Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 177


__ADS_3

Aku memilih untuk mengabaikan keduanya. Tak ingin bimbang saat menerima telpon Alby dan juga tak mau banyak memberi harapan untuk Febri.


Mereka dua orang laki-laki yang sangat berbeda. Alby lebih ke sisi yang lembut meski sekarang dia sudah banyak berubah sejak rumah tangga kami bermasalah.


Febri sendiri, dia jauh lebih tegas dan agak 'kasar'. Mungkin karena basic nya memang diharuskan seperti itu sesuai dengan pekerjaannya.


"Ngga ada yang mau kamu ladeni?", tanya lek Dar. Aku menggeleng lemah. Saat ini aku sudah tak menangis lagi seperti tadi. Sudah jauh lebih tenang saat aku meluapkan emosi ku lewat air mataku.


"Ya sudah, kamu pulang aja dulu. Istirahat saja di rumah."


Aku mengambil masker yang ada di laci. Lalu ku pakai. Ya, memang sih ngga menutup mata sembab ku. Tapi minimal muka ku tak terlalu nampak habis menangis.


"Pulang ke belakang kan?"


Sempat ragu, tapi akhirnya aku mengiyakan. Toh ini sudah lewat ashar.


Sampai parkiran, aku mengambil motor ku. Ku lajukan menuju...entah kemana nanti aku menjalankan motor ku. Intinya, saat ini aku keluar dari area warung.


"Bu, Bia kemana toh?",tanya lek Sarman.


"Pulang, pak" sahut Lek Dar. Lek Sarman hanya mengangguk pelan.


Di perempatan jalan, aku melihat ada iring-iringan jenasah yang akan di makamkan. Tapi sepertinya tidak di makamkan di tempat pemakaman umum , melainkan pemakaman khusus untuk NonIs yang memang sedikit lebih jauh dari daerah yang di penuhi penduduk.


Pemakaman?


Tiba-tiba hatiku merasa tercubit! Ya, pemakaman! Aku sudah lama berada di kampung ku sendiri, tapi aku tak pernah mengunjungi makam bapak sama sekali. Anak macam apa aku ini? Aku terlalu fokus dengan masalah ku, sampai aku melupakan beliau.


Perlahan, motor ku ku parkirkan di pinggir pagar keliling pemakaman umum. Meski sebenarnya tidak ada yang mempermasalahkan tentang agama apa yang berhak di makamkan di sini, tapi kebanyakan dari pihak keluarga almarhum memilih untuk memakamkan di mana yang mereka inginkan.


Hari sudah mulai senja, suara binatang pun sudah mulai terdengar. Ada perasaan takutkah? Takut hantu? Tidak juga. Pemakaman umum berada di tepi jalan raya. Jadi masih banyak yang berseliweran sepanjang jalan ini.


Pelan, ku lewati nisan-nisan yang berjejer rapi sebelum aku sampai di makam bapak. Tak butuh waktu lama untuk ku sampai ke sana.


Malam bapak terawat, bersih dan rapi. Tidak ada rerumputan liar yang menghalangi nisan.

__ADS_1


"Assalamualaikum, pak!"


Aku tahu, bapak juga tidak akan menjawab salamku. Bapak meninggal saat usia beliau tiga puluh tujuh tahun. Masih cukup muda bukan? Tapi dia harus di hadapkan dengan penyakit yang ternyata baru ku ketahui belakangan ini. Itu pun karena penjelasan ibu. Karena ketidaktahuan ku itu, jadilah kesalahpahaman itu berlangsung lama.


"Pak, Bia minta maaf. Bia udah lama ngga nengok bapak."


"Bapak tahu ngga, Bia...lagi proses berpisah dari Alby. Maafin Bia pak, belum bisa membuat bapak bangga. Bia justru gagal menjalani pernikahan Bia. Hatinya Bia sakit pak, sakit!"


Aku terisak pelan. Sekalipun aku menangis kencang pun, bapak tidak akan mendengarnya.


"Bia terpaksa memilih jalan ini pak. Pergi dari Alby mungkin sulit, tapi bertahan dengan situasi seperti ini Bia ngga sanggup pak. Ngga sanggup!"


"Bia tidak setegar perempuan-perempuan yang sabar berbagi. Bia ngga bisa! Bia memang egois pak."


Ku hapus air mataku.


"Kalo aja masih ada bapak ya pak!", aku tersenyum kecil.


"Pasti Bia ngga akan sesedih ini. Ada bapak yang menguatkan dan mendukung Bia."


Aku menjeda curhatku pada bapak.


"Sahabat yang katanya berhutang budi sama bapak, tapi ...dia malah nyakitin anak kesayangan bapak ini."


Tes....aku kembali menangis mengingat momen itu.


Setelah puas bercerita di samping nisan bapak, aku panjatkan doa semoga Allah melapangkan kubur bapak dan mengampuni semua dosa-dosa bapak. Karena bapak orang yang baik, bahkan sangat baik.


Surga tempat untuk mu ya, pak!


.


.


"Kamu mau kasih tahu kapan sama Alby soal jenis kelamin anak kalian?", tanya Mak Titin.

__ADS_1


"Ibu aja yang kasih tahu ya Bu."


Titin mengangguk pelan. Dia paham jika putri nya masih segan untuk banyak bicara dengan suaminya.


'Apa kamu bahagia ya By, andai tahu anak kita laki-laki?', batin Silvy.


Di sisi lain, Alby sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Meski tidak ada seraj terima jabatan, semua pekerjaan Hartama di ambil alih olehnya. Niat nya untuk ke kampung Bia pun belum terlaksana. Selain untuk menemui Bia, dia juga ingin proyek di sana cepat selesai. Sesuai dengan perintah Hartama lewat pengacaranya, om Hotma. Staycation itu akan di hibahkan atas nama Bia. Tak sebanding memang dengan apa yang almarhum mertuanya berikan pada Hartama, tapi itu keinginan Hartama sendiri.


Alby memijat pelipisnya karena sedikit pening dengan berkas-berkas yang awalnya ia tak tahu sama sekali tapi harus ia pelajari bahkan ia kerjakan. Marsha sendiri pun sibuk dengan pekerjaannya.


Ponsel Alby berkedip-kedip. Menandakan ada notifikasi dari aplikasi hijaunya. Di raihnya benda pipih berwarna hitam itu.


Dia langsung menegakkan punggung nya saat tahu jika Bia membuka blokirannya. Pesannya yang ia kirim tiap hari langsung centang biru.


Ada sedikit harapan dalam dadanya. Jika Bia akan merubah keputusannya. Dengan penuh percaya diri, ia menghubungi Bia. Tapi sampai berkali-kali ia memanggil, Bia tak juga mengangkat nya.


'Neng, ayo angkat telpon Aa!' monolog Alby. Mulutnya tak henti mengucapkan kalimat itu tangan nya sambil terus mendial nomor Bia.


Sampai panggilan ke sepuluh, Alby menyerah untuk tak menghubungi Bia.


'Ya Allah neng! Aa pikir, saat neng buka blokiran nomor Aa karena neng merindukan Aa, mau bicara sama Aa, mau mencoba memperbaiki semuanya'


Alby kembali menyandarkan punggungnya ke punggung kursi kerjanya. Matanya terpejam. Memikirkannya banyak hal, terutama hubungan nya dengan Bia. Perempuan yang sangat ia cintai dari dulu, sekarang dan mungkin selamanya.


.


.


Di kediaman Galang, beberapa orang sedang ribet dan sibuk dengan persiapan lamaran Sakti. Belum banyak barang yang di bawa ke rumah Sabrina. Bahkan Sabrina sudah mewanti-wanti agar tak membawa terlalu banyak orang, karena rumah nya kecil.


Jadi, sakti hanya membawa keluarga inti dan para ajudan ayahnya. Plus Mba Nita dan suaminya yang memiliki laundry di depan rumah sakit itu.


Di tengah kesibukan euforia lamaran dadakan, ada cowok ganteng yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Siapa lagi kalo bukan Febri! Dia berkali-kali menghubungi mantan kekasih nya tapi tak ada respon dari mantan kekasihnya itu. Akhirnya ia hanya mengirimkan chat.

__ADS_1


[Nduk, kamu ngga apa-apa kan? Perasaan mas ngga enak! Oh ya ,malam ini Sakti mau melamar Sabrina. Nanti mas telpon ya kalo acara itu sudah selesai]


Masih centang abu-abu meski sudah bermenit-menit berlalu. Hingga akhirnya, Febri bergabung dengan teman-temannya.


__ADS_2