Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 154


__ADS_3

Hari ini Silvy di perbolehkan pulang lebih dulu di banding dengan Hartama. Sebelum ia pulang, ia menyempatkan diri menemui papanya.


Dengan bantuan perawat, Silvy memasuki ruangan Hartama. Dilihatnya sosok pria yang sangat ia sayangi selama ini.


"Papa!", panggil gadis itu.


Hartama menoleh lalu tersenyum kecil pada gadis kesayangannya itu. Perawat mendorong kursi roda Silvy untuk mendekati papanya.


"Gimana kondisi papa?", tanya Silvy.


"Papa baik", jawab Hartama tergagap."Papa minta maaf!"


Silvy mengusap lengan papanya.


"Silvy yang harusnya minta maaf sama papa. Semua ini karena silvy pa. Papa cuma mau kasih kebahagiaan buat Silvy, tapi cara Silvy salah. Memaksakan keinginan Silvy tanpa memikirkan orang lain. Maaf,Pa!", Silvy menghambur ke pelukan papanya.


Tini terharu melihat pemandangan di hadapannya itu. Semoga mereka berdua benar-benar sudah berubah dan bisa memperbaiki diri.


"Alby mana?", tanya Hartama.


"Sedang jalan ke sini, Pa."


Hartama mengangguk lalu mengusap kepala putrinya itu.


"Kamu cantik sekali pakai hijab nak!'', puji Hartama. Silvy tersenyum malu dipuji seperti itu meski oleh papanya sediri.


"Makasih pa!", sahut Silvy. Tak berapa lama, pintu terbuka. Alby menghampiri semuanya, sedang perawat sudah keluar sejak tadi.


"Kamu baru pulang Jang?", tanya Titin. Alby mengangguk pelan.


"Papa kapan bisa pulang?", tanya Alby.


"Insyaallah lusa Jang!", jawab Titin lagi. Silvy meraih tangan Alby lalu mengecup punggung tangannya.


"Terima kasih sudah mau menjaga Silvy, By!" kata Hartama. Alby hanya mengangguk.


"Kita pulang By?", tanya Silvy sambil mendongakkan kepalanya.


"Iya!", jawab Alby. Lalu ia pun berpamitan pada dua orang dewasa yang ada di hadapannya.


"Sebentar By, Vy!", ujar Hartama.


"Ada apa Pa?", tanya Silvy. Hartama melirik mantan istrinya itu lalu menatap bergantian pada putri dan menantunya.


"Papa mau menikah lagi sama Titin. Bagaimana?"


Silvy tersenyum, tapi tidak dengan Alby. Tatapannya datar.


"Silvy setuju saja Pa, Bu!", jawab Silvy. Lalu ia menoleh pada suaminya. Seakan menunggu jawaban dari Alby, Silvy masih menatap wajah suaminya dari bawah.


"Terserah kalian saja."


Titin menatap tak enak pada menantu sekaligus anak tirinya itu.


"Jang....!"


"Terserah Mak saja, kalau memang keputusan yang terbaik seperti itu." Titin menarik nafas perlahan.


"Maneh teu nanaon Jang?", tanya Titin mendekati putra nya itu.


"Itu hak kalian."


Titin memeluk putranya itu.


"Maaf!", ucap Titin lirih. Entah makna kata maaf yang Titin ucapkan untuk kesalahan apa.


Akhirnya, Silvy dan Alby keluar dari ruangan Hartama.


"By, kamu sudah beliin yang aku mau?", tanya Silvy.


"Udah, tadi aku di temani Anika untuk membeli semua yang sesuai sama selera kamu."

__ADS_1


Silvy tersenyum tipis. Ada rasa bahagia yang tak bisa ungkapkan.


"Makasih , By!"


Alby tak menyahuti apa pun, dia fokus mendorong kursi roda silvy menuju pintu keluar.


Di dekat loby, tanpa sengaja Alby bertemu dengan Sakti yang sedang bersama seorang gadis.


"Alby!", panggil Sakti.


"Sakti!", sahutnya lagi.


Sakti dan gadis itu mendekat ke arah alby dan Silvy. Gadis yang bersama Sakti menatap Alby, dan itu disadari oleh Silvy.


"Mba, bisa biasa saja kan lihat suami saya?",tanya Silvy.


Gadis itu sedikit tersentak dengan ucapan Silvy barusan. Sakti pun menoleh pada Sabrina.


"Kamu, gadis yang di resto Xxx itu kan?'', tanya Alby pada Sabrina. Sabrina pun mengangguk pelan.


"Lo kenal sama Sabrina?", tanya Sakti pada Alby.


"Eum...waktu itu, mas Alby ngga sengaja hampir nabrak aku Mas Sakti. Tapi ngga apa-apa kok."


Silvy mendongak menatap suaminya.


"Bener By?", tanya Silvy memastikan. Alby hanya mengangguk.


Owh... namanya Alby, cakep! secakep orangnya, tapi sayangnya udah ada pawangnya! Batin Sabrina.


"Oh, gitu!", ujar Sakti.


"Ini...pacar Lo Sak?", tanya Alby to the point. Sabrina dan Sakti ternganga.


"Eh, ngga mas. Bukan!", jawab Sabrina malu-malu. Ya, kenyataannya kan memang mereka tak ada hubungan apapun.


Tapi ekspresi wajah Sakti berubah.


"Ih, mas sakti kalo manggil suka nanggung deh!", kata Sabrina kesal. Tapi Sakti justru terkekeh.


Alby masih melihat keakraban keduanya.


"Oh, iya Sak. Kemarin gue pergi sama Anika. Gue pinjem Anika buat belanja baju Silvy, soalnya yang tahu selera Silvy kan adik Lo."


"Oh, gitu ya? Gue ngga pulang kerumah. Balik ke apartemen yang lebih dekat ke sini."


"Heum, sama Febri."


Sakti terkekeh lagi.


"Kalian ngga berantem kan?", tanya Sakti. Silvy mendengar obrolan itu dengan tenang di kursi rodanya.


"Ngga sih, karena ada dek Ika aja."


Sakti manggut-manggut. Sabrina juga sesekali melihat kedua pria tampan itu bergantian.


"Biasanya...Dek Ika di temani sama Dimas dan Seto, tapi kemarin sama Febri doang!", lanjut Alby. Ia hanya ingin tahu, apakah itu benar-benar kebetulan.


Sabrina menautkan kedua alisnya. Mantan kekasihnya memang bernama Dimas, tapi apakah kebetulan jika sahabat mantannya yang bernama Seto juga kebetulan.


"Oh, biasanya sih di rolling dari mereka siapa aja yang ikut bokap gue. Kayanya dinas keluar kota", jawab Sakti. Alby menangkap ekspresi wajah Sabrina yang berubah sejak Alby menyebut nama Dimas.


Mau ikut campur? Bukan! Alby hanya ingin memastikan, jika memang Sabrina itu sudah menjalin hubungan dengan Sakti bukankah itu lebih baik, setidaknya Sakti akan menjauh dari Bia.


"Oh, begitu."


Alby mengangguk pelan.


"Kalian mau pulang?", tanya Sakti pada Alby dan Silvy. Sakti baru menyadari jika saat ini Silvy memakai kerudung.


"Iya, hari ini Silvy bisa pulang. Tapi, papa kayanya baru bisa pulang lusa. Kenapa bukan kamu saja yang menangani Papa ya, Sak?"

__ADS_1


Sakti tersenyum kecil.


"Bukan bagian gue, By!"


"Ya udah, kami balik dulu." Alby berpamitan pada Sakti dan Sabrina. Keduanya mengiyakan dengan anggukan.


Sepasang suami istri itu menuju ke parkiran. Alby memapah Silvy memasuk mobilnya.


"Ada yang mau kamu beli sebelum sampai ke rumah?", tanya Alby sambil menyalakan mobilnya.


"Ngga, aku mau langsung istirahat."


Alby mengangguk lalu melajukan mobilnya menuju ke kediaman keluarga Hartama.


"Kamu ngga balik ke kantor kan?", tengok Silvy ke arah suaminya yang fokus menyetir. Tak ada jawaban dari Alby, dia hanya menoleh sesaat.


"Aku pengen kamu nemenin aku !", kata Silvy menunduk lalu meremas kedua tangannya. Alby melirik aktifitas istri nya itu.


"Iya!", jawab Alby datar. Sontak, Silvy mengangkat kepalanya. Lalu tersenyum senang.


"Makasih, By!", kata Silvy riang. Tak lupa ia menggamit lengan suaminya itu. Alby pun membiarkan silvy melakukannya.


Lebih dari setengah jam, sepasang suami istri itu pun sampai ke rumah. Alby mendorong kursi roda Silvy ke dalam rumah.


"Mau langsung ke kamar?", tanya Alby. Silvy mengangguk pelan.


Di depan tangga, Silvy akan berdiri. Tapi Alby mencegahnya.


'' Mau apa?", tanya Alby.


"Ke kamar By!", jawab Silvy. Tidak mungkin bukan menaiki tangga dengan kursi rodanya?


Alby membiarkan Silvy, berdiri tapi detik berikutnya Silvy merasa tubuhnya melayang. Alby mengangkat tubuh Silvy menaiki tangga. Ada rasa tak percaya luar biasa di benak Silvy. Antara senang dan sedih sekaligus. Senang karena perlakuan Alby, sedih... kebahagiaan ini tidak akan lama.


Alby meletakkan istrinya di ranjang perlahan-lahan. Alby akan bangkit dari tempat tidur itu, tapi Silvy mencegahnya. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Jangan pergi!", ujar Silvy lirih. Alby hanya menghela nafas, lalu melepaskan tangan silvy dari lehernya.


"Tidur lah, aku di sini!", ujar Alby sambil mencari posisi duduknya agar nyaman. Silvy menggenggam tangan Alby, lalu meletakkan tangan itu di bawah pipinya. Setelahnya, ia memejamkan matanya.


Cukup lama Alby membiarkan Silvy melakukan itu. Hanya begitu saja sudah membuat Silvy bahagia bukan? Tapi ... untuk memberikan haknya pada Silvy, pria tampan itu belum siap.


Perlahan, Alby melepaskan tangannya dari genggaman Silvy. Gadis itu pun sepertinya sudah terlelap.


Alby bangkit dari ranjang, lalu membersihkan diri ke kamar mandi. Ia segera menunaikan sholat ashar.


Cukup lama pria tampan itu bersimpuh di hadapan Tuhan nya. Hanya pada Nya ia mengadukan semua masalah yang ia hadapi. Tidak ada lagi orang yang sepertinya tepat untuk tempat nya berbagi. Siapapun akan tetap menyudutkannya. Padahal dia sendiri juga tidak ingin berada di posisi seperti ini.


Usia bermanja-manja pada yang maha kuasa, ia menoleh pada istrinya yang masih terlelap. Rasa bersalah menyeruak di dalam dadanya. Andai saja....banyak andai-andai yang ada di kepalanya.


Andai dulu tak begini, andai dia begini, andai begitu dan banyak andai-andai yang lain.


Alby melihat ponselnya. Sudah tak sabar ia ingin menghubungi kekasih hati nya itu. Tapi, mungkin dia akan bertahan hingga waktu itu tiba. Tak perlu menghubungi lewat ponsel. Alby akan menemui istrinya setelah semua kelengkapan proyek di Jawa timur selesai.


Alby menatap kalender di ponselnya. Beberapa hari lagi, masa nifas Bia berakhir. Ada rasa takut saat waktu itu tiba. Itu artinya, Bia akan segera mengajukan dokumen itu ke pengadilan agama setempat.


Alby tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia akan meyakinkan istrinya lagi.


"By...!", panggil Silvy.


Alby menghampiri Silvy yang berusaha duduk dan bersandar di headboard ranjang.


"Aku mau sholat ashar!", ujar Silvy. Alby sempat terkejut, tapi setelah itu ia membantu Silvy menuruni ranjang. Ia memapah Silvy menuju kamar mandi.


"Mau mandi sekalian deh!", kata Silvy. Alby pun mengambil handuk Silvy.


"Aku tunggu di luar!", kata Alby setelah menyerahkan handuknya. Silvy hanya mengangguk tipis.


Jangan ditanya seperti apa perasaannya saat ini?!!!


******

__ADS_1


Next ya??? 🤗🤗🤗


__ADS_2