
Aku masuk ke dalam lift khusus. Ku pikir aku sendiri, tapi ternyata dia ikut bersama ku di lift yang sama.
Aku memilih untuk diam. Anggap saja aku sedang sendiri saat ini. Aku percaya, dia tak akan berani macam-macam padaku. Dia pria baik-baik.
Aku merasa kali ini laju lift berjalan lambat sekali. Ingi rasanya aku cepat-cepat keluar dari kotak besi ini. Ada rasa canggung yang tidak bisa ku tepis tentunya.
Dua orang yang pernah hidup bersama tiba-tiba harus jadi orang asing. Dan situasi ini benar-benar sangat tidak mengenakan.
Entah apa yang Alby pikirkan. Aku berusaha tenang agar Alby tak melihat kecanggungan ku. Beruntung, lift terbuka.
"Permisi A, aku duluan!"
"Iya!", jawab Alby sedikit tergagap. Dari jauh aku sudah melihat mas Febri menunggu di loby. Senyum nya yang khas merekah saat melihat aku datang.
Aku mencium punggung tangannya. Dia pun mengusap perut ku. Hobi baru nya mas Febri tuh!
"Kemana kita? Langsung pulang?",tanya mas Febri.
"Coba tanya Anika atau Bina gitu ya mas. Kali aja mereka lagi ga sibuk. Pengen aja gitu main, mumpung lagi keluar sekalian. Itu juga kalo mas ngga capek!"
Febri mengulas senyum. Dia mengusap kepala ku.
"Ngga ada alasan capek kalo buat nurutin kemauan istri tercinta!"
"Gombal! Sejak kapan sih kamu pinter ngegombal gitu mas? Awas aja kalo keganjenan sama perempuan lain sono yang cantik-cantik dan muda."
"Ihhhh...gemes deh kalo lagi cemburu gini!", dia malah mencubit pipi ku.
"Mas, malu ah. Kita udah tua. Bukan pasangan ABG lagi. Ngga usah lebay deh. Kalo mau over alay-alayan dan lebay-lebayan nanti aja di kamar kalo lagi berdua."
"Mancing aja terooooss!"
"Lha, kok mancing? Mancing opo toh?"
"Wes ga usah cari tahu Anika apa Bina sibuk atau ngga, langsung pulang aja. Kita naninu sekarang, ngga usah nunggu entar malem!"
"Dih, ngga ah!"
"Nolak suami dosa lho!"
"Paan sih, ngga ah. Udah pokoknya aku mau main sama Anika atau Bina. Titik! Nafkah batinmu nanti malam aja!"
"Janji?"
"Gak!"
"Kok gitu!??", tanya Febri menatapku heran.
"Emang aku bisa nolak kalo mas udah mau gitu?"
"Hahaha iya sayang. Mas gak akan menolaknya kok!", ledek Febri.
"Halo? Kebalik kali mas!"
Febri pun tergelak sendiri. Ternyata ponsel ku berdering. Ada nama mas Sakti muncul di layarku.
"Mas sakti telpon, Mas!"
"Angkat aja!"
Aku pun menerima panggilan dari mas Sakti.
[Assalamualaikum Bi?]
[Walaikumsalam mas Sakti]
[Sibuk ngga? Kalo ngga, kita mau ke rumah kalian]
[Gitu ya? Ya udah, kami tunggu di rumah kalo gitu]
[Oke, abis magrib kita jalan ke sana]
[Ya mas]
[Ya udah Bi, assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Aku kembali memasukkan ponsel ku ke dalam tas.
"Sakti bilang apa sayang?"
"Katanya dia mau ke rumah mas. Jadi ya...gagal jalan deh!"
"Hehehe kenapa tadi ngga bilang aja kalo kamu pengen ke luar Nduk?"
__ADS_1
"Ngga enak lah mas"
"Ya udah, lain kali kita hangout sama mereka. Mereka kan mungkin pengen tahu tempat tinggal kita sayang."
"Huum!"
"Mau beli apa buat suguhan, kan ada tamu?"
"Apa ya mas?"
Mas Febri mengedikan bahunya.
Aku jadi berpikir sepanjang jalan menuju ke rumah. Tapi pas nyampe rumah, malah ga kepikiran beli apa.
"Apa pesen pake gofut aja nduk?"
"Boleh deh. Tapi jangan minta aku yang milih. Aku ga tahu!"
Aku pun masuk ke dalam kamar ku lalu langsung masuk ke kamar mandi. Setelah mandi aku mendirikannya empat rakaat ku. Setelah aku beres, baru lah mas Febri melakukan hal yang sama. Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore.
Aku membuka-buka kulkas dan lemari makanan. Dari pada bingung mau apa, aku memilih untuk menggoreng pisang.
Untuk lauk makan malam, aku memasak capcai dan ayam goreng. Sudah, hanya itu.
"Kok masak sih Nduk?", tanya mas Febri sambil memelukku dari belakang.
"Ya kan buat makan malam mas."
Dia menciumi bahuku yang terbuka. Mau memintanya untuk tidak melakukan itu, pasti dia tidak akan mendengarnya. Jadi,ya pasrah saja lah.
"Mas! Aku lagi masak lho!", kataku.
"Mas tahu!", sahut nya masih tetap memeluk dan mencium bahu ku malah sekarang berpindah ke leher.
"Mas! Jangan gini ah!"
"Mas kangen tahu!", bisik nya.
"Nanti malam sayang! Ngga sekarang! Oke???"
Dia mendesah pelan lalu melepaskan pelukannya lalu memiliki duduk di bangku.
"Aku bikninin kopi ya?", tawarku. Bayi besar ku lagi merajuk. Dia hanya mengangguk sambil menopang dagunya di atas meja.
Sambil menumis sayuran dan menggoreng ayam, aku membuatkan kopi untuk suamiku yang paling ganteng.
"Heum. Makasih!", sahut nya datar. Dih, ngambek dia !
Aku mematangkan masakan ku. Setelah itu ku matikan kompor. Aku melingkarkan tangan ku ke leher mas Febri dari belakang.
"Ngga usah ngambek kenapa sayang?"
"Ngga!", sahutnya cepat. Aku menolehkan kepalanya, lalu ku c*** bibir seksinya itu. Sampai-sampai dia malah menarik ku sampai duduk di pangkuannya. Ku biarkan dia mengeksplor apa yang menjadi wilayah favoritnya.
"Udah, nanti lagi!", kataku sambil mengusap bibirnya yang basah.
"Mas suka kalo kamu mulai duluan tahu nduk!", katanya sambil memeluk pinggang ku.
"Huum. Iya!", kataku sambil berusaha berdiri.
Tak lama kemudian, terdengar suara azan berkumandang. Kami berdua pun bersiap menunaikan tiga rakaat.
.
.
Aku sedang menata meja makan, terdengar suara mesin mobil dan motor di halaman rumah.
"Mas, kayanya mas Sakti udah dateng deh!"
"Iya, mas buka pintu dulu."
Beruntung halaman rumah kami luas meski bangunan rumah kami kecil. Tapi halaman nya cukup menampung dua mobil.
"Assalamualaikum!", terdengar suara orang yang memberi salam dari luar sana. Sepertinya tidak hanya Sakti dan Bina.
"Waalaikumsalam!", jawab Febri sambil membuka pintu.
Mulutnya ternganga melihat enam orang ada di depan pintu rumah nya.
"Lha kok iso mrene bareng-bareng? Janjian opo piye?", tanya Febri pada mereka semua.
(Kok bisa ke sini bareng. Janjian apa gimana?)
Gimana ngga heran, squad gesrek kumpul di rumah Febri yang kecil ini.
__ADS_1
"Gue kan udah bilang sama Lo tadi!", kata Sakti menyelip masuk sambil menggandeng istrinya. Febri menyingkir dan merapatkan diri ke pintu, 'mempersilahkan' para tamunya.
"Aku kan nyilih mobil mu!'',kata Dimas sama seperti Sakti, dia masuk ke rumah sambil menggandeng Anika.(pinjam)
"Nek aku emang sengaja mrene ae!", sahut Seto tanpa dosa, turut membawa Naya masuk.
Febri terbuat ternganga.
"Janc*** kabeh!", umpat Febri.
Bukan tidak suka temannya datang, tapi kalo ada mereka rencana buat naninu bakal gagal.
Aku keluar dari dapur langsung menemui para tamuku.
"Lho? Banyak tamu toh?",tanyaku. Tapi aku sudah memakai jilbab ku ya.
"Hai????", keenam orang yang duduk di sofa itu dadah-dadah santai padaku. Aku melihat mimik wajah Mas Febri yang kusyuttt.
Aku tahu apa yang dikau pikirkan kakanda! Dalam hati aku tertawa.
Aku menarik dua kursi makan untuk ke bawa ke ruang tamu.
"Ngapain nyeret bangku nduk. Berat!! Kan bisa panggil mas!", kata Febri dengan nada cemas.
"Enteng mas!", kataku sambil menyerahkan bangku itu untuk Mas Febri.
"Bahaya tahu!", katanya sambil mengelus perut ku.
"Woy...ada tamu ini!", protes Sakti.
"Oh, ada tamu ya?", tanya Febri.
"Katanya ada tamu nduk?", Febri justru mengatakan itu padaku. Aku memutar bola mataku malas.
Fix! No debat! Kalo squad gesrek itu kumpul, di jamin bakal.....
Satu jam berlalu. Makanan yang ku masak tadi sudah tandas. Beruntung Bina pengertian, dia membawa makanku kemari.
"Jadi, berapa bulan nih kehamilan Bia? Kalo aku sih udah empat bulan!", kata Bina. Iya, perutnya sudah mulai buncit.
"Jalan sembilan Minggu Bin!", jawabku.
"Tok cer ya Feb!", ledek yang lain.
"Iya lah!", kata Febri sombong.
"Jadi ga sabar pengen bikin juga!", celetuk Seto. Tapi Naya menjewer telinganya.
"Nikah dulu, baru bikin!", kata Naya.
"Tahu nih! Kalo udah ngebet, sana bilang sama ayahnya Naya. Jangan cuma pengen bikin anak doang!", sahut Sakti.
"Mas, ih...itu mulut ngga di filter!", protes Bina.
"Kaya gue dong! Gercep, ya ngga sayang?", tanya Dimas sambil mengecup pipi Anika.
Sakti membelalakan matanya.
"Heh, adek gue itu!", seru sakti.
"Tahu, tapi ini kan calon istri nya mas Dimas. Ya kan sayang?", tanya Dimas lagi pada Anika. Anika hanya mengangguk dan senyum. Dia lebih kalem setelah di lamar beberapa waktu lalu.
Keseruan pun berlanjut sampai hampir jam setengah sepuluh malam.
"Wes bengi, Ndang podo muleh!", kata Febri.
(Udah malam, buruan pada pulang)
"Kita di usir?",tanya Sakti.
"Heum!", sahut Febri. Aku mencubit pinggang nya yang sampe sekarang belum berhasil ku cubit.
"Yo wes, kunci mobile ndi!", tangan Dimas menadah di hadapan Febri.
"Koe sing nyilih tapi koyo aku sing disilihi!", kata Febri sambil mengambil kunci di gantungan.
(Kamu yang pinjem tapi kaya aku yang di pinjemin)
Drama kumpul-kumpul pun usai. Kini aku dan Mas Febri tinggal berdua. Aku membereskan bekas minuman kami ke belakang. Dan mas Febri memasukan motor Dimas.
Baru selesai aku meletakkan gelas kotor, mas Febri langsung menggendong ku ke kamar.
"Mas!"
"Sholat isya buruan! Abis itu naninu! Penuhi janji kamu nduk!"
__ADS_1
Ya salam...pak Bambang...anak mu ini pak ...ampun deh....!!!!