
Febri menjalani kegiatan nya seperti yang lain di kantor instansinya. Sejak pagi dia belum sempat menghubungi istrinya karena sibuk usai mengambil cuti.
Sampai saat jam makan siang dan sholat dhuhur, dia menyempatkan diri untuk sekedar berkabar dengan Bia.
[Assalamualaikum Nduk?]
[Walaikumsalam]
[Lagi apa?]
Febri sedang memasang sepatunya karena baru selesai solat Dhuhur.
[Heheh rebahan aja mas. Ngapain lagi? Namanya ge pengacara]
[Pengacara yang sukses bikin suami bahagia lahir batin dunia akhirat hehehe]
[Hahahah bisa aja mas. Aamiin]
[Kangen nduk!?]
Rengek Febri, rekannya yang sama-sama baru selesai sholat hanya cekikikan mendengar seorang Febri bisa seromantis itu pada istrinya. Padahal mereka tahu, dulu Febri tak pernah seperti itu pada almarhumah istri pertamanya.
Memang, cinta bisa merubah segalanya. Yang tadinya terkesan kaku, sekarang jadi bucin.
Tapi dari dulu Febri memang bucin pada Bia siiih...😁
[Kaya ngga tiap hari ketemu aja mas, pake ngomong kangen segala]
[Emang kenapa? Kenyataannya mas kangen sama kamu nduk! Pengen cepet-cepet pulang]
[Sok lebay...!]
[Hahaha abis gimana dong, kamu ngangenin sih!]
[Ish...ngga malu ngomong kaya gitu di tempat kerja? kalo ada temen mu yang dengar, gimana?]
Febri celingak-celinguk menengok ke sekeliling, benar ternyata. Rekan-rekannya memperhatikan dirinya yang sedang menghubungi istrinya.
[Ya ...ya biarin lah. Orang mereka punya telinga ya wajar lah denger. Asal ngga kepo aja sih!]
Celetukan Febri membuat rekan nya yang tadi senyam senyum menjadi keki , setelah itu mereka meninggalkan Febri satu per satu.
[Ishhhh....kamu mah mas!]
[Oh ya, kamu belum ada rencana ke mana Nduk?]
[Belum lah mas. Mau ke mana?]
[Ketemu temen mu mungkin?]
[Temen yang mana? Aku malah belum menghubungi Anika sama Bina mas!]
__ADS_1
Aku menepuk dahiku.
[Ya udah, nanti telpon aja mereka. Kali aja mereka mau main, atau kalo perlu kita yang main ke sana]
[Ide bagus tuh mas]
[Ya udah gih, bobo siang. Biar nanti malam kuat begadang]
[Begadang? Ngapain?]
[Begadang aja heheh]
[Au ah, ga jauh-jauh pasti tuh!]
[Hehehe tau aja. Ya sudah mas mau balik ke ruangan mas dulu ya]
[Iya mas.]
[Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Aku meletakkan ponsel ku di atas nakas. Mengambil seragam hijau khas istri prajurit ku ambil untuk ku setrika. Masih tak menyangka jika aku akan memakai seragam itu.
Bayangan dimana aku memutuskan untuk meninggalkan Mas Febri kembali melintas. Aku yang keras kepala dan ingin menyimpan semua nya sendiri justru menyesal pada akhirnya.
Banyak andai-andai yang terlintas dalam otakku. Andai hubungan ku dan Febri berlanjut saat itu, mungkin kami sudah bahagia sejak dulu.
Tapi kembali lagi, semua sudah di atur karena Alhamdulillah pada akhirnya kami dipersatukan oleh ikatan yang sah saat ini.
Aku sudah menyediakan lemari yang khusus ku gunakan untuk seragam mas Febri dan juga pakaian resmi ku.
Entah kenapa tiba-tiba aku mengusap perutku. Aku berharap agar 'dia' segera hadir di dalam rahim ku. Aku sudah sangat menginginkannya.
Ada rasa sesak dalam hatiku. Memilih menunda kehamilan saat bersama Alby, demi sesuatu yang akhirnya malah menghancurkan rumah tangga ku dengan Alby.
Andai anakku bisa di selamatkan saat itu....
Huffft....kamu mikir apa sih??? Ini bukan saatnya lagi untuk menyesal Bia. Semua hanya masa lalu! Masa depan mu adalah Febri!
Andai DIA secepatnya memberikan kepercayaan pada rahim ku, pasti kami akan sangat bahagia. Tapi... seandainya belum... mungkin DIA ingin memberikan kesempatan aku dan mas Febri untuk menikmati masa-masa berdua kami.
Di sela lamunan ku, ada seseorang yang mengetuk pintu ruang tamu.
Aku segera memakai jilbabku, lalu menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
Tok...tok...
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", sahutku sambil membuka pintu.
__ADS_1
"Ya?"
"Siang mba, maaf mengganggu."
"Iya pak, tidak apa-apa. Ada apa ya pak?"
"Maaf, saya RT di sini. Kebetulan kami sedang ada pendataan warga, dan kebetulan mba sama suami belum terdaftar di sini."
"Astaghfirullah, maaf pak. Kami belom melapor ya? Maaf!!", kataku tak enak.
Bagaimana ini???
"Tidak apa-apa mba, kalo boleh kami minta foto copy tanda pengenal saja. Kami tahu kalau rumah ini milik pak Febri sejak dulu. Tapi bagaimana pun juga, kalian wajib lapor."
"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf. Tapi pak, kami baru saja menikah. Jadi dokumen kami belom lengkap, apa tidak apa kalo cuma tanda pengenal?"
"Tidak apa-apa mba, tapi kalo bisa ada bukti kalau kalian sudah menikah."
"Oh, tentu pak. Saya punya foto copy buku nikah juga kok. Sebentar ya pak, saya ambil dulu."
Pak RT mengangguk. Aku pun mengambilnya yang ada kumpulan dokumen kami.
"Ini pak!", aku menyerahkan copyan itu pada pak RT.
"Iya mba. Terimakasih!", kata pak RT.
"Maaf ya pak. Pak RT jadi repot kemari."
"Sudah tugas saya kok mba Shabia. Kalo begitu,saya permisi."
"Iya pak."
Pak RT pun meninggalkan rumah ku. Belum lama aku menutup pintu ruang tamu, tau-tau sudah ada yang mengetuk lagi.
Setelah mendengar sahutan salam,aku membuka pintu lagi.
Mata ku membulat, terkejut dengan tamu yang ada di hadapanku.
"Mbakkuuuuu....!", Anika menghambur memelukku.
"Dek, kok tau-tau kamu di sini?"
"Kata ayah! Ayah bilang mas Febri udah dinas, otomatis mba pasti ikut ke sini kan? aku telpon mas Febri minta alamat rumah ini."
"Oh ya ampun!", aku mencubit gemas pipi gadis ini.
Anika meminta kedua ajudan nya untuk pergi saja. Dia ingin ngobrol berdua dengan ku di dalam.
*****
Menuju End jadi ga ada konflik yang rada-rada yak ✌️🙏🤭
__ADS_1
Makasih yang udah ngikutin sampe sini. Maaf...banget kalo masih banyak typo. Padahal udah di usahain buat cek ulang 😉