
"Kenapa harus terulang lagi begini?", gumam Wak Mus.
"Wak..."
"Jadi selama ini Titin bohong sama semua orang? Dasar pelakor!", pungkas pria sepuh itu penuh emosi.
"Wak, dari yang Bia dengar Mak itu justru di jodohkan sama almarhum ibu biar nikah sama bapak!", kataku lirih.
"halah....bohong itu mah!",Wak Mus masih saja kesal.
"Mak temen ibu waktu di kota kan wa?"
"Beneran eta Titin ya! Lilis teu pernah ke kota. Kumaha arek bogah batur kos Titin?", Wak Mus malah balik tanya padaku.
(Gimana mau punya temen kaya Titin?)
Asli! Bingung saya mah! Yang bener versi Mak apa Wak sih?
"Wak...Mak ngga seburuk itu Wak ...!", ku ucap kalimat itu pelan.
"Cuma gara-gara mau nyelametin nyawa Titin, Alby menyakiti maneh Bia? Di mana ot*knya ?!", Wak Mus kembali geram.
"Wak..."
"Mending kamu mah cerai wae dari si Abi teh! Teu tega Wak mah!", pria itu meremas tangannya.
"Wak, makasih wak masih perhatian sama Bia. Bia tahu, ucapan Wak seperti itu karena sayang sama Bia. Bentuk perhatian Wak ke Bia. Tapi ...Aa ngga sepenuhnya salah Wak!"
Lho? kok aku malah membela si Aa ya???
"Ngga usah membenarkan yang jelas-jelas udah salah Bia! Yang ada semakin lama kamu malah semakin sakit hati, percaya sama Wak!"
"Wak, Bia tahu Wak. Bia akan sakit hati. Tapi Bia akan mencoba dulu. Seberapa Bia bisa sabar Wak. Bia cinta sama Aa Wak!", kataku menunduk.
Tampak Wak Mus menghela nafasnya.
"Kamu masih muda neng. Masih bisa mendapatkan laki-laki yang sepenuhnya memperhatikan kamu. Percaya sama Wak, jaman sekarang ngga akan ada laki-laki yang benar-benar bisa berbuat adil kepada istrinya. Kita ini bukan Rasulullah! Oke ...mungkin ini jauh amat sangat lebih baik di bandingkan zinah. Tapi ...namanya hati, tidak akan ada satu pun yang bisa menyelami neng."
Ucapan Wak benar!
"Wak, jika Bia egois ingin berpisah dari Aa , gimana dengan anak yang Bia kandung Wak? Dia ngga salah apa-apa. Apa ini adil buta anak kami Wak?"
Tanpa terasa aku kembali menitikan air mata.
"Maneh keur hamil?", tanya Wak Mus. Aku mengangguk.
__ADS_1
"Astaghfirullah!", desah Wak Mus.
"Terserah maneh lah. Wak udah bilang ke maneh. Silahkan kalo memang masih ingin bertahan. Bukan Wak pengen usir Bia dari sini , bukan! Wak cuma ngga mau ada Lilis ke dua Bia. Neng Bia udah kaya anak sendiri buat Wak!"
Ya, Wak Mus punya anak lelaki tiga. Salah satunya kang Asep. Laki-laki yang mengajak Alby bekerja di kota.
Obrolan panjang kami pun usai saat Wak berpamitan pulang. Di usia senjanya, ia diminta untuk tinggal bersama anaknya. Tepatnya di rumah kang Asep. Di sana ada istri kang Asep yang merawat kebutuhan Wak Mus karena anak-anak kang Asep sudah besar. Maka rumah Wak Mus di kontrakan ke mas Febri.
.
.
Saat ini Febri sedang melakukan motornya menuju kantor Koramil. Bukan motornya, lebih tepat motor Alby yang dia sewa.
Di sepanjang jalan ia memikirkan keadaan Bia yang sedang kalut tapi berada send di rumah. Ingin rasanya ia meluangkan waktu untuk menemani Bia. Tapi dia punya hak apa coba? Febri sadar, perasaan Bia untuk nya sudah tidak ada sama sekali. Perasaan cinta Bia hanya untuk Alby, suaminya. Lantas, apa pantas ia mengharap Bia kembali? Itu artinya, dia berharap jika Bia dan Alby berpisah???
Astaghfirullah! Gumam Febri dalam hatinya.
Setelah melewati beberapa puluh menit, Febri sudah tiba di kantornya.
"Selamat pagi Ndan!", sapa para anggotanya tak terkecuali Cecep. Dan Cecep lah satu-satunya rekan yang akrab dengan Febri.
"Selamat pagi !", sahut Febri penuh wibawa.
Selang beberapa menit kemudian, Cecep meminta ijin masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa cep?", tanya Febri.
"Maaf Ndan, apa itu SK komandan buat pindah dinas lagi?", tanya Cecep.
Febri menghela nafasnya.
"Iya cep!", sahut Febri singkat. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya yang ada di atas meja kerjanya.
"Benerin pindah Ndan? Yah... padahal mah saya udah klop sama komandan!", Cecep tampak merajuk. Tapi Febri belum merespons apapun.
"Kalo komandan pindah, neng Bia kumaha? Kondisi neng Bia lagi ngga baik-baik saja pula!"
Febri mengernyitkan keningnya.
"Kamu sebegitu perhatiannya sama Bia Cep?", tanya Febri dengan tatapan curiga.
"Ishhh... komandan mah curiga gitu!"
"Kamu memang mencurigakan!", kata Febri datar.
__ADS_1
''Heheh komandan, jujur sih...Cecep pernah naksir neng Bia waktu pertama kali liat Bia pindah ke sini. Tapi pas tahu ternyata cewek cakep yang baru pindah ke kampung kita itu istrinya kang Alby ya...udah. Pupus sudah harapan ku!", kata Cecep mendrama.
"Saya bilangin ke pacar kamu lho!", ancam Febri.
"Hahahaha Ndan, itu kan dulu. Sekarang mah saya udah bucin sama neng Lila Ndan."
Febri tersenyum sambil menggeleng. Benar kata Cecep, siapa pun akan mengakui kecantikan Bia. Hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan Bia. Apa termasuk dirinya?
"Resiko pekerjaan Cep. Kota harus siap di tempatkan di mana pun!", kata Febri.
"Huum! Itu ge saya paham Ndan."
"Kamu bersyukur, masih bisa dinas di daerah kamu sendiri."
"Iya sih Ndan."
"Kalo saya udah biasa ke mana-mana. Jadi pasukan perdamaian, di taroh di perbatasan. Udah ngga kaget!"
"Ya...secara komandan kan emang udah berumur. Oopsss???", Cecep menutup mulutmya.
"Saya belum setua itu Cecep!"
"Heheh ya maap Ndan, jadi... komandannya mau dinas di mana setelah ini?"
"Jauh cep!", kata Febri sedikit lesu. Cecep pun ikut-ikutan lesu mendengar jawaban komandannya.
"Atuh karunya si neng Bia ya Ndan. komandan udah ngga bisa perhatian sama neng Bia. Karunya yak, keur hamil di rumah sorangan."
Cecep menggelengkan kepalanya.
"Mulut mu....!", kata Febri sambil melempar kertas di hadapan Cecep. Cecep pun terkekeh. Lalu ia meraih surat yang dilemparkan komandannya barusan.
Cecep membacanya lalu bibirnya maju lima sentimeter.
"Komandannya cuma pindah ke Kodim? Ya salam!", pekik Cecep. Febri yang dari tadi sudah menahan tawanya pun akhirnya kini malah menertawakan drama yang Cecep lakukan.
"Kirain saya mah komandan bakal dinas di luar pulau gitu. Ngga tahunya mah...merem ge sampe!", celetuk Cecep.
"Iya lah merem sampe , orang tinggal duduk diam. Ga nyetir. Ya sekalinya melek udah sampe!", sindir Febri.
"Isssh....sok nyindir komandan teh. Hahaha tapi teu nanaon. Itu artinya komandannya masih ngontrak di rumah Wak Mus kan? Minimal mah ya...bisa gitu liat neng Bia....!"
"Istri orang itu cep.....!", kata Febri dengan suara menggeram.
"Nah...itu sadar!", kata Cecep. Setelah itu dia tertawa lalu permisi dengan buru-buru untuk keluar dari ruangan komandannya.
__ADS_1