
Sebulan sudah acara tujuh bulanan berlalu. Aktivitas ku dan mas Febri sudah kembali seperti semula. Seperti pagi ini, aku menyiapkan sarapan untuk pak suami. Hanya menu sederhana tapi mas Febri dengan senang hati menikmatinya.
"Nduk, jangan capek-capek ya. Mas kasian tahu liat kamu begini."
"Justru kalo hamil udah tua begini, harus banyak gerak mas. Biar lancar lahirannya."
"Nduk, sini!", mas Febri mengajakku duduk berhadapan. Karena perut ku yang sangat besar, membuat jarak kursi ku dan mas Febri agak jauh.
"Mas tahu, kamu pengen belah secara normal. Tapi itu, kalo satu bayi. Nah ini, kamu melahirkan bayi kembar sayang? Satu aja, tenaga nya udah terkuras habis. Apalagi dia sayang! Operasi aja ya? Heum?"
"Orang jaman dulu, ngga operasi bisa tuh lahirin bayi kembar."
"Sayang, dengarkan mas. Mau lahir normal atau Caesar, kamu tetap lah seorang ibu. Jangan memikirkan omongan orang. Oke?"
Iya sih, waktu belanja sayur, aku sering mendengar selentingan kalo lahiran Caesar katanya belum bisa di katakan ibu sempurna. Tapi gimana?
"Mas mau yang terbaik buat kalian. Paham kan maksud mas?"
Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya udah mas berangkat dulu ya, kalo ada apa-apa langsung hubungi mas. Kamu sih ngga mau di kasih art. Minimal yang bisa pulang pergi."
"Untuk sekarang belum perlu mas. Mungkin nanti kalo sudah melahirkan. Kita ngga cuma butuh art, tapi juga baby sitter",candaku.
Febri mengulas senyum.
"Mempekerjakan segitu banyak orang, apa ngga tekor suami mu ini!"
"Hahaha bercanda mas!"
"Serius juga ngga apa. Yang penting istri dan anak-anak ku bahagia dan semua kebutuhan kalian terpenuhi."
"Makasih mas."
__ADS_1
"Mas berangkat ya? Assalamualaikum!", ia mengecup kening ku.
"Walaikumsalam!", kataku sambil berdiri dari bangku.
Baru saja berdiri dari bangku, aku merasa ada yang basah dari jalan lahir ku.
"Apa ini air ketuban?", gumamku. Beruntung mas Febri belum keluar dari pintu ruang tamu.
"Mas...mas...!", teriakku. Mas Febri yang baru menyentuh gagang pintu pun berbalik lagi ke tempat aku berdiri.
"Kenapa nduk? Ada yang sakit?"
"Mas...aku kaya ngompol. Ini...ini...yang namanya air ketuban bukan sih? Jangan-jangan aku mau lahiran mas. Tapi kok ngga mules ya?", aku mencoba untuk tenang.
Mas Febri jongkok di depan ku.
"Iya nduk, ini air ketuban. Kamu duduk di sini. Mas siapin keperluan buat ke rumah sakit."
Mas Febri membawa dua tas. Satu tas berisi perlengkapan bayi, satu lagi perlengkapan ku sendiri.
"Buka ****** ***** nya ya Nduk. Sementara pakein diaper. Biar ga merembes ke mana-mana. Untung udah sediain ya?"
Aku mengangguk. Tak ada lagi rasa sungkan atau malu, toh dia suamiku.
Setelah memindahkan ku duduk, mas Febri menyempatkan mengelap bekas air ketuban yang tercecer.
"Mas taroh keperluan kalian dulu ke mobil ya? Kamu tunggu di sini sebentar!"
Meski sebenarnya Febri panik, dia tetap berusaha tenang menghadapi situasi ini. Mungkin sudah bawaan nya dia seperti itu. Mukanya yang serius justru menambah kesan macho nya.
"Aku belum merasakan sakit apa-apa kok mas. Aku bisa jalan!",tolakku saat dia akan membopong ku.
"Ngga apa-apa. Mas pengen gendong kamu aja. Barang kali kamu memang akan secepatnya melahirkan. Jadi biarin mas ngerasain gendong bumil dulu!"
__ADS_1
"Emang kuat? Aku kan sekarang gendut banget?", kataku sambil mengalungkan tanganku ke lehernya.
"Kuat lah. Timbang gendong doang. Bikin si kembar aja, mas kuat kok!", canda Febri menutup rasa cemasnya.
"Mas, kok kesannya kita kaya mau piknik ya? Ngga ada cemas-cemasnya gitu. Padahal ini ketuban udah mbleber ke mana-mana."
Ngga cemas dari Hongkong??? Kalo aku panik, yang ada nanti kamu ikutan panik nduk?!!!!!
"Anggap aja gitu sayang! Kita piknik ke rumah sakit. Berangkat berdua, pulang berempat!"
"Bisa ae anake pak Bambang!", aku masih sempat mencubit pipi nya. Mas Febri memasukan ku ke dalam mobil. Setelah memastikan aku nyaman, mas Febri baru mengitari mobil untuk duduk di balik kemudi.
"Kita berangkat ya sayang!", Mas Febri mengusap perut ku.
"Heum! Tapi emang mas yakin, kalo aku akan melahirkan setelah ini?"
Dia menoleh lalu tersenyum.
"Insyaallah iya. Kamu ngga usah takut, mas bakal temenin kamu di ruang operasi. Ya???"
Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"Kalo kamu nemenin aku, ngga dinas dong?"
"Ya ngga lah. Gimana juga, kami juga berhak untuk cuti. Ngga usah cemas! Yang harus kamu lakukan sekarang cuma relax, oke..?"
"Iya mas. Bismillah!!!"
Mobil kami pun meleset menuju rumag sakit di mana aku biasa check up kandungan.
****
Fesha & Ribi otewe to the world 🤭🤭🤭🤭
__ADS_1