
Hartama sudah siuman. Wajah garang nya sedang tak nampak saat ini. Dia di kelilingi oleh mantan istrinya dan juga putrinya.
"Vy, Alby mana?", tanya Hartama lirih.
"Alby di kantor pa."
Hartama menatap kosong langit-langit ruangan nya.
Sepertinya rumah sakit sudah sangat akrab di kalangan pembaca. Dikit-dikit setting tempat nya rumah sakit ya 🤔.
"Papa mau bicara sama Alby."
"Iya, nanti Silvy bilang ke Alby!", jawab Silvy. Tapi detik berikutnya, Alby masuk ke dalam ruangan Hartama. Ia baru saja dari kantor. Sengaja keluar untuk makan siang sekaligus mampir ke rumah sakit setelah di beritahu jika mertuanya sudah siuman.
"Nah, itu Alby datang pa!" kata Silvy riang.
"Assalamualaikum!", salam dari Alby.
"Walaikumsalam!", jawab Mak. Hanya Mak yang menjawabnya.
"Vy, papa mau bicara berdua sama Alby. Kalian keluar dulu!"
"Mau ngomong apa sih pa? Emang kenapa kalo Silvy dengar?"
"Ada urusan pekerjaan yang hanya papa dan Alby yang tahu Vy."
Dengan sedikit kesal, Silvy keluar dari ruangan papanya. Tapi dasar Silvy, sempat-sempatnya mengecup pipi suaminya. Tentu saja hal itu mengejutkan Alby. Meski bukan yang pertama, tapi Alby selalu tak bisa menghindarinya.
Ingin rasanya dia menyemprot ocehan pada Silvy, apalagi setelah ia menghubungi Febri tadi siang. Ternyata Febri bertemu lagi dengan Bia, bahkan sampai mengantarkan ke kampung. Belum selesai emosinya pada Febri dan juga lek Sarman, dia harus kembali di sibukkan dengan kondisi papa mertuanya yang sedang tak sehat ini.
"Duduk sini, By!", titah Hartama. Ia meminta Alby duduk di sampingnya. Alby pun menuruti permintaannya mertuanya itu.
Sebelum mengatakan niatnya, Hartama tampak menghela nafas.
"By, kamu liat sendiri kondisi papa seperti apa sekarang ini."
Alby bergeming, tatapannya masih ke lantai menatap dua sepatunya. Siapa yang menyangka, dia biasa memakai sepatu kets atau sendal gunung, saat ini dia selalu memaksa setelan pantovel.
"By, papa harap kamu mau nolong papa."
Alby mendongak, menatap wajah tua mertuanya itu.
"Tolong apa pa?"
Lagi-lagi Hartama menghela nafas.
"Papa sudah tua, kondisi papa juga sekarang seperti ini. Papa mau, kamu meneruskan perusahaan papa."
Deg! Mata Alby melebar. Dia menggeleng cepat.
"Ngga pa!"
"Saya belum selesai bicara By!", pungkas Hartama lagi.
"Pa..."
"Alby, perusahaan papa bisa seperti ini juga karena papanya Bia. Papa sudah berjanji, akan membagikan apa yang menjadi hak Bia. Tapi kamu tahu sendiri, keras kepala nya Bia. Dia ngga mau menerima nya."
"Dan Alby juga gak mau menerima hak Bia!", kata Alby lagi.
"By, papa tahu. Papa udah jahat sama kalian. Papa sadar hal itu. Tapi ngga mungkin juga papa minta Silvy meninggalkan kamu di saat perut nya mengandung darah daging mu."
Alby menunduk, lalu matanya beralih menatap arah lain.
"Kalo kamu ngga mau melakukan demi papa, tolong lakukan demi bia dan calon anak kamu By!", kata Hartama lirih.
"Bagaimana mungkin Alby melakukan demi Bia, pa. Bahkan bia sudah meninggalkan Alby. Dia akan secepatnya menggugat Alby pa!", Alby menakupkan kedua tangannya di wajahnya. Ucapan lek Sarman terngiang-ngiang di telinga.
'Kembalikan Bia baik-baik seperti saat kamu meminta nya dari kami'
Kalimat itu sangat mengena di dalam dadanya. Rasa sakit yang Alby rasakan mungkin tak seberapa di banding dengan penderitaan Bia selama ini.
Hartama membeku. Rasa bersalahnya kian besar. Dia sadar perbuatannya sudah menyakiti banyak hati. Balas dendam nya justru tak memberikan kepuasan apa pun baginya.
"Maafkan papa! Jika perlu, papa ku bersujud di kaki Bia , by! Maaf!", kata Hartama lirih.
Alby tak menyangka jika mertuanya bisa sampai seperti ini. Tiba-tiba saja dia memegangi dadanya.
"Sssshhh.....!", desis Hartama.
"Pa...papa kenapa?? Dok... dokter...!", teriak Alby. Sampai dia akhirnya menyadari, teriakan nya tidak akan di dengar oleh dokter. Lalu ia menekan tombol yang ada di atas ranjang.
__ADS_1
Silvy dan Titin terkejut saat para tenaga medis memasuki ruangan Hartama dengan terburu-buru.
"Papa kenapa Bu?", tanya Silvy panik.
"tenang, papa kamu pasti baik-baik saja!", jawab Titin.
Alby pun keluar dari ruangan hartama. Setelah itu ia menemui istri dan juga emaknya.
"Aya naon Jang?", tanya Titin.
"Tiba-tiba saja papa memegang dadanya, sepertinya kesakitan."
Silvy menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? kenapa Papa sampai bisa kesakitan? apa ini ada hubungan dengan Bia?", cerocos Silvy.
Tak ada jawaban dari mulut Alby. Dia justru menyandarkan punggungnya ke dinding. Matanya terpejam.
"Sudah Vy, nanti kita bisa tanya lagi sama Alby kalau keadaan nya sudah lebih tenang."
Mereka bertiga fokus dengan pikiran masing-masing. Selang seberapa lama dokter pun keluar dari ruangan hartama.
"Bagaimana kondisi Papa saya dok?", tanya silvy.
"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, tolong hindari stress untuk pasien", begitu kata dokter yang menangani Hartama.
"Tapi bagaimana kondisi Papa saya dok?", Silvy masih penasaran.
"Tuan Hartama hanya shock. Jadi tolong, jaga emosi pasien."
Silvy mengangguk pasrah. Tapi tidak dengan Alby, dia masih memikirkan ucapan papa mertua nya yang meminta nya untuk mengurusi perusahaannya. Jika orang lain berpikir Alby sangat beruntung, tapi tidak dengan pemikiran Alby. Dia lebih memilih untuk tetap hidup sederhana dengan Bia. Meski gaji jadi kuli bangunan, tapi kehidupan mereka selalu bahagia. Memang, penyesalan selalu datang di akhir.
Tanpa berpamitan, Alby berjalan menjauh dari tempat istri mudanya dan juga ibu tirinya duduk.
Dia ingin menenangkan diri. Sejak pagi, Alby mencoba menghubungi Bia. Tapi Bia sama sekali tak merespon chat atau panggilan Alby.
"Neng...kenapa harus seperti ini sih neng!", monolog Alby sambil mengusap tengkuknya.
"Alby?", sapa seseorang.
Alby pun menengok ke arah yang memanggilnya.
"Sakti."
"Bukan ,tapi Papa yang sakit."
"oh ya sakit apa?"
"kata dokter gejala stroke."
Sakti mengangguk.
"Oh... oke, semoga papa mertua kamu cepat sembuh ya!"
"Makasih ya sak!"
"Aku masih ada pasien lagi!", terlalu sambil menepuk punggung Alby.
Sebagai tanda kesopanannya, Alby pun melakukan hal yang sama.
Alby kembali mencoba menghubungi Bia. Sejak kemarin dia belum bisa menghubungi Bia.
[Hallo assalamualaikum]
[Walaikumsalam neng]
[iya ada apa?]
[apa kamu pulang kenapa kamu nggak mau tungguin Aa?]
[kalau cuma mau bahas alasan kenapa aku pergi lebih baik matikan saja]
[kita perlu bicara Neng!]
[keputusanku sudah bulat. tolong hargai apapun yang menjadi keputusanku]
[apa neng udah nggak sayang aa?]
[Aku emang sayang sama Aa ,aku memang cinta sama aa, tapi aku juga nggak mau jadi perempuan yang bodoh. Akhiri semuanya dengan baik-baik ya semoga kamu bahagia dengan Silvy]
[astaghfirullahaladzim Neng]
__ADS_1
[Aa tunggu saja surat dari pengadilan agama]
[lagi sampai kapanpun berusaha mempertahankan rumah tangga kita Neng]
[Maaf aku mau ada urusan. lebih baik aa mengurusi hal lain yang lebih penting daripada aku]
[buat aa neng segala-galanya neng!]
[Aku percaya tapi itu dulu! sekarang prioritasmu bukanlah aku.]
[tolong beri kesempatan sekali lagi buat aa Neng!]
[kesempatan itu sudah habis A]
[ini sangat menyakitkan Neng ,aa nggak bisa]
[maaf kalau keputusanku menyakitimu, lebih baik daripada harus aku yang tersakiti]
[Aa akan pulang ke Jawa nemuin kamu. Dan Aa kan bilang sama Lek Sarman, Aa nggak akan pernah bisa lepasin neng]
[lakukan yang Aa mau. Assalamualaikum]
[waalaikumsalam]
Albyi pun langsung terduduk di lantai. Rasanya ia sudah tidak memiliki semangat hidup. Apalah arti hidup bergelimang harta tanpa istri tercinta.
Titik terendah dalam hidup Alby adalah dia tak mampu menahan tapi juga tak mampu melepaskan istri yang sangat ia cintai. Pergi sulit bertahan sakit itu ungkapan yang tepat untuk Bia.
Tapi pada kenyataannya kesabaran seseorang memang terbatas. Sebaik apapun Bia, sesabar apapun seorang Bia, dia pasti merasa kecewa dia pasti merasa dikhianati.
Mungkin ini jalan yang terbaik. Entah untuk Alby ataupun dia sendiri.
.
.
"ke mana Nduk?", tanya Lek Sarman.
"pengen jalan-jalan Lek pinjam kunci mobil!", kataku.
"udah sore jangan jauh-jauh!", nasehat Sarman.
"nggak lek, mau ke rumah ibu habis dari alun-alun."
"ya wes hati-hati yo!"
"yo lek ,assalamualaikum!", pamitku. Aku pun bergegas meninggalkan warung menuju mobil lek Sarman yang terpatri di halaman warung.
Seseorang memperhatikan Bia dari jauh, orang itu adalah William. Dia sedang ada pekerjaan di kampung ini lagi.
"Bia!", panggil William. Aku pun menengok ke arah seseorang yang memanggil namaku.
Aduh kenapa sih harus sama orang ini lagi? Batin ku.
"Hai, Bi? Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik."
"kamu mau ke mana?"
"ada urusan."
"jauh ya ?kok bawa mobil?"
"maaf sepertinya bukan urusan kamu deh!"
William terkekeh geli menghadapi kejutekan seorang Bia.
"hehehe mungkin ini dinamakan jodoh!", canda Wiliam.
"nggak usah ngarang!"
"kamu kalau lagi manyun cantik deh!", puji William.
"Maaf ya ,aku harus pergi!"
Aku masuk ke dalam mobil, mendudukkan diriku di balik kemudi. Tapi detik berikutnya, William malah duduk di kursi penumpang.
"Aku mau ke rumah mas Anton, kamu mau ke sana sekalian ngga?", tanya William yang dengan santainya duduk di sebelah ku.
"Aku ngga ngijinin kamu masuk lho!" hardikku.
__ADS_1
"Emang ngga, tapi...aku aja yang pengen ikut kamu."
Aku menggeleng kesal pada sepupu bapak tiriku. Rasa nya percuma saja melarang bocah selengekan ini.