
"Oh ya mas Febri, kemarin mas Alby nemuin aku!", celetuk Malvin tiba-tiba.
Febri melirik spionnya.
"Terus?"
"Heum, kayanya mba Bia blokir nomor mas Alby. Makanya dia kelimpungan mau hubungi siapa."
"Oh!", sahut Febri.
"Hanya 'oh' ?", tanya Malvin.
"Saya harus bilang apa?", tanya Febri balik.
" Ya apa kek, nanya gimana atau apa gitu. Masa reaksi nya oh doang."
"Vin, udah deh. Ngga usah ikut campur urusan mereka", sahut Anika.
"Dih, siapa yang ikut campur sih An. Gue cuma mau nyampein info ke mas Febri. Ya... kali aja besok-besok mas Febri juga jadi kerabat gue!"
Dimas berdehem.
"Udah, dek!", kata Dimas. Nara sendiri hanya memperhatikan orang-orang yang mengobrol di dalam mobil itu.
"Tujuan Lo apa sih ikut kita ke rumah Silvy, ya ngga Nara?", tanya Anika pada Nara. Nara hanya mengangguk.
"Orang gue mau jenguk aja, masa ngga boleh."
"Masalahnya Silvy mau ngga ketemu Lo, kan semua masalah berawal dari Lo. Lo yang selingkuh, Lo yang khianati persahabatan kita, yang bikin Silvy kecelakaan dan bikin Silvy c***! Lupa Lo, harus gue deskripsiin?"
"Adek!", panggil Dimas lagi. Anika langsung kicep mendengar suara Dimas. Febri hanya tersenyum mendengar Dimas yang memanggil kekasih nya seperti ke adiknya sendiri.
Yakin si Dimas cinta sama Anika? Apa cuma perasaan antara kakak dan adik doang? Batin Febri.
Mobil Febri memasuki gerbang perumahan elit itu. Karena dua pria tampan itu memakai seragam kebanggaan nya, sekuriti tak menyulitkan mereka untuk masuk ke sana.
Tepat di depan sebuah rumah berpagar tinggi, mobil itu berhenti.
"Kak dim sama mas Feb ikut masuk?", tanya Anika.
"Ngga, kakak sama mas Feb di sini aja", sahut Dimas.
Ketiga remaja yang sudah beranjak dewasa itu pun turun dari mobilnya. Mereka membuka gerbang yang memang tak terkunci.
"Non Anika udah datang, masuk non!", sapa teh Mila.
"Iya bik, Silvy ada kan ya bik? Anika udah janjian sih."
"Ada non, mari!", ajak Mila pada Anika. Tapi sebelumnya Mila melirik Malvin.
"Bik, saya mau jenguk Silvy aja kok. Sama kaya Anika dan Nara."
Mila mengangguk paham. Lalu ketiga bocah itu mengikuti Mila menuju ke teras belakang.
Malvin sempat tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Gadis cantik yang pernah dan masih mengisi hatinya kini sudah berubah. Benar-benar berbeda.
__ADS_1
"Assalamualaikum,Vy!", sapa Anika dan Nara bersamaan.
"Walaikumsalam, Anika, Nara...Vin."
Anika dan Nara menghambur memeluk Silvy.
"Apa kabar Vy?", tanya Nara. Sebenarnya ia tak terlalu dekat dengan Silvy. Tapi sejak Anika dan Silvy gencatan senjata keduanya mulai dekat.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Nara. Makasih kalian udah sempetin ke sini."
"tetap sehat ya Silvy! biar lo bisa kuliah lagi!", ujar Nara.
"kue cuti satu semester Ra. paling enggak sampai gue melahirkan itu pun kalau gue panjang umur."
Anika memeluk sahabatnya itu.
"Kan gue bilang Vy, umur itu bukan dokter yang menentukan. Tapi Allah yang mengaturnya. Hidup mati seseorang rezeki dan takdir adalah rahasia yang kuasa. Yang penting sekarang lo udah menjalani kehidupan yang lebih baik."
Silvy mengangguk.
"kalian ke sini diantar siapa? Mas Febri kah atau Kak Dimas!", tanya silvy.
"keduanya Vy!", jawab Anika.
Sejak tadi Malvin hanya memandangi mantan kekasihnya itu. Ingin rasanya berbicara empat mata dengannya. Tapi sepertinya tidak mungkin aneka pasti tidak akan membiarkan ia berdua dengan Silvy.
"Mereka di depan? kenapa nggak ikut masuk aja?"
"Mana mau mereka masuk!", sahut Anika. Silvy mengangguk.
"mau ngapain lo?", tanya Anika ketus. Betul, seperti dugaan Malvin tadi. anika pasti kepo!
"kenapa harus berdua?", tanya Silvy.
"karena ini urusan pribadi kita!", jawab Malvin.
.
.
Febri dan Dimas memilih merokok dan duduk di kap mobil sambil menunggu anika selesai menjenguk Silvy.
Beberapa menit berlalu, tak ada obrolan serius di antara mereka berdua hingga sebuah mobil sedan mendekat ke rumah tersebut.
Mobil Alby tentunya. Di dalam mobilnya, Alby sudah memasang wajah cemberut. Dia membanting pintu mobilnya.
"Ngapain Lo di sini?", tanya Alby yang sudah berada di depan Febri dan Dimas. Keduanya turun dari kap mobil. Alby memang tak terlalu tinggi jika di bandingkan dengan Febri dan Dimas yang bertinggi sekitar seratus delapan puluhan lebih itu.
"Gue nggak mau nyari masalah sama lo. Gue cuma nganterin Anika ,Nara dan Malvin buat jenguk Silvy!", sahut Febri.
Alby sudah mulai tenang tapi....ia merasa Dejavu. Wajah Febri mengingatkan dirinya dengan mimpinya.
POV Alby
Aku berdiri di sebuah tempat yang curam. Entah berada di mana aku sekarang. Mataku hanya bisa menjangkau warna semua terlihat sangat jauh.
__ADS_1
Ya aku seperti berada di atas bukit tapi di kanan kiriku terlihat bebatuan yang terjal. Aku bingung ingin bertanya pada siapa karena aku hanya seorang diri di sana.
Sampai pada akhirnya aku melihat seseorang berada di kursi roda dengan seorang anak kecil. Keduanya tampak tersenyum menatap menatapku.
Apa itu Silvy dan anakku? Silvy melambaikan tangannya padaku. Wajahnya tak lagi pucat justru dia tampak cantik dan segar. Berbeda dengan yang kulihat tadi pagi. Dan anak kecil itu berteriak memanggilku.
"Papa!"
Aku sedikit terkejut. Bukankah anakku belum lahir?
Perlahan aku mendekat ke arah mereka meski cukup kesulitan. Bagaimana bisa mereka sampai ke sini sedangkan Silvi masih menggunakan kursi roda? Jalannya sangat sulit untuk ku tapaki.
"Papa!", panggil gadis kecil itu memanggil ku.
"Aku? Papamu?", tanyaku. Gadis kecil berjilbab putih itu mengangguk.
"Iya. Aku...sama Bunda Silvy!", kata gadis itu. Silvy pun tersenyum.
"Anak kita Vy?", tanyaku beralih pada Silvy.
"Iya, anak kita!", jawab Silvy masih dengan senyumannya. Entah kenapa aku merasa betah menatap wajah cantik Silvy yang terlihat begitu bersinar.
Di kejauhan sana, ada lagi yang memanggil ku.
"Aa!", panggilnya. Dan aku tahu, itu pasti Bia. Tapi kenapa dia juga berada di sini?
"Neng!", panggil ku. Bia tersenyum ke arah ku, dia berjalan mendekati ku.
"Neng ,kamu kembali sama Aa Neng? Jangan pergi-pergi lagi ya Neng. Aa nggak bisa tanpa Neng!"
Bia menggeleng lemah, tapi ia tetap menunjukkan senyum cantiknya.
"Maaf A!", kata Bia.
"Maksud nya apa Neng?", tanyaku.
"Neng udah nggak bisa sama-sama Aa lagi. Insyaallah Silvy adalah pasangan yang terbaik yang Allah pilihkan buat Aa."
"Jangan bicara seperti itu Neng!"
Bia kembali menggeleng pelan. Lalu ia melepas cincin pernikahan kami yang tak pernah ia lepas semenjak kami menikah. Bia menarik tanganku lalu meletakkankan cincin itu di telapak tanganku.
"Aku kembalikan ya A. Maaf jika selama aku menjadi istrimu, aku belum bisa memberikan yang terbaik."
"Ngga Neng jangan pergi dari Aa.Aa mohon!", aku meraih kedua tangan Bia. Tak ada air mata yang Bia tunjukkan di depan ku saat ini.
"Bia kan bahagia setelah lepas dari kamu. Dan aku yang akan membahagiakan Bia!", sahut seseorang di belakang ku. Aku pun menengok ke arahnya.
"Febri!"
******
Lanjut bentar lagi 🤫🤫🤫
Masih di review sama yang punya kawasan ✌️✌️✌️✌️
__ADS_1
makasih 🙏