
Aku, mas Febri, Dimas dan Anika makan malam masakan ku yang sederhana. Andai tahu mereka akan datang, aku pastikan masak makanan yang lebih 'wah' dari sayur asem, ikan, asin, tempe goreng dan sambel terasi.
Ga cocok sebenarnya malam-malam makanannya begini, tapi ini request mas bojo. Buat nambah nafsu makan. Dan... kebetulan...ini pun masakan favorit Alby.
Otak...otak...please! Ora usah tengok masa lalu wae!!!
"Kenapa nduk?",tanya mas Febri sambil makan karena melihat ku memukul kepala ku yang mendadak ingat makanan favorit Alby ini.
"Heum? Ngga! Kayanya rada pusing aja!", jawabku mengarang bebas.
"Ya udah abis ini mas beliin obat di apotik."
"Ngga usah lah mas, ntar minum anget juga paling sembuh!", tolakku. Karena pada dasarnya aku memang tak sakit kepala.
"Beneran?", tanya nya penuh perhatian sambil mengusap bahuku. Aku mengangguk pelan.
"Makanya...jangan keseringan di pake Feb, kasian tuh bojomu!", celetuk Dimas dengan frontalnya. Tapi mulut nya masih mengunyah makanannya.
Aku dan Anika tersedak tiba-tiba karena ucapan si ngapak ini.
Uhuk uhuk-uhuk-uhuk
Masing-masing pasangan kami memberikan air putih untuk di minum, meredakan rasa pedas di tenggorokan eh .. kerongkongan.
Plakkkk!
Tepukan kencang mendarat di lengan Dimas. Tak tanggung-tanggung, membekas lima jari di lengan Dimas.
"Sakit **go!", umpat Dimas. Sama atasannya berani gitu 🤠ya cuma Dimas dan Seto.
Aku dan Anika masih merasakan perih bekas tersedak tadi.
"Cangkemmu Dim!", kata Febri.
(Mulutmu Dim)
"Ya maaf, aku ga tahu kalo mereka bakal kompak tersedak. Tapi omongan ku bener kan? Keseringan di pake sama kamu, Bia jadi mumet begitu?", Dimas mengulang kesalahan yang sama.
Kali ini Dimas menghindar dari amukan sahabatnya, ia menyembunyikan dirinya di balik tubuh Anika.
__ADS_1
"Udah mas... udah! Lagi makan lho ini!", kataku menahan mas Febri agar tak menghajarnya sahabat luknut nya itu.
"Kak Dim, jangan ngomong gitu kenapa! Denger nya malu tahu!", kata Anika yang masih dipeluk Dimas dari belakang. Anika menjadi tameng sang kekasih agar terhindar dari amukan Febri.
Tapi dasar Dimas, bukan secepatnya bangun dari posisi itu, malah cari-cari kesempatan di belakang Anika.
"Heh! Cah gendeng! Ga usah cari kesempatan ya!", Febri melempar tisu pada Dimas.
"Heheheh...kok ya paham Bae!",kata Dimas menegakan badannya lagi.
"Buruan habisin. Abis ini pulang sana!", kata Febri.
"Lha? Kita di usir dek?", adu Dimas pada Anika.
"Kan emang udah malem kak!", kata Anika santai. Aku dan mas Febri menertawakan Dimas. Dia pikir Anika bakal pro dengan kelakuannya itu.
Jam sembilan malam, Dimas mengantar Anika setelah anika menyuruh ajudannya untuk tidak menjemputnya karena akan di antar Dimas. Ajudan nya tentu saja tak keberatan, apalagi pangkat Dimas jauh di atas mereka.
Di perjalanan menuju ke kediaman Galang....
Jika Dimas selalu bertingkah konyol di depan teman-temannya,tapi tidak saat berduaan dengan sang kekasih.
Dimas mengantar Anika dengan mobil Febri. Sedang sepeda motor Dimas, di tinggal. Besok saat ke kantor baru tukar kendaraan. Dimas tak sekaya Febri yang kedua orang tuanya pensiunan tapi masih punya berhektar-hektar sawah. Punya mobil buat Febri bukan perkara susah. Beda dengan dirinya, meskipun kedua orang tuanya PNS tapi mereka jelas belum sebanding dengan orang tua Febri.
Anika adalah putri bungsu dari atasannya. Tentu ada rasa takut tersendiri dalam lubuk hati seorang Dimas yang konyol itu.
Dimas menggenggam tangan Anika sepanjang perjalanan menuju ke kediaman Galang.
"Kak?"
"Apa dek?", tanya Dimas.
"Aku udah skripsi!", kata Anika. Dimas menghela nafasnya. Dia paham kemana arah pembicaraan kekasih kecil nya itu. Tidak kecil sebenarnya sih. Anika gadis cantik berusia dua puluh satu tahun. Secara fisik dia tinggi semampai, tak seperti Bia yang tinggi nya SNI.
Perbedaan usianya dengan Dimas juga sembilan tahun. Masih nampak serasi lah.
Dimas meminggirkan mobilnya lalu menghentikannya tanpa mematikannya. Laki-laki dewasa itu memutar badannya menghadap sang kekasih, begitu sebaliknya.
"Adek yakin sama kak Dim?", tanya Dimas menggenggam kedua tangan Anika. Anika mengangguk.
__ADS_1
"Adek tahu aku seperti ini?"
"Tahu, suka konyol kalo lagi sama teman-teman gesrek mu. Tapi setiap kamu sama aku, kamu tetap jadi sosok yang serius kak?!"
Dimas menghela nafasnya.
"Dek, kamu tahu berapa penghasilan ku. Pangkat ku hanya..."
Anika meletakkan jarinya di bibir Dimas. Ini yang Anika bosan dari Dimas. Dia selalu merasa rendah diri bersanding dengan nya hanya karena pangkatnya belum tinggi. Padahal bagi anika itu bukan masalah.
"Jangan bahas kaya gitu terus kak. Kamu tahu aku tak pernah sekalipun berpikir seperti yang kamu pikirkan. Aku menerima kamu apa pun pangkat kamu. Seiring berjalannya waktu, kamu bisa meniti karir mu. Ayah aja ngga keberatan kan???"
Dimas menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Makasih!", Dimas mengusap pipi Anika. Ia menarik Anika ke dalam pelukannya lalu mengecup puncak kepalanya dengan mesra.
"Ya udah, kita pulang. Udah malam!", Dimas bersiap menjalankan mobilnya. Tapi Anika menghentikannya.
"Kenapa?", tanya Dimas.
Anika menarik kepala Dimas, mencium bibir sang kekasih. Untuk beberapa saat keduanya menikmati momen itu.
"Buat nanti kalo udah sah aja ya?", kata Dimas. Dengan malu-malu Anika mengangguk.
Menilik sejarah percintaan mereka, Anika lah yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada Dimas. Nekat sekali tuh bocil!
Dimas yang saat itu sedang berusaha move on dari Sabrina, mengiyakan saja ungkapan cinta Anika. Meski pada awalnya mereka backstreet, takut ketahuan pak jenderal.
Tapi... akhirnya semua tahu. Bahkan pak Jenderal Galang menantang dirinya untuk serius dengan si bungsu.
Awalnya, Dimas hanya merasa tak enak menolak anak atasannya. Tapi makin kesini perasaannya tumbuh, perasaan sayang pada seorang gadis bukan pada sosok adik yang manja seperti Anika.
"Insyaallah, bulan depan orang tua ku ke sini! Kebetulan beliau berdua ada urusan keluarga, nanti...aku bilang pada mereka untuk menemui kamu dan ayah dek!", kata Dimas.
Mata Anika berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika Dimas akan menepati ucapannya.
"Janji?", tanya Anika. Dimas tersenyum dan mengangguk tipis.
"Insyaallah!", jawab Dimas. Keduanya kembali berpelukan.
__ADS_1
"Adek tunggu janjimu kak!", bisik Anika dalam pelukan Dimas.
"Heum!", sahut Dimas. Setelah itu keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Anika.