
"Mba!"
Aku menoleh pada Anika yang baru masuk ke kamar ku. Dia duduk di samping ku lalu memeluk ku.
"Mba Bia baik-baik saja kan?", tanyanya.
"Huum, mba baik-baik saja kok!"
Anika menyandarkan kepalanya ke bahuku.
"Aku kasian sama mas Alby, mba!"
Aku mengangguk'', sama!"
"Ujiannya banyak ya mba. Terpaksa nikah sama silvy, pisah sama mba Bia! Sekarang... istrinya koma, anaknya juga masih dalam perawatan. Ditambah...om Tama meninggal. Dia juga harus mengurus perusahaan om Tama kan?"
Aku menghela nafas. Aku tak bisa menghitung lagi apa hal menyedihkan yang harus Alby lewati.
Kenapa setelah berpisah aku baru menyadari betapa egoisnya aku? Hanya ingin mengejar kebahagiaan ku sendiri tanpa memikirkan apa yang Alby alami. Dia justru lebih tersiksa dari ku. Kenapa aku merasa bahwa aku lah satu-satunya yang terdzolimi disini?
"Mba, nangis?", tanya Anika. Aku tersenyum tipis dan mengangguk samar.
"Hanya dalam hitungan bulan semuanya sudah berubah, Dek!"
"Aku tahu, mba begini karena masih peduli sama mas Alby."
Aku memainkan cincin pemberian Febri. Ada rasa bersalah dalam dadaku. Sebenarnya hatiku ini untuk siapa ya Allah?
"Mba ngga salah kok! Wajar kalo mba masih mencintai mas Alby. Karena pada dasarnya kalian berpisah karena rasa cinta kalian yang tak ingin menyakiti satu sama lain."
Anika sedewasa ini? Batin ku.
"Tapi, mba juga ngga salah kalo pengen move on dan membuka lembaran baru sama mas Febri", lanjut Anika.
"Mba ngga tahu perasaan mba sendiri seperti apa, dek!"
"Tidak harus sekarang mba mengartikan perasaan mba pada mas Alby atau mas Febri! Waktu yang akan menjawab semuanya."
Aku mengangguk samar.
"Mba, aku...besok balik ke Jakarta!"
"Sudah puas jalan-jalan nya?"
"Ngga ada semangat liburan mba, kak Dim nya udah nugas. Lagi pula ...Ika mau jenguk Silvy dan anaknya juga. Sama....takziah om Tama."
Takziah? Apa perlu aku juga takziah? Setelah semua yang sudah dia lakukan padaku?
"Kapan kalian berangkat?"
"Pesawat nya jam tiga sore mba!", jawab Anika.
"Oh, nanti mba antar ke stasiun kampung. Turun di stasiun pasar Turi baru ke bandara Juanda."
"Ngga ngerepotin mba Bia?"
"Ngga, dek!"
Anika merebahkan diri di kasur. Mungkin dia lelah setelah liburan dengan Dimas tadi siang. Benar saja, dia tertidur pulas hanya dalam hitungan menit.
Sampai tengah malam aku tak bisa tidur. Aku memilih keluar dari kamar ku. Ku dapati mas Sakti yang duduk di meja makan.
"Lho, belum tidur mas?", tanyaku.
"Belum bisa tidur, Bi!", sahut nya. Selang berapa lama Bina pun keluar dari kamar. Mungkin mendengar obrolan ku dan Sakti. Semoga Bina tak salah sangka, apalagi cemburu sama janda kaya aku.
"Kamu belum bisa tidur juga Bina?", tanyaku pada Bina yang kini duduk di samping suaminya.
"Iya, mungkin karena efek minum kopi tadi sore hehehe!"
"Maaf kalo rumah ku kurang nyaman!" kata ku tak enak.
"Eh, ngga kok Bi. Bukan gitu!", sakti tampak tak enak.
"Rumah bagus gini kok Bi, nyaman lah!", Bina menimpali.
"Syukur lah kalo kalian merasa nyaman."
Kami bertiga diam. Hanya terdengar detak jam dinding di ruang makan.
"Kamu...mau takziah om Tama besok, sebelum jenasahnya di bawa ke Jakarta?", tanya Sakti.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bingung!
"Alby pasti di sana!", jawabku yang sebenarnya tak sesuai dengan pertanyaan Sakti.
"Kamu belum siap bertemu Alby lagi?", tanya Sakti. Bina yang kurang begitu mengenal Alby pun tak ikut komentar akan hal itu.
"Kami sempat bertemu beberapa hari yang lalu, saat...Alby menyerahkan dokumen kepemilikan saham ku di HS grup sama... sertifikat bangunan homestay, kalian menginap di sana kemarin."
"Jadi, om tama menyerahkan nya untuk mu?", tanya Sakti.
"Aku sudah menolaknya, tapi sepertinya om Tama memaksa Alby agar di berikan padaku dan aku harus menerimanya."
Hening! Tak ada pertanyaan lagi dari Sakti.
"Tadi siang, tetangga ku bilang. Ada seseorang laki-laki yang datang ke sini saat kita ke air terjun."
"Siapa?"
"Tetangga ku ngga tahu siapa, karena dia ngga nanya namanya. Tapi...dia nanya di mana makam bapak!"
Usai mengatakan hal itu, tenggorokan ku tercekat.
"Sampai akhirnya...bapak bilang, nemuin om Tama di nisan bapak!"
Entah kenapa aku justru menitikkan air mataku. Perasaan bersalah atau apa itu, aku tak tahu.
"Andai aku bertemu dengan nya siang tadi dan tahu kalo dia akan meninggal, mungkin aku akan memaafkannya."
"Astaghfirullah!", gumam sepasang suami istri itu. Bina pindah tempat duduk di sebelah ku, mengusap pelan bahuku.
__ADS_1
"Kamu ngga salah kok, Bi! Sudah takdirnya seperti itu!", kata Bina menenangkan. Walaupun kami baru bertemu lagi setelah pernikahan mereka, aku merasa cocok berteman dengan Bina. Mungkin karena seumuran.
"Aku...aku berusaha untuk memaafkannya, Bina. Meski sulit!"
Air mataku kembali meleleh.
"Kesalahannya terlalu fatal. Dia sudah menghancurkan semuanya yang aku punya. Padahal dia sebenarnya hanya ingin membalas dendam nya sama Mak Titin. Tapi aku yang dikorbankan oleh sifat arogan nya. Aku dan Alby menjadi korban keegoisan om Tama hiks...hiks....!"
Bina memelukku begitu erat. Aku hanya ingin menumpahkan segala rasa yang ada di dadaku.
Sesak!!!!
"Andai kata kamu tak memaafkan om Tama pun, keadaan tak berubah Bi. Kamu dan Alby sudah memiliki kehidupan masing-masing saat ini", ujar Sakti.
"Iya, aku memaafkan almarhum om Tama!", kataku.
"Mungkin, maaf mu bisa sedikit melapangkan kuburnya. Walaupun...kita semua nantinya juga akan dimintai pertanggung jawaban suatu hari nanti!"
Aku mengangguk pelan.
.
.
Alby sudah sampai di rumah sakit. Ternyata di rumah sakit sudah ada beberapa karyawan cabang yang standby di sana. Mereka menyapa Alby dengan sopan. Alby sendiri masih awut-awutan dengan kemeja kerja nya yang masih ia pakai karena usai dari kantor dia langsung meluncur ke kota ini.
Alby menemui dokter dan polisi yang menangani hal ini.
"Dok, saya Alby! Menantu dari almarhum!", kata Alby menyalami dokter dan polisi.
"Iya pak Alby."
"Bagaimana kronologisnya ya pak? Beliau kenapa? Tadi pagi beliau masih baik-baik saja!", kata Alby.
Polisi lebih dulu menceritakan tentang penemuan jenazah Hartama yang di temukan di atas nisan oleh peziarah makam.
Lalu, dokter sendiri menceritakan hasil pemeriksaan yang menjadi penyebab kematian Hartama.
"Jadi, papa saya...mengalami gagal jantung?", tanya Alby.
"Betul pak. Apalagi beliau juga menderita stroke dan hipertensi", kata dokter.
Apa yang papa lakukan di atas nisan bapak??? Kenapa juga dia harus meninggal di atas makam sahabatnya??? Alby memijat pelipisnya.
"Terimakasih dok, pak !", ucap Alby pada dokter dan polisi.
Anak buah Alby menyodorkan minuman untuk Alby yang terlihat sangat ya...tak beraturan sama sekali.
"Bapak istirahat saja, biar kami yang mengurus semuanya pak. Anda pasti lelah!", ucap salah seorang karyawan.
"Kalian saja yang pulang dan istirahat. Kalian juga pasti lelah!", kata alby. Mau tak mau, mereka pun menuruti perintah atasannya.
"Oh iya, pak! Ini koper almarhum yang pihak hotel antar kemari."
Alby menerima koper itu dan sebuah amplop bertuliskan nama 'BIA'.
Papa menuliskan surat untuk Bia??? Apa dia tahu jika hari ini dia akan pergi??? Batin Alby.
Tapi Alby menyimpan amplop itu. Mungkin dia akan memberikan pada Bia lain kali.
Seorang perawat lewat di hadapan Alby.
"Sus, bolehkah saya melihat jenazah papa saya?", tanya Alby pada perawat tersebut.
"Bisa tanyakan pada petugas kamar jenazah saja ya pak, bukan wewenang saya!", jawab si perawat.
Aku pun menghampiri 'mas-mas' yang bertugas di sana. Dan benar saja, mas itu membawaku menuju ke kamar jenazah. Kondisi papa sudah rapi dengan kain kafannya.
"Sudah di sholati mas, tapi besok pagi jika mas atau kerabat mau menyolati almarhum juga tidak apa-apa!", kata si petugas.
"Terimakasih mas!", kata Alby.
Pria tampan itu membuka penutup wajah papa mertuanya. Wajahnya membiru. Mungkin karena penyebab kematiannya berhubungan dengan sakit jantung.
"Ya sudah mas, terimakasih!", Alby keluar dari kamar jenazah tersebut.
"Mas, di mana mushola nya ya? Saya ingin istirahat sebentar. Bisa kan segala sesuatunya di urus? Saya akan mengurus administrasinya."
"Baik pak!", jawab si petugas.
Alby berjalan menuju ke mushola rumah sakit, tapi sebelumnya ia berbelok menuju kearah minimarket rumah sakit.
Dia membeli pakaian ala kadarnya dan peralatan mandi. Agar bisa solat setelah bebersih. Untung nya , di minimarket tersebut menyediakan pakaian.
Usai membersihkan diri, alby pun solat di mushola. Dia masih berzikir hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur.
Azan subuh membangunkan Alby karena ada jamaah yang menyolek tubuhnya.
Alby pun mengucek matanya. Nyatanya, dia baru memejamkan matanya dua jam yang lalu.
Alby membersihkan diri lalu berwudhu, ikut sholat jamaah subuh itu.
Setelahnya, ia kembali ke pelataran kamar jenazah. Dia menemui petugas yang mengurus jenazah papa mertuanya.
"Insyaallah nanti sekitar jam tujuh, ambulance siap mengantar jenazah ke Jakarta pak!", kata petugas.
"Terimakasih mas!", saya mengurus administrasi nya dulu!
Alby pun menuju ke ruang administrasi. Hari masih cukup gelap, tapi pegawai masih standby di sana.
Usai mengurus administrasinya, Alby bermaksud menuju ke kantin. Dia tak makan sejak kemarin siang.
Di kantin, Alby hanya meminum teh hangat dan roti sobek untuk sekedar mengisi perutnya. Sebenarnya tak nafsu untuk makan, tapi dia sadar betul jika dirinya butuh tenaga.
Pria tampan itu sudah memasukkan pakaian kotornya kedalam koper papa mertuanya. Dompet dan beberapa lembar uang tunai milik almarhum pun sudah tersimpan rapi di dalam koper kecil tersebut.
Alby menghabiskan minumannya dalam diam. Pikirannya bercabang ke banyak hal. Ia meremas kepalanya sendiri.
Ya Allah, belum cukup ujian dari Mu? Gumam Alby.
Setelah menghabiskan sarapannya, Alby kembali ke ruang jenazah. Ternyata di sana sudah ada dokter yang menangani Hartama dan ada beberapa orang yang mungkin sengaja melayat hingga akhirnya ia menemukan sesosok perempuan yang mungkin...masih ia cintai.
__ADS_1
Alby berjalan pelan menuju kerumunan orang-orang itu.
"Alby!", panggil sakti. Alby tersenyum tipis lalu menyalami Alby dan memeluk Alby sesaat sambil menepuk bahu pria tampan itu.
"Kami turut berduka cita ya!", ujar sakti mewakili sang istri dan adiknya.
Lek Sarman dan lek Dar, Asih dan Anton, serta pak Bambang dan Bu Sri bergantian menyalami Alby.
Aku terpaku di tempat ku berdiri. Aku bingung mau melakukan apa! Sesulit ini kah berhijrah??? Pelan saja Bia, perlahan kamu pasti bisa!
Aku menghampiri Alby yang terlihat sangat kusut dengan mata pandanya. Aku tahu dia lelah, lelah fisik lelah hati! Lelah segalanya!
"Turut berduka cita ya A!", kataku terpaksa mengulurkan tanganku. Alby menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku tafsirkan.
Grep!!!!
Mataku terbelalak saat tubuh kami bertemu. Alby memelukku begitu erat. Tak ada yang berani melerai pelukannya sekali pun itu lek Sarman.
Apakah ini wajar??
Samar-samar aku mendengar ia terisak pelan di bahuku. Mungkin sejak semalam ia berusaha untuk kuat, tak menumpahkan air matanya. Tapi...saat ini ia sudah tak sanggup, mungkin!
Dia menumpahkan bebannya dengan tangisan di bahuku. Spontan, aku mengusap punggungnya. Hatiku turut teriris melihat ia terisak.
"Sabar A, insyaallah Aa sanggup melewati semuanya!", aku berusaha menenangkannya.
Perlahan pelukan kami mengendur. Aku sadar, aku salah! Tak seharusnya kami kontak fisik seperti ini lagi.
"Maaf!", Alby mengusap air matanya.
"Iya!", jawabku singkat.
"Maafkan segala kesalahan almarhum ya Neng. Aa tahu, beribu maaf pun tak akan bisa merubah keadaan seperti dulu!"
Alby menatap arah lain. Tak ingin menatap mataku.
"Aku sudah memaafkan beliau A!", kataku.
"Terimakasih!", kata Alby.
"Bagaimana keadaan Mak?", tanyaku.
"Mak... mungkin masih shock. Aa sengaja tak mengaktifkan ponsel. Aa ngga mau di tanya-tanya sama Mak. Mak sudah cukup capek mengurus Silvy dan Nabil bergantian. Mak pasti lelah!"
Huh! Bia, sabar Bia.... sabar.... lihatlah... keadaan mu jauh lebih baik! Syukuri keadaan saat ini Bia. Mereka sedang menghadapi pahitnya kehidupan!
"Semoga Silvy segera sadar dari koma nya A. Begitu pula dengan Nabil, semoga dia lekas sehat. Dan... Mak bisa tabah menghadapi semuanya. Apalagi...Aa! Aa harus kuat, untuk mereka semua!", dadaku sesak sekali mengatakan hal itu. Sesak dengan alasan yang aku sendiri tak tahu kenapa???
Alby membuka koper yang bertuliskan nama Bia, yang di tulis tangan oleh Hartama.
"Petugas hotel menemukan amplop ini di kamar papa!", Alby mengulurkan amplop itu padaku.
Aku pun menerima amplop tersebut yang memang bertuliskan nama ku. Setelah itu, aku membaca kertas yang ada didalam amplop itu.
*Untuk Bia....
Kalau tulisan ini ada di tangan mu, itu artinya om sudah tidak ada di sini. Sebenarnya om ingin meminta maaf secara langsung padamu. Bila perlu, om berlutut bahkan mencium kakimu Bia.
Om sadar, kesalahan om sangat fatal padamu Bia. Semua yang om miliki tidak akan sanggup membeli maaf mu.
Maaf...maaf....maaf....
Hanya itu yang bisa om sampaikan. Semoga kamu mau memaafkan om. Terimakasih.
Jakarta xxxxxx*
Aku melipat kertas itu. Di situ tertulis tanggal bulan lalu. Apa dia merasa jika dia memang akan segera meninggalkan dunia ini?
Ku tarik nafas perlahan-lahan untuk menetralisir perasaanku.
"Aku sudah memaafkan om Tama, A! Semoga Allah melapangkan kuburnya!"
"Aamiin...!", seru mereka semua.
Ibu menghampiri ku lalu mengusap salah satu bahuku.
"Kamu mau ikut ambulan By?", tanya sakti. Alby mengangguk.
"Aku ikut menemanimu. Adek sama istri ku naik pesawat berdua saja! Kami sudah merundingkannya!", ujar Sakti. Alby menatap lekat ke Sakti.
"Terimakasih Sak!", ujar Alby. Sakti hanya mengangguk pelan. Sakti tahu, Alby butuh teman bicara apalagi sepanjang perjalanan menuju ke Jakarta cukup lah jauh. Dia pasti akan kesepian nantinya.
"Kamu hubungi keluarga di sana! Agar menyiapkan segala sesuatunya!", kata Sakti lagi.
Para orang tua berpamitan lebih dulu. Sedang aku memilih tinggal karena nanti aku akan mengantarkan Anika dan Sabrina ke stasiun.
Alby mengaktifkan ponsel nya. Banyaknya chat masuk dari rekan bisnis dan juga keluarga di rumah.
Tapi panggilan dari nomor rumah sakit menarik perhatiannya. Hingga chat dari Mang Sapto.
[Gimana By? Kapan jenazah di bawa pulang? Ada kabar buruk By]
[Kondisi non Silvy menurun By]
[Kenapa tidak aktif By? Ibu mu panik]
[Kondisi non Silvy makin memburuk By. Aktif kan ponselmu!!!]
Alby mengusap wajahnya kasar. Lalu setelah itu, ia menghubungi mang Sapto.
Bersyukur, kondisi Silvy kembali stabil. Ada sedikit kelegaan di dalam hati Alby. Setidaknya Alby tahu jika ....silvy masih bertahan hingga saat ini.
"Kenapa A?"
"Kondisi Silvy sempat memburuk tadi malam!", ujar Alby. Aku bisa melihat betapa berat beban yang harus Alby tanggung! Dan aku malah meninggalkannya!!!!
Ambulance sudah siap berangkat. Alby dan Sakti turut memasuki mobil ambulance tersebut. Sedang aku serta Anika dan Bina masuk ke mobilku melaju ke stasiun.
*******
To be continue ✌️✌️✌️
__ADS_1
Maaf banyak typo...🙏🙏
Makasih-makasih 🙏🙏🙏🙏