
Febri menghentikan mobilnya setelah sampai di parkiran kantornya. Sebenarnya dia kasihan melihat sang istri tidur seperti itu di jok mobil. Tapi sepertinya perempuan hamil itu nyaman-nyaman saja tidur di posisi seperti itu. Febri tak tega membangunkannya. Tapi membawa ke ruangannya juga bukan pilihan yang baik. Dia akan terganggu dengan rekannya yang akan bolak-balik ke ruangannya.
Febri mengecup sekilas kening istrinya. Membiarkan sang istri tertidur pulas di dalam mobil.
Dia turun dari mobilnya. Lalu melihat bawahan nya yang sedang berjaga.
"Siang Kapt!", kata dua pria muda yang ada di depannya.
"Siang. Maaf, saya minta tolong. Istri saya masih tidur dan dalam mobil."
Kedua pria muda itu mengangguk.
"Titip ya? Tidak keberatan kan?"
"Siap Kapt!", sahut keduanya. Usai mengucapkan terimakasih, Febri melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Jam empat sore, aku terbangun dari tidur siangku. Ya??? Tidur siang yang kesorean judulnya. Ternyata aku tertidur pulas di dalam mobil.
Aku melihat ke sekitar, ternyata aku di area parkir kantor mas Febri. Aku mengucek kedua mataku. Lalu menegakkan tubuh. Pegal juga rasanya tidur di sini. Tapi tak apalah, ngga setiap hari ini seperti ini.
Saat aku akan turun dari mobil, mas Febri menghampiri ku.
"Sayang, udah bangun?", katanya membukakan pintu untuk ku.
"Heum. Kebelet pipis mas!", kataku. Dia membantu ku turun.
"Mas anterin ke kamar mandi?"
"Ngga usah. Kamar mandi itu aja mas. Kejauhan kalo yang di dalam, keburu ngompol ntar."
"Ya udah pelan aja jalannya ya!"
Aku mengangguk saja.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah kembali ke mobil. Mas Febri masih menunggu ku di kap mobil.
"Udah? Mau langsung pulang?", tanyanya. Aku mengangguk. Aku bersyukur, suamiku sangat perhatian padaku.
.
__ADS_1
.
.
Waktu cepat berlalu, tanpa terasa kandungan ku memasuki usia tujuh bulan. Cepat sekali ya???
"Acara pengajian nya jam berapa sih sayang?", tanyaku pada mas Febri. Aku sudah kesusahan untuk sekedar berdiri. Mungkin karena perutku yang berisi dua janin. Jadi terlihat sangat besar. Jangan di tanya seperti apa bentuk tubuh ku saat ini.
"Nanti bada dhuhur sayang! Kamu istirahat saja. Udah ada ibu dan yang lain kok! Kamu ngga usah pikirin macem-macem."
"Ya Allah mas, aku udah ngerepotin semua nya ya? Apalagi kamu!", aku mengusap pipinya. Tapi dia meraih tanganku.
"Apa sih yang ngerepotin heum? Ini kewajiban ku. Bahkan aku seneng, kalo kamu malah apa-apa bilang ke mas. Jadi jangan pernah berpikir kalo mas keberatan ya?"
Aku mengangguk. Semakin hari aku semakin gampang baper.
Rumah ku yang kecil kini terdengar ramai. Banyak keluarga ku yang datang di acara kali ini. Ada bapak ibu mertua ku, ibuku dan suaminya, untung Esa dan Wibi berada di rumah Oma Marini, tapi Oma dan opa di sini.
Tak lupa, kedua lek ku yang paling antusias dengan acara tujuh bulanan ini. Alhasil, acara tujuh bulanan ku malah full dengan anggota keluarga ku. Belum lagi sahabat-sahabat kami.
Ada Anika dan Dimas, serta Seto dan Naya.
Sakti dan Bina, sedang sibuk dengan baby new born! Bayi mereka perempuan! Padahal Sakti saat itu pernah berniat menjodohkan anak-anak kami. Eh, ngga tahu nya...Anak Sakti perempuan, dan si kembar pun insya Allah juga perempuan.
So...ga jadi jodohin deh heheheh.
"Nyesel ya Nduk, rumah kita kecil!", bisik mas Febri sebelum acara di mulai.Aku mengangguk tipis.
"Ngga pernah kepikiran mau ada acara begini mas!", kataku.
"Heum, tapi untung kita masih punya halaman luas. Jadi minimal bisa pasang tenda begini ya?", bisiknya lagi. Aku mengangguk lagi.
Ustadz yang kami undang sudah datang. Acara pun berlangsung begitu khidmat. Rangkain acara sesuai adat Jawa pun berlangsung secara runtut. Sampai hal yang menurut ku paling seru adalah saat mas Febri menggantikan pakaian ku berulang kali.
Ada yang tahu makna nya??? Hehehe.
.
.
Bada Isya, aku dan keluarga berkumpul di dalam rumah. Meski mengikuti tradisi turun temurun, buatku tak ada yang salah mengikuti nya. Saat azan magrib, pintu dan jendela harus di tutup. Apalagi jika ada yang sedang hamil.
Kalau ada yang mengatakan hal itu mitos, tidak salah juga. Tapi kami, selain mengikuti tradisi juga berpikir secara logis kok.
Orang jaman dulu, memang tak menjelaskan alasannya kenapa. Tapi orang masa kini kan realistis. Ya ngga?
__ADS_1
Kalo malam kan udara sudah mulai dingin, kali aja nanti kalo kena udara luar yang ada ibu hamil masuk angin. Dan ibu hamil ga bisa minum obat sembarangan kaya orang 'normal' pada umumnya. Mungkinkah seperti itu....????
Satu persatu keluarga ku pulang, hanya tersisa bapak dan ibu mertuaku di rumah ini. Sebenarnya aku lebih nyaman dengan Lek Dar, tapi tak enak pada mertuaku.
Jadi, kedua lek ku menginap di rumah Oma Marini bersama ibu dan bapak Anton tentunya.
Aku duduk di sofa bersebelahan dengan mas Febri. Dia masih terus mengusap perut ku yang terlihat sangat buncit.
"Kamu ada rencana melahirkan di mana nduk?", tanya pak Bambang.
"Insyaallah di sini saja pak!", kataku. Iya lah, aku punya suami siaga kok. Febri tersenyum sambil mengusap perut ku.
Bu Sri membawakan susu untuk ku, dua cangkir kopi untuk mas Febri dan bapak, sedang untuk ibu sendiri beliau membuat teh hangat.
"Minum susu dulu. Udah malem tuh! Istirahat. Pasti capek banget kan, ternyata acaranya banyak begitu?",kata ibu.
"Iya sih bu. Kakinya pegal!", kataku.
"Ya udah minum susunya sayang, abis itu istirahat di kamar."
Aku pun mengangguk. Setelah ku habis kan segelas susu, aku pun di antar Mas Febri ke dalam kamar ku.
Sepeninggal mas Febri, aku berganti pakaian. Mungkin karena bawaan bayi atau apa, hawanya tuh selalu panas. Aku selalu tidur dengan daster lebar. AC nya pun kunyalakan cukup dingin. Barulah setelah itu aku bisa istirahat.
Ternyata Mas Febri tak lama di luar, dia kembali masuk ke kamar sambil membawa kopinya.
"Lho, kok masuk mas? Ngga temenin bapak sama ibu ngobrol dulu?"
"Mereka juga mau istirahat nduk!", jawabnya. Dia mengambil bangku di meja rias ku. Lalu duduk di samping kakiku lalu memijatnya.
"Kamu juga capek mas! Udah ngga apa-apa!", tolakku. Gimana ngga? Dia juga capek seharian kan.
"Capek juga kamu nduk! Bawa anak kita kemana-mana!"
Aku tersenyum tipis mengusap rahang nya. Ku pandangi wajah nya yang gagah itu.
"Kenapa?", tanyanya tanpa melepaskan pijatan di kakiku.
"Suamiku ganteng. Baik lagi. Jangan berubah ya mas, walopun nanti abis aku melahirkan aku bakal melebar ke mana-mana?", ah .. udah melow kan akuuuh...
Tapi mas Febri malah terkekeh.
"Kamu mau kaya apapun, mas tetap cinta sama kamu nduk. Heum?", dia menakupkan kedua tangannya di pipiku. Padahal mataku sudah mulai mengembun.
"Makasih ya mas. Aku beruntung banget bisa sama kamu!"
__ADS_1
"Ssstttt...aku yang beruntung sayang. Akhirnya mas bisa milikin kamu, dan anak kita kelak juga akan beruntung mempunyai orang tua seperti kita."
Aku pun mengangguk. Setelahnya, kami saling berpelukan.