Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Bab 260


__ADS_3

Mas Febri membangun kan ku saat si sulung menangis. Dengan perlahan-lahan, mas Febri membopong bayi pertama kami padaku. Aku yang sudah belajar untuk bersandar, meraih putri sulung kami untuk ku beri Asi.


Saat IMD tadi, sepertinya bayiku belum terlalu mahir menghisap. Tapi untuk sekarang, aku sampai meringis geli , sakit dan ya begitu lah.


Mas Febri hanya memandangiku dengan meringis seperti ku.


"Kenapa mas?"


"Kayanya ngilu ya Nduk? Enakan mas aja yang di kasih asi. Udah kasih sufor aja bayi-bayi kita",katanya tanpa di filter. Bibirnya cengengesan meledekku.


"Ingat mas! Puasa tiga bulan dan asi buat anak-anak juga sampe dua tahun. Ga usah ngarep!!!"


Hidung ku kembang kempis gara-gara ucapannya tadi. Benar-benar nih bapak muda bikin naik pangkat! Eh...naik darah!


"Ya elah Mahmud, becanda!", kata mas Febri sambil mengusap kepala ku.


"Ngomong kaya gitu sekali lagi, Tek unyel-unyel sampeyan mas!"


Mas Febri terkekeh sendiri. Lalu, bayi kedua kami pun ikut bangun. Seperti nya ingin menyusu juga.


"Nduk, itu si kakak belum kelar mimiknya, bilangin gantian sama si adek!"


"Gimana bilangnya mas, sabar atuh!",kataku. Mas Febri menimang-nimang si adik sampai ia kembali tenang.


Setelah si kakak puas mimik, sekarang ganti adeknya. Mas Febri meletakkan si adek di samping ku, lalu mengambil si kakak.


"Mas, udah siapin nama kan buat si kembar?"


"Udah dari kemaren-kemaren nduk. Fesha sama Ribi", katanya sambil menggendong si kakak.


"Fesha? Ribi? R I B I ? atau R I B B Y?", ejaku.


"Iya Fesha itu Febri Shabia .Kalo Ribi ya sama aja sih sebenernya, FebRi Bia. Ambil suku katanya aja!"


"Ngga ada yang lebih Islami gitu mas? Atau Jawa gitu? Kok kaya bau-bau nama kekinian?"


"Lha emang anak kita generasi milenial kok???!!"


Aku meringis kecil. Ngga salah juga sih omongan pak suami.


"Nanti dulu ah, nunggu orang tua aja. Oke lah Fesha sama Ribi, kali aja mereka lebih tahu dan cari yang lebih cocok mas."


"Kamu ngga suka nama itu Nduk?"


"Bukan masalah suka ngga suka mas. Nama itu kan doa mas. Kita berharap yang bagus-bagus buat anak-anaknya kita nanti, makanya kasih nama yang bagus."


Mas Febri menghela nafasnya.


"Yo wes nungguin mereka aja!", kata mas Febri lesu.


Dia mengembalikan Si kakak ke dalam box bayinya. Bagaimana cara membedakannya? Perasaan aku melihat nya sama saja. Beruntung ada gelang yang dari rumah sakit, minimal bisa di bedakan mana yang lahir lebih dulu.


Tok....tok....

__ADS_1


Pinta pun terbuka. Muncullah sosok-sosok yang sudah lama kami tunggu.


"Assalamualaikum!",sapa mereka.


"Walaikumsalam!",jawab ku dan Febri. Mas Febri menutupi dadaku dengan kain. Biarpun mereka keluargaku, tetap saja malu kalo keliatan sedang menyusui begini.


Lek Dar dan Bu Sri langsung menghampiri ku. Di ikuti oleh pasangan mereka di belakangnya.


"Udah pada cuci tangan belum?",tanya Febri.


"Ya udah lah, jangan kan cuci tangan. Udah mandi juga kali di hotel tadi",sahut Bu Sri.


"Widih...wong sugih mainnya hotel!", Febri mencebikkan bibirnya meledek sang ibu.


"Duite sopo? Terserah ibu lah!", beliau mengangkat si kakak dari box nya. Sedang lek Dar duduk di samping ku.


"Kamu lho Feb, ketemu orang tua bukannya Salim atau tanya kabar, malah ngajak ribut!"


Febri jadi salting, setelah itu dia menyalami para orang tua.


"selamat ya Nduk!'',kata lek Sarman. Aku mengangguk. Lek Dar mengambil si adik dari gendongan ku. Alhasil, si kembar di gendong oleh para nenek mereka.


Kaum Adam memilih ngobrol di sofa. Sedang kami ciwi-ciwi beda generasi sibuk sendiri dengan segala pertanyaan. Sampai pada akhirnya hal yang tadi aku dan mas Febri bahas pun mencuat.


"Kasih nama sapa nih cucu-cucu nya Uti?",tanya Bu Sri.


"Menurut ibu bagusnya siapa ?",tanyaku.


"Ibu sih pengen nya Nayla sama Naysa, kayanya bagus. Arti nya juga bagus kan? Cantik!"


"Iya, nama dan arti nya bagus kok nduk!",lek Dar menimpali.


"Kalo di gandeng dengan nama Fesha dan Ribi, cocok ngga? Ayahnya pengen kasih nama itu,Bu...lek...!",kataku sambil melirik ke mas Febri.


"Jeneng opo iku?",tanya Bu Sri.(Nama)


"Singkatan nama kami aja sih Bu!",jawabku.


"Nama itu juga bagus, ngga salah juga ambil dari nama orang tuanya!",kata Lek Sarman.


"Huum, bagus kok. Misal si kakak Nayla Fesha dan adeknya Naysa Ribi", kata bapak lagi.


"Nayla itu artinya anak perempuan yang sukses. Kalo Naysa sendiri juga artinya perempuan yang baik/mulia. Pokok nya keduanya artinya bagus kok!", kata bapak mertuaku.


Mas Febri yang dari tadi diam pun mengangguk setuju. Seperti nya dia sependapat dengan mereka semuanya.


"Cuma dua suku kata?",tanya Bu Sri.


"Mau kasih nama Purnomo di belakang nya?",tanya bapak.


"Ngga ah! Ngga usah pak. Biarin dua suku kata aja!", kata Febri.


"Itu Ribi ejaannya Ribi aja, atau er-i-be-be-ye?",tanya lek Sarman.

__ADS_1


"Ribi biasa aja lek!", jawab mas Febri.


"Ga mau kaya model sekarang? Dobel A? Dobel E? Es Ha? Huruf zed! Huruf konsonan di jejerin sampe bingung bacanya?",tanya bu Sri. Ya, beliau kan guru bahasa Indonesia ya wajar nanya kaya begitu hahahaha.


"Ga lah Bu. Wong itu singkatan nama kami kok."


"Lagian Bu ya, pakne sama mbokne ae wong Jawa kok, Ra sah sok kebarat-baratan!",kata bapak mertuaku.


Aku senyam-senyum sendiri. Herannya anak-anak ku tak merasa terganggu dengan suara-suara kami.


"Iya sih! Bener juga. Kalo namanya susah, udah gitu panjang banget besok kalo ujian, urek-urek nama di kolom kertas ujian bakal susah. Apalagi kolomnya belum tentu muat!", celetuk Bu Sri.


"Bu, nanti jamannya mereka sekolah ujiannya mungkin udah ngga kaya jaman emak bapak nya. Jaman mereka pasti udah jauh lebih canggih, ngga urek-urek kolom nama di kertas ujian kali Bu!", kata Mas Febri.


"Tapi tetep aja, nanti kalo nulis di ijazah ya tetap susah!",kata Bu Sri.


Kami dan yang lain hanya mengiyakan saja. Toh, Bu Sri lebih pengalaman. Beliau memang bertahun-tahun mengisi form ijazah murid-muridnya. Kalo generasi sembilan puluhan, namanya masih gampang. Kalo generasi milenial, kata Bu Sri njlimet. Kan ngga boleh sampai salah tuh nulisnya.


Pembahasan nama sudah selesai. Tinggal urusan aqiqah anak-anak. Mereka sepakat untuk membeli yang sudah jadi saja. Jadi, nanti di rumah kami hanya terima beres.


Sejak tadi sebenarnya aku ingin menanyakan kebenaran ibu ku dan keluarga barunya. Tapi...tak enak menanyakan nya karena mereka semua sangat antusias dengan para cucu-cucunya.


"Kenapa nduk",tanya mas Febri.


"Kok ibu ngga nengok kami ya mas?",tanyaku. Keempat orang tuaku tersenyum padaku. Apa aku salah menanyakannya?


"Apa bapak sibuk ya? Ga bisa antar ibu ke sini? Apa ibu ngga peduli sama kami?",tanyaku.


Lek Dar mendekati ku.


"Jangan berpikir buruk seperti itu Nduk. Ngga baik!",lek Dar mengusap bahuku. Aku hanya menghela nafas.


"Mba asih bukan ngga mau ke sini Nduk ...tapi....!", lek Sarman menggantung kalimatnya.


"Kenapa Lek? Ibu sakit? Atau Wibi sama Esa? Atau...!"


"Ngga nduk!", kata lek Sarman. Mas Febri pun mungkin sama bingungnya seperti ku.


"Eum...itu, ibu mu lagi... morning sickness, kamu mau punya adik lagi...!",kata Lek Sarman.


"Hahhhh!", aku dan mas Febri terperangah lalu saling menatap mata. Setelah nya menatap putri kembar kami.


"Ibu hamil????", tanya ku dan mas Febri bersamaan. Keempat orang itu menahan tawa.


"Emang kenapa? Ibu mu masih muda kok!",kata lek Dar.


"Heheh iya sih Lek tapi....!"


"Udah, namanya juga rejeki nduk."


Mas Febri dan aku tersenyum kaku.


Bisa bayangkan? Kami di panggil mas dan mba padahal muka sudah bapack-bapack dan ibuk-ibuk oleh anak bayik yang lebih muda dari anak-anak kami????🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


*****


Satu bab lagi setelah ini. Habis itu pantengin Aa Alby ya hehehhe makasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2