
"Gak ngajak-ngajak sih!", ujar Sakti yang menggandeng tangan istrinya. Sedang Anika berada di belakang sepasang suami istri itu.
"Hai pak dokter? Apa kabar?", tanya Febri sambil menyalaminya Sakti.
"Baik dong! Kapan Lo balik?"
"Kemaren!"
"Tahu aja Bia ke sini!
"Tahu lah Sak, kan sinyalnya kuat!", jawab Febri sambil menaik turunkan alisnya. Aku hanya mencebikkan bibirku mendengar jawaban absurb dari Febri.
"Nabil! ikut aunty yang cantik jelita sini!", Anika mengambil Nabil dari gendongan Alby.
Ponsel ku bergetar, ada panggilan dari Lek Sarman.
[Assalamualaikum lek?]
[Walaikumsalam, dimana kamu nduk? Ini udah mau jam makan siang lho!]
[Eum...Bia....sama mas Febri dan yang lain lek]
[Lho, ada Febri toh?]
[Iya lek, baru pulang kemarin]
[Oh ya udah kalo gitu. Kami mau kumpul makan siang dulu]
[Ya Lek]
Aku kembali memasukkan ponsel ku dalam gamis.
"Makan yuk!", ajak Bina pada suaminya.
"Eh, gue mau makan sama istri tercinta, ada yang mau bareng?", tanya Sakti pada mereka yang ada di situ. Anika mengembalikan Nabil pada Alby.
"Aku ikut kak! Mending di kacangin sama kalian, dari pada jadi obat nyamuk nya mba Bia sama mas Febri!", celetuk Anika.
Nabil mulai rewel lagi setelah di gendong Alby.
"Kayanya Nabil capek, dia butuh rebahan!", kata ku. Alby menatap ku sekilas.
"Ya udah kita makan sama-sama aja. Cari tempat yang bisa di pake buat Nabil rebahan aja!", ujar Febri.
Aku melirik tajam pada abdi negara itu. Maksudnya??? Aku harus makan bersama lagi dengan Alby???
Febri menggandeng tangan ku.
"Ayok Nduk! Udah siang ini! Tadi pagi mas ngga sempet sarapan!", katanya. Mau tak mau aku pun mengikuti langkahnya. Dan yang lain menyusul di belakang kami. Termasuk Alby yang menggendong Nabil. Anika memilih berjalan di samping Alby. Gadis itu menoleh pada suami sahabatnya.
"Mas Alby!"
"Heum?"
"Hati...aman mas?", tanya Anika.
"Maksud nya?"
"Ngga panas liat mereka?", Anika menunjuk ke arah Febri dan Bia.
__ADS_1
"Tadi sempat panas sebentar, tapi udah di dinginin sama Febri!", jawab Alby sambil tersenyum.
"Oh...udah rela? Ikhlas?", cerca Anika.
"Insyaallah, iya! Aku punya Nabil! Aku harus fokus sama Nabil!"
"Kalo Silvy?", tanya Anika lagi.
"Aku memang berharap Silvy segera sadar Dek. Tapi...kalo ternyata masih seperti ini terus, ya mau gimana lagi. Toh, kita sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk Silvy!"
"Mas Alby sudah tak mencintai Mba Bia?"
"Rasa itu masih ada. Hanya saja lebih baik perasaan itu di kubur dalam-dalam!"
Anika mengangguk paham. Sebenarnya dia juga bingung di sini. Menempatkan diri di posisi Bia, Alby bahkan Silvy pasti sangat sulit. Tapi itu masalah mereka!
Aku melepas genggaman tangan Febri. Dia menatap ku sekilas.
"Kenapa? Takut Alby cemburu?", tanya nya.
"Ishhhh...paan sih!"
"Hehehe ngga usah ngambek. Tuh ada yang bisa di pake buat rebahan Nabil!"
Febri menunjukkan sebuah tempat makan yang tak terlalu ramai. Yang lain pun membuntuti kami.
Kami memilih tempat itu, Nabil pun sepertinya senang sekali bisa merebahkan diri seperti itu. Ngga cuma orang tua yang punggungnya pegel, bayi pun sama heheheh.
Kami memesan beberapa makanan. Yang tahu dalam nya **fan tahu lah model tempat makannya yang ada di dalam kek mana π. Anggap aja Nabil rebahan di tempat yang nyaman.
"Gimana sama kondisi negara Xxx Feb? Lo udah pulang?", tanya Sakti.
"Sama Seto ya?", tanya Sakti lagi. Febri mengangguk.
"Untung Dimas ngga ikut ya dek!", celetuk Sakti pada adiknya.
"Huum! Masih sesama di Indonesia aja ketemu nya ga mesti sebulan sekali. Mana aku yang kudu ke sana lagi hadeeeh....!", keluh Anika.
"Suruh siapa nyusul ke sana dek!", ledek Bina.
"Kak Bina mah...iiih...!", sahut Anika manyun. Kami semua tertawa, tak terkecuali Alby sendiri. Aku sadar sesekali ia mencuri-curi pandang padaku.
"Mas, luka kamu udah sembuh total?", tanyaku. Aku sampai lupa menanyakannya.
"Alhamdulillah udah, cuma kayanya belum bisa di kirim ke perbatasan lagi heheh. Masih harus hati-hati soalnya."
"Lo luka kenapa?", tanya Alby.
"Heum, gue pernah kena luka tembak ya awal-awal gue di kirim ke sana."
"Astaghfirullah!", gumam Alby.
"Tapi... buktinya Lo selamat Feb!", celetuk Sakti.
"Alhamdulillah iya, nih Lo masih liat gue disini! Gue udah punya janji, gue bakal balik lagi ke sini buat dia dalam kondisi yang baik-baik saja tanpa kurang satu apapun. Dan hari ini gue udah buktiin ke dia!", Febri melirik ku. Aku sempat tersedak mendengar ocehannya.
"Alay!", kataku.
"Dih, ada yang merasa kayanya?", ledek Anika.
__ADS_1
"Paan sih dek!", aku kembali meminum minuman ku. Nabil bergerak heboh, setelah di beri susu oleh Alby.
Bahkan Alby cekatan sekali mengurus anaknya ya? Batinku sambil tersenyum miris.
"Lo ga pake jasa babysitter aja By?", tanya Febri.
"Heum, ngga! Gue pengen ngurusin Nabil sendiri aja. Mumpung libur! Kalo kerja baru gue titip sama Mak dan teh Mila. Tapi kalo udah pulang kerja, Nabil sama gue sampe gue berangkat kerja lagi."
Alby mengusap pipi Nabil sambil tersenyum dan sesekali mengajak Nabil bicara.
Entah kenapa aku menyunggingkan senyum melihat Nabil yang sepertinya sangat senang. Ternyata senyum ku dilihat oleh Febri.
Dia memundurkan kepalanya ke belakang, berbisik padaku bahkan sangat lirih.
"Besok kita bikin yang lebih lucu dari Nabil!", bisiknya.
Mataku melotot, pipiku terasa panas di buatnya. Aku reflek mencubitnya dan ternyata aku mencubit bekas jahitannya.
"Awsss....sakit Nduk! Kalo jahitannya lepas lagi gimana?", kata Febri hiperbola.
"Maaf!", kataku.
"Yang luka pinggang mu Feb?", tanya Alby.
"Heum, pinggang sama paha. Tahu tuh yang nembak pilih-pilih tempat!", kata Febri masih mengeluh sakit. Entah itu sandiwara atau serius aku tak tahu.
Kami pun berbicara banyak hal random. Tapi aku memilih untuk menjadi pendengar.
Tiga pria tampan yang beda profesi itu saling menceritakan banyak hal.
Alby banyak berubah, dia bukan lagi supir pribadi. Tapi dia sekarang sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan besar. Bahkan besok aku masih harus bertemu dengannya.
*****
Ngga jadi cerita Buat versi real di akhir cerita deh! Mbok di kira mamak pro sama pelakor π€π
Singkat cerita saja yak! Bia versi real tak sama seperti Bia nya alby yak. Bia nya alby murni kehaluan mamak.
Sedang Bia versi real, masih bertahan dengan pasangannya hingga saat ini. Bahkan anak selingkuhannya juga di rawat olehnya! Kayanya seribu banding satu deh yang kaya gitu. Mau aja rawat tuh anak, sepenuh hati lagi!
Dia pernah bilang sama mamak.
'Dia ikhlas menjalaninya, ada surga yang sudah menantinya'
Mamak sempat tak sependapat sama dia. Masih banyak jalan surga yang bisa di tempuh, ngga harus seperti ini kan!?
Kehidupan nya yang dulu serba berkecukupan, tapi karena masalah itu semua hartanya ludes. Tak lagi 'sekaya' dulu. Dia bertahan bukan karena cinta nya saja, tapi juga karena anak kandungnya seorang gadis yang sudah dewasa. Dan Alhamdulillah, gadis itu sekarang sudah mapan dengan pekerjaan yang lebih dari sekedar layak. Meski pun saat menjalani skripsi ujiannya berat sekali π
Dan soal pelakor itu! Bia versi nyata itu masih berhubungan baik dengan nya, alasannya...biar bagaimanapun pelakor itu adalah ibu kandungnya. Dia tak ingin memutuskan hubungan antara anak dan ibu.
Dan soal pelakor itu...katanya sudah bertaubat. Tapi... mungkin ujian dia bertaubat. Setelah sukses jadi pelakor, dia menikah sungguhan dua kali malahan. Tapi...juga...wallahu'alam , dua kali juga suaminya meninggal π. Yang jelas sudah takdir sih. Gak ada yang benar-benar sukses jadi pelakor kok. Semua akan memetik apa yang sudah ditanam.
Kecuali mamak, tetangga yang nanam kelengkeng, tapi mamak yang panen karena nyebrang pager ππ.
Jadi....jangan pikir, mamak pro sama pelakor lagi ya πβοΈβοΈβοΈNaudzubilllah!
Semoga para reader's termasuk mamak di jauhkan dari yang namanya pelakor! Aamiin
Semoga Bia versi asli, ga baca ini ya πππ
__ADS_1