Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 163


__ADS_3

Sekarang aku sudah berada di rumah Lek Sarman. Mereka tak menyidang ku. Entah, mungkin menunggu waktu yang tepat sampai aku bicara sendiri pada mereka.


Aku tahu, mau sekarang atau nanti pada akhirnya aku akan merepotkan mereka. Jadi, mumpung semua sedang berkumpul dan kedua lek ku tak sibuk di warung aku mengajak mereka bicara.


"Lek, Bia arepan ngomong!", kataku memulai.


Sepasang suami istri itu saling melemparkan pandangan. Mereka hanya tak mau mencerca berbagai pertanyaan pada keponakannya jika memang Bia tak mau menceritakannya sendiri.


"Ndang ngomong'o nduk!", kata Sarman, lalu ia duduk di sofa di susul istrinya.


(Buruan ngomong)


Aku menarik nafas dalam-dalam.


"Bia sudah putuskan untuk berpisah dari Alby lek. Keputusan Bia udah bulat, ngga ada lagi kesempatan yang Bia berikan buta Alby lek!"


Lek Sarman menghela nafasnya.


"Lek dukung apa pun keputusan kamu, tapi kamu udah yakin kan?"


Aku mengangguk. Cepat atau lambat, waktu itu akan tiba.


Lek Dar duduk di samping ku. Ia mengusap lengan ku.


"Boleh lek Dar tanya?"


Aku mengangguk.


"Alby sudah memaksa mu untuk melayani nya kemarin, kamu ngga takut kalau...."


Lek Dar melirik suaminya, yang dilirik justru tak paham.


"Kalau apa lek?", tanyaku.


"Kalau akibat hubungan badan kalian kemarin, kamu hamil lagi?", tanya Lek Dar takut-takut. Lek Sarman membulatkan matanya. Dia benarkah tak berpikir ke arah sana. Yang dia sadari, dia rasakan hanya emosi karena Alby sudah memaksakan kehendaknya pada Bia meski itu masih sah mereka lakukan.


"ngga tahu lek. Meski nanti hamil pun, Bia akan merawat anak Bia sendiri. Ngga mau melibatkan Alby lagi. Tapi...."


"Tapi?", lek Dar menggantung pertanyaannya.


"Semoga saja ngga sampai hamil Lek!"


Lek Dar mengernyitkan alisnya. Sebagai orang yang lebih berpengalaman, tentu ia merasa takut jika itu terjadi dalam kondisi ini.


"Beberapa hari lalu, ibu ngajak Bia ke bidan. Mba sus bilang, setelah nifas alangkah baiknya suntik KB yang tiga bulan. Entah lah, Bia kurang begitu paham Lek."


"Ibu mu yang ngajak?", tanya lek Dar lagi. Dan aku mengangguk sebagai jawaban ku.


Lek Dar membuang nafas lega.


"Ya sudah, kamu mau istirahat dulu?", tanya lek Dar. Aku menggeleng.


"Capek tidur terus lek."


"Kamu betah pake daster kedodoran punya Bu Sri?", sindir lek Dar. Dan...ya, aku baru menyadari kalau aku pakai daster ibunya mas Febri. Kedodoran jika aku yang pakai. Tapi, dasternya kekinian kok. Ngga ibu-ibu banget.


"Lek Dar mah...!", kataku malu.


"Dih....Ono sing isin, malu-malu kodok!", sahut lek Dar.


(Dih ada yang malu)


"Masa kodok sih lek!", protes ku. Tapi lek Dar tak menjawab, justru tertawa sambil memelukku erat.


"Raih kebahagiaan mu nduk!", kata lek Dar lirih sekali, tapi aku mendengarnya.


"Ehem, wes toh. Terus, jadinya gimana? Kapan kamu mau daftar pengajuan gugatan kamu nduk?"


"Kalo bisa siang ini lek. Lebih cepat lebih baik!"


"Besok aja ya, lek telpon teman lek dulu yang pengacara. Kalo sekarang kayaknya ngga bisa langsung. Kan harus konsultasi dulu ke dia."


"Memang harus pakai pengacara ya lek?"


"Kasus mu ruwet Bi. Kan Alby nya ngga mau ceraiin kamu."


Aku mengangguk pelan. Kesehatan dan hukum itu bukan bidangku. Aku sama sekali tak tahu soal itu. Yang aku tahu hanya masak memasak dan urusan perut.

__ADS_1


"Ya udah, Bia manut aja lek!"


"Sekarang kamu istirahat lagi saja. Udah sana!"


.


.


.


"Makasih mas, udah anterin aku!", ujar Sabrina.


"Kenapa harus terima kasih sih? Aku kan calon suami kamu hehehhe."


Pipi Sabrina lagi-lagi di buat bersemu merah.


"Mas sakti ah....!", kata Sabrina kesal.


"Ya udah sana turun, kerja yang benar. Puas-puasin kerja. Nanti kalo udah jadi nyonya Sakti Wibisono, ngga bakal aku injinin kerja. Kamu cukup ngurusin aku dan ibu mu!", celetuk Sakti dengan entengnya.


"Mas....!"


"Sssst....udah, ngga usah protes. Masuk sana, nanti di omelin sama menejer kamu yang galak itu."


"Mas sakti tahu menejer ku galak?"


"Tahu lah!", jawab Sakti.


"Heum, ya udah deh. Aku turun ya mas. Assalamualaikum!", pamit Sabrina.


"Waalaikumsalam, nanti pulang aku jemput. Aku antar pulang ke rumah, ijin ke ibu mau bawa kamu ke ayahku."


Sabrina pun mengangguk patuh. Toh percuma saja, ia tak akan mampu menolak Sakti.


Sabrina menyimpan tas nya di loker lalu mengganti seragamnya. Setelah itu, dia prepare untuk membuka restoran tempat ia bekerja.


"Woy!", tiba-tiba nur mengagetkan Sabrina.


"Kaget Menur!", kata Sabrina kesal.


"Heh! Capek deh?", Sabrina memutar bola matanya malas.


"Dih, gitu amat."


Nur pun ikut membersihkan meja seperti Sabrina. Di saat keduanya sibuk beberes, sang menejer menghampiri keduanya.


"Heh, kamu!", panggil menejer pada Sabrina. Karena menejer tak menyebut nama siapa yang dipanggil antara dirinya dan Nur, kedua gadis itu hanya saling berpandangan.


"Denger saya panggil ngga?", bentak sang menejer.


"Ibu panggil siapa? Saya atau Nur , Bu?", tanya Sabrina.


"Ya kamu lah masa setan!"


Astaghfirullah! Gumam Sabrina dan Nur bersamaan. Akhirnya Sabrina mendekati Bu menejer.


"Kamu tuh ngga usah keganjenan bisa kan?", tanyanya pelan tapi terdengar mengintimidasi.


"Maaf Bu, saya ganjen? Maksudnya gimana ya? Saya ngga paham?", jawab Sabrina.


"Halah! ngga usah sok kecantikan kamu. Kamu godain pak Bram kan? Makanya kamu bisa ijin semau kamu?"


"Astaghfirullah, ngga Bu. Saya ngga pernah godain pak Bram. Yang bener aja Bu, saya masih waras. Ngapain saya godain suami orang, pamali!"


"Heh!", sang menejer menarik seragam Sabrina.


"Lho, kenyataannya begitu Bu. Buat apa saya godain suami orang, pak Bram memang baik kok. Beliau beneran tulus, karena tahu kondisi ibu saya. Ibu kali yang suka godain pak Bram. Kenapa malah jadi nuduh saya sih?", sahut Sabrina tanpa takut.


"Kamu....!", menejer itu hampir menampar pipi Sabrina tapi gadis itu tangkas menangkap tangan si menejer.


"Bu, saya di sini kerja sesuai prosedur ya Bu. Kalau ibu mau cari gara-gara, jangan sama saya! Saya aja ngga mau peduli kok ibu mau ada main sama pak Bram atau ngga. Jadi ngga usah mengusik saya!", Sabrina menyerang balik.


"Ada apa ini?", tiba-tiba pak Bram datang diantara mereka, di belakangnya ada sosok yang Sabrina kenal. Kekasih nya yang baru official tadi pagi. Mata Sabrina membulat menyadari keberadaan kekasih nya bersama Pak Bram.


"Ehem, ngga pak Bram!", jawab menejer.


"Bohong pak, tadi tiba-tiba saja Bu menejer cari masalah sama Sabrina. Nuduh Sabrina godain pak Bram", jawab Nur. Wajah pak Bram berubah garang menatap menejer itu.

__ADS_1


"Betul begitu Olivia?", tanya pak Bram. Si menejer hanya menunduk.


"Maaf, pak!", ujar si menejer.


"Maaf ya Sakti, kamu harus menyaksikan keributan sepagi ini!", ujar Pak Bram.


"Ngga apa-apa lah Bram. Lagian, kalo ngga gini gue ngga tahu gimana bar-bar nya calon ibu dari anak-anak gue nanti!", celetuk Sakti. Pak Bram dan Nur menatap Sakti tak percaya.


"Maksud nya?", tanya Pak Bram bingung.


"Sayang, kamu ngga mau kasih tahu mereka?", goda Sakti pada Sabrina. Wajah gadis itu memerah seperti kepiting rebus. Sontak saja, atensi semua orang tertuju pada Sabrina.


"Bina?", panggil Sakti.


"Mas sakti, iiih...!", Sabrina menutup wajah dengan kain lap yang tadi ia pakai untuk mengelap meja.


"Ehhh???", Sakti menghampiri kekasih nya yang saling sampai menutup wajahnya dengan kain lap yang tentu sudah kotor.


Pak Bram pun tersenyum melihat teman SMA nya sekarang sudah move dari seorang perempuan yang sudah bersuami, Bia. Nur masih tak percaya jika sahabat nya sudah berpacaran dengan dokter Sakti.


"Kotor sayang!", sakti menurunkan kain lap dari wajah ayu Sabrina.


"Aku malu mas!", kata Sabrina. Tapi tingkah konyol Sabrina justru membuat Sakti semakin gemas.


"Bram, bisa pecat aja nih anak ngga? Biar gue aja yang nafkahin?", ledek Sakti. Sabrina semakin menjadi-jadi merasa malu.


"Gila Lo Sak, anak orang main di nafkahin. Halalin dulu sana!", pinta Pak Bram.


"Kalo dia mau mah, sekarang ge hayo wae!", sahut Sakti. Pak Bram sampai tertawa mendengar tingkah konyol sahabat nya yang selama ini di juluki kayu balok oleh banyak orang yang mengenalnya. Ternyata, Sabrina yang bar-bar mampu menaklukkan kayu balok itu.


"Hahaha...gue bahagia buat Lo Sak! So...udah move on dari Bia dong kalo gitu?", tanya Pak Bram sambil menaikturunkan alisnya.


Sabrina sudah tak menutupi wajahnya dengan lap, tapi ia bersembunyi di belakang lengan Sakti.


"Bisa ae Lo Bram! Bia lagi otewe bubar sama suaminya, tapi ...ajudan bokap gue udah ancang-ancang kok. Makanya gue mundur, eh...Nemu modelan kaya gini! Limited edition tahu!", bisik Sakti tapi Sabrina mendengar ucapan Sakti. Tapi ya.... Sabrina ngga mau tanya macam-macam, dia ngga berhak tahu.


"Wow, kapan Lo ketemu lagi sama Bia?",tanya Bram.


"Waktu gue dinas di kota G."


Ehem! Deheman Sabrina menghentikan obrolan Sakti dan Bram. Yang lain? Yang lain sudah bubar hanya dengan kibasan tangan Bram.


"Emmm... Bram, gue ijin bawa calon istri gak? Pecat aja ngga apa-apa deh!"


"Mas Sakti!", tegur Sabrina sambil mencubit lengan Sakti. Tapi sakti hanya tertawa. Pak Bram masih geleng-geleng kepala.


"Ngga, ngga ada ijin-ijinan. Biarin Sabrina kerja. Lo juga ke rumah sakit aja Sono!", pak Bram mendorong tubuh sakti.


"Bram, ayolah... boleh ya??", kata sakti memelas.


"Gue bilang ngga Sakti! Ntar aja pulang kerja."


"Tapi....!"


"Udah balik sana!", dorong Pak Bram lagi. Akhirnya sakti pun keluar dari restoran itu yang sebentar lagi buka.


"Sabrina!"


"Ya pak Bram!", sahut Sabrina pelan.


Pak Bram menepuk bahu Sabrina dengan pelan.


"Hebat kamu bisa meluluhkan kayu balok itu, pake ajian apa?", tanya Bram. Sabrina menatap bos nya cengok, gak percaya kalo bosnya yang biasa tegas mengajak nya ngobrol kaya gini.


"Ajian ya pak? Eum, ajian rawa rontek pak!", jawab Sabrina sekenanya. Jawaban Sabrina menuai reaksi Pak Bram berlebihan.


Ya, pak Bram tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya. Sabrina hanya jawab asal soal ajian itu. Tapi dia tidak tahu apa yang pak Bram tertawakan. Setelah tawanya mereda, Bram pun bicara lagi.


"Terimakasih, terimakasih Sabrina. Semoga kalian memang jodoh. Biar hidup Sakti ngga lempeng-lempeng banget!"


Sabrina nyengir kuda. Dia sendiri tak tahu apa yang bos nya maksud.


*****


Sakti dulu ya, besok tinggal yang serius soal Albia 🤭🤭🤭🤭


Makasih yang udah mampir 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2