
Alarm jam tiga pagi berbunyi. Aku pun mematikan nya. Badan ku terasa begitu lelah. Aku melirik mas Febri yang memeluk guling nya menghadap ke arah ku.
Malam yang melelahkan! Wajahku memerah mengingat betapa liarnya istri seorang Febri ini. Memalukan sekali ya Allah! Tapi kenapa aku bisa sampai seperti itu??
Aku menutup wajahku dengan telapak tangan ku. Meski kami lelah bertempur, tapi kami terbiasa membersihkan diri sebelum kami tidur kembali. Tidak langsung mandi sih, minimal kami sudah bersih meski belum bersuci.
Aku mengikat rambut ku asal-asalan. Menyingsing kan lengan daster ku. Setelah itu menyingkap selimut.
Kami punya alasan kenapa harus memakai baju lagi meski habis naninu. Alasan pertama, karena kami memang terbiasa tidur pakai baju. Alasan kedua, kami hanya antisipasi jika ada kejadian yang tidak diinginkan saat kami tertidur. Gempa bumi contohnya. Kan ngga lucu saking paniknya ada gempa, kami ngga pakai baju?!
Setelah mengumpulkan nyawa, aku beranjak ke kamar mandi. Ampuuun... rasa nya....???
Fabiayi ala irobikuma tukadziban...
Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan????? Senikmat iniihhhh...aku meringis kecil.
Nyeuri-nyeuri kumaha ieu teh! Mana pinggang juga sakit! Tapi itu tak mematahkan semangat ku untuk mandi wajib sebelum subuh.
Setelah mandi dan solat sunat, aku pun menuju ke dapur. Masih ada waktu untukku mengerjakan pekerjaan lain sebelum subuh.
Aku memasak air lebih dulu untuk mengisi termos air. Setelah itu mencuci beras dan memasukkan ke magic com.
Setelah sekian lama, aku baru melakukan aktivitas seperti ini lagi. Bangun sebelum subuh, memasak dan menyiapkan sarapan.
Aku terduduk di bangku meja makan. Jariku masih mengaduk-aduk teh panas ku. Dengan menopang dagu, pikiran ku menerawang jauh ke masa-masa yang sudah aku lewati saat itu.
Huffft! Semua tinggal kenangan! Siapa yang akan menyangka jika akhirnya akan seperti ini??? Kebahagiaan yang tiba-tiba terenggut karena kurang nya rasa saling percaya dan kurang nya komunikasi.
Sebuah kecupan mendarat di pipiku sebelah kiri. Ternyata mas Febri sudah bangun bahkan sudah rapi dengan baju kokonya.
"Mas? Kirain belum bangun? Mau aku buatkan kopi?"
"Boleh!", katanya. Febri memandangi punggung istri nya yang sedang membuat kan secangkir kopi untuknya.
"Ini mas!", aku menyodorkan kopinya.
"Makasih sayang!", katanya. Aku bersiap untuk memasak, tapi mas Febri justru menarik ku duduk kembali ke kursi semula.
"Aku mau masak mas. Baru punya NuGet sosis sama telor sih. Tapi lumayan lah buat sarapan dulu!", kataku bermaksud menolak ajakannya untuk duduk kembali.
"Udah, ngga usah masak. Nanti kita bisa beli lauk yang udah mateng aja di depan. Mas kan ngga suka makanan instan begitu! Ya... sebenarnya telor juga ngga apa sih. Tapi nanti beli di depan aja. Biasanya ada tukang makanan."
Akhirnya, mau tak mau aku pun duduk lagi. Sebenarnya aku hanya merasa malu pada nya karena peristiwa semalam.
"Kok diam?", tanya mas Febri.
"Heum? Suruh apa?", tanyaku. Mas Febri tersenyum meraih pinggang ku.
"Kamu pasti lagi merasa malu?", tebak Febri. Wajahku memerah di buatnya. Gimana ngga malu, aku seperti bukan aku!
__ADS_1
"Iya mas!", jawabku menunduk.
"Ngga usah malu nduk. Kalo perlu kamu kaya gitu terus, mas malah seneng!", kata nya terkekeh.
"Apaan sih mas!"
"Hehehe...kamu semalam minum minuman mas ya?", tanyanya padaku.
Aku mengingat-ingat sebentar. Sampai aku baru ngeh kalo minuman mas Febri yang aku habiskan.
"Kayanya iya deh mas!", kataku. Dia memijit pelipisnya.
"Kenapa emangnya mas?"
"Jadi, cerita nya Viko dan Dio itu naroh obat ke minuman mas. Biar mas kuat di ranjang. Niatnya sih baik, di pikir karena mas ini mantan duda jadi udah ngga fit. Makanya mereka 'saking baik hati' nya sampai memikirkan urusan mas sampai segitunya!"
Aku ternganga tak percaya sambil menutup mulut ku. Ya Allah, berati semalam aku minum obat buat itu dong??? Oh ya ampun, pantas aja!!!
"Sayangnya malah kamu yang minum nduk. Dasar anak buah luck nut!"
"Ya Allah mas, kok mereka iseng banget sih!?"
"Ngga tahu dua bocah itu kan cs nya Seto juga."
"Huffft? ya udah lah, ambil aja hikmahnya. Jadi, aku aslinya ga segarang itu ya mas."
"Hahahah mas malah suka!"
"Terus, apa yang mas mau lakuin ke mereka berdua?"
"Hukum lah?!"
"Iya, hukum apa?
"Nanti lah di kantor. Mereka juga udah siap konsekuensinya."
"Jangan kasar-kasar ya mas!"
"Iya...iya...! Udah azan subuh tuh, solat dulu yuk?!"
Kami berdua solat subuh berjamaah. Usai solat subuh berjamaah, kami berjalan-jalan ke sekitar komplek. Berkenalan dengan para tetangga tentunya. Bahkan kami belum sempat berkenalan dengan para tetangga secara resmi. Mungkin nanti kalau udah ada waktu.
Sambil mencari sarapan, ternyata ada tukang sayur. Jadi aku belanja sekalian untuk makan malam.
Pukul setengah tujuh, mas Febri bersiap menuju ke kantornya. Dia sudah rapi dengan stelan seragam nya. Apa aku bangga? Tentu saja sangat bangga dan bahkan sangat cinta padanya hehehhe.
"Mas berangkat dulu! Kalo mau ke mana-mana bilang sama mas ya?"
"Iya mas!", kataku sambil mengecup punggung tangannya.
__ADS_1
"Apa perlu mas tinggal aja mobil nya, biar mas pake motor inventaris kantor?"
"Ngga usah dulu lah. Udah bawa aja mobilnya. Aku kan punya bang Joni yang mangkal di depan sana. Lagian aku belum ada rencana ke mana-mana mas."
"Ya udah kalo gitu!"
Aku mengangguk tipis. Dia mengecup puncak kepalaku.
"Mas berangkat ya? Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
Deru mobil mas Febri menjauh. Aku membereskan sisa kumpul-kumpul kemarin. Gara-gara ulah Dio dan Viko, aku belom sempet membereskan kekacauan ini.
.
.
Febri di sambut hangat oleh rekan-rekannya. Termasuk para atasannya yang kebetulan tak bisa hadir. Termasuk Galang, ayahnya Sakti.
"Selamat ya Febri! Maaf saya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian!"
"Terimakasih pak. Tidak apa-apa pak. Alhamdulillah, Anika , sakti dan Bina datang saya sudah senang."
Galang menepuk bahunya. Setelah itu semua kembali pada kesibukan masing-masing.
Kini, pandangan Febri tertuju pada Viko dan Dio yang sudah berkeringat dingin. Mereka benar-benar punya nyali dan mengerjai atasannya sendiri????
"Kalian, kemari?!", pinta Febri pada keduanya.
"Siap Kapt?!", sahut keduanya.
"Sudah latihan fisik hari ini?", tanya Febri melipat kedua tangannya di dada. Keduanya saling berpandangan lalu menggeleng kompak.
"Buka seragam kalian! Lari keliling lapangan dan jalan jongkok bergantian masing-masing lima puluh kali!"
"Hah???", mereka ternganga tak percaya. Begitu pula anak buah Febri yang lain. Mereka tak tahu kenapa Viko dan Dio di hukum seperti itu.
"Kenapa?", tanya Febri santai.
"Lutut kami bisa lepas Kapt...!", keluh Viko.
"Kalian pikir, apa yang udah kalian lakuin ngga bikin dengkul ku keropos hah???", bisik Febri di antara Viko dan Dio.
Keduanya terbelalak.
''Lakukan sekarang, atau mau ku tambahi lagi???", kata Febri.
"Siap Kapt????!!!!"
__ADS_1
Keduanya memulai pemanasan untuk berlari. Seto tak bisa menahan untuk tidak tertawa. Balas dendam versi Febri memang tak kalah kejam!