Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 168


__ADS_3

Dimas menyusul Febri yang ada di tepi kolam. Sepertinya Febri baru saja mematikan panggilan ponselnya.


"Lha, kok di sini?", tanya Febri pada Dimas.


"Kon Nang ndi?", tanya Dimas.


"Ya ikut makan malam lah sama calon keluarga, calon ipar calon ayah mertua!"


"Belum saatnya Feb!", sahut Dimas sambil mendudukkan dirinya di tepi kolam. Dimas merendam kakinya di air kolam. Dia menggulung sarungnya sampai ke lutut.


Febri pun ikut turun di samping Dimas.


"Lo belum ikhlas?", tanya Febri. Dimas terkekeh kecil. Tapi setelah itu, ia menghembuskan nafasnya kasar. Febri menepuk bahu Dimas.


Bahu Dimas pun menurun lesu.


"Bina minder sama gue. Padahal bapak dan ibu gue cuma PNS. Tapi dia rendah diri, takut ngga sebanding sama gue. Sekarang? Sakti jauh lebih mapan dari gue, ayahnya aja atasan gue. Bahkan pangkat gue ngga ada apa-apa nya!"


"Dim!"


"Gue tahu, mungkin kami emang bukan di takdirkan buat sama-sama Feb. Cuma...gue belom bisa terima alasannya dia seperti itu. Sedangkan kenyataan nya sekarang seperti ini."


Laki-laki gagah yang selengekan seperti Dimas rasanya tidak pantas kalau melow begini. Tapi sebagai seorang sahabat, Febri hanya mendukung apa pun yang terbaik untuk sahabatnya.


"Tapi halo beneran sayang sama Anika kan?"


"Ya sayang lah Feb. masa nggak. kalau nggak ngapain gue pacarin. Masalahnya apa benar ayah Anika merestui kami? Pangkat gue aja cuma kayak gini emang pantes ya bersanding sama anak jenderal?"


"Pantes aja lah. Buktinya selama ini Bapak dukung kalian nggak ngelarang Lo kan buat deket-deket sama Anika?"


"Iya sih. Tapi lo kan tahu kita udah berumur sedang aneka masih ABG. Gue udah pengen serius."


Febri memainkan kakinya di air kolam.


"Sabarlah Dim, 2 tahun lagi anika juga lulus kuliah kok. Dan kita belum tua-tua amat."


Dimas tersenyum.


"Lo udah pernah merit mau umur Lo segitu juga orang maklum. Nah gue? Anak tunggal udah umur segini. Harapan orang tua gue ya cuma gue kan?"


"Emang mereka pernah menuntut Lo buat buru-buru nikah?", tanya Febri.


"Ngga nuntut. Cuma berharap gue secepatnya punya pasangan. Takut nanti kalo gue nikahnya tua, anak-anak gue masih kecil. Dan gue nya udah tua, ngga bisa ngikutin perkembangan anak gue!", jawab Dimas mesam-mesem. Meski Febri tahu dalam hati Dimas, cowok itu sedang melow.


"Jadi, mau Lo gimana?", tanya Febri.


"Ngga tahu. Gue jalanin aja sama Anika seperti biasa. Gue gak bakal nuntut dia buat ngikutin apa yang gue mau."


"Insyaallah kalo jodoh mah ngga kemana!", kata Febri sok bijak.


"Gayamu Feb!"


"Heum! Kaya gue! Dosa besar nggak sih gue ngarepin Bia bener-bener cerai dari Alby?"


"pertanyaan yang tidak perlu dijawab!", sahut Dimas.


"Hehehe tadi mbakku bilang katanya dia sudah meminta pengacara untuk mengurus perceraiannya."


"Dih ada ya orang mau cerai kok lo yang senang?"


"Daripada tekanan batin tiap hari? Kali aja kalau ada kesempatan gue yang bikin Bia bahagia!"


"Lo ngomong kayak gini emang nggak ingat apa sama almarhumah istri lo dan anak lo?"


"Inget lah. Emang kalau habis salat gue harus laporan sama lo habis doain almarhumah anak dan istri gue?"

__ADS_1


"Ya ya nggak gitu juga konsepnya Bambang!"


"Bambang itu bokap gue nyong!", kata Febri menoyor kepala Dimas.


"Kelalen nyong Feb!"


(Lupa aku Feb)


Pindah ke ruang makan keluarga Galang Wibisono....


"Jadi nak Bina kerja direstorannya Bram?", tanya Galang.


"Iya pak!", jawab Sabrina.


"Kalian kenal di mana?", tanya Galang lagi.


"Di restoran Bram lah Yah. waktu Ayah mau jodohin aku sama Naya pacarnya Seto!", sahut Sakti dengan entengnya.


Tiba-tiba saja Sabrina terbatuk.


"Pelan dong sayang....!", ujar Sakti sambil memberi segelas air putih.


"Makasih mas!", usai Sabrina meminum air putih itu.


Anika tak banyak bicara, ia hanya jadi pendengar orang dewasa di hadapannya.


"Jadi, baru kenal dong?", tanya Galang.


"Iya yah, tapi mas yakin kok. Bina ini masa depan mas!", sahut Sakti mantap.


Galang mengangguk pelan.


"Apapun kalian selama itu baik Ayah pasti dukung!", kata Galang.


"Makasih yah!", sahut Sakti. Sabrina pun turut tersenyum.


"Dek, Kok diem aja dari tadi? Ayah sampai kangen loh dengan ocehan adek?"


"lagi pengen diem aja yah!"


"Oh ya kenapa kak Dimas nggak diajak ikut makan sekalian?", tanya Galang.


"Ngga mau katanya belum saatnya!"


Galang meletakkan sendoknya lalu minum.


"terus sekarang di mana?"


"Di belakang yah biasalah sama Febri sama seto!"


"Kalian terusin aja makannya ayah panggil Dimas sebentar!", kata Galang sambil berdiri meninggalkan mereka.


"Dek!", panggil Sakti.


"Heum?", gumam Anika tapi masih melanjutkan makannya.


"kamu nggak papa kan sayang? maksud Mas kamu menerima Kak Sabrina kan buat jadi istri mas?"


Anika tersenyum.


"iyalah. Apa alasannya buat kita menolak Kak Sabrina? Kak Bina cantik!"


Pantas aja kak Dim susah move on, gue lagi yang nembak kak Dim! Anika memukul kepalanya sendiri.


"Adek, ngapain pukul-pukul kepala. lagi mikirin apa coba?"

__ADS_1


"Heum, enggak kok biasa aja!"


"Mas harap kamu bisa deket sama Kak Bina ya!", ujar Sakti.


"Insyaallah. kayak aku dekat sama Mbak Bia toh?", tanya Anika. Sabrina menaikkan dahinya.


"Kak Bina ngga penasaran sama yang namanya Mba Bia itu siapa?", tanya Anika.


"Heum? Eum...kalo mas sakti ngga cerita yang kak Bina nggak berani tanya-tanya!", sahut Sabrina.


"uluh-uluh istri idaman!", kata Anika dengan bibir mungilnya.


"Iya lain kali Mas cerita siapa itu Bia biar suatu saat kamu nggak mikir yang macam-macam sama mas."


"Mikir apaan Mas?"


"kapan-kapan aja dibahasnya."


Sabrina mengangguk.


Galang berjalan menuju ke kolam dimana terlihat dari belakang dua punggung laki-laki kekar sedang merendam kakinya di kolam. Galang tak langsung memanggil Dimas, tapi dia memilih untuk mendengarkan obrolan kedua sahabat itu.


"Iya sih. Tapi Lo kan tahu kita udah berumur sedang anika masih ABG. gue udah pengen serius."


"Sabar lah dim, dua tahun lagi anika juga lulus kuliah. Kita belum tua-tua amat kok."


Galang tak lagi konsen mendengar obrolan mereka sampai akhirnya ada kalimat yang membuat ia tersenyum.


"*Jadi mau Lo gimana?"


"Ngga tahu. Gue jalanin aja sama Anika seperti biasa. Gue gak bakal nuntut dia biar ikut apa yang gue mau!"


"Insyaallah kalau jodoh mah ngga kemana*!"


Galang berdehem, membuat kedua pria gagah itu menengok. Keduanya buru-buru berdiri.


"Seto mana?", tanya Galang.


Tiba-tiba Seto membuka pintu kamarnya.


"Siap pak! Ada yang bisa Seto bantu?", tanya Seto sigap. Begitu pula dengan dua cowok yang masih memakai sarung.


"Ikut saya makan malam! Saya tunggu!", ujar Galang.


"Maaf pak, saya?", tanya Seto.


"Kalian bertiga lah Lettu Seto!", kata Galang.


Febri, Dimas dan Seto saling berpandangan.


"Laksanakan!", kata Galang tegas.


"Siap laksanakan. Mohon ijin!", ujar mereka bertiga.


"Ngga pakai lama!", kata Galang meninggalkan mereka tapi sebelum masuk ke dalam rumah, Galang berbalik badan.


"Jangan lupa, ganti sarungnya!"


Dimas dan Febri melirik ke tubuh bagian bawahnya. Mereka berpandangan lalu tertawa.


"Dari tadi masih sarungan!", celetuk Febri. Febri bergegas ke kamar nya, sedang Dimas ke kamar Seto karena mereka memang berada di dalam satu kamar.


*****


Insyaallah sehari up 3eps dukung mamak terus yak. Jangan lupa komen & like nya

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🤗


__ADS_2