
Mobil yang di kendarai Alby sudah terparkir di jajaran petinggi perusahaan milik Hartama. Alby pun melangkahkan menuju ke loby kantor. Saat memasuki kantor, sekuriti dan staf yang tak sengaja berpapasan dengan nya menyapa dengan sopan.
"Selamat pagi pak Alby!", sapa sekuriti.
"Selamat pagi", sahut Alby. Alby merasa bingung dengan situasi ini. Bagaimana bisa mereka mengenal dirinya? Bahkan baru beberapa kali ia ke kantor ini. Itu pun atas perintah mertuanya.
Alby berjalan menuju lift, sambil menunggu pintu lift terbuka ia memainkan ponselnya. Tidak ada chat apa pun dari kekasih halalnya yang ada di kampung sana. Rasa rindu yang membuncah membuat ia ingin segera sebulan berlalu agar bisa bertemu dengan istrinya itu.
Mata dan jemarinya masih fokus dengan benda pipih itu hingga ia dikejutkan oleh sapaan seseorang.
"Pak Alby!", panggilnya. Alby pun menoleh.
"Eh ...mba Marsha?"
"Panggil Marsha aja pak Alby", kata Marsha. Alby tersenyum tipis.
"Ya , Marsha!", sahut Alby ramah.
"Tadi pagi Tuan Hartama sudah memberikan kisi-kisi apa saja yang harus saya ajarkan kepada pak Alby. Anda sudah siap kan pak?"
"Insyaallah Sha!", jawab Alby sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Di saat yang bersamaan, pintu lift terbuka. Keduanya pun masuk ke dalam lift untuk menuju lantai ruangan mereka.
"Maaf pak Alby!", kata Marsha sedikit ragu.
"Ya, kenapa?"
"Eum...soal pernikahan anda dan nona Silvy, eum...saya bingung mau memberi selamat atau...", ucapan Marsha menggantung.
"Jangan terlalu formal sama aku Sha. Aku sama saja kaya kamu kok, sama-sama kerja ke tuan Hartama. Dan soal pernikahan itu...ya...sudah lah mau gimana lagi. Di bahas pun rasanya percuma Sha."
Alby menghela nafasnya.
"Jadi...istri pak Alby sudah setuju gitu?"
"Jika kita sedang berdua seperti ini, jangan panggil bapak bisa kan Sha?"
Marsha mengangguk.
"Awalnya tentu saja Bia menolak Sha. Perempuan manapun pasti akan seperti itu. Tapi semua sudah terjadi, aku yang bodoh ini tak bisa melakukan apa pun buat menolaknya."
Ucapan Alby terjeda setelah itu ia kemudian menghela nafasnya.
"Sekarang Bia sedang hamil. Ibuku di paksa ikut aku tinggal di rumah tuan Hartama. Dan...Bia sendirian di sana."
Marsha sedikit terkejut mendengarnya.
"Istri mas Alby di kampung sendirian?"
"Iya."
"Ya ampun, kasian banget ya istri mas Alby. Mana lagi hamil lagi."
"Sebenarnya aku ngga tega Sha. Tapi keadaan ngga berpihak sama aku."
"Saya ngga tahu harus komentar apa, tapi saya cuma bisa bilang semoga rumah tangga kalian baik-baik saja. Terutama buat mba Bia, semoga dia bisa terus bersabar di situasi sulit ini."
__ADS_1
"Makasih Sha, kamu sudah jadi teman curhat aku.Walaupun kita baru sama-sama kenal."
"Ngga apa-apa mas alby. Anggap saja, Marsha ini teman kerja sekaligus teman curhat mas Alby."
Lift pun terbuka di lantai ruangan mereka. Alby langsung masuk ke ruangannya. Sedang Marsha mengambil dokumen dan beberapa berkas yang harus Alby pelajari.
.
.
Di kampus ternama....
"Vy, enak ngga sih MP tuh?", celetuk Anika.
Bukannya menjawab, justru mulut Anika di comot oleh Silvy.
"Upuun Suh vu!", kata Anika yang tertahan karena jari Silvy masih di mulut Anika.
"Makanya punya mulut di ayak, vulgar banget sih omongan Lo!", kata Silvy sambil melepas jemarinya.
"Gue kan nanya doang Bambang!", kata Anika kesal.
"Ngga usah tanya-tanya, ntar juga Lo ngrasain makanya buruan kawin Sono! Cari pacar!?"
"Nikah Vy...nikah...bukan kawin!", Anika kembali memonyongkan bibirnya.
"Hahahaha iya lah, nikah dulu baru kawin. Jangan kawin Mulu nikah nya belum tentu!", sahut teman mereka yang bangku nya berjarak tak terlalu jauh.
Silvy dan Anika tertawa lepas. Karena apa? Ada Vega di sana yang sedang menahan emosinya. Sang kekasih, alias mantan pacar Silvy belum datang sampai sekarang. Jadi tidak ada yang membela dirinya saat yang lain meledeknya.
Ditengah tawa mereka, ponsel Anika bergetar. Ada seseorang yang menghubunginya.
"Angkat aja sih, tapi ngapa Lo bangun? Ngga bisa gitu jawab telpon di sini?", tanya Silvy.
"Urusan keluarga beib!", jawab Anika. Akhirnya Silvy hanya mengedikan bahunya.
[Hallo Yah?]
[Hallo sayang, belum masuk kuliah kan?]
[Udah di kelas, cuma belum datang dosennya]
[Oh]
[Tumben yah, ada apa telpon Ika?]
[Ayah mau dinas ke kota G sayang, sekalian ketemu sama mas mu. Dia udah lama ngga pulang kan?]
[Oh...eh...ketemu mamasku? Ika ikut dong yah!]
[Jangan lah nak. Kan kamu kuliah sayang.]
[Tapi Ika kangen sama mamas hehehe]
[Di rumah aja ya, nanti ayah suruh ajudan ayah juga buat stay di rumah]
__ADS_1
[Ngga mau, pokoknya Ika ikut yah. Kalo ayah berangkat sekarang, nanti Ika nyusul aja. Iya dong yah?]
Ayah Anika tampak terdiam.
[Boleh dong yah?]
Anika masih merayu sang ayah.
[Ya udah, nanti ayah suruh ajudan ayah anterin kamu.]
[aaaah.... makasih ayahku yang ganteng!]
[Hehehe ada maunya aja muji ganteng]
[Heheh iya dong yah. Eh yah...dosen masuk, udah dulu ya yah!]
[Iya. Belajar yang bener ya]
[Siap jendral!Hahahaha]
[Dasar anaknya ayah]
Sambungan telepon pun terputus. Anika kembali duduk di sebelah Silvy.
Keseharian Anika tak banyak di ketahui oleh teman-temannya termasuk oleh Silvy selaku sahabat dekatnya.
Sebagai anak jenderal berpangkat tinggi, justru Anika berperilaku sederhana. Tak ada yang tahu jika ayahnya pejabat tinggi. Teman-temannya hanya tahu jika Anika anak dari orang yang sederhana. Dia tidak ingin menonjol di antara para mahasiswa yang lain karena jabatan orang tuanya. Itu lah hebatnya sang ayah meski single parent tapi mampu mendidik anak-anaknya.
.
.
Hari sudah mulai beranjak siang. Aku bingung ingin melakukan apa karena semua pekerjaan rumah tangga sudah selesai. Sesekali aku membaca aplikasi novel online di ponsel ku.
Ada saat-saat dimana aku merasa jenuh melakukan apa. Sampai akhirnya aku terpikir untuk memasak sesuatu yang kiranya mudah tapi enak.
Akhirnya, aku keluar rumah menuju warung yang dekat rumah teh Salamah. Tak lupa ku pakai jilbab instan yang selalu setia menemani ku.
Rumah teh Salamah tak terlalu jauh, hanya saja memang jalanan berbatu cukup menyulitkan jika becek seperti sekarang karena efek hujan semalaman.
Tapi hal ini tak mengurangi semangat ku untuk memasak menu yang tiba-tiba ada di otakku.
"Assalamualaikum Wak Euis!"
"Walaikumsalam, eh...neng Bia geulis!Meser naon neng?", sapa Wak Euis ramah.
(Beli apa)
"Heheh Wak bisa aja. Masih ada ayam ngga Wak, setengah kilo aja"
"Aya atuh neng. Sok, iyeu. Naon deui?"
Aku pun menyebutkan apa-apa yang aku butuhkan dan transaksi pembayaran belanja sayur pun usai.
"Neng Bia yang sabar ya neng!Semoga ujian rumah tangga neng Bia bisa di lewati dengan sabar sama neng", kata Wak Euis.
__ADS_1
"Iya Wak, udah Bia ngga apa-apa. Kalo gitu Bia balik dulu ya Wak. Udah laper!" kataku sambil tersenyum.
Aku pun menjauh dari warung Wak Euis. Seperti menang aib keluarga ku sudah jadi rahasia umum. Ya sudah lah, mau gimana lagi. Toh aku tak bisa membungkam mulut mereka satu persatu.