
"Nduk, ini rantang sama gelas nya. Makasih Yo!"
Dia menyerahkan rantang dan gelas yang tadi dipakainya.
"Iya mas, sama-sama!"
"Aku... berangkat dulu ya Nduk! Kamu hati-hati di rumah."
Aku mengangguk.''Iya mas!"
Setelah itu, ia berlalu mengendarai mobilnya seraya menyalakan klakson nya.
Sepeninggalan Febri, aku bebersih rumah yang sudah kotor seperti rumah yang tak berpenghuni. Aku memulainya dari membersihkan dedaunan yang berserakan di luar. Halaman rumah ini memang cukup luas. Sesekali aku berhenti untuk mengambil nafas. Mungkin karena aku masih dalam masa pemulihan, jadi lebih mudah lelah.
"Neng?", sapa seseorang yang tak lain itu Wa Mus.
"Eh, iya wa!", aku menghampirinya lalu mencium punggung tangannya yang sudah sangat keriput
"Kapan datang?"
"Kemarin malam wa."
"Sendiri?" Aku mengangguk.
"Gimana hubungan kamu sama si Abi?", tanya wa Mus sambil sesekali menyesap rokok tembakau nya.
Aku hanya bisa menghela nafas berat. Apa aku harus mengatakan padanya?
"Eum...Bia...", kerongkongan ku terasa kering. Sepertinya tak sanggup untuk melanjutkan ucapan ku.
"Wa paham dengan diamnya kamu neng! Wa dukung keputusan neng!"
Deg!
Benar kah wa Mus tahu niatku?? Dari awal masalah poligami Alby mencuat, wa Mus paling getol meminta ku berpisah dengan nya. Mungkin beliau memang mengerti seperti apa perasaan ku.
"Maafin Bia ya Wa!"
Wa Mus menggeleng.
"Neng Bia ngga usah minta maaf. Justru wa yang harus nya minta maaf. Mewakili keluarga wa, terlebih Alby. Dia sudah mengecewakan neng."
Tiba-tiba aku terharu, sebenarnya semua keluarga di sini baik padaku. Aku saja yang sudah tidak sanggup bersabar lebih lama lagi.
"Semoga, setelah ini kamu menemukan kebahagiaan ya neng!", wa Mus menepuk bahu ku.
"Makasih ya Wa!"
"Iya, ya udah wa ke kebon dulu!"
"Ya wa, hati-hati licin habis hujan wa." Wa Mus mengangguk tipis.
Aku melanjutkan memanasi motor matic ku. Meskipun meragukan apa masih menyala atau tidak. Sudah hampir sebulan tak di pakai sama sekali.
Keberuntungan masih berpihak padaku. Semoga saja, motor ini masih bisa ku pakai setidaknya sampai ke ekspedisi yang ada di dekat kecamatan.
Setelah ku pastikan panas, aku melanjutkan bebersih rumah bagian dalam.
Hampir jam setengah dua belas siang, aku menyelesaikan pekerjaan rumah ku. Aku juga sudah mandi dan sudah rapi. Aku menyalakan ponsel ku setelah semalaman aku matikan.
Serentetan pesan dan misscalled menghiasi layar ponsel ku.
[Neng, nanti sore Aa nyusul ke kampung]
Itu chat dari Alby tadi pagi. Tapi chat berikut nya, Alby membatalkan rencana nya ke sini. Dia bilang, tuan Hartama mendadak sakit dan di bawa ke rumah sakit. Memang aku peduli gitu????
Kamu datang ke sini, aku sudah berada di jalan menuju kampung halaman ku!
Ponsel ku berdering, ada nomor ibuku yang memanggil.
[Assalamualaikum, Bu]
__ADS_1
[Walaikumsalam nduk, piye kabar mu nduk? Koe oleh musibah kok ya ga ngomong ambi ibu toh nduk]
Aku memijat pelipisku. Dari mana ibu tahu???
[Musibah opo sih bu?]
[Musibah opo? Awakmu bar kelesan, opo dudu' musibah iku arane? Untung Malvin telpon bapak, nek ga tekan sesuk ibu ga roh]
(Musibah apa? Kamu habis keguguran, apa bukan musibah itu namanya? Untung Malvin telpon bapak, kalo ngga sampe besok pun ibu ngga tahu)
[Maaf bu. Bia cuma ngga mau bikin yang di rumah khawatir]
[Lek mu ngerti ga?]
[Ngga bu. Ngga usah di kasih tahu. Insya Allah, besok pagi Bia juga sudah sampai rumah]
[Awakmu muleh nduk?]
(Kamu pulang nduk)
[Iyo Bu, Bia nyerah! Hiks ...hiks....]
Aku tak sanggup menahan air mataku. Nyatanya, seperti apapun ibuku dia tetap ibu yang melahirkan ku dan menyayangi ku dengan caranya sendiri.
[Astaghfirullah nduk, lha terus awakmu Saiki neng ndi?]
[Neng kampung Bu]
[Alby ne piye?]
(Alby nya gimana?)
[Di Jakarta, mertuanya masuk rumah sakit]
[Astaghfirullah, bocah edyan! Yo wes Ndang muleh. Pokoke niatmu jangan sampe goyah lagi. Maafin ibu, pernah memaksa mu buat bertahan. Tapi, salah satu alasan mu bertahan wes ga ada. Mungkin lebih baik seperti ini.]
[Iya Bu]
Ku pandangi kamar yang sudah ku huni bersama suami beberapa tahun ini. Sedih jika mengingat kebahagiaan kami saat itu, sebelum masalah besar menimpa rumah tangga ini.
Ku simpan kembali kunci rumah ini di tempat yang biasa. Entah, setelah nya apakah rumah ini aman atau tidak. Kesempatan untuk orang menjarah rumah ini sebenarnya bisa saja. Tapi mungkin memang daerah ini aman.
Ku nyalakan starter motor matic ku. Memakai helm dan gamis longgar, aku mengawalinya dengan bismillah.
.
.
"Gimana kondisi papa dok?", tanya Silvy lagi saat dokter baru mengecek Hartama. Alby mendampingi istri nya yang panik setelah tadi pagi menemukan papanya tergeletak di lantai.
"Tuan Hartama mengalami gejala stroke nona! Dari pemeriksaan saya, beliau mengalami hipertensi yang jadi pemicu timbulnya gejala stroke."
Silvy menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, Alby. Tak ada penolakan dari Alby, mungkin dia hanya memahami situasi yang sedang di alami istri kecil nya itu.
"Papa kapan siuman dok?", tanya Silvy lagi.
"Doakan saja, semoga beliau segera sadar. Saya permisi!", dokter undur diri.
"By, papa By!", kata Silvy lirih. Titin mengusapnya bahu putrinya perlahan.
Ya Allah, jika ini memang teguran dari Mu semoga mas Tama segera menyadari kesalahan-kesalahannya selama ini. Batin Titin. Seperti apa pun perlakuan Hartama padanya, Tama tetap lah orang yang pernah berarti dalam hidupnya hingga memberikan seorang putri yang cantik seperti Silvy.
Alby tak tahu harus berbuat apa. Dia sudah berjanji akan menemui Bia di kampung, tapi jika Hartama sedang seperti sekarang mana mungkin dia meninggalkan istrinya. Sekalipun tak ada cinta di hati Alby untuk Silvy, tapi sebagai sesama tentulah Alby memiliki rasa kemanusiaan. Terlebih, beliau mertuanya sendiri.
Ponsel Alby bergetar. Ada panggilan dari Marsha.
[Hallo Sha?]
[Hallo mas Alby, aku dengar tuan Hartama masuk rumah sakit?]
[Iya Sha!]
__ADS_1
[Ya Tuhan! Lalu keadaan beliau gimana mas?]
[Dokter bilang, papa mengalami gejala stroke Sha]
[Ya Tuhan]
Marsha menakupkan tangan nya ke mulut. Keterkejutan Marsha menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya yang tak lain adalah karyawan Hartama.
[Doakan saja beliau segera sadar. Kami menemukan papa sudah berada di lantai]
[Iya mas. Semoga tuan Hartama lekas sehat kembali]
[Makasih doanya Sha]
[iya mas, tapi....]
[Tapi apa Sha?]
[Hari ini ada jadwal pertemuan dengan para investor mas. Dan ini pertemuan yang sangat penting mas buat perusahaannya kita]
[Tapi kamu kan tahu, papa sakit Sha?]
[Mas Alby bisa kan mewakili beliau? Saya yang menemani mas Alby]
Alby tampak berpikir sebentar.
[Oke, aku ke sana!]
"Kunaon Jang?", tanya Titin.
"Ada kerjaan di kantor Mak."
Silvy masih duduk di bangkunya.
"Alby berangkat ya Mak. Assalamualaikum!", pamit Alby pada Titin.
"Walaikumsalam!", sahut Mak.
"By!", panggil Silvy saat ia melangkahkan kakinya.
Silvy bangkit menghampiri Alby.
cup! Silvy mengecup pipi suaminya. Lalu meraih tangan Alby, mengecup punggung tangannya. Alby tak menanggapi apa yang Silvy lakukan.
"Hati-hati! Nanti aku kabari kalo papa ada perkembangan."
Alby tak menyahuti apa pun, dia berjalan menjauh dari tempat dimana istri dan mak berdiri.
*****
Tiga bab ✌️✌️✌️✌️✌️✌️
Alhamdulillah, semoga di ACC sama kak mimin ya 😁. Makasih yang udah mampir ke sini, yang udah mau nunggu tulisan receh ini.
Don't forget!
Jangan lupa!
Ulah poho!
Ojo lali!
Aja kelalen!
Like & komennya ya gaes 🙏🙏🙏
Dukungan dari kalian berarti sangadd buat mamak heheheh
By emak2 anak ✌️
Makasih
__ADS_1