Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 175


__ADS_3

Silvy terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap perlahan. Saat ia membuka matanya, di suguhi wajah tampan Alby yang bersih. Tampan! Gumam Silvy. Tangan nya terulur mengusap rahang Alby.


"Kenapa aku harus jatuh cinta sama kamu ya, By!", gumam Silvy lirih. Jemarinya masih mengusap pipi Alby.


Silvy terpejam, ingatannya kembali di pada kegiatan mereka berdua semalam. Ya, Alby memberikan haknya tadi malam.


Bukankah harusnya ia bahagia? Bukankah itu keinginan nya selama ini? Tapi saat Alby berbuat sedemikian baik justru ia sendiri merasa takut. Takut jika ia semakin dalam mencintai lelaki yang sekarang bergelar suami baginya.


Tapi benar kah Alby sudah membuka hatinya buat Silvy? Hanya alby yang tahu.


Alby merasa terusik saat jemari istri kecilnya itu menari di rahangnya. Dia ingin membuktikan mata, tapi mendengar gumamnya lirih istrinya itu dia menahanku beberapa saat.


Kenapa aku harus jatuh cinta sama kamu ya By???


Pelan tapi pasti, silvy beranjak meninggalkan ranjangnya menuju kamar mandi. Alby sendirian membiarkan Silvy masuk ke kamar mandi, barulah ia membuka matanya.


Mata Alby menatap langit-langit kamar. Teringat bagaimana dirinya memberikan haknya pada Silvy. Jika dulu ia melakukannya karena terpaksa, kali ini dia ikhlas. Ikhlas jika kenyataannya Silvy berhak atas dirinya.


Benarkah sudah ada sedikit rasa untuk Silvy? Alby sendiri tidak tahu. Yang ada dalam bayangan nya adalah mimpi nya beberapa hari yang lalu. Mungkinkah itu jawaban dari keraguannya?


Bayangan Bia tersenyum begitu nyata! Tapi sedetik kemudian, Alby teringat seperti apa kekasih halalnya itu marah, menangis bahkan menampar dirinya saat itu.


Bia ku.... benarkah sudah tak lagi menjadi Bia ku???


Pintu kamar mandi terbuka. Silvy sudah mandi, terlihat rambut nya basah.


"Kamu udah bangun By?", tanya Silvy melihat kearah Alby yang masih berbaring di atas ranjang. Dia menganggukkan kepalanya.


"Aku mandi dulu!", ujar Alby berlalu.


Silvy memilih solat subuh sendiri. Dia benar-benar sudah taubatan nasuha lho reader's 🤭🤭🤭🤭.


Tak berapa lama, Alby pun solat sendiri karena Silvy sudah duduk di kursi rodanya. Dia memilih duduk di balkon menikmati udara segar.


Dia bisa saja berjuang tapi dokter bilang alangkah baiknya dia duduk di kursi rodanya untuk meminimalisir guncangan di rahimnya.


Angin subuh menggerakkan rambut Silvy yang sudah tak begitu basah. Di tatapnya ujung timur yang mulai memerah.


Alby menghampiri istrinya.


"Mau ke bawah?", tawar Alby. Silvy menggeleng.


"By?"


"Heum?"


"Terima kasih."


Alby menghela nafasnya lalu turut menatap ujung timur.


"Aku... minta maaf By! Seandainya saja aku tak melabuhkan cinta ku sama kamu, suami dari seorang perempuan yang baik. Tidak mungkin kamu akan berada di posisi seperti ini By. Maafkan aku yang sudah menghancurkan rumah tangga mu dengan Bia. Aku salah!", Silvy menunduk. Tak terasa bulir bening menetes di pipinya.

__ADS_1


Alby merengkuh tubuh kecil itu. Bersyukur, kondisi bayinya semakin membaik tapi kondisi Silvy yang tidak stabil.


"Kalo nanti aku pergi, tolong jaga anak kita baik-baik ya By. Sayangi dia, meskipun kehadirannya mungkin memisahkan mu dari Bia hiks...hiks..."


"Sssttt.... sudah! Semua sudah terjadi. Kamu dan anak kita akan baik-baik saja. Kita akan merawat anak kita bersama-sama."


Silvy mendongak menatap wajah suaminya. Apa telinga nya tak salah dengar???


"By, kalo nanti aku pergi apa kamu mau kembali sama Bia?"


Tak ada sahutan apapun dari bibir alby. Hanya helaan nafas yang terdengar. Tapi.... seperti nya sangat sesak!


Aku ingin Bia, Vy! Tapi Bia yang sudah terlanjur kecewa padaku! Batin Alby.


"Kita ke bawah!", ajak Alby lalu mendorong kursi rodanya. Silvy mengangguk tapi hatinya tak tenang karena tak mendapat jawaban dari suaminya.


Benar, hidup mati seseorang sudah di tentukan oleh yang di atas. Tapi...jika memang di perkenankan, boleh kah keinginan terakhir itu bisa terwujud?


.


.


Febri sudah bersiap untuk ke markas menemani Galang. Kali ini, Seto yang menemani Anika. Dia dan Dimas mengawal bapak. Di mobil yang lain juga ada pak Rio dan rekannya sesama senior.


"Dimas!"


"Siap pak!" sahut Dimas.


"Boleh bertanya sedikit pribadi?", tanya Galang. Febri sedikit melirik ke arah sahabatnya.


"Kamu pisah sama Sabrina kenapa?", tanya Galang.


Deg!


Bukan cuma Dimas yang spot jantung, tapi Febri juga!


Dua kepala beda pemikiran. Dimas berpikir, dirinya sedang di mintai info tentang calon menantu Galang.


Sedang Febri malah berpikir, jangan-jangan sebenarnya Galang tidak setuju Sakti memilih Sabrina. Kalo sampai iya seperti itu, otomatis dia bakal terancam dong? Bisa-bisa Sakti mepet Bia lagi. Apalagi Bia otw single. Yakkk????


"Eum, sudah tidak ada kecocokan saja pak."


"Berapa tahun kalian bersama? Ngga usah gugup, jawab aja santai."


"Tiga tahun pak."


"Tiga tahun, tiba-tiba ngga ada kecocokan? Kecocokan dalam hal apa ini kalau boleh tahu?"


"Kurang tahu pak, soalnya Bina yang memutuskan saya."


Galang menggut-manggut.

__ADS_1


"Apa dia tidak bisa menerima kamu karena pekerjaan kamu yang sewaktu-waktu jika ada tugas bakal ninggalin dia?", tanya Galang.


Dimas tak berpikir sejauh itu. Yang dia tahu, Sabrina hanya bilang jika diri nya tak sepadan dengan Dimas. Tapi kenapa dengan sakti yang notabene lebih di atasnya, justru Sabrina mau???


"Kurang tahu pak."


Galang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tapi kamu ikhlas kan kalo sakti dan Bina?"


"Ikhlas pak, tidak ada alasan saya buat tidak ikhlas dengan hubungan mereka."


"Alhamdulillah kalo begitu, jadi...kamu serius sama Anika ngga?"


Febri menahan suaranya agar tak ikut bersuara dengan obral sesama calon. Calon mantu dan calon mertua heheheh


"Insyaallah serius pak."


"Saya pegang kata-kata kamu ya Dim."


"Siap Pak, terima kasih."


"Terimakasih untuk apa?"


"Bapak sudah merestui kami."


"Siapa bilang?", tanya Galang dengan wajah serius. Dimas mendadak pias.


"Tadi bapak bilang...."


"Saya merestui kalian, kalo sudah sampai di pelaminan. Sekarang kan belum apa-apa? Orang tua mu saja belum meminta Anika kok buat di jadiin menantu? Ngapain saya restuin kamu?"


"Masa ngga mudeng Dim, ngomong bapak mu lho Kon kenalan ambe calon mantu dan mertua mu ini. Lamaran! Ngono ae ga mudeng blass!'', bisik Febri pada Dimas tapi tentu saja Galang masih mendengar nya.


"Heum, iya pak. Insyaallah nanti saya kabari orang tua saya."


"Hahaha Dimas, saya bercanda. Jangan gugup begitu. Udah, ngga usah pikirin macem-macem dulu. Fokus sama kegiatan kita di markas nanti."


"Siap pak!", sahut Dimas dan Febri.


Lha bapake sing mulai disit kok? Giliran di jawabi malah guli semaur aja mikir werna-werna. Nek ijig-ijig bapak ibuku Kon ngelamar anake jenderal, ya mumet ndeyan. Batin Dimas.


(Bapak yang mulai kok. Giliran di jawab malah menyahuti nya disuruh jangan mikir macam-macam. Kalo tiba-tiba bapak ibuku disusuri ngelamar anaknya jenderal, pusing kayanya)


"Udah, ngga usah mbatin Dim!", ujar Galang dari bangku belakang.


"Ngga kok pak!", sahut


*****


GaJe ya??? Ssstttt....jangan marah sama Alby dong 🙈🙈🙈🙈🙈 dia kan juga butuh naninu 🤣🤭

__ADS_1


Lanjut bab ke3 buat hari ini, upload nanti malam oke 👍👍


Makanya 🙏


__ADS_2