
Usai subuh tadi aku dan emak sempat video call dengan A Alby. Meskipun jarak jauh, kami masih bisa saling memperhatikan. Contoh kecil nya, Alby bawel mengingatkan emak untuk rutin minum obat dan juga banyak berolahraga. Sedangkan untuk ku sendiri, Aa juga mengingatkan ku agar tak terlalu lelah mencari tambahan belanja apa lagi harus membantu melayani kebutuhan Mak.
Jam tujuh pagi, Mak sudah berjemur di halaman belakang tepat di pinggir kolam. Meski hanya berisi ikan gurame, tapi kolam kami cukup banyak isinya. Kadang jika sedang panen, kami masih cukup membagikannya kepada tetangga dekat. Pakan ikan pun bersih, bukan sisa limbah kami 😝. Jadi, kadang-kadang pun ada tetangga yang sengaja datang hanya untuk membelinya pada kami.
Aku memutuskan untuk menyapu halaman rumah kami. Sebagi booster, tak lupa kunyalakan lagu Jawa koplo yang sedang hits. Minimal mengobati rasa rindu ku pada kampung halaman.
Lungamu ninggal kenangan
tekamu ngirim undangan
medotne tali katresanan
........
Begitu lah penggalan lagu yang dinyanyikan dengan suara fals ku hehhehe
Aku mulai menyapu sudut-sudut halaman rumah sesekali berjongkok mencabut rumput liar.
"Aih...neng Bia keur galau ngadenge lagu eta?", sapa salah satu tetangga.
(Neng Bia galau dengerin lagu itu)
"Hahaha moal bi, kangen kampung di Jawa !", sahut ku sambil tersenyum.
"Owh...kirain mah galau di tinggal nikah sama mantan pacarnya hehhehe!"
"Isssh....bibik mah. Ya ngga lah!", sahutku santai.
"Nya tos atuh, bibik arek ka kebon!"
"Manga bik!", kataku. Aku pun meneruskan pekerjaanku menyapu halaman depan.
Sedang di halaman belakang Mak masih memberi makan ikan-ikan kami. Mak menyadari jika penyakit nya itu tidak hanya berimbang pada dirinya tapi juga pada anak dan menantunya.
Pikiran Mak entah ke mana, tapi tangannya masih melemparkan huut pakan ikan.
Rumah kontrakan Febri yang tak terlalu jauh dari rumah Mak pun sudah nampak terbuka. Pria tampan itu sudah di tunggu Cecep, rekan kerja Febri di Koramil.
"Pagi Ndan!", sapa Cecep.
"Pagi!", kata Febri tersenyum sambil memasang tali sepatunya. Samar-samar ia mendengar suara lagu berbahasa Jawa yang tak jauh dari rumah kontrakan nya.
"Eh ...cep, ada yang nyali lagu dangdut Jawa tuh, emang orang sini tahu artinya apa tuh lagu?", tanya Febri.
Cecep pun turut mendengarkan sekilas.
Ojo Kowe mikir gampang
Dadi aku soro tenan
Nanging tak kuat-kuat ne bertahan
Jajal Kowe dadi aku
tak jamin tambah kuru
Gusti tulung sadarke sayang ku
....
"Oh...itu mah pasti teh Bia. Tuh rumah nya. Dia kan orang Jawa!", Cecep menunjuk sebuah rumah.
Bia? Apa Bia yang sama?
"Owh...itu neng Bia nya?", tanya Febri menunjukan tangannya ke Mak yang sedang duduk di pinggir kolam.
__ADS_1
"Atuh bukan Ndan, eta mah mitoha nya teh Bia. Emaknya kang Alby!", jelas Cecep.
Febri hanya menggeleng pelan.
"Ya sudah, ayo berangkat!", kata Febri.
"Siap Ndan!", ujar Asep.
Motor Cecep pun melewati jalan depan rumah Mak.
Aku yang sedang istirahat berdiri memegang sapu, kebetulan menghadap ke jalan. Bersamaan dengan kang Cecep, salah satu anggota Koramil.
"Teh Bia, punten!", sapa Cecep.
"Ya kang!", sahutku tapi aku pun terkejut melihat seseorang yang berboncengan kang Cecep. Begitu juga dengan orang itu.
Mulut kami berucap lirih bersamaan tanpa suara yang jelas.
"Bia!", kata Febri pelan.
"Mas Febri?", tanyaku sendiri. Motor Cecep pun melaju menuju kantor.
Aku masih tak percaya jika aku melihat mas Febri di sini, di kampung halaman suamiku. Bagaimana bisa ia bisa dinas di sini?
Ya Allah...kenapa aku harus bertemu dengan nya lagi?
"Neng, sarapan heula !", panggil Mak dari teras.
"Ya Mak. Bia cuci tangan dulu!", kataku lalu menyusul Mak menunju ke ruang makan.
Tak berbeda jauh dengan Bia, Febri yang Cecep pun berpikiran yang sama.
Aku menemukan mu Bia? Tapi kenapa kamu sudah menjadi milik orang lain?
"Ndan, udah sampe kantor. Masih mau bonceng saya?", tanya Cecep.
"Ah, iya. Maaf! Lagi kepikiran sesuatu!", kata Febri sambil turun dari motor motor Cecep.
"Kepikiran apa Ndan?", tanya Cecep. Bawahan Febri saling menyapa saat Febri akan memasukkan ruangannya.
"Ngga apa-apa Cep, saya lagi ingat aja sama almarhum istri dan anak saya."
"Almarhum? Innalilahi! Maaf Ndan, saya pikir anda masih single!", kata Cecep. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk jam kerja. Selebihnya, mereka harus bersikap profesional.
"Almarhum istri saya Nakes, meski sedang hamil dia tetap menjalankan tugasnya merawat pasien saat ada pandemi yang parah kemarin."
Cecep mengangguk paham.
"Maaf ya Ndan, saya jadi banyak nanya urusan pribadi!", kata Cecep.
Aku ingin bertanya tentang Bia pada Asep, tapi....apa pantas? Batin Febri.
"Ngga apa-apa kok. Santai saja! Em...sama ada hal yang ingin saya tanyakan Cep."
"Apa Ndan?", tanya Cecep penasaran.
"Bia ...sudah lama tinggal di sini?", tanya Febri tampak ragu.
"Komandan kenal sama teh Bia?", tanya Cecep lagi.
"Heum! Jadi, berapa lama ia menikah dan tinggal di sini?", tanya Febri lagi.
"Kalo tepatnya saya mah kurang tahu. Tapi kalo ngga salah sejak suaminya di PHK , mereka menetap di kampung."
"Tapi tadi saya ngga liat suaminya?", tanya Febri lagi.
__ADS_1
"Saya kurang tahu Ndan mungkin tadi dia di dalam rumah."
"Apa suami nya tampan?", tanya Febri. Cecep yang merasa atasannya aneh pun menaikan salah satu alisnya.
"Jangan bilang anda jatuh cinta pada pandangan pertama dengan istri orang Ndan!"
"Astaghfirullah, cep. Ya ngga lah. Cuma mau tahu aja, emang ga boleh?"
"Heheh Ndan, anda bisa kira-kira sendiri lah. Teh Bia aja cantiknya kaya gitu, udah gitu ramah, suka bantu tetangga, ngga sombong...."
"Cep, pertanyaan saya satu kenapa jadi penjelasan mu ke mana-mana?"
"Lagian Ndan, udah tahu teh Bia tuh cakep gitu jelas suaminya juga ganteng lah."
Febri mengangguk pelan.
"Teh Bia orang Jawa, komandan Jawa juga. Apa jangan-jangan kalian malah tetangga di kampung ya?", tanya Cecep.
"Heum! Kalo gak salah sih iya, beneran dia Shabia Ayu yang dulu atau bukan."
"Namanya emang Shabia Ayu Ndan. Berati beneran temen kampung dulu?"
"Jadi...????"
"Jadi apa Cep?"
"Jadi jangan berharap sama istri orang Ndan!",
"Apaan cep?!"
"Cecep, just kiding Ndan!"
"Ngga ada yang lucu kenapa kamu tertawa?"
"Apa an sih Ndan!"
Keduanya kini masuk ke ruangan masing-masing.
.
.
"pa..."
"Heum , kenapa Vy?"
"Papa punya baju bekas yang masih bisa di pake ngga sih? Risih aku liat si Alby pakai baju kaya gitu."
"Kok gitu?", tanya papa sambil mengiris potongan roti tawar nya.
"Iya lah pak, masa supir Silvy buluk gitu "
"Oke nanti papa ambil beberapa pakaian papa yang masih barat dan belum terpakai."
"Makasih papa!"
"Memang kamu minta ditemani saat kuliah juga?"
"Ngga sih pa, cuma malu aja aku nya kece nya, masa supirku kaya begini i"
"Hahah tapi ganteng kan?", ledek papa
"Ganteng sih, Gao sayang sudah ada yang punya.
"Ya udah, kamu siap-siap. Papa juga mau ke kantor.
__ADS_1
Silvy menghampiri Alby yang sedang memanasi mobil nya. Hari ini Alby terlihat berbeda.
Tampan! Ujar Silvy.