
~Puncak kekecewaan seseorang adalah DIAM~
*****
Aku hanya menunaikan sholat Dhuha di mushola rumah sakit. Tidak mungkin aku melakukannya di saat ruang Mak dipenuhi oleh orang-orangnya Tuan Hartama.
Ya Allah, dengan cara apa aku menyiapkan hatiku???
Orang-orang Hartama menunduk hormat saat aku melintas di depan mereka. Apa yang ada dipikiran mereka saat melihat ku dengan melakukan penghormatan seperti itu?
Mau tak mau aku pun mengangguk tipis. Ruangan Mak sudah lebih rapi. Aku melihat tuan Hartama sudah berada di dalam dan sedang berbicara dengan Alby. Entah apa yang mereka bicarakan.
Obrolan mereka terhenti melihat aku memasuki ruangan Mak. Mataku tertuju pada pakaian Alby yang rapih. Pria gagah itu mengenakan kemeja dan juga jas berwarna hitam. Tampan! Bahkan sangat tampan!
Alby mendekati ku, tapi aku mundur selangkah sebelum ia sempat menyentuh ku.
"Neng...!", ucapnya pelan.
Aku memilih duduk di sebelah Mak yang masih terlelap tidur karena efek obat tadi pagi.
Kuraih mushaf kecil yang ada di atas nakas. Usai membaca taawudz aku memulai membacanya.
Hartama hanya menatap sekilas pada perempuan yang ada di samping Mak.
Harusnya kamu bangun Tin! Kamu harus menyaksikan pernikahan anakku dengan anak tiri mu! Hartama bermonolog dalam hatinya.
"Siapa dokter yang menangani Titin?", tanya Hartama pada Alby.
"Dokter Sakti, Tuan!", jawab Alby.
Seorang anak buah Hartama pun menghampiri tuannya.
"Panggil dokter itu kemari!", titah Hartama.
"Baik tuan!", pria itu pun keluar dari ruangan Mak.
Alby masih setia berada di samping ku. Aku tahu dia ingin bicara, tapi emosi ku tak bisa mengijinkan diriku sendiri meskipun hanyalah sekedar berbicara.
Beberapa saat kemudian, dokter Sakti pun masuk.
"Selamat pagi Tuan?", sapa Sakti.
"Dokter! Kenapa pasien di beri obat tidur seperti ini, saya mau dia menyaksikan pernikahan putri saya!"
"Maaf tuan, tapi saya hanya memberikan sesuai dengan apa yang pasien butuhkan. Saya tidak tahu jika beliau harus menyaksikan pernikahan putri anda", jawab Sakti tenang.
"Kapan dia bangun?", tanya Hartama.
"Jika sesuai dosis yang di minum, beliau bangun sekitar dua sampai tiga jam lagi tuan. Jantung beliau masih harus menyesuaikan."
__ADS_1
"Tapi pernikahan ini harus secepatnya! Penghulu juga sudah memiliki jadwal lain selain di sini!", Hartama marah-marah sendiri.
Sakti hanya menggeleng pelan mendengar ucapan Hartama yang terdengar emosional. Matanya mengarah ke Alby dan Bia.
Alby pakai baju formal seperti itu? Mau ke mana? Batin Sakti.
Belum selesai kebingungan di dalam hati Sakti, beberapa orang masuk ke dalam ruangan Mak.
Aku menghentikan bacaan ku. Ku lihat siapa yang masuk ke dalam ruangan ini.
Seorang pria paruh baya yang ku pastikan dia adalah seorang penghulu. Gadis cantik berkebaya putih di dampingi perempuan dewasa dan beberapa orang pria di belakangnya. Aku melihat gadis cantik itu berjalan tertatih. Apa karena ia minder dengan kekurangannya itu, lantas memaksakan diri untuk memilih Alby yang hanya kalangan biasa? Padahal dia gadis yang cantik.
"Kemari sayang!", ucap Hartama.
Silvy pun mendekati Papanya yang sudah duduk di sofa.
"Dokter, mumpung anda di sini. Sekalian saja anda menjadi salah satu saksi pernikahan putri kami dari pihak pria,'' titah Hartama.
"Oh... baiklah Tuan. Tapi maaf, di mana calon pengantin pria nya?", tanya Sakti bingung. Dari tadi ia mencari sosok pria yang kemungkinan menjadi calon menantu tuan Hartama itu.
"Alby!", panggil Hartama. Alby membeku di tempatnya. Dia menatap ku yang masih diam di bangku sebelah Mak.
"Alby! Kemari!", titah Hartama. Dengan perlahan, Alby menghampiri tuannya.
"Alby calon pengantin prianya!", ujar Hartama. Silvy yang sudah siap menikah dengan pria pujaan hatinya itu pun menyunggingkan senyum sumringah.
Malu? Iya, jujur aku malu kepada Sakti. Berkali -kali ia mendekati ku,tapi aku menolaknya. Mungkin dalam hati nya ia mentertawakan ku yang saat itu selalu mengecewakannya.
"Ada hubungan apa anda dengan Bia? Kenapa sepertinya anda peduli sekali?", tanya Hartama tersenyum mengejek.
"Maaf Tuan, Bia teman saya."
"Owh... begitu rupanya."
"Mas Alby, kenapa anda menikah lagi? Anda sudah beristri? Maaf bukan maksud saya mencampuri urusan kalian, tapi ini? Ini tidak adil buat Bia mas Alby?", Sakti mencoba mendapatkan penjelasan dari Alby.
"Saya meminta anda untuk menjadi saksi pernikahan ini, bukan untuk mencerca berbagai pertanyaan yang bukan urusan anda. Toh, Bia sudah menandatangani surat persetujuan untuk Alby menikah lagi", ujar Hartama santai.
"Apa?", Sakti termangu.
"Cukup dokter! Pak penghulu, silahkan acara nya di mulai!", titah Hartama.
Pak penghulu pun menuruti perintah Hartama. Silvy dan Alby kini duduk bersebelahan.
"Mas Alby??", sakti masih tidak percaya.
"Sudah dokter! Tolong tenang dan ikuti saja perintah saya tadi!", Hartama meminta Sakti duduk.
Ya Allah, seperti apa hancur nya perasaan mu neng Bia? Mila menatap iba ke arah Bia.
__ADS_1
Pernikahan macam apa ini? Sakti masih terbawa emosi. Tapi dia juga tidak bisa serta merta menolak perintah penguasa rumah sakit ini.
Aku menatap kosong ke arah di mana Alby dan Silvy duduk bersebelahan. Kemarin, sofa itu menjadi saksi di mana aku dan Alby berbagi peluh. Tapi pagi ini, di sofa itu juga Alby mengikat janji suci dengan perempuan lain.
"Sah!"
Tiba-tiba aku mendengar tiga huruf itu menggema. Dadaku terasa sesak luar biasa. Tidak ada kata bahkan air mataku pun sepertinya enggan meluncur.
Sesakit ini ya Allah??? Ku tekan dadaku sekuat mungkin.
Di samping Silvy yang sedang tersenyum bahagia, Alby tertunduk menatap lantai di bawahnya. Pria itu menangis. Menangis betapa dia tak mampu menjaga janji sucinya terhadap Shabia.
Maaf...maafin Aa neng!
Pernikahan penuh haru itu pun berakhir. Penghulu dan yang lain sudah keluar.
Alby menghambur ke arahku, memeluk ku yang membeku. Aku masih tak percaya ini terjadi tepat di depan mataku.
Aku membiarkan Alby terisak di bahuku. Lelaki ku menangis. Iya, dia menangisi kebodohannya sendiri bukan ? Tapi kebodohannya pun menjadikan aku sebagai korban di sini! Apa salah ku ya Allah????
"Maafin Aa neng. Maafin Aa!", Alby masih terus memeluk ku.
Perlahan pelukannya mengendur. Alby menakupkan kedua tangannya di pipiku. Mungkin dia heran, kenapa aku tak menangis. Ya, aku sudah lelah menangisi nasib pernikahan kami.
Alby mengecup keningku begitu lama. Aku tahu, Alby sangat mencintai ku. Tapi seperti apa pun rasa cinta nya padaku, aku masih tetap kecewa. Sakit....sungguh sakit menyaksikan dia juga mengikrarkan janji nya di hadapan yang maha Kuasa.
Perlahan ku dorong dada yang selama ini menjadi tempat ku bersandar. Tapi setelah ini? Setelah ini, bukan hanya aku saja yang berhak menikmatinya. Ada perempuan lain yang memiliki hak sama seperti ku.
Aku mendorong pelan badan kekar lelakiku. Dengan perlahan aku mendekati Tuan Hartama dan putrinya yang tak lain istri kedua suamiku.
"Semoga anda puas Tuan Hartama!", kataku pelan namun penuh ketegasan. Aku tak ingin menyapa istri kedua suamiku. Salah? Tidak! Entah ini egois atau apa pun itu namanya. Aku tidak mungkin bisa bersikap baik pada perempuan yang sudah merebut milikku.
Hartama menatap ku datar. Mungkin hatinya pun sudah mati. Dia tak mau tahu seperti apa kesakitan ku asalkan putri nya bahagia.
Sakti menghampiri ku.
"Bia?"
"Cukup mas! Jangan bicara apa pun. Aku harap, saat ini dalam hati mu tidak sedang mentertawakan ku!"
"Astaghfirullah, Bia!", desah Sakti.
Aku melangkahkan menuju pintu.
"Neng!"
Alby meraih bahuku.
"Jangan sentuh aku. Lebih baik, urusi istri barumu!", kataku sambil menepis tangannya dari bahuku.
__ADS_1