
Kami baru saja selesai makan malam. Beruntungnya aku, anak dalam kandungan ku tak membuat ku merasakan drama seperti ibu hamil pada umumnya. Mual, muntah ,ngidam... pokoknya yang seperti para perempuan rasakan. Tapi...mungkin belum mengalami saja kali ya?
Aku hanya merasa ingin selalu dekat dengan suamiku, ingin bermanja, menghirup aroma keringatnya yang khas. Tapi... justru saat dekat seperti ini aku malah merasa kesal dan benci. Iya, benci jika mengingat apa yang sudah terjadi.
Mungkin benar kata orang-orang, cinta itu buta. Aku tetap mencintai suami ku meski sakit hati yang dia torehkan begitu membekas dan bahkan mungkin tidak akan pernah sembuh.
Begitu juga Silvy, sudah tahu kalau Alby itu pria beristri tapi tetap saja melabuhkan cintanya pada suamiku. Eh, sekarang bukan hanya suamiku tapi suami kami.
Miris sekali hidup mu Bia! Saat remaja,kamu melihat seperti apa pengkhianatan ibu pada bapak. Tumbuh dan bertahan ditengah perpisahan kedua orang tua itu menyakitkan. Benci dengan cemooh orang-orang yang menyudutkan. Padahal dia sendiri adalah korban dari perbuatan orang tuanya.
Di cap sebagai anak tukang selingkuh. Sakit? Iya, tentu saja sakit. Sebesar apa pun bapak usaha bapak untuk menguatkan ku, tetap saja tak merubah pandangan orang padaku.
Kacang ora ninggal lanjaran!
Itu pepatah orang Jawa yang artinya kebiasaan anak meniru orang tuanya.(Kurleb begitu, Mon maap kalo othor salah 🙏)
Sebenarnya kalimat itu tidak harus dia jadikan
'judgement'. Tapi justru kebanyakan orang menilai dan memandang dari sisi negatif.
'Emaknya aja begitu, anaknya pasti juga begitu. Tukang selingkuh!'
Mungkin seperti itu pandangan mereka padaku, termasuk ibunya Febri yang tak lain guruku saat SMK dulu.
Masih terngiang-ngiang di telingaku saat terakhir bertemu beliau. Aku yang baru pulang merantau dan mas Febri sedang tidak dinas.
Mas Febri kala itu mengajak ku ke rumahnya. Ya, rumah kami beda kampung saja. Tapi kakaknya mas Febri, sekampung dengan ku.
Saat itu mas Febri sedang ke kamarnya entah untuk mengambil apa. Aku di tinggal di ruang tamunya. Kenapa aku percaya diri sekali di ajak ke sana? Tentu saja! Hubungan kami kala itu sudah lebih dari lima tahun. Ibarat manusia, bocah itu sudah masuk paud.
"Koe jeh pacaran ambi Febri?"
(Kamu masih pacaran sama Febri?)
Aku menoleh ke arah suara itu yang tak lain ibunya mas Febri.
Aku meraih punggung tangannya untuk ku Salami, tapi di tepis.
Sakit hati? Iya lah masa ngga! Tapi aku berusaha tersenyum.
"Pripun kabare Bu? Sehat?", tanyaku basa basi karena aku memang sudah lama ngga mudik.
(Gimana kabar)
__ADS_1
"Bia...Bia...tekan kapan pun ibu gak bakal restuin koe sama Febri. Kamu mau kuliah bahkan punya gelar profesor pun ibu gak bakal setuju. Jadi istri prajurit itu ngga gampang!"
Aku menunduk mendengar ucapan ibunya Febri.
"Febri bisa saja dipindah tugaskan ke luar kota luar pulau bahkan luar negeri", sambung Bu Sri, ibunya Febri.
"Tapi Alhamdulillah sejauh ini hubungan kami baik-baik saja Bu!", aku mencoba meyakinkan ibunya Febri.
"Nduk...nduk...ngga usah mimpi jadi menantuku. Aku sudah punya calon yang tepat buat Febri. Yang jelas bukan kamu."
Sakit nya tuh di sini....mau menunjuk dada rasanya!
"Jadi istri prajurit ngga mudah, harus setia! Kamu? Sedangkan kamu? Ibunya saja seperti itu, pasti anaknya ngga beda jauh! Gampang banget tergoda laki-laki lain. Padahal jelas-jelas suaminya dekat, materi tercukupi! Kurang apa?"
Aku meremas kedua tangan ku di pangkuanku.
"Kamu bakal sering ditinggal-tinggal tugas! Melihat background mu saja sudah sangat meragukan!", sindir Bu Sri.
Ya Allah, sakit banget di judge seperti itu!
Setelah beberapa saat Febri menghampiri ku.
"Bu, kami mau pergi dulu ya!", ujar Febri.
Hari itu kami pergi dari pagi hingga petang. Apa saja yang kami lakukan? Banyak! Banyak kenangan yang kami ukir hari itu!
"Makasih buat hari ini ya sayang!", ucap Febri kala itu. Aku mengangguk dalam pelukannya. Mungkin ini terakhir kalinya aku memeluk Febri.
Jangan tanya apa yang kami lakukan saat itu! Ya... pokoknya begitu lah! Tapi kami sadar, tak sampai melampaui batas.
Aku membulatkan tekad, hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Aku berusaha menciptakan kenang-kenangan indah berdua dengan nya sebelum benar-benar menjauh dalam arti yang sesungguhnya.
Usai pertemuan itu, aku tak pernah lagi menghubunginya. Aku menonaktifkan sosmedku. Mengganti nomor ponsel ku. Pokoknya aku bertekad melupakannya. Aku menuruti keinginan ibu nya mas Febri agar aku tak berharap menjadi bagian dari keluarganya.
Meski aku sadar, di sini aku yang salah. Meninggalkan Febri secara sepihak. Tapi ini semua untuk kebaikannya. Terbukti, tak sampai dua tahun dari sejak aku meninggalkannya dia sudah menjadi suami orang.
Tok...tok...Tok...
Ketukan pintu menyadarkan ku dari lamunan yang teringat akan masa laluku. Aku bangkit dari ranjang ku. Tapi ternyata A Alby sudah lebih dulu membukakan pintu karena dia ada di ruang televisi.
"Assalamualaikum mas!", sapa Anika.
"Walaikumsalam, masuk Nik!", kata Alby. Aku menyusul Alby yang sudah membukakan pintu.
__ADS_1
"Mbak Bia!", Anika langsung menghampiri ku dan memeluk ku.
"Maafin Ika mba!", kata Anika. Aku membalas pelukannya. Ya, aku tahu dia menyesal sudah mengatakan yang buruk padaku.
Aku melerai pelukannya.
"Kamu ke sini sama siapa? Udah malam lho!", kataku celingukan melihat tak ada siapapun di luar. Hanya ada mobil Paj*** hitam di depan rumahku. Alby sudah lebih dulu duduk di sofa.
"Sama ajudan ayah."
Aku mengernyitkan alisku. Ajudan ayah?
"Ajudan ayah mu?", tanyaku sambil mengajak Anika duduk di seberang Alby yang sudah melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang di tekuk. Tapi tetap saja dia tampan hahaha
"Heum! Ternyata kak Dimas dan kak Seto itu teman seangkatannya mas Febri. Mereka di rumah mas Febri sekarang!", kata Anika.
Alby masih menjadi pendengar yang setia antara aku dan Anika.
"Ayah mu...???"
"Ya, ayahku atasan mereka heheheh!", kata Anika cengengesan.
"Owh...!", aku membulatkan mulut ku.
Jadi, ayahnya Anika itu atasannya Febri?
"Oh iya Mbak, kata ayah masakan mbak Bia enak banget!",kata Anika hiperbol.
"Oh ya?", tanyaku seolah-olah ingin meyakinkan. Padahal aku juga tahu kok masakan ku memang enak. Pede sekali ya Bu????
"Heum! Sayang nya ayah kan cuma dinas sebentar ke sini nya. Besok juga pulang ke kota lagi."
Alby tak tertarik mendengar obrolan kami, dia pun meninggalkan kami berdua di ruang tamu.
Aku juga heran, kenapa aku mudah sekali akrab dengan Anika. Padahal hari ini kamu baru bertemu. Udah gitu, pertemuan pertama kami juga kurang baik.
"Mba, boleh Ika cerita dikit soal Silvy?", tanya Anika ragu-ragu.
Maksud bocah ini apa sih???
"Maksudmu apa Ika?", tanyaku. Aku ikut-ikutan memanggil nya Ika kan jadinya.
"Tapi, mbak Bia jangan salah sangka dulu ya mba. Please dengerin Ika dulu."
__ADS_1
Aku menghela nafas ku dan pada aku mengangguk pelan.