Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 33


__ADS_3

Menjelang malam Mak sudah siuman. Alby bergegas memanggil dokter. Kebetulan yang dokter jaga malam ini bukanlah dokter sakti. Sakti baru akan praktek besok pagi.


Kondisi Mak masih sangat lemah pasca operasi. Mata Mak hanya mampu mengerjap dan mengangguk lemah.


"Bagaimana dok?", tanya Alby.


"Kondisi nyonya Titin sebenarnya membaik, hanya saja mungkin untuk beberapa waktu beliau harus beradaptasi dengan kinerja jantungnya. Sejauh ini beliau baik-baik saja. Saya berikan obat lagi agar Nyonya bisa istirahat malam ini."


"Alhamdulillah, terimakasih dok!", ucap Alby.


Tanganku kembali menggenggam telapak tangan Mak.


"Mak, cepet sehat ya!"


Mak mengangguk lemah dan kulihat ada bulir hangat di sudut matanya.


"Lho...kok malah nangis Mak? Mak butuh sesuatu? Atau ada yang sakit?", aku mulai khawatir.


Tak menjawab pertanyaan ku, Mak justru menatap Alby dengan pandangan yang sulit untuk kuartikan.


"Biar Mak istirahat neng. Kamu mau Aa beliin apa buat makan malam neng?"


"Apa aja !"


Usai pamit padaku dan Mak, Alby pun keluar dari ruangan Mak. Dia melangkah kan kakinya menu kantin.


Sambil menunggu nasi yang di bungkus, Alby memilih untuk menikmati secangkir teh panas.


Pikiran nya menerawang. Membayangkan esok pagi. Hari di mana ia dan Silvy yang terpaksa menikah.


Ponsel Alby bergetar. Ada chat masuk dari seseorang yang besok akan menjadi istri kedua untuk nya.


[A, aku udah ngga sabar jadi istri mu. Tunggu aku ya sayang, besok pagi kita ketemu. Dan malam ini sementara aku nginep di hotel dekat rumah sakit]


Alby mengusap kasar wajahnya. Ada gitu gadis model non Silvy? Andai dia mau,dia bisa menunjuk siapa pun jadi suaminya. Tapi kenapa harus dirinya?


Diruang rawat Mak, Mak kembali tertidur. Untuk mengisi kebosanan, aku memilih memainkan ponselku. Ada beberapa chat yang baru sempat ku buka. Salah satunya dari mas Febri.


Melihat chat nya sudah centang biru, Febri pun menghubungkan Bia. Deringan ke dua, Bia sudah mengangkat telepon dari nya.


[Assalamualaikum Nduk?]


[Walaikumsalam. Iya Mas, ada apa?]


[Mau tanya kabar Mak. Soalnya dari kemaren kamu ngga ngabarin Mas.]


[Maaf mas, aku lupa]


[Iya ngga apa-apa. Tapi kondisi Mak udah baikan toh?]


[Alhamdulillah udah Mas. Operasi nya lancar. Mak juga udah siuman]


[Alhamdulillah, mas ikut seneng nduk]

__ADS_1


[Makasih mas]


[Oh ya, kebetulan besok pagi mas ke kantor kabupaten, kalo boleh mas mau mampir ke situ. Mau jenguk Mak]


[Oh...ya...boleh lah mas]


[Paling jam sepuluh mas udah disitu. Kasih tahu aja mas dimana ruang rawat Mak]


[Di ruang Tulip 12 mas]


[Oh, ya udah sampe ketemu besok ya Nduk. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Percakapan aku dan mas Febri pun selesai bersamaan dengan Alby yang masuk ke dalam ruangan ini.


"Neng, makan dulu ya!", pinta Alby sambil mengajak ku duduk di sofa. Aku pun menuruti nya. Sejak penyatuan kami tadi, perasaan ku sedikit membaik. Sedikit... sangat sedikit!


Alby membuka wadah makanan ku, dia mengambil makanan itu dengan sendok lalu mengarahkan ke depan bibir ku.


"Aku bisa makan sendiri," tolakku.


"Aa tahu. Tapi aa pengen nyuapin neng. Aaakk....?", Alby masih menyodorkan nasi itu di depan mulutku. Mau tak mau aku pun membuka mulut ku menerima suapan nasi itu. Usai menyuapiku, dia pun makan. Kami makan satu porsi berdua.


Hampir jam sembilan malam, aku melaksanakan solat Isya. Kami solat isya di sini.


Semoga kita masih bisa sholat berjamaah seperti ini terus hingga nanti ya Neng! Alby mengulurkan tangannya untuk ku cium.


Ya Allah, semoga tidak ada hal buruk!


.


.


.


"Kamu masuk ke kamar dulu ya sayang, di temani Bik Mila. Papa sama mang sapto ingin bicara sebentar."


"Iya pa!", Mila menggandeng tangan anak majikannya masuk ke dalam kamar hotel yang mereka sewa. Dan letak hotel itu tak jauh dari rumah sakit. Hartama memilih hotel ini untuk memudahkannya mobilisasi mereka esok hari.


"Sapto! Besok pagi-pagi sekali, kamu rapikan ruangan Titin sebelum Silvy ke sana. Dan pastikan,penghulu hadir tepat waktu."


"Baik Tuan."


Sapto pun mengundurkan diri dari tempat semula. Mau tak mau dan dengan hati terpaksa, ia harus menuruti perintah tuan nya.


Hartama menghubungi anak buahnya yang berjaga di sekitar rumah sakit. Dia ingin memastikan bahwa Alby tidak kabur dan menepati keselamatan mereka.


.


.


Azan subuh berkumandang beberapa menit yang lalu bersamaan dengan perawat yang sudah mengecek keadaan Mak. Barulah nanti dokter yang akan mengeceknya.

__ADS_1


"Sus, setelah ini bisa ngga sih saya memandikan ibu? Sepertinya beliau sudah tidak nyaman."


"Tentu saja Bu."


Sebelum aku mengelap tubuh Mak, aku menutup tirai yang ada di sekitar brankar.


"Maaf ya Mak. Bia lap badan Mak, buat seger."


Mak pun mengangguk dan tersenyum tipis meski mulutnya tertutup oleh alat bantu pernapasan.


Tak lama aku mengelap Mak dan memakaikan kembali pakaian Mak, aku mendongak sedikit keributan di ruangan ini. Alby terdengar menolak sesuatu, tapi entah apa itu. Karena penasaran, aku pun menyibak gorden lalu menghampiri Alby yang sedang menghadapi beberapa pria berbadan kekar.


"Naon A?", tanya ku.


"Maaf nyonya, kami hanya menuruti perintah tuan. Ruangan ini akan sedikit kami rapikan untuk persiapan ijab qobul nona kami dengan tuan Alby."


Salah seorang pria itu menjelaskan secara gamblang tanpa menghiraukan perencanaan yang ada disamping Alby.


"Ijab qobul?", aku mengulang.


"Betul nyonya. Nona Silvy akan menikah di sini."


Itu artinya aku harus menyaksikan pernikahan suamiku sendiri?? Kekonyolan macam apa ini .


"Tunggu, kenapa harus di sini. Ibu saya baru selesai operasi."


"Maaf Nyonya, kami hanya menjalankan perintah."


"Neng...!", Alby meraih bahuku.


"Bahkan aku benar-benar merasa seperti orang yang sangat bodoh!".


"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu neng???"


"Aa ngga ngasih tahu kalau pernikahan kalian akan di lajur secepat ini bahkan di depan mataku hah??? Dimana perasaan kalian???", aku sedikit geregetan mengucap kalimat itu.


Orang-orang Hartama hanya memandangi calon majikan mereka.


"Sayang...?"


"Jangan sentuh aku!", kataku sambil mengangkat telapak tangan ku.


"Neng. Aa juga tidak suka situasi ini neng. Aa ngga bisa liat air mata kamu!".


Mendengar keributan sepasang suami-istri itu, orang-orang Hartama menyiapkan apa yang diinstruksikan oleh bos nya.


"Aku keluar!", kataku pelan.


Alby tak bisa mencegahnya. Karena Alby yakin jika Bia tidak akan bertindak ceroboh.


Kaki Bja baru saja menapak keluar ruangan. Dia melihat ada beberapa orang yang berpakaian seperti para pengurus meja dan sofa di dalam ruangan Mak.


Apakah mereka juga orang nya tuan Hartama?

__ADS_1


__ADS_2