Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 89


__ADS_3

Maapkeun kalo di episode ini mengandung kehaluan yang hqq dan gak masuk akal. Mamak juga menghalu kan? Cuma di tuangkan dalam bentuk tulisan receh heheheh


Happy reading....


----------------------------------------------


"Lek...!", Alby tertunduk menghampiri Sarman.


"Bia anaknya Salman?", tanya Hartama dengan tatapan tidak percayanya.


"Jadi, kamu menikah lagi dengan putri mas Tama, By?", tanya Sarman.


"Alby tidak pernah bermaksud menduakan Bia ,Lek. Alby sayang sama Bia. Cinta sama Bia."


''Tapi kamu sudah menyakiti Bia , Alby!!!!", kata Sarman kembali geram.


Mata elang Sarman menatap Hartama dengan pandangan membunuh.


"Dan anda Mas Tama, dengan tahu kebenaran ini. Saya dan Bia semakin yakin dengan menolak pembebasan lahan milik Bia! Apalagi harus menyerahkan pada manusia licik macam anda!", jari telunjuk Sarman mengacung ke wajah Hartama.


"Aku tidak tahu jika istri Alby itu, Bia. Anaknya Salman, Man", ucap Hartama sedikit bergetar.


"Cckkkk....itu bahasannya orang licik dan tidak punya hati. Andai kamu punya hati nurani, kamu tidak akan menyakiti anak perempuan lain demi kebahagiaan anakmu sekalipun dia bukan anak sahabat mu sendiri!", Sarman menggebrak meja di hadapannya.


"Sabar Man! Jangan terbawa emosi!", kata Anton.


"Mas Anton cuma bapak tiri Bia. Kamu ngga tahu apapun tentang Bia. Karena dia juga benci sama kamu."


"Saya tahu Man, saya cuma bapak sambung Bia. Meski dia ngga pernah terima kehadiran saya di hidupnya. Tapi bagaimana pun, dia tetap anak saya, walaupun bukan darah daging saya."


Hartama menggeleng tak percaya. Dia berada di circle yang salah saat ini. Sungguh! Dia benar-benar berada di situasi yang tidak aman.


"Lek, Alby mohon Lek. Alby ngga mau pisah sama Bia."


"Tapi Bia yang pengen pisah sama kamu. Sudah jelas-jelas dia ngga mau berbagi, tapi kamu malah melakukannya By. Dimana o*ak kamu!", seru Sarman.


"Bia sedang hamil Lek. Alby ngga mungkin ninggalin Alby. Alby tahu, Bia cinta sama Alby. Kami masih saling mencintai Lek. Tolong!", kata Alby tergugu.


"Setelah ini, tidak ada pertemuan lagi yang bertanya tentang tanah kami mas Tama! Andai mas Salman masih hidup, dia pasti sangat kecewa pernah memiliki sahabat seperti kamu mas Tama!"


.


.


.


"Bu, bapak sepertinya bertengkar sama tamu deh Bu!", lapor salah satu pelayan kepada Lek Dar.

__ADS_1


"Masa? Bertengkar sama siapa? Kan kamu tahu sendiri, bapak ngga pernah marah-marah."


"Sama yang punya proyek pembangunan itu lho,Bu!", jelasnya lagi. Mau tak mau Lek Dar pun bangkit dari kursinya menuju ke tempat suaminya berada.


Lek Dar langsung melihat ada Alby di sana. Tanpa berpikir lagi, Lek Dar pun pulang untuk memanggil keponakannya. Dia tidak mau ada hal yang buruk terjadi pada Alby. Setidaknya jika ada Bia, Sarman lebih bisa mengontrol dirinya agar tidak berbuat lebih pada menantu nya itu.


"Nduk, nduk!", Lek Dar mengetuk pintu kamar ku.


"Dalem Lek!", aku membuka pintu kamar ku.


"Neng ngarep ada Alby. Ayok, mbok temuin. Lek mu wes muring-muring neh. Aku emoh Yen Alby Sampek kenapa-kenapa! Lek mu wes emosi tenan kae!"


(Di depan ada Alby. Cepat temui. Lek mu sudah marah-marah. Aku ngga mau kalo Alby sampai kenapa-kenapa.)


Aku langsung menyambar jilbab ku yang ku gantung di atas pintu. Hah! Aku sudah tak peduli dengan daster yang ku pakai saat ini.


Dengan sedikit tergesa-gesa tapi hati-hati, aku dan Lek Dar menuju ke warung dan langsung menuju ke tempat lek Sarman berada.


.


.


"Andai mas Salman masih hidup, dia pasti sangat kecewa pernah memiliki sahabat seperti kamu mas Tama!"


Aku mendengar penggalan kalimat itu saat kedua kaki berada di tempat ini.


"Ana apa neh toh Lek?(Ada apa lagi)", tanyaku pada Lek Sarman yang sedang mengatur nafasnya. Mataku langsung tertuju pada Tuan Hartama.


"Tuan, untuk apa anda di sini?", tanyaku.


Belum sempat di jawab oleh Hartama, aku langsung menatap suamiku.


"Owh ....!", aku membuang nafas panjang dan mengusap wajah ku dengan kasar.


"Neng!", Alby mencoba menyentuh ku.


"Aku pikir, Aa kesini untuk memperbaiki hubungan kita yang sudah rusak. Ckkk....bodoh! Aku terlalu mengkhayal! Bahkan ke rumah ku saja kamu masih nebeng sama mertua mu A?!"


Terdengar menyepelekan bukan? Pria manapun akan merasa direndahkan oleh ucapan ku.


"Bia....!", Hartama bersuara. Sedangkan Anton hanya diam dan memperhatikan. Dia tidak bisa lagi ikut campur ke hal yang lebih sensitif. Cukup mendengarkan saja! Dan nanti, akan dia sampai kan pada Asih, ibu kandung Bia. Nguping???? Secara langsung, iya!


"Apalagi mau anda tuan? Belum cukup merusak kebahagiaan saya!?", tanyaku keras.


"Maaf!", ujar Hartama lirih.


Apa? Maaf??? Si Tuan arogan itu bisa minta maaf?

__ADS_1


"Apa? Saya tidak salah dengar? Anda minta maaf?", tanyaku mencemooh.


"Maaf Bia. Andai saya tahu kalo kamu anaknya Salman, saya tidak akan mungkin membiarkan Silvy masuk di dalam kehidupan kamu Bia."


"Apa?", tanyaku lagi.


"Pak Hartama adalah owner dari proyek pembangunan itu Nduk. Tujuannya ke sini sebenarnya ingin meloby agar kamu mau menjual lahan itu Bia. Tapi, semua di luar dugaan. Dan....", ucap Anton.


"Dan apa pak?", tanya ku pada Anton. Wajah Anton mendadak berbinar. Meski hanya tiga huruf 'pak' , Bia mau berbicara dengannya. Entah, dia memanggil ku bapak atau sekedar memanggil pak lurah.


"Dan... ternyata...pak Hartama ini, sahabat almarhum bapak mu Nduk!"


Aku mengernyitkan alisku. Belibet gini ceritanya?????


Aku menghirup nafas dalam-dalam.


"Soal lahan itu, saya menolak untuk menjualnya. Karena di sana ada rejeki orang lain yang di dapatkan dari menggarap lahan itu. Saya tidak akan pernah menjualnya, apalagi kepada anda!", kataku pada Hartama.


Hartama menelan ludahnya cukup kasar. Baru kali ini dia merasa sangat terintimidasi. Padahal biasanya dia yang menekan orang di sekelilingnya. Termasuk mantan istrinya dan juga Alby serta Bia sendiri.


"Dan kamu A. Maaf! Karena aku sudah memutuskan untuk tetap berpisah dari mu! Silahkan kamu persulit, tapi aku akan tetap melakukannya. Aku tidak berbagi suami!", aku mendorongnya dengan kasar dan Alby sedikit mundur.


''Neng, ngga neng! Ngga mungkin Aa pisah dari neng. Neng tahu sendiri, seperti apa perasaan Aa ke neng!", Alby mencengkram bahuku.


"Iya, aku tahu. Tapi aku juga di didik untuk tahu yang namanya balas Budi!", aku melirik ke arah Hartama yang entah sedang memikirkan apa di dalam otaknya.


"Aa pilih kamu neng!", kata Alby dan sedikit teriak. Hartama mendongakan wajahnya.


"Apa maksud mu?",tanya Hartama.


"Pa, aku ngga pernah bisa menerima Silvy! Maaf! Aku hanya mencintai Bia!", Alby menakupkan kedua tangannya.


"Kurang ajar kamu?!", bentak Hartama penuh emosi.


Hartama hampir menarik kerah kemeja Alby, tapi Anton mencegahnya.


"Tolong pak Hartama, jangan pakai kekerasan!", kata Anton.


Aku sudah tak sanggup melihat drama membagongkan di depan mataku ini. Dengan pasti aku melangkahkan kaki ku menjauh dari mereka. Alby turut mengejar ku, sedang lek Dar berusaha menenangkan suaminya.


Hartama yang tadi merasa bersalah karena sudah membuat kesalahan besar pada anak Sahabatnya itu pun semakin di buat kalut. Dia memilih menuruti apa yang putrinya inginkan, atau memperbaiki kesalahannya pada Bia. Ternyata dendamnya pada Titin, justru berimbas ke mana-mana.


******$


Wes Yo??? Wes....ngko lanjut neh 😁


Matursuwun, maap. Tiap selesai nulis, ga lupa mamak bilang makasih dan maap. Bisa aja karena kurang menarik ceritanya, tak sesuai ekspektasi reader's apalagi banyak typo hehehheh

__ADS_1


Namanya juga emak2 😋🙏


__ADS_2