
"Makasih!", ujar Silvy yang baru saja di antar oleh Malvin. Ini untuk pertama kalinya mereka terlihat damai pasca putus saat itu.
"Sama-sama Vy!", kata Malvin. Dia bermaksud turun untuk membukakan pintu untuknya, tapi Silvy melarangnya.
"Gue bisa turun sendiri!", cegah Silvy. Saat Silvy berusaha membuka pintu mobil itu, posisinya masih terkunci.
"Vin, gue mau turun!", kata Silvy.
"Apa Lo bahagia sama pernikahan Lo?", tanya Malvin tiba-tiba.
"Ngapain Lo tanya kaya gitu? Jelas gue bahagia!"
"Dari kacamata gue, gue lihat suami Lo ngga ada sayang-sayangnya sama Lo! Please, jangan sakiti diri Lo sendiri Vy!"
"Lo ngomong apa sih Vin? Udah deh, gue mau turun. Makasih buat tumpangannya!"
"Please Vy, maafin gue. Gue tahu semua yang Lo lakuin juga karena ulah gue. Gue tahu Lo ga sejahat itu Vy. Gue masih cinta sama Lo. Please, jadi Silvy yang dulu. Jangan seperti sekarang!"
"Ckkk...Lo ngomong apa sih Vin? Lo sadar ga yang lagi Lo ajak ngomong itu siapa? Gue istri orang!"
"Istri yang tak pernah di anggap?", tanya Malvin menatap mata mantan kekasihnya itu.
"Apa maksud Lo? Udah buka, gue mau turun!"
"Lepaskan Alby, Vy! Balik sama gue! Gue akan tanggung jawab atas semua kesalahan yang udah bikin Lo kaya gini Vy, kasih gue kesempatan!"
"Stres kali Lo ya Vin? Buka cepetan!"
"Lo boleh dendam sama gue, Lo boleh balas semua perlakuan gue selama ini ke Lo! Tapi please, jangan siksa diri Lo buat bertahan di situasi yang cuma nyakitin diri Lo!"
"Lo ngga tahu apa-apa. Jadi stop bicara omong kosong! Buka sekarang atau gue bakal teriak kalo Lo udah macem-macem sama gue!", ancam Silvy. Akhirnya Malvin membuka pintu mobilnya dan membiarkan Silvy turun.
Malvin meremas rambutnya dengan kasar. Semua memang berawal dari kebodohannya. Andai saja dia tidak termakan rayuan Vega, mungkin dia masih bersama Silvy. Malvin pria normal yang membutuhkan pelampiasan hasratnya, tapi selama menjalin kasih dengan Silvy dia tak pernah mau di ajak begituan. Justru vega yang terang-terangan menawarkan diri padanya. Tidak ada rasa nyaman yang Malvin dapatkan selama menjalin hubungan dengan Vega, Vega hanya pemuas nafsu belaka. Rumor yang beredar dirinya putus dengan Vega pun sebenarnya bukan hal besar. Vega memang 'pemain' handal. Dia berpacaran dengan Malvin, tapi juga bisa melakukannya dengan yang lain. Malvin sendiri sadar jika sebenarnya mereka hanya sekedar saling memuaskan.
Melihat perubahan Silvy, apalagi usai kecelakaan yang menimpanya membuat Malvin merasa bersalah. Tapi tak langsung diungkapkan pada Silvy. Justru Malvin terlihat semakin zolim pada Silvy. Hingga akhirnya dia merasa semuanya terlambat, silvy telah menikah dengan seorang pria yang jauh lebih dewasa di bandingkan dirinya. Bahkan tidak ada yang tahu kenapa tiba-tiba saja Silvy menikah.
Flashback on
"Kamar Oma yang mana sih?", gumam Malvin. Dia tengah berada di rumah sakit. Dengan sedikit tergesa-gesa ia memasuki lorong rumah sakit yang sepi itu.
Malvin masih bingung, kamar Omanya di nomor berapa. Papanya tidak bisa di hubungi, jadi dia tidak bisa bertanya pada sang papa. Ada rasa menyesal dalam diri malvin, kenapa dia tak bertanya di bagian informasi tadi.
Saat Malvin melewati sebuah kamar, ada kamar yang tidak tertutup pintunya. Malvin pikir tidak ada salahnya jika ia melihat ke sana, barangkali itu kamar Omanya.
__ADS_1
Malvin hendak memasuki kamar itu, tapi tanpa sengaja ia mendengar percakapan orang yang ada di dalam sana. Dan betapa terkejutnya Malvin saat tahu, siapa yang berada di dalam kamar tersebut. Suami dari mantan kekasihnya itu sedang di rawat di sana.
Keterkejutannya tidak seberapa di banding dengan apa yang dia dengar setelahnya.
"Iya Mak. Insyaallah Alby sama Bia akan memulai dari awal lagi. maaf Mak, bukan maksud Alby tidak peduli lagi sama mak.Tapi Alby pengen pergi dari rumah Tuan Hartama.Alby ingin memulai dari awal lagi,tanpa Silvy, tanpa tekanan dari tuan Hartama !"
Mata Malvin membulat mendengar obrolan mereka.
jadi, Alby terpaksa menikah dengan Silvy???
"Mak ngga marah? Alby lebih memilih Bia dibandingkan anak kandung mak sendiri?"
Dia ibu kandungnya Silvy?
"Silvy yang harusnya belajar, dia yang memaksa keinginannya untuk memiliki kamu By!"
Hanya mendengar percakapan singkat itu, Malvin langsung tahu inti dari permasalahan itu.
"Vin, kamar Oma kamu di sana!" tepuk papanya.
"Eh, pa! Malvin ga tahu, untung Malvin belum masuk ke situ hehehe!"
"Ya udah ayok!", ajak papa Malvin.
Flashback off
.
.
"Udah lumayan. Ada pasien apa lagi ngejar istri orang?", sindir ayahnya. Mata sakti melotot tajam ke Dimas. Dimas sendiri menampilkan wajah tak berdosanya.
"Ayah ngomong apa sih, ayok masuk deh!", ajak sakti pada ayahandanya.
"Kamu mau ikut masuk apa di luar Dim?", tanya ayah sakti.
"Di sini saja pak!", kata Dimas. Sakti masih menatap tajam terhadap kekasih adiknya itu.
Sakti dan ayahnya masuk ke dalam ruangan sakti. Sedangkan Dimas sendiri, dia justru malah siap bersantai dengan benda pipihnya. Kesempatan untuk menghubungi Anika.
"Ada apa yah?", tanya sakti setelah keduanya duduk.
"Kamu bukannya tinggal sama adikmu malah pilih diapartemen sih Sa?"
__ADS_1
"Heheh yah, kalo cuma tanya begitu kenapa harus jauh-jauh ke sini yah?"
"Kamu ngga seneng ketemu ayah?"
"Bukan gitu, maksud sakti...ayah kan sibuk."
''Buktinya ayah ada di sini. Berati ngga sibuk dong?"
"Oke...oke...sakti tak sakti lagi kalo udah melawan jenderal!", sarkas Sakti.
"Ayah bertemu dengan yang namanya Bia tadi. Cantik! Sopan! Humble!"
Sakti meneguk ludahnya. Dia penasaran apa yang ayahnya katakan kepada Bia.
"Eum...ya...ya gitu yah!"
"Kalo dia masih single, ayah tertarik jadiin dia menantu ayah!"
Deg! Kalo dia masih single??
"Mmm... itu yah..mmm!"
"Kamu cerita soal Bia dari dulu setiap kita ada pertemuan besar keluarga kita, tapi ternyata dia ngga pernah ada hubungan apa-apa sama kamu. Ekspektasi kamu kelewat tinggi sakti. Hallo??? Anak sulung ayah kurang apa gimana sih?"
"Yah..."
"Jangan jadi perebut istri orang ya Sakti! Ayah ngga mau sampai dengar kalo kamu masih mengharap Bia. Padahal Bia masih sah istrinya orang."
"Tapi mereka sempat mau cerai Yah."
"Astaghfirullah Sakti! Tega banget kamu doain kaya gitu ya? Emang ayah pernah ngajarin hal buruk seperti itu?"
"Ngga sih Yah...cuma kan emang mereka hampir pisah. Tapi ya gitu, mereka balik lagi."
"Apa cinta membuat kamu mendadak eror Sa?"
"Yah, kedengarannya klise. Tapi...sejauh ini sakti liat Bia senyum aja, sakti udah seneng yah. Ngga lebih!"
"Ayah akan jodohkan kamu sama anak teman ayah! Udah ah, ayah mau istirahat! Sia-sia ngomong sama kamu!"
"Iya yah?"
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Walaikumsalam!"
Sekeluarnya pak jenderal, sakti meremas rambutnya sendiri. Kenapa ayahnya mendadak tahu soal Bia sih??