Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 202


__ADS_3

Kami berempat duduk di pinggiran kali, berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Ada orang yang memang sengaja menyewakan tikar untuk para pengunjung, termasuk kami.


Dulu, saat aku dan Febri masih muda sering berkencan di sini. Kencan ala-ala anak ABG saat itu, main di tempat wisata begini sudah sangat menyenangkan.


Anika begitu antusias liburan di tempat ini. Hampir di semua spot foto sudah Anika coba. Dimas benar-benar seperti seorang ayah yang mengikuti kemanapun anak gadisnya melangkah. Tapi nampaknya, Dimas senang-senang saja.


"Kita pernah seperti itu!", celetuk Febri tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatian pada sepasang kekasih beda usia itu.


Aku pun turut memandang ke arah sana. Tak ingin menyahut ucapan Febri.


Karena tak ada sahutan dari ku, Febri menoleh padaku. Meski aku tahu ia menatap ku, tapi mataku masih fokus ke arah Anika yang sedang berpose khas anak remaja.


"Kamu udah melupakan semua tentang kita ya Nduk? Sudah tertimpa kenangan-kenangan kamu sama Alby?"


"Ckkk...ngga usah alay mas!", kataku sambil meluruskan kakiku.


"Kok alay?"


''Iya, kita bukan ABG lagi yang perlu mengungkit semua kenangan itu", jawabku sambil menoleh padanya.


Febri tersenyum tipis, masyaallah...


Masa iya selama melajang sejak istrinya meninggal dia sama sekali tak pernah berhubungan dengan perempuan lain? Rasanya mustahil!


"Tapi kita akan mengulang lagi, dan semoga endingnya tidak seperti saat pertama kita mengukir kenangan itu!"


Aku menggeleng heran.


"Ngga usah belibet ngomongnya! Kamu aneh kalo sok-sokan romantis kaya gitu!"


"Heheh kan dulu kamu pengen nya aku romantis!"


"Tau ah....!"


Ponsel Febri bergetar, tanda ada panggilan di sana.


[Hallo]


[....]


[Siap]


[....]


[Laksanakan!]


Kemudian Febri menyimpan kembali ponsel ke dalam sakunya. Dia menatapku beberapa saat. Mungkin mau bicara sesuatu, tapi ragu.


"Kenapa?", tanyaku. Febri menghela nafasnya.


"Rencananya aku berangkat ke perbatasan nanti malam, tapi ternyata ada misi lain. Aku harus ke Jakarta nduk, ada yang akan menjemput ku."


Aku mengangguk. Keberatan? Untuk apa? Kami belum sah menjadi pasangan suami istri.


"Ya udah, kamu siap-siap saja mas. Aku di sini ngga apa-apa mungkin Dimas dan Anika masih belum puas liburan."


Febri bangkit, merogoh ponselnya. Mungkin menghubungi Dimas. Dia agak jauh berbicara dengan Dimas.


Beberapa saat kemudian, Dimas dan Anika menghampiri kami.


"Ya udah kita pulang kalo gitu!", ajak Dimas.


"Kalo kalian masih mau main di sini ngga apa-apa kok!", kataku. Anika menoleh pada kekasihnya.


"Kamu sendiri di sini Bi, kita berdua malah asik-asikan berdua."


Aku tersenyum menanggapi ucapan Dimas.


"Ya udah, kalo gitu aku pulang dulu ngga apa-apa. Nanti mas Dimas anterin Anika ke rumah ya!"


"Siap bos!", kata Dimas.


"Yuk!", ajak Febri padaku. Aku mengernyitkan alis ku.


"Yuk?? Ke mana?", tanya ku pada Febri.


"Pulang lah, aku anterin. Mobilnya di parkiran luar."


Aku mengangguk tipis, kirain dia menyusul kami dengan jalan kaki tadi.


Usia berpamitan pada Dimas dan Anika, aku dan Febri pun berjalan ke arah keluar. Ternyata di luar, kami bertemu dengan sepasang pengantin baru yang sedang bulan madu.


"Eh, kita Dateng kok kalian malah balik?", tanya Sakti.


"Gue ada urusan mendadak Bro!", jawab Febri.


"Kamu juga, Bi?", tanya Sakti padaku.


"Ngga sih, tapi kayanya Dimas sama Anika masih betah di sana. Jadi aku pulang aja!"


"Heum, tahu gitu kita kesininya tadi pagi Bi, jadi rame!", kata Bina.


"Heheh masih ada waktu kan? Nanti mampir ke rumah aja ya mas Sakti, Bina?!"


"Insyaallah Bi! Kalo boleh nginep sekalian kaya adek. Masa adek doang yang boleh nginep di sana!?", kata Sakti.


"Kaya orang susah aja sih, numpang tidur. Kalo adek mah emang sendirian, sekalian nemenin Bia. Lha, Lo kan ada bini? Gimana mau honeymoon!!!"


"Iri aja Lo!", tukas Sakti.


Candaan mereka selesai saat kami sama-sama mau melanjutkan niatan kami. Sepasukan pengantin baru masuk ke lokawisata, aku dan Febri keluar menuju mobil yang parkir di luar.


Aku duduk di samping kemudi, Febri mulai menjalankan mobilnya perlahan. Mobil pengunjung sudah mulai berdatangan. Membuat mobil kami yang akan keluar cukup kesulitan dan mengantri beberapa saat.


"Pulang ke rumah ku dulu ya!", kata Febri. Jarak lokasi air terjun memang lebih dekat dari rumah Febri. Aku pun tak menolaknya. Andai Febri tak mengantarkan aku, aku masih bisa jalan kaki.


Ponsel ku berdenting, ada chat masuk. Dari....Alby! Aku membalas pesan dari Alby. Sepertinya, Febri tahu akan hal itu.


"Alby menghubungi mu lagi?", tanya nya dengan nada yang tenang. Aku menoleh.


"Iya, Silvy koma usai melahirkan." Febri mengangguk kecil dan tangan nya masih melingkar di setirnya.


Setelah itu, suasana mendadak hening. mobil kami pun masuk ke halaman rumah pak Bambang.


Ada mobil pak Bambang yang sepertinya sedang memuat padi mungkin akan di jual.


Mau tak mau aku menyapa beliau, lalu mengecup punggung tangannya. Niatnya aku ingin membatasi sentuhan antara lawan jenis. Tapi....

__ADS_1


"Kok udah pulang?", tanya pak Bambang padaku. Febri sendiri sudah masuk ke rumah untuk mengganti baju seragam nya mungkin.


"Mas Febri ada misi lagi katanya, makanya pulang."


Pak Bambang menganggukkan kepalanya.


"Anggap aja latihan nduk!", kata Pak Bambang padaku.


"Latihan?", tanyaku.


"Iya, saat kamu jadi istri abdi negara kamu harus siap di tinggal kemanapun dia dinas."


Aku tersenyum tipis, membayangkan nya saja tidak! Aku mengangguk saja mendengar nasehat beliau.


Febri keluar dengan seragam khasnya, tak lupa ransel besarnya di punggung.


"Nduk, kamu bawa aja mobil mas atau motor ya. Mas sudah di jemput ke sini ternyata!"


"Ngga usah, aku bisa jalan kaki kok!"


"Udah nanti bapak yang anter! Kamu udah pamit ibumu?"


"Sudah pak, barusan! Sebelum ibu solat Dhuha tadi." Pak Bambang menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati le?!", kata pak Bambang. Beliau kembali menuju ke truk yang membawa puluhan karung padi.


"Nduk!"


"Heum?"


"Mas cemburu kalo kamu masih berhubungan baik sama Alby! Tapi...mas ngga ada hak untuk itu!"


Aku menautkan jari-jari ku.


"Maaf!", kata ku. Febri tersenyum tipis.


"Maaf untuk apa? Kamu masih bebas, karena kita belum sah."


Aku mendongak menatapnya. Apakah dia benar-benar berbicara seperti itu?


"Aku hanya sedang berusaha untuk menjalani hidup baru ku. Tapi bukan berarti...aku akan selamanya memusuhinya kan? Bukankah baik kalo kami menjaga silaturahmi?"


Febri mengangguk.


"Iya, aku yang salah. Terlalu cemburu untuk hal yang belum pantas untuk ku cemburui."


"Doakan aku kembali, setelah misi ini selesai. Aku harap akan segera mengesahkan mu!"


"Mas mau ke mana? Ada misi ke mana? Ke perbatasan lagi kan?", cerocos ku. Dia menggeleng.


"Misi kemanusiaan! Mas ngga tahu apakah nanti mas bisa hubungi kamu atau ngga. Tapi , selama mas ngga bisa hubungi kamu nduk. Tolong, doakan mas baik-baik saja ya!"


Kok mendadak perasaan ku ngga enak gini sih?


"Berapa lama?", tanyaku pada akhirnya. Febri menggeleng.


"Katanya ngga apa-apa, khawatir juga kan?", tanya Febri malah meledekku.


"Aku cuma tanya berapa lama mas, salah?"


"Ngga kok sayang! Ngga salah! Mas justru seneng, itu artinya kamu masih peduli sama mas."


Sebuah mobil Jeep berhenti di depan kami. Ada rekan sesama Febri yang ada di sana. Mereka memberi salam dan hormat pada Febri.


Salah seorang prajurit wanita turun dan menyapa Febri.


"Lettu Amara? Di sini?", tanya Febri.


"Siap Kapt. Saya memang di utus untuk menjemput anda. Kita berdua berada di misi yang sama!", jawab Amara.


Amara menoleh ke arah ku. Kok aku merasa dia memandang ku gimana gitu? Dia tersenyum ramah, aku pun membalas hal yang sama.


"Nduk, nanti kalo sudah sampe Jakarta mas langsung hubungi kamu nduk."


Aku mengangguk pelan.


"Oh iya kenalkan, ini Shabia. Calon istri saya!", ujar Febri pada Amara. Senyum ramah Amara memudar. Apa dia....?


"Amara!", Amara mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambutnya.


"Bia!", kataku.


"Jadi...ini jawaban nya ya Kapt?", tanya Amara pasa Febri. Febri menghela nafasnya sebentar. Aku tak tahu apa yang di maksud Lettu Amara.


"Seperti yang kamu lihat!", Febri mengangkat tangan kiriku. Menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisku.


"Baiklah, terima kasih atas jawabannya Kapt. Kalau begitu, selamat ya Kapt, Bia!", ujar Amara.


Aku tersenyum canggung. Apa itu artinya Febri menegaskan jika dia menolak Amara secara halus? Tanpa harus menggunakan kalimat yang lebih menyakitkan?


"Nduk, mas berangkat ya! Doakan mas kembali secepatnya dan misi itu berhasil. Mas sayang sama kamu. Jaga diri kamu baik-baik selama mas pergi."


Febri menakup sisi kanan kiri kepalaku. Ingin ku tepis, tapi ngga tega mempermalukan Febri di depan Amara. Padahal aku tahu, ini salah!


Febri mengecup puncak kepalaku yang terhalang jilbab. Dia diam beberapa saat di pose itu. Kenapa aku merasa dia berat sekali meninggalkan ku? Bukan kah biasanya juga pergi tinggal pergi?


Tinggi badan ku yang hanya sampai dagu Febri pun terlihat tenggelam di hadapan nya.


Amara memalingkan wajahnya dari adegan ini. Mungkin bagi Amara, ini adegan mesra?


Aku mendorong pelan dadanya yang sebenarnya tak menempel ke badan depan ku. Aku malu di lihat banyak orang. Cewek pake jilbab kok kaya gini???


"Mas pergi sekarang ya dek!", ia kembali menakupkan kedua tangannya di pipi ku. Aku mengangguk pelan.


"Hati-hati mas, aku tunggu kamu kembali!", kataku. Febri tersenyum. Setelah itu ia pun beranjak ke mobil meletakkan ranselnya. Dia menoleh padaku sebelum mobil itu benar-benar melaju.


Sepeninggal mobil Febri, Bu Sri mengajak ku kedalam rumah. Meminta ku untuk tinggal beberapa saat sampai Anika selesai jalan-jalan dengan Dimas.


Di perjalanan menuju ke lapangan yang akan membawa mereka, Febri hanya terdiam sambil menatap jalanan kampung halamannya.


"Aku selalu datang terlambat, atau memang kesempatan itu tidak pernah ada ya Kapt?", tanya Amara pada Febri. Febri menoleh singkat pada rekannya itu.


"Kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik di banding aku!", kata Febri tanpa menatap wajah sendu Amara. Sudah jadi rahasia umum, jika Lettu Amara memang menaruh hati pada Febri sejak dulu.


Tanpa di sadari rekan yang lain, Amara meneteskan air matanya. Menghapus nya dengan terburu-buru, takut ada yang melihatnya. Tapi ternyata justru Febri yang melihat hal itu. Sayang nya, Febri justru memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia tak mau di anggap memberi harapan palsu pada Amara atas sikap baik nya selama ini.


.

__ADS_1


.


Menjelang dhuhur, aku pulang ke rumah. Tidak jalan, tapi justru di antar oleh ibu mertua. Bahkan beliau membawakan ku makanan untuk menjamu Anika nanti.


"Makasih ya Bu, udah anterin Bia. Padahal Bia juga bisa pulang sendiri."


"Febri udah wanti-wanti nyuruh jagain calon mantu ibu !", kata Bu Sri. Aku tersenyum canggung.


Ngga inget dulu judes nya kaya apa sama aku ya Bu???? Batin ku sih....


"Ibu mau mampir dulu?", tanyaku basa basi.


"Ngga usah. Ibu mau ke minimarket sekalian, lagi ada promo minyak goreng murah kayanya."


Aku pun mengiyakan, Bu Sri meninggalkan halaman rumah ku.


Baru aja aku mau membuka pintu gerbang, seseorang memanggil namaku.


"Mba, mba Bia?", panggil orang itu.


"Eh, mas Sudar? Ono opo toh?".(Ada apa)


"Mau enek bapak-bapak nggoleki peyan mbak."( Tadi ada bapak-bapak mencari mu)


"Ga di takok'i sopo?" (Tidak ditanya siapa?)


"Gak mbak", jawab mas Sudar.


"Kayane wong Jakarta le mba. Logate duduk wong kene!"


(Logat nya bukan orang sini)


"Eum, de'e ga takon opo-opo neh?"


(Dia ga tanya apa2 lagi)


"Eum, takon sih...!"


(Tanya sih)


"Opo mas?"


"Iku mba, makam lek Salman."


"Makam bapakku?",tanyaku membeo.


"Hooh, ya wes tak kasih tahu mba. Tapi mboh, de'e Rono opo gak!"


(Tapi ga tahu dia kesana apa nggak)


Siapa ya? Teman bapak dari Jakarta?


"Sakno mba, de'e wes tuwek uga nganggo tongkat. Koyo wong stroke ngono iku lho mba!"


(Kasian mba, dia udah tua juga pakai tongkat. Kaya orang struk gitu)


Apa...tuan Hartama? Tapi kayanya ngga mungkin deh! Yang aku dengar tuan Hartama memang stroke.


"Oh Yo wes nek ngunu, makasih mas Sudar!"


Aku pun masuk ke dalam rumah. Selang beberapa saat, Anika dan Dimas serta Sakti dan Bina sampai ke rumah ku.


"Dek, ini rumahnya Bia?", tanya Sakti pada adiknya.


"Iya lah!" jawab Anika sekenanya.


"B aja kali jawab nya?", kata Sakti kesal.


"Lagian mas, udah tahu ini rumah nya. Masih Bae di tanyain!", sahut Anika.


"Udah...ngga di mana aja ribut. Ayo ah, masuk!", kata Dimas menggandeng tangan Anika.


Bina tersenyum memandangi kedua tangan yang saling bertautan itu. Padahal dia sendiri pun melakukan hal yang sama.


Dalam hati Bina, ia bersyukur bahwa Dimas memang tulus menyayangi Anika.


"Assalamualaikum, mba...!", panggil anika. Aku baru saja mengganti pakaianku dengan daster longgar tak lupa jilbabnya juga ku ganti yang lebar.


"Udah puas jalan-jalan nya dek?", tanyaku pada Anika.


"Belom lah mba, tapi...", Anika melirik kekasihnya.


"Kak dim harus balik ke Tuban!", kata Anika lesu.


"Ya namanya tugas sayang?", Dimas mencubit hidung Anika.


Kuletakkan minuman di hadapan mereka berempat.


"Silahkan mas sakti, mas dimana, bina...Adek?!", kataku.


"Makasih Bi" jawab mereka kompak.


"Febri udah jalan?", tanya Dimas. Aku mengangguk.


"Tadi di jemput sama Lettu Amara."


"Uhuk-uhuk-uhuk ", Dimas tersedak minuman nya.


"Pelan dong kak, ngga ada yang minta!", kata anika menepuk bahu kekasihnya.


"Tahu tuh?", sahut Sakti.


"Memang Lettu Amara itu suka ya sama mas Febri?", tanyaku pada Dimas.


"Heum? Ah, ya... mungkin!", jawab Dimas.


"Keliatan nya begitu!", kataku.


"Kenapa? Cemburu?", tanya Dimas. Aku menggeleng cepat.


"Ngga lah!"


"Ya syukur lah kalo ngga, lagian Febri juga cuma mau berteman aja sama Amara."


Aku mengiyakan aja apa yang Dimas katakan.


"Eh, makan siang dulu yuk?", ajakku pada mereka semua. Mereka kompak untuk makan siang bersama. Nanti setelah makan, barulah kami istirahat.

__ADS_1


****


Makasih 🙏✌️


__ADS_2