
Aku dan yang lain kembali ke warung. Di sana aku hanya menjumpai Anika yang sedang mengaduk minumannya.
"Dek?", sapaku. Anika menoleh lalu bangkit dan tersenyum. Menghambur ke arahku.
"Mba Bia ...Ika kangen!", Anika memelukku begitu erat. Sampai goyang ke sana ke sini. Bergerak tak tentu arah.
"Mba juga kangen sama adek!", kataku mengusap kepala gadis itu.
Anika menatap kikuk menyadari ada dua pasangan suami istri di belakang ku. Aku melihat raut malu dari si centil Anika.
"Kenalin dek, ini lek Sarman dan lek Dar. Pama dan bibikku. Kalo beliau berdua, bapak sama ibunya mas Febri."
Anika menyalami mereka semua. Dasar bu Sri, beliau kembali ke mode juteknya. Mungkin memang bawaan wajahnya seperti itu. Eh, ya Allah gitu-gitu calon mertua ku π€.
"Katanya kamu sama mas Sakti dek? Pada di mana?", tanyaku sambil turut duduk di saung. Lek Sarman dan lek Dar berpamitan ke dalam. Sedang orang tua Febri ikut duduk bersama kami.
"Lagi pada numpang mandi sekalian solat hehehhe. Ika lagi libur soalnya."
"Owh ....!"
"Ibu sama bapak juga mau solat dulu Nduk! Nanti abis solat kita makan malam bareng ya?", kata Bu Sri menepuk bahuku.
"Oh, nggih Bu. Bia juga kebetulan lagi libur, kaya dek Ika!", kataku.
Sepasang suami istri itu pun pergi dari saung kami yang cukup besar ini. Bisa menampung sekitar dua puluh orang. Tak jauh dari kami, ada panggung untuk life music. Aku yang memberi ide tersebut. Karena aku sempat mendengar 'anak-anak' yang tinggal di mess bermain gitar kalo selesai bekerja. Jadilah panggung ini mereka gunakan untuk mengekspresikan kemampuan mereka. Tapi ya.... tidak setiap saat, kalo warung sedang sangat ramai tentu saja mereka tak melakukannya. Kadang sesekali pengunjung pun boleh life music di panggung itu. Nama 'warung' mungkin kurang cocok untuk konsep ini, tapi bapak ku sudah berpesan jangan ganti nama warung ini. Bagi bapak, beliau warung ini akan tetap merakyat entah di pandang dari lapisan masyarakat yang terbawah sampai tertinggi sekalipun. Semua bebas menikmati nya.
"Mbak!"
"Heum?"
"Mbak orang kaya ya?", tanya Anika. Aku mengernyitkan alis ku.
"Orang kaya gimana nih maksudnya?", tanyaku.
"Nih, punya kafe eh...sekelas resto gini!"
"Ini punya almarhum bapakku Dek, di terusin sama lek ku!"
"Tapi tetep aja ini mah punya mba Bia!", kata Anika kekeh.
"Heum, iya iya....! Apa katamu saja dek!"
"Kalo mba Bia lahir di kehidupan 'kaya' seperti ini, kenapa dulu malah ikut hidup sederhana sama mas Alby?"
"Dek, namanya istri kan memang harus ikut suami. Udah lah, ngga usah bahas itu. Itu masa lalu kami. Tolong jangan bahas hal seperti itu ya dek?"
Anika mengangguk.
"Maaf ya mba!", kata Anika dengan nada menyesal.
"Iya!", kataku tersenyum.
Anika meraih tangan ku. Memandangi cincin yang baru saja Bu Sri pasangkan di jari manis tangan kiriku.
"Masyaallah, cincinnya bagus banget mba?", kata Anika. Aku mengangguk.
"Iya, simpel dan elegan", aku menimpali ucapan Anika.
"Bagus lah kalo kamu suka nduk!", ucap Febri tiba-tiba berada di belakang ku.
Di belakang Febri ada Sakti, Bina dan Dimas.
Aku bangkit dari duduk lesehan ku. Jujur, aku malu pada Febri saat aku memuji cincin pemberiannya.
Sakti dan Dimas menyingkirkan Febri bersamaan.
"Apa kabar Bi?", sakti mengulurkan tangannya. Tapi... dengan berat hati, aku menakupkan kedua tanganku.
"Maaf mas!", kataku. Sakti pun menurunkan tangannya pelan-pelan. Sontak, semua yang ada di situ menahan tawanya. Bahkan istri Sakti pun turut menahan tawa.
"Oh, ngga apa-apa!", kata Sakti kikuk. Bina memeluk tubuh suaminya.
"Biar aku yang mewakilinya ya mas!", celetuk Bina.
"Apa kabar Bia!?", sapa Bina sambil bersalaman lalu cipika-cipiki padaku. Aku pun membalasnya.
"Alhasil baik, bina!"
Kaum Adam di sana hanya menatap cengok. Berasa sekali di kalo di diskriminasi eakkk....
"Ehem, jadi... diterima nih, lamaran kakang mas Febri, Bi?", Dimas menaik turunkan alisnya. Dia sudah merangkul bahu Anika.
Febri berdehem ria menenangkan hatinya yang jedag jedug.
Aku tersenyum kaku. Mengiyakan pun malu, menggeleng juga kayanya sia-sia. Mereka sudah melihat cincin di jari manisku.
"Alhamdulillah!", ucap mereka semua yang ada di sana.
"Eh, katanya ada calon mertua Bi, mana?", tanya Dimas.
"Lho, bukannya tadi ke musholla ya?", Anika yang bertanya.
"Mungkin di mushola yang belakang dek! Mushola samping memang biasanya rame!", kataku. Anika pun mengangguk.
"Ada life music nih, boleh dong main?", tanya Dimas.
Aku mengangguk, mengiyakan.
"Silahkan mas!", kataku pada Dimas. Febri memasang senyum malu-malu.
"Cieee...mas Febri malu-malu kodok?!", sindir Anika.
"Malu-malu kucing dek, masa kodok! Ngga elit banget deh!", cebik Febri. Sontak hal itu membuat mereka tertawa.
"Kamu duduk sini ya dek. Kita berdua mau konser!", kata Dimas mengecup puncak kepala Anika.
"Heh! Ada abangnya nih!", kata Sakti. Dimas malah terkekeh sambil mendorong Febri untuk berjalan ke arah panggung.
__ADS_1
Dimas sudah tak memakai seragam. Berbeda dengan Febri, karena selesai isya nanti dia harus ke kantor.
Dimas meraih gitar yang ada di sana. Menjajal kunci sambil mengepaskan nada-nada senarnya.
"Selamat malam semuanya!", sapa Dimas dengan gaya sok ngartis nya.
"Dek, mau pikir ulang ngga punya calon suami sepede itu?", bisik Sabrina pada Anika. Anika malah mengangguk senang.
"Ngga kak, udah mentok sama kak Dim hehehe!", jawab Anika. Sakti hanya menggeleng mendengar ledekan istrinya kepada sang adik.
Aku duduk santai sambil memainkan cincin di jari manis ku.
"Maaf mengganggu waktu nya sebentar para pengunjung Warung sahabat yang sedang menikmati hidangan warung ini. Eum...kami disini mau iseng-iseng nyanyi boleh kan??", tanya Dimas berkomunikasi dengan para pelanggan warung.
Febri sendiri malah garuk-garuk tengkuk nya yang tak gatal hanya untuk menutupi rasa groginya.
"Boleh.... boleh!", sahut sebagian pengunjung. Gimana ngga boleh!? Dua cowok ganteng jadi pemandangan di atas panggung sana bisa buat cuci mata.
"Hari ini, hari yang spesial buat rekan dan sahabat saya ini. Spesial buat seseorang di sana yang sudah menerima pinangan sahabat saya! Shabia Ayu! Pemilik warung sahabat ini."
Mata Dimas mengarah padaku, otomatis pandangan pengunjung pun fokus dengan para makhluk yang berada di dalam saung itu.
Suara tepuk tangan menggema di area warung.
"Nyanyi opo Dim?", tanya Febri bingung.
"Ya embuh!", sahut Dimas santai.
"Lo ngajak gue ke sini, gue pikir Lo yang bakal nyanyi? Gue ngga tahu mau nyanyi apa **go!"
"Siniin hp Lo!", pinta Dimas. Ia mengotak atik ponsel Febri. Setelah mengamati beberapa saat, Dimas pun menjajal kunci lagu tersebut.
"Lha, lagu barat Dim?", tanya Febri.
"Iya, biar romantis! Emang mau lagu Indonesia pusaka?", tanya Dimas. Febri menggeleng cepat.
"Ga hafal gue. Tahu sih lagunya. Tapi pronunciation gue jelek!",kata Febri.
"Gak lagi ikutan kompetisi kali!", celetuk Dimas. Febri pun mengangguk. Berbekal ponsel di tangannya dia mulai menyanyikan lagu itu.
(Semoga di acc kak mimin ya? Soalnya ngambil lagu orang πππ boleh ya kak Mimin??? Mau lebih 'berasa' denger sendiri lagunya ya. At my worst by pink sweats)
Dimas mulai memetik senarnya.
"Can i call you baby? Can you be my friend?
can you be my lover up until the very end."
(Bolehkah aku memanggilmu sayang? bisakah kamu menjadi temanku? bisakah kamu menjadi kekasih ku sampai akhir)
Sorak pengunjung menyambut awal lagu yang Febri bawakan.
"Uuuh... romantis ngga sih?", Bina menggelayut manja pada suaminya.
"Ngga! Masih romantisan mas ke kamu! Gercep! Pacaran setelah menikah!", sahut Sakti. Anika melotot pada kakaknya.
(Biarkan aku menunjukkan cinta, gak berpura-pura)
"Stick by my side even when the world is caving in"
(Tetap lah disisi ku bahkan saat dunia ini menyerah)
"Ooh... don't, don't you worry"
(Kamu jangan khawatir)
"I'll be there whenever you want me"
(Aku akan ada kapan pun kau mengingatku ku)
"I need some who can love me at my worst. Know i'm not perfect but i hope you see my worth. Cz its only you nobody new i put you first. And for you girl i swear i'd do the worst."
(aku butuh seseorang yang mencintai ku saat terburuk ku. Ketahuilah bahwa aku tak sempurna. Tapi aku harap kamu melihat nilai ku. karena hanya kau tidak ada yang baru, aku mengutamakanmu. Dan untuk mu sayang, Ku bersumpah aku akan melakukan yang terburuk) π€π€π€π€ nyomot di mbah Gugel translate πππππ
Suara tepuk tangan menggema di setiap sudut warung. Aku terharu???
Ngga!
"Mba, kok bengong?", tanya Anika padaku.
''Hah?", hanya itu sahutan ku.
"Bia pasti lagi terharu dengar lagu cinta dari mas Febri!", kata Bina yang tak pernah lepas bergelayut di lengan suaminya.
"Terharu kenapa?", tanyaku. Mereka bertiga memandang ku.
"Kenapa? Kok kalian liat aku begitu?", tanyaku heran. Pak Bambang dan Bu Sri menghampiri kami lagi. Di susul Dimas dan Febri menuju saung kami.
"Bisa romantis juga tuh bocah!", kata pak Bambang.
"Tahu tuh!", sahut Bu Sri.
"Kamu pasti terharu kan dengernya Bi?", tanya Bu Sri.
Aku tersenyum tipis. Terharu kenapa? Febri sudah lebih dulu duduk di samping ku.
"Bu, Bia bukannya terharu!", kata Febri. Aku pun menoleh padanya yang sedang menatap ku pula. Tapi buru-buru aku menunduk.
"Terus apa kalo bukan terharu?", tanya Bu Sri yang mewakili pertanyaan Anika dan Bina.
"Bia tuh sedih Bu!", sahut Febri lagi. Aku semakin memainkan cincin di jariku.
"Kok sedih? Kenapa?", sekarang Sakti yang bertanya.
Febri menyenggol lenganku sedikit sampai aku menolehkan kepala ku padanya.
"Jawab nduk, sedih kenapa? pada penasaran tuh!", kata Febri. Hidung ku kembang kempis menghadapi Febri yang ku kenal saat kami berpacaran dulu. Sudah kah ia merasa kami CLBK? Balikan????
__ADS_1
"Aku ngga tahu artinya!", jawabku. Tak ada sahutan apa pun di antara semua yang berada dalam saung itu.
"Ehem....gini aja mba, nanti kita liat di Mbah Gugel deh!" , kata Anika.
Mau pada ngetawain aku, tapi ngga tega apa gimana????
"Mau ketawain aku ngga apa kok, ngga usah di tahan. Aku kan emang seneng nya dangdut koplo Jawa timur an, bukan kebarat-baratan begitu!", celetuk ku. Semua tersenyum tipis.
"Dimas tuh nduk, yang nyuruh mas nyanyi lagu itu! Padahal mas pengen ne nyanyi lagu ne cak Nan!" ,kata Febri. Dimas mendengus kesal.
"Udah ah, bahas lagu Mulu! Di hujat deterjen baru tahu rasa Lo! Di kira kehabisan ide. Gegara baper baca komen!", celetuk Dimas.
Dan ya.... setelah itu, kami pun melanjutkan acara makan malam kami.
Jam delapan malam, Febri berpamitan ke kantor sekalian mengantar sepasang pengantin baru menuju ke hotel. Sedang Dimas dan Anika masih bersama ku di warung.
"Beneran mba, aku boleh nginep di rumah mba Bia?", tanya Anika.
"Bener dek!", sahutku lagi.
"Tapi Dimas ngga boleh ya, Dimas ikut pulang ke rumah Febri!", titah pak Bambang.
"Nggih pak!" , jawab Dimas.
Kapan gue kangen-kangenan sama Anika dong???? Batin Dimas.
"Bia mau pulang ke rumah kan, bukan di belakang?", tanya Bu Sri.
"Iya Bu, pulang ke rumah saja!", kataku. Kami berpamitan pada kedua lek ku. Tak lupa lek ku membawakan oleh-oleh buat calon mertua ku π.
Aku sendiri juga bawa makanan, takut Anika kelaparan di rumah nanti.
Kami nebeng mobil pak Bambang yang di supiri oleh Dimas. Tak berapa lama, kami pun sampai dirumahku. Karena sudah cukup malam, aku tak mempersilahkan Dimas dan kedua orang tua Febri untuk mampir.
"Rumah mba Bia enak ya? Asri!", puji Anika.
Aku hanya tersenyum mendengar pujian dari Anika.
Mbak..mbak...kamu segitu cintanya sama mas Alby ya mba! Kamu punya segalanya, tapi.....
Lamunan Anika buyar saat sebuah tangan menyentuh bahunya.
"Ngelamunin apa sih dek? Besok pagi kan bisa ketemu kak Dim kamu!", ledekku. Anika tersenyum tipis.
"Hehehe iya mba!", Anika cengengesan.
"Satu kamar aja ya mba? Boleh kan?", tanya Anika. Aku mengangguk.
"Iya!"
Anika pun mengekor di belakang ku masuk ke kamar tidur ku.
"Wah... nyaman banget mba!", Anika langsung merebahkan diri di kasur.
"Ya udah, kamu istirahat aja dek. Biar besok pagi bangun nya seger. Mba ajak kamu jalan-jalan ke air terjun!"
"Wah....mau banget mba!", kata Anika.
Aku dan Anika merebahkan diri di kasur. Anika memeriksa ponselnya. Grup kelasnya ramai membicarakan soal Silvy yang....koma!
Anika tak jadi merebahkan dirinya. Ia duduk bersandar di headboard ranjang. Membaca setiap pesan yang teman-temannya kirimkan. Menurut info, salah satu mahasiswi kelas Anika tak sengaja melihat orang tua Silvy yang berada di depan ruang icu. Karena penasaran, teman itu menanyakan kondisi Silvy yang berada dalam fase hidup dan mati.
"Kok ngga jadi tidur dek?", sekarang aku ikut menyandarkan kepala ku ke headboard ranjang.
Tiba-tiba saja anika menangis tanpa suara. Tapi justru itu yang membuat ku takut, jangan-jangan dia kesurupan lagi???
"Dek, ada apa?", tanyaku pelan.
Anika menatapku, lalu menyerahkan ponsel nya padaku. Aku yang bingung pun akhirnya menerima ponsel Anika. Ku baca tiap pesan yang ada di grup kelas Anika. Mataku tertuju pada satu kata , KOMA!
Ya, Silvy koma pasca melahirkan anaknya. Anak Alby, mantan suamiku!
Harus nya aku senang kan? Kenapa tidak mendoakan saja agar Silvy mati ? Dia sudah menghancurkan rumah tangga ku dengan Alby! Tapi entah kenapa aku tidak bisa! Naluri ku sebagai seorang ibu menolaknya meski sebagai seorang wanita aku masih sakit hati padanya.
Silvy mengambil resiko yang sangat besar. Dia lebih mementingkan hidup anaknya dari pada dirinya sendiri. Bukti betapa ia sangat mencintai anaknya dan juga Suaminya. Tidak seperti aku yang lemah, yang sudah kalah dan tak mampu memperjuangkan cintaku dengan Alby.
Tanpa ku sadari air mataku lolos begitu saja. Entah lah! Aku tak bisa mengontrol air mata ini.
Bagaimana perasaan Alby saat ini? Apakah dia merasa bersalah sudah memperlakukan istri-istri nya tak adil saat itu????
Aku menghapus air mataku. Anika sendiri kini sedang tersedu-sedu. Kuraih tubuh anika yang terguncang karena menangis. Sebagai seorang sahabat, tentu lah Anika sedih mendengar kabar sahabat nya yang sedang berjuang antara hidup dan matinya.
"Insyaallah, Silvy akan sembuh Dek! Doakan saja sahabat mu ya?", kataku mencoba menenangkan Anika.
Anika menghapus air matanya.
"Mba masih bicara seperti itu? Padahal Silvy udah sangat jahat sama mba Bia !", kata Anika.
"Mba hanya berusaha untuk memaafkannya Dek. Tapi mungkin sampai kapanpun mba tidak akan bisa melupakan kesalahan itu. Silvy berhak mendapatkan kesehatan yang kedua. Tapi tidak untuk kesalahan yang sama!"
Kami saling berpelukan, untuk saling menguatkan.
*****
Semoga di ACC kak Mimin πππ
Maaf ya, kalo ternyata nih tulisan receh bikin emosi reader's ππ. Itu artinya mamak bisa ngaduk2 emosi kalian dong? Sukses ngga tuh namanya? π€π
Sebenarnya mamak ini tipe baperan lho gaes, tapi ya sudah lah. Semua bebas berkomentar dan mengkritik. Seneng malahan dong! Itu artinya mamak di perhatiin. Tapi tolong dong...jangan bikin mamak down kek gitu!
Mengsedih jadinya kan??? π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
Insyaallah secepatnya tamat deh! Tapi maap, kalo ternyata ngga sesuai sama ekspektasi dan harapan reader's. πππππ kehaluan mamak emang begitu! Dari awal bikin , udah ada gambaran bakal end nya seperti itu.
Betewe yang udah sampai ke bab ini, mamak ucapkan banyak terima kasih πππππππππππππππππππππ
udah bersedia mampir ke sini βοΈ
__ADS_1