Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 11


__ADS_3

Febri berbincang dengan Cecep sepanjang perjalanan pulang, ada juga beberapa tetangga yang searah tapi di tikungan mereka pun berpisah. Kini tersisa Febri dan Cecep.


"Ini masakan Bia kan ?", tanya Febri.


"Iya, kan tadi siang saya mah bilang ke komandan kalo neng Bia bantuin masak di rumah saya."


"Ya, bia memang berbakat dalam bidang kuliner. Seperti almarhum bapaknya. Kalo kamu tahu Cep, di kampung sana Bia punya warung makan yang cukup ramai. Tapi sekarang di kelola sama pak Lik nya."


"Pak Lik?", Cecep membeo.


"Adik bapaknya!", sahut Febri.


"Tapi neng Bia luar biasa ya Ndan."


"Ya. Yang aku heran, kenapa dia bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Maaf, maksudku bukan gimana-gimana. Seandainya dia mau, dia bisa hidup jauh lebih layak di bandingkan sekarang."


"Ya...itulah luar biasa nya neng Bia. Sebenarnya kalo komandan ngga bilang neng Bia orang berada mah, saya ngga bakal bilang gini."


"Apa?"


"Mungkin...neng Bia itu lebih nyaman disini. Hidup bahagia dengan suami dan mertua nya. Di kampung sana mungkin harta nya berlimpah,tapi siapa tahu ada alasan lain yang membuat dia tak ingin di sana selain karena ingin berbakti pada suaminya."


"Ya... mungkin begitu Cep!"


Kedua sudah masuk ke halaman rumah Mak Titin.


Tok...tok...


"Assalamualaikum!", kedua pria gagah itu mengetuk pintu rumah Mak Titin.


Aku yang mendengar suara ketukan pintu pun keluar. Mak yang selesai solat isya langsung tidur karena ngantuk usai minum obatnya.


"Walaikumsalam. Ya sakedeng!", sahutku. Aku pun memasang bergo ku sebelum membuka pintu.


Saat pintu terbuka betapa terkejutnya aku, ternyata ada kang Cecep dan mas Febri berdiri di depan pintu.


"Assalamualaikum neng!", sapa kang Cecep. Dan Febri hanya diam memandang ku.


"Walaikumsalam. Kang Cecep!", hanya dia yang ku sapa.


"Punten neng, cek teh Salamah mah neng Bia moal mawa sangu!", kang Cecep menyerahkan kotak nasi dan satu kresek entah apa isinya.


(Maaf neng, kata teh Salamah neng Bia ngga mau bawa nasi)


"Atuh jadi ngerepotin ya kang!", kataku ngga enak hati tapi aku tetap menerima uluran tangan nya itu.


"Hatur nuhun kang!", lanjut ku.


"Sami-sami neng!", jawab Cecep.


Lalu kami semua terdiam.


"Oh iya neng, ada yang mau di obrolin. Boleh asup teu?", tanya Cecep.


"Ngobrol apa ya kang?", tanyaku bingung. Masalahnya selama aku bertetangga dengan nya , aku hanya saling bertegur sapa tak pernah seakrab ini.


"Boleh masuk ngga?", kini Febri yang bertanya. Aku ragu-ragu untuk menjawab. Alangkah tidak etisnya memasukkan pria lain saat suami ku tidak ada dirumah. Tapi...kan ngga berdua? Ngga apa kali ya? Toh ngga ada hubungan yang aneh-aneh, lagian pintu rumah juga di buka.


"Em...ya udah, silahkan masuk!", aku pun masuk lagi ke ruang tamu lalu mempersilahkan mereka duduk.


"Sebentar ya, saya simpen makanan ini dulu."


Aku pun undur diri ke dapur.


Ternyata ada Mak di sana.


"Siapa neng?" tanya Mak.


"Kang Cecep sama komandannya, anterin besek Mak."


"Oh, ya udah atuh bikinin minum. Ngga enak udah repot-repot nganterin ke sini."


Aku terdiam sejenak.


"Neng?"


"Ah, iya Mak. Bia bikinin minum dulu."


"Ya udah ,Mak ke kamar lagi ya. Tadi haus sama kebelet juga. Padahal mah Mak ngantuk berat."


"Ya Mak."


Aku membawa dua gelas teh manis lalu ku letakkan di depan Febri dan Cecep.


"Ulah ngarepotkeun neng Bia!", kata Cecep.


"Ngga repot kang, cuma air!"

__ADS_1


"Makasih!", sahut Febri. Aku hanya mengangguk.


"Apa yang kang Cecep mau obrolin ya kang?",tanyaku.


"Saya apa komandan yang ngomong nih?", tanya Cecep kepada pria tampan yang ada di sebelah nya.


Lho....? Kok perasaan ku jadi ngga enak ya kalo ada hubungannya sama dia?


"Kamu aja cep!", kata Febri.


Febri menarik nafas dalam-dalam.


Kenapa sih ga ngomong sendiri aja, batin Asep.


"Jadi gini neng. Tadi selama perjalan pulang, kami berdua teh ngobrol."


Aku mendengarnya dengan seksama.


"Neng Bia kan ada dua motor ya, punya kang Alby kan ngga di pake. Boleh ngga kalo motor nya kang Alby teh di beli atau di sewa gitu sama komandan saya?"


Aku mengernyitkan alisku?


"Komandan kan cuma sementara di sini neng, bisa aja sih beli motor tapi kalo tahu-tahu di pindah tugaskan lagi kan sayang atuh motornya ge. Lagian komandan bawa mobil, tapi tau sendiri kalo akses kesini agak susah kalo pake mobil mah."


Iya sih, tapi kenapa harus motor A Alby?


Memang sih, motor A Alby tuh Vi****n. Aku juga ngga bisa pakai, sejak di tinggal ke kota bahkan tak pernah ku panasi sama sekali.


"Eum...gimana ya kang, saya tanya si Aa dulu ya. Ngga apa-apa kan...Ndan?", tanyaku terbata. Febri dan Cecep berpandangan sesaat.


"Ya...ngga apa-apa, neng Bia kan harus diskusi dulu sama Alby."


Aku pun mengangguk.


"Sama satu lagi neng!", kata Cecep.


"Naon kang?", tanya ku.


"Lamun saben dinten neng Bia masakin komandan tiasa teu?"


"Maksudnya?"


"Maksud na teh...jasa ketering gitu neng. Kan tahu sendiri, komandan saya mah single!", kata Cecep.


Single dari mananya, di pikir aku ngga tahu kalo dia udah nikah duluan!


"Kunaon?", tanya Cecep. Bersamaan pula dengan Febri.


"Kenopo nduk?", tanya Febri.


Aduh... panggilan itu...meski artinya sama dengan yang kang Cecep ucapkan, tapi untuk saat ini bagiku panggilan itu sudah tidak pantas dia ucapkan padaku.


"Ngga apa-apa", tolakku.


"Aku jeh seneng masakan mu kok nduk!", kata Febri sambil tersenyum.


Ehemmm....Cecep berdehem. Febri pun merasa tersindir. Matanya langsung menatap tajam ke arah bawahan nya itu. Cecep yang di tatap seperti pedang yang menghunus matanya pun merasa takut.


"Apa pun yang neng Bia masak, pasti komandan doyan kok. Iya kan Ndan?", tanya Cecep sok santai padahal deg-degan dengan tatapan elang komandan nya.


"Iya!", sahut Febri santai.


"Coba nanti Bia diskusi juga sama si Aa yang kang Cecep, mmmas Febri!", kataku lagi-lagi tergagap.


Apa harus gitu Konsul suaminya dulu??? Batin Febri kesal.


"Oh...ya ngga apa sih neng. Bagus itu mah?!", kata Cecep. Tapi lagi-lagi Febri menatapnya seram. Dan akhir Cecep pun menunduk.


"Maaf kang, ada lagi yang mau di obrolin ngga?", tanyaku.


"Lah po takok Cecep wae, ga takok aku?", tanya Febri.


(Kenapa tanya Cecep terus, ngga tanyaku aku?)


Aku mendongak ke arah Febri yang nampaknya sedikit tegang.


"Kan Awit mau di wakili kang Cecep!"


(Kan dari tadi di wakili kang Cecep!)


"Saiki aku sing arep takok mbi koe nduk!"


(Sekarang aku yang akan tanya sama kamu nduk)


Cecep yang tak mengerti bahasa kami pun memilih diam.


"Tanyao!", kataku.

__ADS_1


"Lah po koe lungo mbiyen kae? Ga pamit mas, opo alasane?"


(Kenapa dulu kamu pergi, ga pamit mas, apa alasannya?)


"Sing wis Yo wis mas. Toh iku wis dadi masa lalu."


(Yang sudah ya sudahlah mas. Toh ..itu sudah jadi masa lalu)


"Aku yo ngerti nduk, mas gur pengen ngerti alasane opo. Iku tok!"


"Alasan opo toh mas? Pokok'e kita Iki wes bar. Gak enek urusan opo-opo neh!", sahutku kesal.


"Ga mungkin kamu ninggalin aku kalo ngga ada alasan apapun Nduk!"


Ah, nah...gitu kek pake basa pemersatu bangsa. Kan jadi ngerti obrolan mereka, batin Cecep.


"Lima tahun itu ngga sebentar lho nduk? Nemenin aku dari bawah, tapi saat aku sudah mulai di atas kenapa kamu malah pergi?"


Cecep menyadari ada kenangan masa lalu yang sedang mereka hadapi.


"Itu yang terbaik mas. Kalo aku ngga pergi, mungkin kamu ngga akan jadi seperti sekarang ini."


"Maksud kamu apa?", tanya Febri lagi.


"Aku ngga pantes buat kamu mas. Aku lahir dari keluarga yang berantakan dan tak bermoral. Aku cuma perempuan dari kalangan biasa, tidak akan sanggup setia jadi istri prajurit seperti kamu!", jawabku kesal.


Kalimat itu seperti....? Febri sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Jadi istri prajurit itu ga gampang kan mas, harus siap di tinggal ke mana pun selama kamu bertugas. Dan aku bukan perempuan yang tangguh seperti itu!", kataku semakin emosi.


Febri menggeleng pelan.


"Ibuku yang berkata seperti itu?", tanya Febri lirih.


Tak terasa air mataku lolos begitu saja. Kenapa harus terungkap sekarang ya Allah....????


"Jawab nduk? Apa omongan ibuku yang membuat mu mundur?", cerca Febri.


"Pulang mas, sudah malam!", pintaku.


"Aku ngga bakal pulang sebelum kamu memberi penjelasan padaku. Oke, saat ini kamu memang sudah berumah tangga. Aku juga tidak akan mengganggu rumah tangga kamu. Aku hanya ingin tahu alasan apa yang membuat mu meninggalkan ku. Itu saja!"


"Apa pengaruh nya saat ini mas?"


Cecep hanya menatap bingung kedua insan yang pernah menjalin asmara dulu.


"Tentu saja ada. Agar aku belajar dari kesalahpahaman di masa lalu. Agar aku tak mengulang kesalahan yang sama yang membuat orang yang ku cintai pergi!"


"Istighfar mas, kamu pria beristri!", kataku.


"Kamu tahu aku sudah menikah?"


"Ya, aku tahu mas. Bahkan istri kamu pun aku tahu, dia kalangan atas. Bukan seperti aku!"


"Jadi kamu juga tahu kalo Aisyah sudah meninggal saat wabah covid kemarin?", tanya Febri.


Deg!


Tiba-tiba ada perasaan tidak enak.


"Aisyah meninggal bersama bayi kami saat ia menjalankan tugasnya."


"Inalilahi wa innailaihi rajiun", ucapku lirih.


"Aku akan belajar dari semua kesalahan ku dimasa lalu Bia. Tolong jelaskan padaku. Meski bagimu saat ini tak merubah apapun, tapi tidak bagi ku!"


"Ya...ibu mu melarang ku melanjutkan hubungan kita saat itu."


Febri membeku.


Jadi, benar dugaan ku? Batin Febri.


"Sudah mendengar jawaban ku, maaf kang Cecep. Tolong ajak mas Febri pulang. Ini sudah malam. Lagipula sepertinya tidak etis saya menerima tamu laki-laki saat suami saya tidak di rumah."


Usai mengucap salam, mereka berdua pun pamit.


Aku membaringkan tubuhku diatas kasur. Ku raih ponsel ku. Dari tadi ada misscalled dari suamiku. Akhirnya aku yang menghubunginya balik.


[Assalamualaikum A!]


.


.


****


Bismillahirrahmanirrahim, semoga tulisan receh mamak bisa di terima oleh para reader's. Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2