Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 134


__ADS_3

Sudah bertahun-tahun berlalu, kenapa ibunya mas Febri masih tak menyukainya ku? Sebenarnya apa salah ku pada nya? Kenapa bisa sebenci itu padaku?


"Ibu sehat?", tanya berusaha bersikap sopan seperti dulu.


"Kaya yang kamu lihat!", sahut Bu Sri ketus. Beliau memang guru killer pada jamannya. Saat ini pasti beliau sudah pensiun.


"Alhamdulillah,Bu!"


"Saya dengar kamu sudah menikah, benar?", tanya bu Sri masih dengan nada sinisnya.


"Iya Bu!", aku mengangguk.


"Terus mana suami kamu? Ngapa kamu ke pinggir kali sendiri? Ngga ada niat mau bunuh diri kan?"


"Astaghfirullah, ya ngga toh Bu!"


Ponsel yang di saku ku bergetar. Mataku membulat melihat siapa yang menghubungiku. Bu Sri mantap ku intens. Tanpa ku angkat, aku masukan kembali ponsel ku. Tapi lagi-lagi Febri menelpon.


"Angkat saja, kali aja penting!", kata Bu Sri. Perempuan sepuh itu ingin tanya banyak hal soal putra nya yang katanya sempat bertemu Bia di tempat ia dinas.


Beliau tidak tahu saja siapa yang menelpon ku. Gimana reaksinya saat tahu kalo yang menghubungi ku adalah putra nya???


Aku menghela nafas. Akhirnya ku putuskan untuk mengangkat panggilan video Febri. Urusan Bu Sri, kupikirkan nanti. Di angkat atau tidak toh Bu Sri masih akan tetap membenci ku.


[Hallo, assalamualaikum mas?]


[Walaikumsalam, kamu di mana nduk?]


Mata Bu Sri melebar, sepertinya dia paham dengan suara yang ada di ponselku. Aku menarik nafasku perlahan.


[Di kampung mas]


[Kampung mana?]


[Desa ku]


[Ya Allah, kapan kamu pulang nduk?]


[Aku sampe ke sini semalam]


Bu Sri menarik ponsel ku, mungkin dia sudah tidak tahan dengan ke'kepo'annya.


[Febri.....]


Suara Bu Sri melengking, seperti terompet malaikat mungkin.


[I...ibu ...]


Febri tergagap saat tahu ternyata ibunya bertemu dengan sang mantan.


[Jadi tenanan, kamu masih menghubungi Bia? Eling Le, de'e wis rabi. Wis nduwe bojo. Awakmu ora usah ngrusuhi rumah tangga ne wong liyo Feb]


(Jandi benar? Ingat Le(panggilan anak laki-laki) dia sudah menikah. Sudah punya suami. Kamu jangan ganggu rumah tangga orang lain Feb)


Febri memijat pelipisnya. Niat hati ingin mencari tahu keadaan Bia, malah berujung ngobrol dengan ibunya sendiri. Padahal dia jarang menelpon ibunya. Bukan karena tak mau, hanya saja ia bosan saat ibunya selalu menjodoh-jodohkan dirinya dengan gadis anak teman-teman ibu.


Aku cuma bisa mengamati obrolan jarak jauh mantan calon ibu mertua ku dan anaknya itu. Fyuhhhh....harus begini kah??


[Siapa yang mau ganggu sih Bu. Udah, kasih lagi hp nya sama Bia,Bu]


[Eh...kok gitu?]


Bu Sri mendengus kesal.

__ADS_1


[Iya, ada yang mau Febri sampein ke Bia. Tadi suami Bia menghubungi Febri Bu]


[Sek...sek....suamine Bia menghubungi kamu? Kok iso?]


Bu Sri masih saja belum memberikan ponselku.


[Bu, nanti Febri telpon kalo ibu udah di rumah ya. Sekarang, kasih hp nya ke Bia ya Bu!]


Dengan wajah cemberutnya, Bu Sri menyerahkan ponsel ku lagi.


[Hallo mas?]


[Nduk, tadi Alby telpon aku]


[Terus?]


Aku mendengar Febri menghela nafasnya agak kasar, ya...aku sampai mendengar nya.


[Dia marah-marah sama aku nduk, katanya aku udah bantuin kamu buat kabur dari dia]


Bu Sri melotot tajam ke arahku, serius...muka garangnya masih sama saat aku masih jadi muridnya dulu.


[Kamu jawab apa mas?]


[Ya aku bilang apa adanya, kita ngga sengaja ketemu. Anterin kamu pulang. Udah...abis itu aku kan harus dinas. Siangnya aku balik ke Jakarta. Ngga pulang ke rumah wa Mus dulu]


[Eum...ya sudah]


[Lagian kamu nduk, bikin orang pada cemas. Pakai ga di aktifkan segala nomor mu]


[Heum, ya udah ya mas. Makasih. Aku mau pulang, assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Aku kembali mengantongi ponsel ku ke saku gamis. Bu Sri masih menatap ku horor.


"Ngga kabur Bu, memang ada yang harus Bia urusin di sini."


"Kenapa suami mu sampai menghubungi Febri? Kalian dekat lagi? Iya? Febri mau jadi pebinor?"


Aish...ibunya Febri kebanyakan nonton sinetron ikan terbang kayanya.


"Astaghfirullah,bu. Kami memang dekat, hanya berteman bu. Mas Febri juga bukan pebinor seperti yang ibu pikirkan!"


"Terus apa namanya? buktinya suami kamu sampai marah-marah sama Febri? Kamu tuh masih istri orang, jangan coba-coba dekatin Febri lagi. Biar pun dia sudah menjadi duda,tapi dia duda terhormat. Istri nya meninggal karena tugas. Jadi jangan...."


"Stop Bu! Maaf!", aku mengatupkan kedua tangan ku di dada. Meminta maaf pada ibunya Febri yang pasti akan menuduh ku dengan tuduhan yang sama dari dulu, anak tukang selingkuh pasti juga selingkuh!


Sakit!!???!!??


Nafas Bu Sri naik turun, mungkin dia marah.


"Bu, saya memang dekat dengan mas Febri. Hanya teman, tidak lebih! Dan soal suami saya yang marah-marah sama mas Febri, itu hanya salah paham. Saya memang sudah bermasalah dengan suami saya, bahkan sebelum saya bertemu dengan mas Febri lagi Bu. Jadi, saya mohon.... dengan....sangat sama ibu. Jangan menuduh saya atau pun mas Febri Bu."


Bu Sri bergembira di tempat nya, dia tak menyahuti ucapan ku yang panjang lebar tadi. Aku capek di pojokin terus.


"Jangan bilang kamu pulang ke kampung mau ngurus perpisahan kamu sama suami kamu?", tuduh Bu Sri tepat sasaran. Aku sedikit tercengang bagaimana bisa dia menebak seperti itu?


"Maaf Bu, tapi...."


"Huh... namanya perasaan emang ngga bisa di paksa! Saya juga sudah capek kalo harus melarang Febri buat menahan perasaan nya ke kamu!"


Ya nabi salam alaika, ya rasul salam alaika!!! Allahuakbar. Rekor selama aku mengenal Bu Sri, baru kali ini beliau berbicara sedikit lembut tanpa nada tinggi. Ingat, se-di-kit! Tapi yang herannya, kenapa mas Febri tidak seperti beliau? Apa mungkin mas Febri menuruni sifat bapaknya???

__ADS_1


"Maksud ibu...apa?", tanyaku gagap. Baru ku puji beliau sedikit lembut, matanya sudah melotot lagi.


"Sus yang cerita sama ibu!", sahutnya ketus. Nah, lho??? Mba sus? Mbaknya mas Febri? Apa mas Febri menceritakan tentang aku pada mba Sus? Atau...mba sus tahu dari ibuku, karena usia mereka berdua terpaut tidak terlalu jauh dan sering bertemu di balai desa??? Issshhh....mikir apa aku ini!


"Mba sus?", tanya ku membeo.


"Iya, awalnya ibu ngga percaya. Tapi pas liat Febri nelpon kamu di depan ibu, ibu jadi tahu gimana Febri ke kamu. Dia masih saja sama, ngarep kamu. Padahal ibu udah bolak-balik jodohin Febri sama gadis-gadis yang menurut ibu cocok sama Febri."


Aku menelan ludah ku sedikit pelan, mendadak kering nih kerongkongan. Apa lagi ini????


"Tapi Bu, Bia sama mas Feb cuma berteman bu. Ngga lebih!",kataku sambil menggeleng.


"Itu menurut kamu, tapi ngga buat Febri!"


Aku memijat pelipisku lagi. Pening! Perubahan sikap Bu Sri sungguh....???


"Ibu udah dengar kok tentang ibu kamu yang sebenarnya, ibu minta maaf!", kata Bu Sri masih tetap dengan gaya angkuhnya.


"Maksud ibu???", serius aku nanya. Perempuan berjilbab hitam itu menghela nafas.


"Maaf!Dulu ibu bersikap tidak baik sama kamu. Tidak merestui kamu sama Febri!"


Allahuakbar, beneran ini Bu Sri, mantan calon mertua ku yang gagal ku jadikan mertua????


Tapi....


"Coba dari dulu kamu nikah nya sama Febri, mungkin kamu ngga harus mengalami seperti ini!", kata Bu Sri dengan suara yang samar-samar ku dengar sengau, beliau menangis?


"Astaghfirullah bu. Sudah ngga usah di bahas lagi, mungkin memang sudah jalan nya seperti ini. Tapi...Bia mohon, jangan nangis Bu.Apa Bia bikin kesalahan lagi tadi?"


Bu Sri menggeleng, lalu tiba-tiba ia memelukku.


Deg!!!! Apa ini mimpi???


"Ibu kenapa nangis?", tanyaku lagi.


"Kamu mau pisah sama suami kamu kan? Ibu dukung! Dimana-mana perempuannya tidak ada yang mau berbagi. Dan... setelah itu... kembali lah sama Febri. Ibu merestui kalian."


"Astaghfirullah,bu....!", aku melerai pelukan kami.


"Kenapa ibu bicara seperti itu?", tanyaku heran. Apa waktu sepuluh tahun sudah merubah cara pandang Bu Sri padaku?


"Kamu berhak bahagia Bia! Maaf...maaf...kalo ibu selama ini kasar sama kamu! Ibu menyesal!"


"Ya Allah Bu, sudah. Bia ngga apa-apa kok!", kataku pura-pura tegar sebenarnya.


"Bia, ibu tahu mungkin ini waktu yang salah. Tapi...kalo kamu memang sudah lepas dari suami kamu, kamu bersedia menjadi pendamping Febri kan?"


"Astaghfirullah!", lagi-lagi ku bergumam. Salah! Ini salah banget!


"Bu, maaf! Bukan maksud Bia menolak keinginan Bu Sri. Tapi... status Bia saat ini masih istri Alby. Dan tentang Bia sama mas Febri, kami hanya berteman bu!", aku mengusap lengan atas Bu Sri.


"Yo wes... sekali lagi maafin ibu Bia. Tadi ketus sama kamu, kasar sama kamu. Tapi kamu tetap bersikap baik sama ibu."


Aku mengangguk tipis.


"Iya Bu, maafin Bia juga ya kalo selama ini Bia sudah membuat Bu Sri..."


''Gak Bia, ibu yang salah." Dari pada kami terus main salah-salahan, lebih baik aku mengiyakan saja ucapan Bu Sri.


"Ya sudah bu kita satu sama kalo begitu!", aku tersenyum. Bahagia? Tentu aku bahagia! Tapi ... hati, kamu bahagia karena sudah berbaikan dengan Bu Sri atau karena beliau bilang merestui kamu dan Febri???


****

__ADS_1


Dah lah... maapkeun kegabutan mamak ini! Makasih yang udah mampir 🤗


Maaf kalo banyak typo ✌️


__ADS_2