Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 121


__ADS_3

Aku memastikan suara yang ada diluar itu. Benar tebakan ku, Alby sedang bersitegang dengan dua pria itu.


"Kalian benar-benar ngga tahu diri ya! Sudah tahu kalo Bia itu perempuan bersuami, kalian masih saja mendekatinya. Padahal kalian berdua orang yang terpelajar!", hardik Alby pada Sakti dan Febri. Sontak, ulah Alby menjadi tontonan tetangga baru ku kanan kiri.


"Aa? Kok Aa bisa di sini?", tanyaku heran. Alby berbalik menatap ku.


"Aku mengikuti mu! Bahkan aku yang suami mu tak pernah tahu jika istriku bisa mengendarai mobil!", pungkas Alby dengan wajah emosinya. Aku hampir tak pernah di bentak oleh Alby. Hanya akhir-akhir ini, awal episode kedatangan Silvy dalam rumah tangga kami.


"Tidak perlu bahas itu! Aa mau apa lagi? Bukankah istri dan calon anakmu membutuhkan mu? Untuk apa kamu di sini? Aku bisa melakukan banyak hal sendiri!"


"Melakukan banyak hal, sendiri? Yakin sendiri neng?", tanya Alby sambil mengangkat daguku.


"A!"


"Mereka selalu ada di manapun kamu berada neng! Dan Aa ngga suka itu!", kata Alby dengan penuh penekanan.


Sakti dan Febri tak menyahuti perkataan Alby.


"A, aku dan mereka murni berteman!"


"Tapi mereka menganggap lebih! Dan kamu menyadari itu! Apa kamu mau lepas dari kehidupan ku karena kehadiran kedua masa lalu mu itu? Iya? Mereka siap menampung mu selepas dari ku?", tanya Alby dengan kasarnya. Detik berikutnya hanya suara antara kulit telapak tangan dan pipi beradu.


Plakkkk!!!!


Alby sampai menoleh lalu menutupi pipinya yang terkena tamparan ku.


"Demi mereka neng seperti ini sama Aa?", tanya Alby masih dengan nada tingginya. Aku menatap telapak tangan ku yang baru saja ku gunakan untuk menamparnya barusan. Apa dia lupa, bahkan dia juga melakukan hal yang sama setelah ia menikahi Silvy!


"Cukup A!"


"Kenapa? Biar mereka sadar neng! Sadar! Jangan mendekati istri orang!"


"Maaf By, aku sudah pernah bilang sama kamu ya. Ngga ada niat sedikit pun buat ku merebut istri orang, merebut Bia dari kamu! Tapi perlu kamu tahu, saat kamu menyakiti Bia. Saat kamu tak lagi mampu mempertahankan Bia, aku yang akan menggantikan posisi itu!" kata Febri dengan nada tegasnya.

__ADS_1


Aku terperangah mendengar ucapan Febri. Dia menambah kerumitan yang ada saat ini. Terserah dia masih memiliki rasa padaku, tapi tidak harus ia katakan didepan suamiku yang sedang emosi dan dalam mode cemburu akut seperti sekarang juga!


"Kamu dengar sendiri neng?", tanya Alby dengan sindiran sinisnya.


"Mas!", sentak ku pada Febri.


"Biar Bi. Biar suami mu sadar, jadi laki ngga tegas banget! Mencla mencle, sebentar janji setia sebentar mengingkari!", lanjut Febri. Sakti sendiri tampak terkejut melihat kenekatan calon rivalnya. Dia tak sefrontal Febri. Mungkin karena basic nya seorang Febri itu pemberani kali ya? Pikir Sakti.


"Cukup mas Feb, kamu bikin tambah panas tahu ngga!", kataku lagi sambil menahan tubuh Alby yang akan menyerang Febri.


Mau seperti apa pun, Alby kalah fisik ditambah lagi ia baru saja dalam masa pemulihan.


Sakti pun berusaha menarik Febri yang juga bersiap untuk menyerang Alby.


Alby akan kalah telak dalam hitungan detik jika melawan Febri. Febri menguasai ilmu bela diri. Ditambah lagi latihan fisik nya yang rutin dan postur tubuhnya yang tinggi besar. Membuat tubuh atletisnya semakin menguatkan jika dia tidak mudah di tumbang kan.


"Feb, udah! Jangan mempermalukan diri Lo sendiri!", kata Sakti mengingatkan.


"Mas sakti, tolong bawa mas Febri pergi dari sini. Aku ngga mau membuat keributan yang lebih besar lagi. Tolong ya mas!"


"Nduk, mas harap ngga akan pernah liat kamu nangisin suami mu yang tidak tegas memberi keputusan ini!", kata Febri sambil menyingkirkan tangan Sakti dari lengannya. Dia pun berlalu begitu saja.


Sakti sedikit berlari mengejar Febri yang melangkah dengan kaki jenjangnya.


"Masuk!", titah Alby padaku. Aku sedikit terdorong memasuki kamarku. Para tetangga yang menyaksikan kehebohan kami pun masuk ke kamar masing-masing.


Alby langsung mengunci pintu kamar kami. Wajah Alby terlihat sangat emosi. Jika aku sama keras nya saat ini, aku yakin justru akan semakin melebar ke mana-mana.


"Aa sudah bilang, Aa ngga akan melepaskan neng! Apalagi pada mereka berdua!", katanya lirih.


"Cukup A. Jangan terus-terusan mengkambinghitamkan orang lain. Mereka murni membantu ku sebagai teman!"


"Kamu masih belain mantan terindah kamu itu? Iya?", Alby mendorong bahuku pelan.

__ADS_1


"A, ini bukan masalah siapa membela siapa. Tapi kamu yang ngga paham kesalahan mu sendiri!", aku menunjuk dadanya. Perse*** lah dengan para tetangga yang mendengar pertengkaran kami. Anggap saja urat malu kami sudah putus. Tapi suara kami sepertinya tak terdengar sampai keluar.


"Terus? Kamu lupa? pura-pura lupa dengan apa yang Febri bilang tadi? Iya Neng!", tanya Alby lagi.


"Ngga seharusnya Aa disini! Istri mu yang sedang mengandung anakmu lebih membutuh kan perhatian mu. Sedang aku, aku sudah sendiri! Tak ada lagi janin yang harus ku jaga!"


"Neng!", kata Alby melunak. Ia ingin menyentuh bahuku. Aku pun memundurkan bahuku agar tak tersentuh olehnya.


"Lebih baik Aa pulang. aku mau istirahat!"


"Tidak bisa kah kita hidup bersama neng! Kita tetap dengan pernikahan kita? Sampai kapanpun cinta Aa cuma buat neng!", kata Alby.


"Stop A! stop! Ngga usah lanjut lagi omongan mu itu! Sampai kapan pun, aku memilih untuk mundur dari pada aku harus berbagi! Jadi, berhenti berharap kalo aku mau menerima semua ini. Di awal aku memang berusaha, demi anak ku. Yang ku takut saat dia besar nanti tak bisa merasakan kasih sayang ayahnya jika kita berpisah. Tapi sekarang, dia sudah merasa hal yang jauh lebih baik."


Alby bersimpuh di kakiku. Aku sempat terkejut memundurkan kakiku.


"Beri Aa kesempatan Neng! Aa tahu neng sayang sama Aa. Cinta sama Aa. Neng mau melepaskan Aa buat istri yang sama sekali ngga aa cinta bahkan pernah tidur bersama pria lain?"


Aku membeku di tempat. Apa aku tak salah dengar?


"Aa tahu yang Malvin dan kamu obrolin neng!"


Flashback on


"Kamu mau kemana Hubby!", pekik Silvy.


"Aku harus bicara dengan Bia!", kata Alby dengan buru-buru memakai jaket yang ada di sampingnya.Dia masih memakai piyama pasien rumah sakit ini. Lalu ia pun memasukan dompet beserta ponselnya.


"Kamu udah janji sama aku! Ngga bakal ninggalin aku dan anak kita!", teriak Silvy.


"Kamu ngga perlu mengingatkan hal itu! Aku benarkah harus bicara dengan istri ku!", kata Alby yang langsung keluar dari kamarnya. Dari kejauhan, ia melihat istrinya pertama nya sedang mengobrol dengan seseorang. Perlahan Alby mendekat, tanpa Bia ketahui.


Matanya membulat saat tahu apa yang Bia dan Malvin katakan. Tapi ia tak ingin gegabah untuk langsung menghampiri mereka. Ia memilih untuk sembunyi lebih dulu lalu mengikuti Bia. Selain tahu tentang kelakuan Silvy, ia akhirnya pun tahu jika Bia bisa mengendarai mobil.

__ADS_1


Alby memilih naik ojek yang mangkal di depan rumah sakit. Lalu ia mengikuti kemana mobil yang Bia kendarai.


Flashback off


__ADS_2