
Pagi sudah menyapa. Sejak kemarin, lek Sarman sama sekali tak menyapa ku. Aku hanya mengobrol dengan lek Dar. Ya, lek Dar hanya menyuruhku untuk bersabar. Lek Sarman bukan tipe pemarah. Tapi sekalinya dia marah, seperti sekarang ini. Jangan kan di ajak bicara, berpapasan muka saja menghindar.
Aku dan lek Dar duduk di meja makan untuk sarapan. Aku masih mengunakan daster milik lek Dar.
Sedangkan lek Sarman memilih ngopi di dekat pintu belakang.
"Dimakan toh Nduk. Jangan cuma di liatin nasinya!", ucap lek Dar.
"Iyo Lek!", sahutku. Tapi aku hanya membolak-balik nasi yang ada di piringku.
"Kenapa? Ngga enak ya?", tanya Lek Dar. Aku menggeleng.
"Eum...Bia pengen makan nasi pecel Lek", kataku lirih.
"Owh...ya wis, kamu makan aja dulu. Nanti Lek buatin."
"Ngga Lek, Bia pengen nasi pecel yang Deket sekolah Bia dulu."
Lek Dar yang paham jika keponakannya sedang ngidam pun hanya tersenyum.
"Kalo ngga mau makan ya udah , tapi di minum tehnya. Nanti kalo warung nasi pecelnya buka tinggal beli."
Aku menunduk.
"Kenapa lagi?"
Aku menggeleng. Bagaimana aku bilang sama lek Dar kalo Lek Sarman melarang ku keluar dari rumahnya. Ya, untuk menghindari Alby.
"Katanya kepengin?", tanya Lek Dar.
"Iya Lek."
"Nanti lek beliin. Kamu di sini saja!", sepertinya Lek Dar tahu jika suaminya melarang ku pergi dari rumah ini.
"Ngga usah. Biar aku yang beli!", terdengar suara lek Sarman berlalu melewati kami berdua. Aku dan lek Dar berpandangan.
Diam-diam lek Sarman mendengar obrolan antara aku dan Lek Dar. Lek Dar tersenyum tipis.
"Kamu liat kan? Lek mu itu memang marah sama kamu. Tapi marahnya dia karena lek mu sangat menyayangi mu. Dia ngga mau kamu tersakiti."
Aku mengangguk dan tentu saja terharu. Meski Lek Sarman marah, dia masih memperhatikan ku.
"Makasih ya Lek. Kalian tulus sayang sama Bia."
"Kamu kan anak kami juga Bia. Jadi tolong, jangan memikirkan dan memutuskan segalanya sendiri. Kamu masih punya kami tempat untuk berbagi."
Aku mengangguk.
"Kalo kamu belum pengen sarapan, ya udah ngemil yang lain dulu."
"Iya lek."
"Lek tinggal ke warung dulu ya?"
"Iya lek!", kataku sekali lagi.
Sekitar lima belas menit, lek Sarman sudah kembali ke rumah dengan membawa nasi pecel yang ku inginkan.
"Kie Sego pecel'e. Ndang mangan! Nek pengen mangan opo, ngomong'o ambi lek mu. Sakno anakmu nek ga di turuti sing mbok karepi."(Ini nasi pecelnya. Cepat makan. Kalo pengin maka apa, bilang sama lek mu. Kasian anakmu kalo ngga dituruti apa yang di inginkankan)
"Iyo lek. Suwon!"
(Iya lek. Makasih)
Aku pun langsung menyantap nasi pecel yang lek Sarman belikan. Entah karena lapar, atau memang aku sedang menginginkannya. Aku makan dengan lahap seperti orang yang baru Nemu nasi.
Sarman hanya memperhatikan keponakannya yang makan dengan lahap meski hanya lauk sederhana. Dadanya berdenyut saat mengingat Alby tega menyakiti keponakan tersayangnya. Dia tidak terima jika Bia di sia-siakan seperti itu.
.
__ADS_1
.
"Meeting jam sembilan ya mas Alby!", kata Marsha saat melewati kamar Alby.
"Iya Sha."
Setelah itu, mereka semua berkumpul untuk sarapan.
"Sha, kamu udah reservasi buat meeting kan?", tanya Hartama.
"Sudah tuan, semalam saya sudah menghubungi pihak warung Sahabat!", jawab Marsha. Alby yang menunduk tiba-tiba mendongak.
"Dimana sha?", tanya Alby.
"Warung Sahabat yang lagi hits di IG itu lho Mas!", jawab Alby. Alby mendadak lemas. Bagaimana mungkin dia kesana? Pasti lek Sarman bakal menghajarnya lagi. Mungkin lukanya tidak seberapa, tapi dia hanya takut kalo papa mertuanya tahu Bia ada di sini. Bisa membahayakan Bia bukan? Mertua nya bisa berbuat nekat pada istrinya itu.
"Kamu juga sudah menghubungi anak cabang biar langsung bertemu di sana kan?", tanya Hartama lagi.
"Sudah tuan. Dan mereka juga sudah menghabiskan lurah Anton agar langsung ke lokasi."
"Lurah Anton?", tanya Alby lagi. Kenapa bapak tirinya Bia terlibat di proyek ini? Sebenarnya masalah apa yang sedang di hadapi perusahaan mertuanya?
"Kenapa kamu kaget terus Mas? Warung ? Lurah? Apa hubungannya sama kamu sih?", tanya Marsha heran.
"Pa, aku ngga tahu apa pun masalah yang dihadapi perusahaan papa. Lebih baik aku ngga ikut ya Pa."
"Kamu papa ajak ke sini biar kamu belajar dan terjun langsung menghadapi klien! Bersiap lah! ", kata Hartama bangkit dari duduknya.
.
.
.
Rombongan Alby sudah lebih dulu sampai di warung, selang beberapa menit kemudian rombongan Anton pun sampai. Saat ini Alby memakai masker untuk menutupi wajahnya yang babak belur bekas bogeman Lek Sarman kemarin.
"Selamat pagi pak Lurah!", sapa Hartama sambil menyalami tangan Anton.
"Silahkan duduk!", Hartama mempersilahkan Anton dan orang kepercayaannya.
Hartama dan pak Lurah basa-basi terlebih dulu sebelum memulai pembicaraan pentingnya nanti.
"Ya, ini Alby. Menantu saya, yang rencananya akan menggantikan posisi saya!", kata Hartama. Anton menatap intens wajah Alby yang hanya memperlihatkan bola mata dan keningnya saja.
"Oh...begitu ya pak." Anton hanya menyahut sekedarnya saja.
"Eum...pak lurah sudah menghubungi pengurus atau ahli waris lahan itu kan pak? Saya ngga menyangka harus turun tangan sendiri lho!", kata Hrtama.
"Kebetulan, owner warung ini adalah ahli warisnya pak Hartama", kata Anton.
"Benarkah? Wah bisa kebetulan sekali ya?", kata Hartama tersenyum tipis.
"Ya, dan anaknya sekarang sedang pulang. Sudah hampir dua tahun dia ikut suaminya tinggal di Jawa barat sana."
Uhuk...uhuk...! Tiba-tiba Alby terbatuk mendengar ucapan Anton, bapak mertua nya sendiri. Sebenarnya, mereka belum pernah bertemu secara langsung. Karena saat pernikahan Alby dan Bia, anton dan asih tidak menghadirinya.
Sarman datang menghampiri meja yang sedang di pakai meeting HS grup.
"Maaf, saya terlambat bergabung!", kata Sarman. Dia enggan mengucapkan salam, takut jika mereka bukan non muslim.
"Tidak apa, silahkan pak!", kata Hartama. Mata Hartama tak teralihkan menatap wajah Sarman yang delapan puluh persen mirip dengan wajah sahabatnya.
"Salman?", tanya Hartama pada Sarman.
"Maaf bukan pak, saya Sarman. Kalau Salman, kakak saya", jawab Sarman.
"Apa? Benarkah?", tanya Hartama tersenyum sumringah.
"Anda kenal dengan kakak saya?", tanya Sarman.
__ADS_1
"Kamu Sarman yang waktu itu masih SMP, sekolah di Surabaya kan?", tanya Hartama lagi. Sarman hanya mengangguk.
"Kamu adiknya Salman? Dimana Salman sekarang? Aku Tama. Mas Tama, Man? Kamu lupa?", tanya Hartama dengan antusiasme nya yang tinggi.
"Mas Tama?"
"Iya, teman kuliah mas mu!", jelas Hartama lagi.
"Owh...iya mas. Masyaallah, ngga nyangka kita bisa ketemu lagi."
Sarman tersenyum lebar.
Sarman tak menyadari jika menantu kesayangannya itu sedang gelisah mengetahui jika papa mertuanya justru kenal dengan Lek Sarman.
Anton pun tak kalah terkejutnya, mantan suami dari istrinya adalah sahabat Hartama.
"Kalo gitu, sekarang Salman di mana? Apa kabarnya dia?", tanya Hartama. Rencana meeting kali ini berubah jadi reuni dadakan.
"Eum, mas Salman udah meninggal sebelas tahun yang lalu mas."
"Apa? Meninggal?", tanya Hartama shock.
Sarman mengangguk. Dia tak tahu jika ada dua laki-laki beda generasi sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Iya mas. Mas Salman sakit."
Hartama sempat terdiam beberapa saat.
"Dimana putrinya Salman?", tanya Hartama.
"Ada di rumah saya."
Sarman menjawabnya, tapi entah kenapa ia tertarik untuk menatap seseorang yang dari tadi menunduk apalagi dia satu-satunya yang memakai masker di sini.
Tiba-tiba saja Sarman berdiri.
"Ngapain kamu di sini!", bentak Sarman pada Alby yang tentu saja membuatnya tersentak.
Alby mendongak menatap wajah lek nya.
"Mas Sarman, ada apa? Kenapa kamu bentak menantu saya?", tanya Hartama.
"Apa? Menantu mas Tama?", tanya Sarman dengan wajahnya yang kian memerah.
Sarman langsung menghampiri Alby. Dia bersiap untuk memukul Alby lagi.
"Stop Man!", kata Anton. Anton melerai Sarman agar ia tak memukul Alby.
"Maaf pak, sepertinya urusan pekerjaan kita hentikan dulu ya!", kata Anton.
Hartama meminta stafnya untuk meninggalkan meeting ini.
Saat ini, tersisa Alby, Hartama, Salman dan Anton.
Nafas Sarman masih naik turun karena emosi melihat kedatangan Alby di warungnya lagi.
"Maaf, jika saya ikut campur. Secara tidak langsung, saya juga mertua Alby!", kata Anton.
Hartama semakin di buat bingung.
"Tinggalkan Bia!", kata Sarman pada Alby.
"Bia?", tanya Hartama.
"Ya, Bia. Keponakan saya, anaknya Mas Salman. Yang sekarang juga menjadi menantu anda mas Tama."
******
Lanjut ora???? 😋😋😋😋
__ADS_1
Maapkeun kalo banyak typo ya 🙏🙏🙏🙏 tapi semua pasti paham lah ya maksudnya apa hehehe
Makasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏