
Alby berangkat menuju ke Jawa timur setelah bada isya bersama keluarganya, termasuk teh Mila dan mang Sapto ya.
Mereka tiba jam tiga dini hari. Lalu menginap ditempat yang Hartama bangun dan atas nama Bia.
"Kalian langsung istirahat saja, Mak juga ya? Biar Nabil sama aku saja! Besok acaranya jam sepuluh, masih puas buat istirahat", titah Alby.
Semua pun menuruti apa yang Alby kayak. Nabil masih tertidur pulas dalam gendongannya. Dengan pelan ia meletakkan Nabil di atas kasur. Ia berdirinya di jendela kamarnya. Dari jauh terlihat lampu yang menerangi warung Bia. Sudah pasti pernikahannya jauh lebih mewah di banding kan saat ia dan Bia menikah.
Maafin Aa ya neng! Gumam Alby. Dia pun ikut berbaring di samping Nabil.
.
.
Hari yang di nantikan pun tiba. Pagi-pagi sekali suasana sudah sangat ramai oleh bantuan para tetangga. Bahkan ibuku saja sudah ada di sini sejak subuh katanya.
Padahal aku sudah memakai jasa katering untuk urusan konsumsi di depan. Tapi tetap saja, urusan punjungan buat para tetangga dan kerabat dekat masih harus di masak sendiri tak bisa serta merta mengandalkan katering.
"Ndang adus toh nduk?!", pinta ibuku.
"Udah Bu, udah solat subuh juga kok!", kataku ikut duduk dengan ibuku dan lek Dar.
"Oh, ya wes nek ngono. Mau sarapan dulu toh?", tanya Lek Dar.
"Ya Allah lek, Jeh peteng Iki lho. Mosok sarapan, saur lha Yo!"
(Masih gelap ini. Masa sarapan, sahur mah iya)
"Eh, koe iku arepan di make over nduk. Diisi ndisek toh! Ngko nek wes kadung di dandani ga iso mangan!", kata ibuku.
(Kamu itu mau di make over nduk. Diisi dulu toh. Nanti kalo sudah terlanjur di make up ga bisa makan)
"Di dandani? Emang aku bodol opo piye?", candaku.
(Di benerin, emang aku rusak apa gimana?)
"Heleh! Ngeles ae kaya bemo!", kata lek Dar.
''Hehehe...Iyo lek, Iki Bia mau buat teh panas dulu. Masih ada brownies toh?"
"Lek wae sing gawe teh. Mba Asih ngeteh juga toh?", tanya lek Dar.
"Boleh deh mba Dar!", sahut ibuku. Aku dan ibuku menunggu lek Dar membawakan teh panas dan brownies kesukaan ku yang katanya di buat langsung oleh Bu Sri. Calon mamak mertua euyyyy....
"Esa sama Wibi di tinggal bu? Ibu sudah di sini?"
"Kan ada bapak, toh libur juga bapak nya. Nanti nyusul ke sini", jawab ibu.
Aku mengangguk. Kami bertiga menikmati teh panas dan kue dengan sesekali mengobrol.
"Bu, di tukang makeup nya udah datang!", kata mba-mba yang membantu kami.
''Oh iya, suruh masuk aja mba!", pinta lek Dar. Beberapa menit berlalu, petugas MuA pun menghampiri ku. Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar ku untuk make over.
Aku manut saja dengan semua intruksi MuA. Aku heran, dandan aja berjam-jam, di panjang nya cuma sebentar! Mubadzir ngga sih???
Itu mah Mak othor! Ijab qobul, beres ijab poto-poto bentar eh...di bongkar! Di tinggal Jumat lagi 😆😆😆🤣🤣🤣 curcol! Ga sampe dua jam gaes 😄.
Perlahan aku mulai melihat perubahan wajah ku. Seperti bukan aku????
Mengingat peristiwa empat tahun yang lalu, di rumah ini juga pernah merasakan seperti ini. Bedanya, dulu tanpa resepsi. Bukan aku tak mau, tapi aku tak ingin memberatkan suami ku yang bahkan ongkos menuju ke kampung halaman ku sudah cukup mahal, waktu itu.
Kebaya modern warna hijau pastel langsung di pakai untuk ijab. Bukan kebaya putih, meski tanpa pedang pora tetap ada spill upacara kemiliteran.
Bisa saja kebaya putih dulu, tapi aku malas ribet.
Aku memandangi wajah ku di cermin. Seperti orang yang tak ku kenal???
''Aslinya cantik mba Bia ini, jadi makin cantik. Manglingi!", kata mba MuA.
"Bisa aja mba, makasih pujiannya!", kataku.
Aku mendadak grogi. Ku pelintir-pelintir cincin di dari manis kiriku. Deg-degan gimana gitu!
Ayolah Bia, ini bukan yang pertama! ngga usah sok malu-malu kaya anak gadis Bae! Aku berusaha menenangkan diri ku sendiri.
"Udah jam sembilan mba, satu jam lagi acara nya di mulai!", kata mba MuA.
"Iya mba!"
"Deg-degan ya?", tanya nya lagi. Aku mengangguk.
"Makan dulu atau minum deh mba. Kan ngga lucu nanti di pelaminan pingsan gara-gara manten nya kelaparan heheheh!"
"Iya mba, tapi nanti luntur gimana?"
"Tinggal touch up mba! Orang aslinya juga udah cantik kok, ga usah cemas!"
Dengan persetujuan MuA , aku pun sarapan. Biar ngga lemes BESTie!
__ADS_1
"Oh ya, temen mba ada yang make up in anak-anak ya?"
"Iya mbak, di kamar sebelah!"
"Kalo mba udah istirahat, sekalian make over in teh Yuliana Tunru sama Teh Vivi Bidadari, katanya mau jadi Bridesmaids ku mba hehehhe!"
"Asiiapp....!", kata si mba MuA.
Saat aku sedang makan, tiga perempuan cantik masuk ke kamar ku.
"Mbakkku....!", Anika langsung menghambur padaku. Aku yang sedang makan tersedak sesaat. Mereka yang ada di situ sibuk berebut memberi air putih. Tak hanya kerongkongan ku yang perih, mataku ku pun sama.
"Adek! Jadi kesedak kan mba mu ini!", Bina mengusap punggung ku. Naya yang tak terlalu akrab dengan ku hanya berdiri mematung.
Anika nampak merasa bersalah sekali.
"Maaf mba Bia, aku terlalu excited mba! Ngga nyangka sampe bikin mba Bia kaya gitu! Maaf .. maaf....!", kata Anika.
"Udah , ngga apa-apa dek. Lagian kamu ngga sengaja!", kataku.
"Maaf ya Bi!", kata Bina mengusap bahuku. Aku mengangguk tipis.
"Mba Bia cantik banget ya?", kata Naya. Aku pertama kali bisa melihat Naya secara dekat.
Pantes aja dokter Sakti waktu itu ngejar-ngejar Bia, jelas gue bukan levelnya! Batin Naya, tunangan Seto.
"Makasih ya, kalian udah mau datang!", kataku.
"Iya jelas kami datang mba!", Anika memelukku dari samping.
"Emang kapan kalian sampe sini? Nginep di mana?"
"Tadi subuh!", kata Anika.
"Mba Bia sumpah, cantik banget! Beruntungnya mas Febri ya?", kata Anika masih terus memujiku.
"Maaf Dek, mba ngga punya uang gede. Adanya receh doang, mau?", tanyaku.
"Ya elah mbakku, aku ga lagi ngamen!", katanya manyun. Kami semua menertawakan gadis cantik itu.
"Ada hiburan apa nanti mba, selain pengajian?", tanya Anika lagi.
"Ngundang Deny cak Nan sama hepi asmara!", sahutku.
"Wah....ambyar nanti ya???!", kata Naya. Kami semua tertawa.
"Kenapa ngga Bondan Prakoso atau Alan Walker?", celetuk Anika.
"Heheheh jual ginjal aja gih!", kataku. Suasana tegang kini sedikit mencair karena tiga Bridesmaids cantik ku.
"Deg-degan ya Bi?", tanya Bina padaku. Aku mengangguk pelan.
"Udah pernah di situasi kaya gini, tapi ngga se-Deg-degan ini!", kataku.
"Insyaallah nanti dilancarkan kok!", Bina mengusap bahuku. Lagi-lagi aku mengangguk.
"Semoga ini jadi pernikahan yang terakhir buat kamu ya Bi!", kata Bina tulus.
"Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah ya mba Bia!", kata Naya.
"Dan semoga mba Bia bahagia sampai akhir sama mas Febri, aamiin!", lanjut Anika.
Selebihnya, kami berempat saling berpelukan. Pelukan kami terurai saat mba MuA mau touch up make up lagi.
.
.
Tiga pria tampan sedang bersama Febri yang masih mematut diri di depan cermin.
Siapa lagi kalo bukan squad gendeng! Dimas, Seto dan Sakti. Yupz, mereka menghadiri pernikahan Febri dan Bia.
Lalu di mana gadis-gadis mereka??? Ada di rumah Lek Sarman menemani mempelai wanita.
"Gantenge rek koncoku!", kata Seto.
(Ganteng nya temen ku)
"Wes suwi....!", sahut Febri dengan santainya.
(Udah lama)
"Narsis nya kok Yo ga ilang-ilang!", celetuk Dimas.
"Heum!", gumam Febri.
"Lo deg-degan ga Feb?", tanya Sakti.
"Iya lah ,kan gue masih hidup!", sahut Febri lagi.
__ADS_1
"Uuuh...cah gendeng emang!" celetuk Seto yang sering gemas dengan sahutan Febri.
"Koe wes siap Feb?", tanya Dimas.
"Insyaallah siap!", kata Febri. Meski mimik wajahnya seperti itu, Dimas yakin kalau seorang Febri sedang dalam mode gelisah.
Dimas menepuk pundak temannya itu.
"Bismillahirrahmanirrahim aja, insya Allah di lancarkan!", kata Dimas menenangkan Febri. Dimas tahu betul seperti apa sahabatnya itu.
"Ngga nyangka ya Feb, Lo pemenangnya!", kata Sakti. Ketiga cowok tampan itu menoleh pada Sakti.
"Bisa B aja ngga liat gue?", kata Sakti dengan sedikit memundurkan wajahnya.
"Maksud mas Sakti apa ngomong kaya gitu?", tanya Dimas. Dia udah nething duluan! Gimana kalo ternyata Sakti belum sepenuhnya cinta sama Bina, malah masih menaruh hati pada Bia.
"Ishhh....jangan suudzon kenapa!", sahut Sakti yang sedikit terintimidasi oleh tatapan tiga cowok gagah di depannya.
"Makanya, jelasin maksudnya apa bilang kaya gitu?", Seto yang tanya.
"Heum, iya...iya! Pada akhirnya, Bia milih Febri. Padahal udah banyak hal yang mereka lewati. Dari masa sekolah sampai mereka berjodoh sama pasangan-pasangan mereka sebelumnya. Dan gue juga sempat jadi salah satu kompetitor buat dapetin Bia. Tapi akhirnya Bia milih Lo Feb!"
Mendengar penjelasan Sakti, wajah tegang mereka mulai mengendur.
"Alby datang?", tanya Dimas.
"Kayanya datang!", sahut Febri.
"Apa kabar hatinya kalo liat mantan istrinya yang masih dia cintai bersanding dengan pria lain!?", Seto menepuk-nepuk bibirnya dengan telunjuknya.
"Itu urusan dia lah!", kata Dimas.
"Iya sih!", kata Seto lagi.
"Gue ga bayangin seorang Febri yang puasa dua tahun lebih ini bakal segera asah pedang!", kata Sakti.
Dimas dan Seto menoleh heran. Tapi Febri malah terkekeh.
"Ga usah sok polos gitu!", Sakti menatap dua mantan ajudan ayahnya itu.
"Siapa yang polos! Gue mah udah tahu lah ya mas!", kata Seto.
"Lo udah icip-icip Naya gitu?", tanya Febri.
"Ya elah Febri, sebejat-bejatnya gue ga sampe gimana-gimana. Ntar kalo mau merit urusannya panjang!", kata Seto. Febri dan Sakti mengangguk. Lalu ketiga pria itu menoleh pada Dimas.
"Lo ga ngapa-ngapain adek gue kan Dim?", tanya Sakti sambil memicingkan matanya.
"Hah? Gue? Ya ..ya...ngga lah! Masih normal gue mah. Nek aku gelem, mbiyen lagi Karo Sabrin! Buktine Sabrin masih oke-oke saja mbokan nganti dadi bojone mas Sakti!", kata Dimas dengan logat khasnya.
(Kalo aku mau, dulu waktu sama Sabrin. Buktinya Sabrin masih oke-oke saja kan sampe jadi istri nya mas Sakti)
Ketiga cowok itu menatap jengah sahabatnya itu kalo sedang bicara dengan bahasa daerahnya.
"Please, pakai bahasa yang gue ngerti!", kata Sakti.
"Hehhehe udah ngga ada transeleter nya mas. Sebagai warga Portugal alias Purwokerto Tegal, aku harus bangga dong sama daerah asal ku! Kalo bukan kaum muda kaya gue, siapa yang mau melestarikan nya coba????"
"Wes mboh, sekarepmu!", ujar Febri.
(Udah, terserah kamu)
"Ngomong-ngomong ijab sama resepsi nya di warung, Lo ke hotel mana udahannya?", tanya Sakti.
"Kita balik ke rumah Bia, rumah Bapak nya Bia."
"Ciiih...ada yang ga mau di ganggu malam pertama nih kayanya!", celetuk Sakti lagi.
"Malam pertama apaan?? Orang dari jaman dulu mereka mah udah biasa mendaki gunung lewati lembah, cuma menyelam sambil minum air aja yang belum wkwkwkwkkw ....!", tawa Seto pecah setelah mengatakan itu. Detik berikutnya, dua sahabatnya turut tertawa. Hanya Febri yang mendengus kesal.
Tawa mereka berhenti saat Bu Sri masuk ke dalam kamar Febri.
"Wes Ndang siap-siap! Arep podo guyon ae toh?", tanya Bu Sri dengan wajah galaknya. Semua pun terdiam. Febri menahan tawanya sendiri.
"Iya Bu!", sahut mereka kompak. Bu Sri pun keluar dari kamar Febri.
"Feb, Mak Lo galak ya?", tanya Sakti.
"Huum, dulu Bia aja takut waktu masih jadi muridnya!", jawab Febri.
"Ah, udah yuk ah! Udah mau berangkat. Kita siap-siap di depan!", ajak Dimas.
Mereka berempat keluar. Tak bisa di pungkiri, wajah Febri menegang.
Tapi tiga sahabatnya menyemangatinya.
"Bismillah Feb!", kata Dimas, Seto dan Sakti bersamaan.
Dan ... rombongan keluarga pak Bambang Agus Purnomo pun meluncur ke lokasi pernikahan anak mereka.
__ADS_1
******
Nyicil yak??? ✌️✌️✌️🤗🤗🤗