Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 167


__ADS_3

Mobil Sakti sudah terparkir di halaman kediaman keluarga Galang Wibisono. Jantung Sabrina masih berpacu dengan cepat. Saat Sakti membukakan pintu untuknya, gadis itu masih bergeming di tempatnya.


"Bina?", Sakti sedikit mengguncang bahu Sabrina.


"Heum? Ah, udah sampe mas?", tanya Sabrina dengan tampang oon nya. Jelas sudah sampai, lalu dari tadi pikiran nya kemana?


Sebenarnya yang dia takuti itu apa? Bertemu dengan ayahnya sakti atau bertemu dengan sang mantan, Dimas?


"Udah, ayok!", Sakti menggandeng tangan kekasihnya itu lalu mengajaknya masuk.


"Tunggu mas!", Sabrina menahan lengan Sakti.


"Apalagi sayang?", sekarang kata sayang seperti nya bukan hal yang sulit meluncur dari bibir dokter berlesung pipi satu itu.


"Aku...gugup mas! udah yuk, balik aja. Aku malu! ini beneran terlalu cepat mas!", rengek Sabrina. Dan itu benar-benar membuat Sakti semakin gemas.


Cup!


Sakti mendaratkan kecupan di puncak kepala Sabrina. Dan ya...gadis itu langsung diam, gak ada gerakan dari tubuhnya.


"Semua baik-baik saja Bina. Percaya sama aku!", Sakti kembali meyakinkan kekasihnya lagi.


"Tarik nafas pelan, hembuskan! Lakukan berulang sampai kamu merasa tenang! oke?"


Sabrina pun melakukan hal yang Sakti katakan, oh... Tuhan...begini sekali menjadi kekasih dokter jantung. Dia tahu saja saat dimana jantung ku berdegup tak karuan! Batin Sabrina.


Detik berikutnya, Sakti menggandeng tangan kekasihnya dengan mesra menuju ruang makan. Ternyata ayahnya baru keluar dari kamar, masih menggunakan sarung dan baju kokonya.


"Assalamualaikum, Yah!", sakti mengucapkan salam pada Ayahnya.


"Walaikumsalam, mas. Udah sampai rupanya!", jawab Galang. Lalu matanya berpindahnya pada sosok gadis yang berada di samping Sakti.


Ini calon menantu ku?


"Iya Yah, eum...kenalin Yah. Sabrina, tapi biasanya di panggil Bina."


Sabrina mengulurkan tangannya pada Galang lalu mencium punggung tangan pria gagah yang sudah tak muda lagi itu.


"Salam kenal pak, Sabrina!", ujar Sabrina.


"Selamat datang di rumah kami, nak Sabrina!", kata Galang lembut. Sabrina mengangguk dan tersenyum tipis. Entah kenapa ia sepertinya tak asing dengan wajah Galang. Tapi ya mungkin memang wajah Galang suka nampak di berita televisi.


"Adek mana yah?", tanya Sakti.


"Ngga tahu, Ayah juga belum liat sejak magrib tadi. Mungkin di belakang sama abang-abangnya!", sahut Galang. Sakti paham yang di maksud abang-abang oleh ayahnya, tapi tidak dengan Sabrina.


Belum Galang kembali berkata, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari atasannya.


"Ayah, angkat telpon dulu ya. Nanti kalo udah mau makan malam, tolong panggil ayah. Ayah ke ruang kerja dulu. Maaf ya Sabrina, ayah tinggal dulu!"


Sabtu mengangguk dan tersenyum.


"Kamu mau nunggu di sini apa ikut mas ke belakang? Anika di belakang sama anak-anak!", tanya sakti.


Apa yang di maksud anak-anak....ada Dimas juga ya?


"Hei? Kok malah bengong! Udah ketemu ayah kan? Ayah ku ngga sehoror yang kamu bayangkan kan?", tanya Sakti lagi. Sabrina mengangguk.

__ADS_1


"Eum, ya udah aku ikut mas aja ke belakang deh!", kata Sabrina. Sabrina menggandeng lengan Sakti sedikit kencang. Tapi sakti tentu saja tak keberatan. Dia tahu, kekasih nya pasti gugup jika bertemu lagi dengan mantannya apalagi...kalo othor menghendaki, mantan kekasihnya akan menjadi ipar Sabrina.


Sepasang kekasih itu menghampiri tiga cowok tampan dan seorang gadis belia yang di kuncir kuda.


Gadis itu tampak nyaman bersandar pada lengan seorang pria gagah. Siapa lagi kalo bukan Anika dan Dimas.


"Assalamualaikum!", sapa Sakti.


"Walaikumsalam!", sahut keempat orang di situ. Ajudan senior, berada di rumah dinasnya bapak ya....


Dimas dan Anika menengok ke belakang menyambut asal suara yang memberi salam.


Seto dan Febri saling sikut. Mereka sedang tebak-tebakan apa reaksi Dimas.


"Dek!", panggil Sakti pada adiknya. Anika tersenyum manis, gadis cantik yang masih belia itu pun sama seperti kakaknya. Mempunyai lesung pipi, tapi di kanan kiri pipinya.


"Mas, udah pulang! Eum... official nih ceritanya?", ledek Anika sambil menaik turunkan alisnya dengan wajah usil.


"Iya dong, makanya mas bawa pulang. Nih!", Sakti mengangkat tangan Sabrina yang ia genggam.


Sabri hanya menyunggingkan senyum manisnya.


"Hai kak Bina, kenalin. Anika, biasa sih di panggil nya dek Ika. Sama mereka semua tuh!", tunjuk Anika dengan dagunya.


"Salam kenal dek Ika!", Sabrina mengulurkan tangannya.


Dimas tak bereaksi apapun, dia memandang ke arah lain. Tak mau bertatapan langsung dengan Sabrina.


Dimas tak habis pikir, apa Anika tak merasa cemburu sama sekali? Apa anak itu terlalu polos? Apa bagaimana?


Anika menggelayut manja ke lengan Dimas. Sabrina pun menyadari itu, Dimas mengusap kepala anika dengan sayang tapi matanya masih tak mau menatap ke arah sakti dan Bina.


"Alhamdulillah baik, mas Seto!", jawab Sabrina.


"Ehem, kenalin saya... Febri!", kata Febri tapi tak mengulurkan tangannya pada Sabrina. Ia tahu, si dokter pasti akan melarangnya.


"Salam kenal mas Febri."


"Kalo sama Dimas, udah kenal dong? Ngga perlu kenalan?", tanya sakti. Sabrina menoleh ke Sakti. Entah apa makna yang tersirat dari pandangan Sabrina ke Sakti.


"Dim, Lo mah kaku bener! Jangan memutuskan tali silaturahmi gitu kenapa?", celetuk Sakti. Dimas mendongak menatap Sakti.


"Ngga , biasa aja kok mas!", sahut Dimas. Anika menggenggam tangan Dimas.


"Udah mas, saling maafin aja. Yang udah berlalu ya udah. Ngga usah di simpan dendam sama sakit hati kamu. Kan udah ada aku! Hehehe!", kata Anika. Sontak ucapan Anika membuat Dimas tersenyum. Ia gemas dengan kekasih belianya itu.


"Iya sayang!", Dimas mengusap kepala Anika lagi.


"Maaf ya mas Dimas!", tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulut Sabrina.


"Heum, semua sudah berlalu. Toh kita sudah punya pilihan masing-masing. Aku juga minta maaf kalo dulu...ah, udah lah. Pokoknya aku minta maaf juga."


"Alhamdulillah, nah gitu kan enak. Ngga kaku!", Anika merangkul bahu Dimas yang jauh lebih tinggi darinya.


"Adek!", Sakti memperingati adiknya yang seperti terlalu nyaman kontak fisik dengan Dimas.


"Apa?", sahut Anika manyun.

__ADS_1


"Makanya... tinggi tuh ke atas, ngga ke samping!", celetuk Febri.


"Mas Febri mah...ih...!", Anika merajuk seperti anak kecil. Semua yang ada di situ pun jadi merasa lucu pada gadis kecil itu.


Seto mengambil ponsel di sakunya.


"Eh, maaf. Ayang ku telpon, aku angkat dulu ya!", Seto menyingkir dari sana.


"Kok mas Feb masih di sini?", tanya Anika.


"Kenapa?"


"Ngga liat, kita couple-an nih! Ngga nganan, eh.... ngiri? Mas sakti aja udah move on dari mba Bia lho.... udah ngga ada saingan lagi dong?!", ledek Anika.


Febri, Sakti dan Dimas membuatkan matanya mendengar celetukan Anika.


"Awas Lo dek!", Febri mengepalkan tangan nya.


"Hahaha bercanda mas... ngga usah marah!", sahut tanpa dosa.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, ponsel Febri berdenting ada panggilan dari mba Sus. Minimal, ia bisa menghindari dari ledekan Anika.


Tanpa permisi, Febri meninggalkan dua pasangan kekasih itu.


"Kamu sih dek, marah kan masmu itu!", Dimas menyenggol lengan Anika pelan.


"Abis seneng aja gitu liat muka keselnya mas , Febri, kak! Dia kan keseringan lempeng mukanya."


"Awas lho dek, Febri kalo marah serem!", kata Dimas lagi.


"Dih... ngapain takut, kan ada kak Dim hehehe!", sahut Anika dengan entengnya. Sakti hanya menggeleng heran dengan kelakuan adiknya itu.


"Ya udah dek, ntar kak Dim bujuk mas mu yang satu itu biar ngga ngambek!"


"Hehehe gitu dong! Ya udah masuk yuk, panggil ayah makan malam. Pasti si ruang kerjanya kan?"


"Kak Dim ngga ikut Dek!", Dimas menahan tangan Anika yang menyeret lengan Dimas.


"Kenapa?", tanya Anika.


"Lain kali dek. Sekarang, biarin bapak kenalan sama kak Bina dan kamu juga. Kak Dim sama mas Feb di belakang kok. Ya?", Dimas mengacak rambut Anika.


"Owwkeeyyy!", sahut Anika santai tanpa beban. Sakti pun mengapresiasi maksud dan tujuan Dimas dengan memberikan senyuman yang tulus pada cowok jangkung itu.


"Ayo kak Bina!", Anika menggandeng tangan Sabrina lebih dulu. Sedang Sakti tertinggal di belakangnya.


"Lo baik banget sih Dim!", Sakti menepuk bahu Dimas. Dimas tak menimpali ucapan Sakti, hanya senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya. Sakti pun berlalu dari sana, tinggal lah Dimas sendiri.


Huffft!


Gue ngga setegar itu mas Sakti! Gue pernah kenalin Bina ke keluarga gue juga, begitu pula sebaliknya. Sayangnya...semua itu cuma penggalan masa lalu. Dan ...masa depan Bina itu, Lo mas sakti! Monolog Dimas dalam hati.


*****


Masih selingan dulu ya....besok tinggal yang berat-berat 🤭🤭🤭


Maaf kalo banyak typo ya, tapi semoga bisa di pahami.

__ADS_1


Makasih 🤗🙏


__ADS_2