
Dua Minggu berlalu, aku dan mas Febri kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan ku. Kali ini, alat itu menunjukkan garis yang tegas sekaligus penampakan kantung rahim yang sudah jelas.
Apa aktifitas kesenangan mas Febri selama dua Minggu terakhir berkurang? Yuh, intensitas nya berkurang, durasi lebih cepat dan tentu saja slow motion 🤣
"Jadi beneran istri saya hamil dok?", tanya Febri.
"Iya pak, dari awal periksa kan memang sudah ketahuan istri anda hamil."
"Iya, Dok. Maaf!", katanya.
"Tapi ada yang harus kalian perhatikan?!", kata Dokter Nadia.
"Apa dok?", tanya kami berdua.
"Ada dua kantung rahim!", jawab Dokter Nadia.
"Maksud nya?", tanya kami berdua.
"Insyaallah, ibu hamil anak kembar!"
"Alhamdulillah.....!", ucap kami bersamaan.
Kami berpamitan pada dokter setelah beliau memberikan resep obat.
Jika dia Minggu lalu mas Febri nampak biasa saja tidak antusias, sekarang dia sangat berbeda.
Dengan posesif nya ia menggamit pinggang ku sepanjang perjalanan. Seolah-olah aku ini seperti seorang pesakitan.
"Mas! Aku cuma hamil, bukan orang sakit!", kataku sambil mendongak ke samping karena memang mas Febri jauh lebih tinggi dari ku.
"Kamu ngga mau di pegang sama mas?"
"Ishh...bukan gitu, tapi malu di liatin orang."
"Ya biarin sih, kan kita suami istri. Paling yang ada mereka ngiri."
"Ga jaman ngiri. Sekarang modele nganan!", kataku mendengus sebal. Bukan aku tak suka dengan perlakuan romantis nya, tapi aku malu menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit. Di tambah lagi, mas Febri memaksa seragam kebanggaannya. Begitu pun aku juga memakai seragam Persit. Kami memang baru ada acara di kantor tadi. Aku sudah mulai terbiasa mengikuti kegiatan yang biasa di lakukan oleh para istri prajurit semacam Mas Febri.
Mas Febri membukakan pintu mobil untuk ku.
"Ada yang pengen kamu beli nduk?", tanya Febri padaku saat kami keluar dari parkiran rumah sakit.
"Ga pengen apa-apa mas. Lagian ini jam nanggung. Makan siang telat banget, makan sore kecepatan!"
"Ckkk...makan tinggal makan sih Nduk. Inget ada dua nyawa di perut kamu yang juga butuh makan!", katanya sambil mengusap perut ku tanpa mengurangi fokusnya pada kemudi.
"Iya mas...iya... tapi untuk sekarang belum kepengen makan apapun. Tapi kalo mas mau makan ya aku temenin ayok!", kataku.
"Eum... enaknya makan apa jam segini?"
"Lha ..yang mau makan kan kamu mas, masa nanya aku?"
"Ya kali kamu punya ide apa gitu nduk?!"
"Kalo ke mekidi mau ngga? Makan burger gitu?"
Febri memanyunkan bibirnya. Dia mau menolaknya tapi takut sang istri marah, padahal dia memang tak suka junk food.
"Ya udah ayo....!", sahut Febri. Nanti disana dia bisa memesan kentang goreng.
Beberapa menit kemudian kami sampai di tempat yang kami tuju. Bukan driveThru , kami makan di tempat.
Pengen rasain suasana baru yang tentu saja jarang kami lakukan mengingat hal ini bukan kebiasaan yang haru di lestarikan.
Aku dan Febri memutuskan untuk memberi kabar gembira pada keluarga kami di kampung setelah melihat kejelasan hari ini. Di sela makan , kami video call satu persatu keluarga di rumah.
Siapa yang paling antusias?? Tentu saja Lek ku?! Dia paling wow mengungkapkan kebahagiaannya. Apalagi saat aku mengatakan bahwa kami memberikan dua cucu sekaligus di waktu yang bersamaan.
Tapi di balik itu semua, ada perasaan khawatir yang mereka rasakan. Mereka berharap aku dan calon anak-anak ku baik-baik saja selama masa kehamilan bahkan sampai saat melahirkan nanti.
"Kok aku aja yang makan, kamu ngga mas?"
__ADS_1
"Ini, makan!", dia mengangkat dua box kentang goreng yang sudah tandas.
"Emang kenyang?", tanyaku. Dia hanya tersenyum.
"Liat kamu makan dengan lahap begitu, mas udah kenyang."
Aku mencoba bibirku. Sebenarnya sih rada malu gimana gitu. Tadi aku menolak pas di tanya pengen apa. Giliran sampai di sini, semua makanannya aku yang habisin.
"Nduk! Mas ga keberatan kamu makan kaya gini. Tapi jangan sering-sering ya? Ga baik buat kamu sama calon anak kita juga. Lebih baik banyakin makan sayur sama buah. Ya?", dia mengusap pipi kanan ku. Aku mengangguk, memang benar apa yang dia katakan. Tapi ya...toh ini baru sekali.
"Bisa di agendakan ga mas, sebulan sekali gitu?"
Mas Febri masih tertawa.
"Iya, sebulan sekali!"
Selanjutnya kami pun kembali ke rumah. Di dalam mobil aku merasa mengantuk. Mungkin karena kekenyangan.
Mobil sudah sampai di halaman. Kebetulan rumah kami belum memakai pagar depan. Jadi mobil masih mudah masuk ke halaman. Lain kali mungkin kami akan membuat pagar di depan.
Febri membuka pintu ruang tamu lebih dulu sebelum membuka pintu mobilnya. Tak tega membangunkan istrinya yang tertidur pulas, ia mengangkat tubuh istrinya yang masih langsing. Entah beberapa bulan yang akan datang. Pasti berat badannya bakal naik. Apalagi ada dua janin yang menghuni rahim istrinya.
Aku sedikit terusik saat merasakan tubuhku berada di sebuah tempat yang sangat nyaman. Saat aku membuka mataku, ternyata aku sudah dalam gendongan suamiku. Aku mengeratkan tanganku ke lehernya.
"Aku berat ya mas?", tanyaku.
"Lho, kok bangun?", tanya nya.
"Huum!"
Mas Febri meletakkan ku diatas ranjang dengan pelan. Saat dia akan bangkit, aku masih mengalungkan tanganku ke lehernya.
"Ssst ...kenapa masih kek gini?", tanyanya. Posisinya jadi mengungkungku. Tapi salah satu kalinya menjuntai ke lantai.
Aku mengusap rahang nya yang tegas. Oke, dia memang tak setampan Alby. Tak bermaksiat membandingkan keduanya, tapi tampilan mas Febri memang sangat maskulin.
"Jangan gini nduk! Nanti ada yang bangun!", bisiknya. Aku mencebikkan bibirku.
"Ya udah deh!", aku mendorong tubuh nya. Dia hanya menghela nafas. Setelah itu ia bangkit dari ranjang. Tanpa berbicara apa pun, dia keluar dari kamar.
Aku yang tadi nya berbaring, sekarang bangun. Melepaskan jilbab dan pakaian ku. Lalu mengambil handuk yang ada didekat pintu kamar mandi. Tapi belum juga masuk kamar mandi, mas Febri sudah berada di belakang ku sambil memeluk ku.
"Ngga usah ngambek! Mas cuma mengunci pintu kok!", bisiknya pelan nyaris membuat bulu kuduk ku merinding.
"Sapa yang ngambek!", kataku lagi sambil meraih gagang pintu kamar mandi. Tapi mas Febri malah menarik tangan ku. Dia membalikkan tubuhku untuk berhadapan dengan nya.
"Kamu kepengen?", tanya nya.
"Kepengan apa?", tanyaku membuang muka. Tapi Mas Febri meraih daguku agar kami saling beradu pandang.
"Mas tahu! Dan itu wajar, hormon kehamilan memang ada yang seperti itu. Kalo kamu pengen, bilang aja sama mas. Ngga usah malu atau apa pun itu. Mas ini suami kamu. Ngga usah merasa begini begitu, justru mas akan merasa bersalah andai mas tak bisa memenuhi kebutuhan mu padahal selama ini kamu yang selalu memenuhi kebutuhan mas!"
"Ngomong apaan sih! Awas ah, aku mau mandi?", kataku sambil balik badan. Setelah itu aku mendorong pintu kamar mandi. Sayangnya Mas Febri ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas mau ngapain?"
"Mandi lah!"
"Ya ntar sih, gantian mas!"
"Mau nya bareng, sambil jenguk Dede bayi!", katanya langsung menutup pintu kamar mandi. Semua akan tahu apa yang terjadi di dalam sana. 🤪🤪🤪
.
.
Pak Angga dan Bu Nimas, kedua orang tua Dimas sudah berada di Jakarta karena mengunjungi kerabat nya yang sedang ada hajatan.
Keduanya menginap di kost-kostan Dimas selama berada di Jakarta.
"Bu!", panggil Dimas saat mereka sedang bercengkrama di kostan Dimas yang sebenarnya tak terlalu besar. Tapi untuk sekedar bersama kedua orang tuanya beberapa hari seperti nya bukan masalah besar.
__ADS_1
"Apa?"
"Kondur kapan?", tanya Dimas.
(Pulang kapan?)
"Apa sih? Koe ngongkon ibu bapakmu gagean bali?", tanya Nimas.
(Apa sih? Kamu nyuruh ibu bapak mu buru-buru pulang)
"Sanes Bu lah."
(Bukan)
"Kenapa Dim?", tanya Angga.
"Dimas pengen...bapak Karo ibu ketemu Anika, pacar ku!"
"Pacar?", tanya Nimas. Dimas mengangguk.
"Dimas pun serius Bu!"
Angga dan Dimas saling berpandangan satu sama lain.
"Ya wis, kenalin. Bocah ngendi?", kata Nimas.
(Ya udah, kenalin. Anak mana?)
Dimas mulai resah. Menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Di takoni kok malah kukur-kukur!", kata Angga.
(Di tanya ko malah garuk-garuk)
"Itu pak...anak...anak....atasanku."
"Anak atasanmu yang mana?", tanya Angga.
"Anaknya jenderal Galang."
"Hah???", keduanya sontak membulatkan matanya. Hal itu juga membuat Dimas terkejut.
"Kok bisa Dim?"
"Ya bisa lah Bu, namane be cinta!"
"Tapi ...pak Galang ngerti?", tanya nya. Dimas mengangguk.
"Di restuin?", tanya Angga. Dimas kembali mengangguk.
"Ya udah, capcus lah!", kata Nimas dan Angga bersamaan.
"Lha? Deneng kompak men?", tanya Dimas.
(Kok kompak amat?)
"Iya lah!", sahut keduanya.
"Namane soulmate ya Bu!"
"Iya dong pak!", sahut Nimas.
So...jangan heran, dari mana kegesrekan Dimas di dapat kalo orang tuanya saja modelan begitu.
"Kapan ketemunya?", tanya Angga.
"Nanti malam, mau?", tanya Dimas.
"Oke!", sahut keduanya.
Dimas menatap tak percaya. Keduanya berpendidikan tinggi,kerja di instansi pemerintah. Tapi kadang tak percaya jika sepasang suami istri itu bisa bertingkah absurb juga.
__ADS_1
******
To be continue....