
Motor ku sudah menepi di halaman kantor ekspedisi. Seandainya saja badanku fit dan kondisi si matic aman, mungkin aku lebih memilih untuk mengendarainya sampai ke kampung. Meskipun harus ditempuh selama hampir empat puluh delapan jam karena aku pasti akan berkali-kali istirahat.
"Pagi mas!", sapaku. Petugas ekspedisi itu menatap ku sekilas.
"Iya mba, ada yang bisa saya bantu?"
"Bisa ngga ya mas kalo saya kirim sepeda motor?"
"Bisa mba, ke Jawa ya?", tanyanya dengan sedikit tersenyum.
"Iya mas."
Setelah bernegosiasi dan melengkapi semua dokumen yang diperlukan aku pun istirahat sebentar di sana.
"Eta awewe meuni gareulis pisan euy?", kata si petugas ekspedisi itu pada rekannya.
(Tuh cewek cantik banget)
Aku dengar lho mas????!!!
"Muhun A", sahut temannya.
(Iya A)
"Bogah kabogoh teu nya? Kenalan atuh! Namina unik!"
(punya pacar ngga ya? Kenalan dong! Namanya unik)
"Moal ah, era ning"
(Ngga mau ah, malu kali)
Aku bangkit dari bangku tunggu.
"Punten A, hatur nuhun! Eum...urang tos nikah!", kata ku berlalu.
Kedua laki-laki itu melongo.
"Jang, manehna ngartieun urang ngomong naon?"
"Heuh!", sahut rekan nya.
Aku berjalan menjauh dari kantor ekspedisi. Menunggu bus jurusan kota, setelah itu aku lanjutkan menuju ibu kota. Dan setelah di ibu kota, aku langsung ke bandara. Aku booking tiket pesawat untuk keberangkatan nanti malam. Paling tidak, tengah malam aku baru sampai ke kampung halaman.Mengingat dari bandara Juanda ke kampung ku paling tidak masih ada yang harus ku tempuh empat jam. Bisa saja aku minta lek Sarman menjemput ku, tapi aku tak mau merepotkannya. Apalagi ini tengah malam.
__ADS_1
Ku gendong tas ransel ku. Mencari aman, ku masukkan ponsel dan dompet ku ke dalam celana panjang yang ku pakai untuk dalaman gamisku.
Setelah hampir lima belas menit menunggu, bus yang menuju ke kota pun berhenti di depan ku.
Aku memilih duduk di dekat jendela. Meletakkan tas ku di bawah kakiku untuk menghindari keributan jika ada orang lain yang akan duduk nanti. Tak lupa ku pasang masker ku, aku tak tahan bau solar.
Hampir tujuh jam aku sampai di ibu kota. Perjalanan siang hari memang terasa sekali melelahkan.
Suara azan magrib berkumandang sejak sejam yang lalu. Aku mencari toilet umum untuk sekedar mencuci muka dan mengganti pembalut wanita, jangan lupa! Masih nifas!
Jam tujuh lewat lima menit, aku menghentikan taksi ku menuju ke bandara. Tepat jam 9 malam, pesawat ku tinggal landas otw bandara Surabaya. Sekitar satu jam, pesawat ku sampai di sana.
Aku pun kembali menaiki taksi menuju ke stasiun untuk menuju kampung halaman ku.
Apa aku lelah? Sangat!!!!!
.
.
Alby mewakili perusahaan mertuanya untuk menghadiri pertemuan para investor di temani Marsha.
"Mas, aku cuma mau bilang!"
"Apa pun yang mereka katakan, tolong mas Alby jangan masukkan ke dalam hati. Biarkan saja mulut mereka berbicara apa! Jangan sampai terbawa emosi. Ya mas!"
"Memang mereka ngomong apa Sha? Mereka siapa? Para investor? Rekan bisnis papa?", cerocos Alby.
Marsha menghela nafas panjang.
"Ini dunia bisnis mas. Harus tahan banting! Jangan gampang baper kalo di bully sama mereka yang jauh lebih senior."
Alby terdiam. Ia fokus di belakang kemudi.
"Apa kamu juga pernah merasakan di bully oleh mereka Sha?"
"Sering, tapi aku tak mau mengingat nya mas. Masuk kanan keluar kiri."
"Owh...!", hanya sahutan singkat dari bibir tipis alby. Harus di akui Marsha, Alby memang tampan. Wajahnya bersinar, mungkin karena sering terkena air wudhu.
Tapi kenapa nasibnya seburuk ini? Bahkan dia tak mampu keluar dari jeratan tuan rumah, mertuanya sendiri.
Mobil Alby berhenti di depan gedung tinggi yang sangat mewah.
__ADS_1
"Kenapa pertemuan nya di sini ya Sha?", tanya Alby.
"Karena memang awalnya tuan Hartama yang akan bertemu mereka, jadi wajar jika merasa ingin bertemu di tempat yang Lux seperti ini."
"Apa aku bisa membawa diri di hadapan mereka?", Alby menatap Marsha.
"Aku yakin, mas Alby kan tipe orang yang pendiam. Setidaknya, jawab aja seperlunya saat mereka bertanya yang kira-kira tak membuat mas Alby nyaman. Ayo turun!", ajak Marsha.
Kemudian keduanya pun masuk ke gedung mewah itu. Mereka berdua memasuki hall yang cukup besar, banyak para eksekutif muda berada di sana. Tidak hanya muda, yang senior pun sama banyaknya.
Mendadak Alby merasa minder.
"Sepertinya tempat ku bukan di sini Sha!", kata Alby akan balik badan.
"Eh, jangan dong mas. Kamu tunjukkan pada mereka kalo kamu itu memang pantas disini."
"Sha, aku sadar diri kalo aku ..."
"Sekretaris Marsha?", sapa seseorang.
"Eh, selamat siang mister Han!", sapa Marsha hormat.
"Kau sendiri? Dimana tuan Hartama?", tanya mister Han lagi.
"Oh tidak mister, saya bersama pak Alby. Menantu tuan Hartama."
Mister Han menatap Alby dari ujung kepala hingga ujung kaki Alby. Alby yang di lihat seperti itu merasa risih.
"Dia menantu Hartama? wah, luar biasa!" mister Han menepuk bahu Alby.
Alby tersenyum canggung.
"Kamu kok mau sih nikah sama anaknya Hartama yang sombong itu? Udah sombong, ca*** lagi!"
Alby tak menanggapi ucapan mister Han.
"Kamu itu tampan, pasti banyak perempuan yang rela mengantri untuk jadi kekasih mu. Daripada kamu memperistri perempuan c**** seperti anaknya tuan Hartama."
Alby meremas tangannya sendiri. Dia mencoba menahan emosi nya sebisa mungkin. Bukan karena rasa cinta nya pada Silvy. Tidak, dia sama sekali tak mencintai Silvy!
Alby hanya kesal pada ucapan mister Han. Kenapa mulut nya begitu mengesalkan! Apa di matanya, orang c*** tak berhak menikah?
Justru dia yang cacat moral! Mengatai orang sembarangan!
__ADS_1
"Terimakasih atas pujiannya mister Han! Saya dan Marsha ke sana dulu!" , pamit Alby sambil menyeret Marsha agar menjauh dari mister Han.