alby.
"Non?", tanya Alby pelan.
"Lo tinggal ikuti peran yang gue bikin!", gertak Silvy. Alby pun mengangguk pelan.Keduanya berjalan menuju kelas Silvy.
Banyak mata memandang ke arah Alby dan Silvy. Khususnya ke Alby, pria tampan dan gagah berjalan beriringan dengan Silvy yang c***t kakinya karena kecelakaan. Tapi meski begitu, di sandingkan pun mereka tampak serasi. Karena Alby yang tampan dan Silvy yang cantik.
"Makasih sayang, udah anterin sampe kelas. Aku jadi terharu!", ucap Silvy saat kedua sudah berada di teras kelas.
"Iii...ya!", jawab Alby gagap.
__ADS_1
"Ya udah, kamu mau ke kantor kan? Jangan lupa nanti jemput aku ya? Dah...sayang!", Silvy pun masuk ke kelasnya. Sedangkan Alby berlalu ke parkiran untuk menuju kantor majikannya.