Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 226


__ADS_3

Alby dan Marsha berada di restoran Xxx. Mereka akan meeting dengan klien. Sekarang sudah tak ada lagi yang meragukan kemampuan seorang Alby. Nyatanya, lulusan otomotif tetap bisa bekerja di industri infrastruktur. Why not? Semua hanya butuh kemauan dan kemampuan akan mengikuti seiring berjalannya waktu.


"Terimakasih atas kepercayaan anda pak Sandy!", Alby menyalami klien nya.


"Sama-sama pak Alby! Saya yakin kerja sama kita akan berjalan dengan baik!", ujar pak Sandy. Alby dan Marsha pun mengangguk. Karena acara meeting sudah selesai, mereka melanjutkan untuk makan siang di jam yang hampir sore.


"Maaf pak Sandy, saya permisi ke belakang sebentar. Sudah mau jam dua siang ternyata, saya belum solat dhuhur!", kata Alby mohon ijin pada kliennya.


"Oh, silahkan pak Alby!", kata pak Sandy.


Alby pun berpamitan sebentar lalu bertanya ke salah satu pekerja yang pernah dia temui saat pernikahan Sakti dan Bina, Nur teman nya Sabrina.


"Mba Nur!", sapa Alby.


"Eh, iya mas Alby!", kata Nur yang juga mengingat betul sosok pria tampan itu. Sekali ketemu pasti ga akan lupa sosok tampan nan menggemaskan itu. Yiiiiuuuuu.....


"Di sini, ada di sediakan tempat buat solat ngga?", tanya Alby. Belum sempat menjawab, ternyata pak Bram menghampiri Alby.


"Mas Alby?"


"Eh, mas Bram!", kata Alby.


''Ada apa mas?", tanya Bram.


"Ini, saya tanya mba Nur, ada tempat buat solat kan? Saya belum sempat solat dhuhur. Tadi belum selesai meeting."


"Oh, di ruangan saya aja mas. Kalo di ruang anak-anak biasanya jam segini di pakai anak-anak istirahat, kebanyakan cewek!", kata Bram.


"Oh, ngga apa-apa mas Bram? Maaf merepotkan!", kata Alby.


"Ya ngga apa-apa lah mas, santai saja!"


Alby pun mengikuti langkah Bram, dia mengambil wudhu di kamar mandi yang ada di ruangan Bram. Ternyata Bram sudah menyediakan sajadah disana.


Alby mendirikan empat rakaat nya dengan khusyuk.


Bram memandangi sosok di depannya itu. Dia tak habis pikir, seorang Alby yang tampak bersahaja dan dengan wajah yang rupawan harus mengalami kisah cinta dan pernikahan serumit itu. Ya, Bram mendengar cerita itu dari Sakti. Toh, Bram juga kenal Bia saat sakti pedekate dulu.


Alby melipat sajadah yang tadi ia pakai, lalu meletakkan di sofa.


"Terimakasih mas Bram!"


"Sama-sama, ngga usah sungkan!", kata Bram. Tiba-tiba saja ada seorang gadis nyelonong masuk ke dalam ruangan Bram.


"Mas Bram! Kenapa ngga jemput aku!", pekik nya tiba-tiba. Gadis itu memukul membabi buta pada punggung yang baru ia lihat setelah ia memasuki ruangan Bram.


Sayangnya, gadis itu salah sasaran. Bukan Bram yang ia pukul melainkan Alby. Dan Alby juga tak menghindar pukulan gadis itu. Membiarkan si gadis itu puas meluapkan emosinya.


"Bian, Bianca!", bentak Bram yang merasa tak enak karena memukul punggung Alby.


Pukulan Bianca terhenti saat menyadari siapa yang memanggilnya. Dia menatap ke arah sofa yang terletak persis di belakang pintu.


Matanya membulat tak percaya. Kalau kakaknya sedang duduk di sofa, lalu siapa yang ia pukuli dari tadi?


Tas ransel kecil nya terjatuh, bersamaan dengan Alby yang memutar badannya. Postur tubuh Alby memang tak beda jauh dengan Bram. Wajar jika adiknya menyangka Alby adalah Bram.


Mulut Bianca ternganga tak percaya. Bahkan ia tak ingin mengedipkan matanya, takut bayangan tampan di depan wajahnya menghilang jika di berkedip. Yiiiiuuuuu....


"Bian!", bentak Bram. Bianca sendiri masih terkesima dengan wajah tampan yang bersinar dengan sisa air wudhu yang masih sedikit basah di sekitar pelipisnya.


"Masyaallah....Allah mengirimkan pria tampan ini di depan ku mas!", kata Bianca."Ini bukan mimpi kan?", lanjut nya.


Bram menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu dengan tingkah absurb adik bungsu nya yang sebentar lagi akan skripsi.


Alby masih bergeming. Dia memang dikenal lebih pendiam sejak istrinya meninggal. Satu-satunya wanita yang diajak bicara dengan ramah hanya Marsha, sahabat sekaligus sekretarisnya.

__ADS_1


Bram menarik lengan adiknya.


"Bian, jangan bikin mas malu!", bisik Bram tapi cukup kencang sehingga Alby pun pasti mendengarnya.


Bianca masih menatap Alby dengan pandangan mendamba.


"Maafkan adik saya ya mas Alby!", kata Bram tak enak.


"Iya mas Bram, kalo begitu saya permisi. Makasih ya mas Bram udah diijinkan sholat di sini!"


"Ya mas Alby!", kata Bram. Selanjutnya Alby pun keluar dari ruangan Bram tanpa memperdulikan Bianca yang masih mematung di hadapannya.


Sepeninggal Alby....


"Bian, kamu tuh bikin malu mas aja tahu ngga!", kata Bram memarahi adiknya.


"Eeeh? Mas, mas ganteng tadi mana? Ya Allah, tuh muka ganteng banget, mana adem lagi liatnya? Anak Sholeh tuh!", kata Bianca dengan wajah mupeng nya.


Bram menoyor adiknya dengan kesal.


"Ngga usah aneh-aneh!", Bram menyeret Bianca duduk di sofa.


"Kok aku baru tahu mas Bram punya temen seganteng itu?", tanya Bianca masih dalam mode mendamba.


"Ckkk, kamu tuh kuliah yang bener! Ga usah mikirin cowok ganteng segala! Urusi tuh skripsi!"


"Ya elah mas, pacaran ku opa-opa Korea aja masih kalah ganteng sama tuh mas tadi, siapa namanya tadi? Aldi eh Al...Al sapa mas?"


"Alby!"


"Iya, Alby!


"Dia temen nya Sakti!", sahut Bram.


"Temen mas Sakti? Dokter dong?"


"Waaaah.... CEO dong mas? Ya Allah, paket lengkap, udah CEO, ganteng mana rajin ibadahnya. Cocok jadi imam ku mas!", celetuk Bianca menyangga dagunya dengan kedua tangannya.


"Ngga usah ngadi-ngadi!", Bram meraup wajah adiknya dengan kasar.


"Kasar amat sih mas?", kata Bianca kesal.


"Dia duda! Sama istri pertamanya dia cerai, sama istri keduanya di tinggal mati! Ngga usah mikirin ke sono-sono!"


"Hah?", mulut Bianca terperangah. Bram kembali duduk di bangku kebesarannya. Niatnya tadi ingin keluar mengecek sikon resto, tapi di urungkan setelah bertemu Alby.


Bram membiarkan adiknya bersantai di sofanya. Entah apa yang adiknya pikirkan yang sedang senyam senyum tak jelas seperti itu. Yang Bram tahu, adiknya fans fanatik member BTS dan aktor Korea lainnya yang menurut Bram, semuanya terlihat cantik bukan tampan seperti dirinya 😆.


'Duda?', batin Bianca.


'Gak apa-apa ah, duda semakin menantang buat di taklukkan hehehe...maafkan aku babang Jungkook, aku berpaling dari mu!'


Seorang Bianca yang berjilbab kekinian itu masih saja terngiang-ngiang dengan wajah tampan Alby.


.


.


Malam mulai menjelang....


Segala persiapan sudah rampung. Besok pagi aku akan memulai semua hal baru dengan mas Febri.


Ya Allah, lancarkan semuanya. Tetapkan hati ku ya Allah!


Lek Dar masuk ke kamar ku. Dia mendapati ku yang masih memakai mukenah ku meski hari sudah cukup larut. Lek Dar tahu aku belom tidur, karena lampu kamar ku masih menyala.

__ADS_1


"lek Dar?"


"Kenapa belum tidur? Besok harus bangun pagi lho, kan mau di make up!"


"Ngga bisa tidur lek!"


"Kenapa? Febri belum kasih kabar?"


"Udah kok, tadi sempat teleponan."


"Terus, kenapa? Apa yang kamu pikirkan?"


"Acara besok Lek?!"


Lek Dar menghela nafasnya, lalu merangkul bahu ku. Aku seperti de javu dengan situasi ini.


"Kamu harus yakin kalo keputusan kamu benar! Jangan ragu lagi! Kamu dan Alby sudah punya jalan yang berbeda. Kalian berhak bahagia, meski tak harus bersama. Kamu lihat seperti apa mas Febri mu?"


Aku mengangguk.


"Perbanyak istighfar nduk. Semua sudah di atur! Jangan pernah mengecewakan orang lain, karena kamu sendiri tahu rasanya di kecewakan!"


Lagi-lagi aku mengangguk. Lek Dar selalu menjadi sosok yang mengerti aku. Aku sudah berbaikan dengan ibuku, tapi hubungan ku belum sedekat seperti antara aku dan lek Dar.


"Sekarang kamu tidur! Udah mau tengah malam. Ngga seru kan kalo muka kamu pucat gara-gara kurang tidur?"


"Iya lek!", kataku.


"Oh iya lupa, jadi... setelah resepsi kalian langsung pulang ke rumah bapak mu?"


"Heum!"


"Hehehe pasti ngga mau di ganggu ya!", lek Dar menowel hidung ku.


"Apaan sih Lek. Mas Febri sebenarnya ngajak di rumah pak Bambang saja, tapi aku ngga mau. Biar adil ya, di rumah bapak saja. Di sini ngga, di rumah pak Bambang juga ngga! Udah di beresin kan katanya Lek?"


"Iya...udah, tapi bukan kamar kamu. Kamar bapak mu yang di beresin!"


"Kenapa?"


"Yang ada kamar mandinya di dalam, sama...."


"Sama apa?",tanyaku.


"Takut kamu teringat malam pertama kamu sama Alby dulu....!", kata lek Dar cekikikan.


Ya Allah, aku sampai malu sendiri. Bahkan aku tak mengingat sejauh itu. Tapi dasar lek Dar, over pengertian.


"Lek Dar mah, jangan bahas itu...!"


"Iya...iya...maaf! Ya udah, lek juga mau ke kamar. Ngantuk!"


"Iya lek!", kataku. Lek Dar pun keluar dari kamar ku.


Benar kata Lek Dar, memang sebaiknya aku mengubur kenangan ku bersama Alby. Membuka lembaran baru dengan mas Febri.


Aaah...ya Allah, udah ngga sabar nunggu besok!


Eh...ngga sabar ngapa nih maksudnya????


*****


Kira-kira jodoh nya Alby udah nampak hilalnya belom ya???


Tapi nanti lah kalau sempat bikin spesial buat Aa Alby!

__ADS_1


Makasihhhh....✌️🤗


__ADS_2