
Sakti baru saja keluar dari ruangan pasiennya. Dokter tampan itu pun berjalan santai untuk menuju ke ruangannya. Dari jauh dia seperti melihat perempuan yang sempat mengisi hatinya, ralat! Masih menjadi penghuni dasar hatinya hingga saat ini!
Bia? Ngapain dia di sini? gumam Sakti. Sakti berjalan lebih cepat untuk mengejar Bia yang sepertinya berjalan sempoyongan begitu. Benar saja, beberapa langkah lagi ia dekat dengan Bia, jutsru Bia terjatuh begitu saja.
Brakkk....
Tubuh Bia terjatuh begitu saja. Kondisi lorong ini memang sepi, jadi jarang ada orang yang berlalu lalang di sini.
"Bia!", pekik Sakti menghampiri Bia. Sakti mengangkat tubuh Bia menuju ke salah ruangannya yang berada di lantai yang sama. Setelah keluar dari lorong itu, ada beberapa perawat yang menghampirinya.
"Ada apa dok? Pasien dokter?", tanya perawat itu.
"Dia ...teman saya sus! Dokter Anita ada? Dia sedang mengandung!", kata sakti.
"Ada, sebentar dok! Saya panggilkan!", kata perawat itu.
"Bia? Kamu kenapa?", tanya sakti. Dia baru menyadari jika ada cairan berwarna merah di jas kebesarannya itu.
Darah? Gumam Sakti.
Selang beberapa menit kemudian, dokter Anita yang merupakan dokter spesialis kandungan pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter Sakti?", sapa dokter Anita.
"Dok, pasien sedang mengandung tapi lihat...ada darah dok!", kata sakti panik. Dia biasa menangani pasien, tapi melihat perempuan yang di cintanya seperti ini membuat dirinya seolah kehilangan kepintarannya.
Dokter Anita yang paham dengan kepanikan dokter sakti pun memeriksa keadaan Bia.
"Gimana dok?"
"Dokter sakti, sepertinya teman anda perlu observasi. Bawa ke ruang obgyn ya?!", kata Dokter Anita. Entah itu meminta persetujuan atau memberi pilihan.
"Memang apa yang terjadi dok? Kandungannya baik-baik saja kan?", tanya Sakti.
"Dokter! Saya tahu anda panik, tapi anda juga seorang dokter kan?", tanya Dokter Anita.
Perawat membawa Bia menuju ruang obgyn. Selain untuk memeriksa keadaan Bia, dokter Anita pun akan memeriksa kondisi janin yang Bia kandung.
"Silahkan dok! Saya urus administrasi nya dulu. Sekalian, menghubungi Suaminya."
Dokter Anita mengerutkan keningnya. Tapi setelah itu, ia pun berlalu. Tak lupa ia menepuk bahu juniornya itu.
"Masih banyak gadis di luar sana dok, jangan mengharapkan istri orang!", kata dokter Anita lirih. Ya, dokter yang sudah senior itu tampaknya sangat memahami tindakan seorang Sakti yang mencemaskan pasiennya berlebihan. Tidak seperti dokter kepada pasien seperti pada umumnya.
Sakti pun menuju ke administrasi untuk mendaftarkan Bia sebagai salah satu pasien di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Dok? Itu jas nya kotor?", sapa salah seorang perawat. Dia juga menunjukkan senyum tipis yang sepertinya sedang mentertawakan dirinya, tapi entah kenapa.
"Iya sus, ini saya mau ganti kok!", kata Sakti. Usai mendaftarkan Bia, sakti kembali ke ruangan nya untuk melepaskan jas nya yang kotor terkena darah. Tanpa ia sadar, dari tadi Sling bag milik Bia bertengger di bahunya.
Astaghfirullah! Aku sampe bawa-bawa tas Bia? Pantas dari tadi banyak yang mentertawakan ku! Gumam Sakti.
Karena jam praktek nya selesai, ia pun bergegas menuju ke ruang di mana Bia berada. Tapi kali ini, ia membawa tas kecil bia dalam genggamannya.
Ponsel di dalam tas Bia bergetar, agak ragu sebenarnya ia membuka tas Bia. Tapi, mau tak mau ia pun mengambil ponsel itu di dalam tas Bia.
Ada nomor asing yang menghubungi nomor Bia. Sakti menimang-nimang apakah akan mengangkat telepon itu atau tidak. Tapi ternyata, ponsel itu kembali berdering. Dengan deg-degan, sakti pun mengangkat panggilan itu.
[Hallo?]
Sapa Sakti terbata-bata.
[Hallo? Ini siapa? Kenapa ponsel istri saya ada pada anda? Anda siapa?]
Ckkk... ternyata suaminya? Tapi kenapa tidak ada nama nya di kontak ini?
[Hallo mas Alby, saya sakti]
[Dokter Sakti?]
[Jadi gini mas....]
Suara Alby terdengar panik.
[Sebentar saya jelaskan mas. Tadi, saat saya baru selesai praktek, ngga sengaja liat Bia yang pingsan di lorong rumah sakit mas. Jadi saya bawa bia ke dokter Anita untuk mendapatkan pertolongan. Karena...saya rasa apa yang terjadi dengan Bia bukan keahlian khusus saya!]
[Bia pingsan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Dimana ruangan Bia?]
Alby benar-benar panik sekarang.
[masih di ruang obgyn mas.]
[Astaghfirullah! Bia kenapa?]
[Saya kurang paham mas, makanya saya serahkan ke dokter Anita, dokter spesialis kandungan.]
[Beri tahu dimana ruangan Bia, saya ke sana!]
Usai memberitahu ruangan Bia, Alby pun menutup telponnya.
"Bia kenapa Jang?", tanya Mak yang duduk di antara brankar Silvy dan Alby.
__ADS_1
"Sakti menemukan Bia pingsan di lorong Mak. Dan sakti langsung membawa Bia ke dokter spesialis kandungan. Sakti bilang bukan bidangnya, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Bia."
Alby meremas rambutnya.
"Nak, ijinkan Alby menemui Bia ya?", kata Titin lirih. Sipvy menatap suaminya sekilas. Terlihat betapa Alby sangat mengkhawatirkan istri pertama nya itu.
"Iya, tapi setelah itu balik lagi ke sini! Aku ngga mau Alby jauh-jauh dari ku, apalagi meninggalkan ku!", kata silvy pelan tapi mengancam.
Tanpa menunggu persetujuan Silvy dan Mak, Alby bangkit dari brankarnya lalu mengembalikan ponsel teh Mila. Tadi ponsel Alby dalam posisi habis baterai, jadi terlalu lama jika ia menunggu ponsel itu siap. Berbekal meminjam ponsel teh Mila, ia mendengar informasi istrinya yang juga dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Alby berjalan perlahan menuju ruangan obgyn dimana istrinya sedang di tangani. Dari jauh, Alby melihat sakti yang duduk di depan ruangan itu.
"Dok!", sapa Alby. Sakti yang tadinya menunduk pun mendongakkan wajahnya.
"Mas Alby? Di rawat lagi? bukankah tadi siang pulang?", tanya Sakti.
"Iya dok, tapi luka saya terbuka lagi."
Sakti menatap iba pada suami dari orang yang dia cintai. Dirinya sakit, eh... istrinya juga sakit.
Selang beberapa lama, ada perawat pun keluar.
"Lho, dokter Sakti masih di sini? Kenapa ngga masuk?", tanya perawat itu. Dia bertanya seperti itu karena ia sempat mendengar pembicaraan dokter Anita dan dokter sakti sebelumnya.
"Iya sus, saya menunggu pak Alby, suami pasien tadi sus."
Sakti berusaha menutupi kegugupannya. Perawat itu pun menoleh ke Alby.
"Anda pasien di kamar Xxx ya dirawat bersama istrinya kan?", tanya perawat itu bingung. Bagaimana tidak bingung, dokter sakti bilang sedang menunggu suami pasien? Tapi yang ada di hadapannya saat ini adalah suami dari pasien kamar Xxx yang juga ia bantu tangani.
(Maaf ya, mamak ngga tahu kalo suster itu punya bagian masing2 wilayah! Anggap aja seperti ini ya 🤭. Harap maklum)
Memecah kebingungan perawat itu, Alby pun bertanya pada si suster.
"Gimana keadaan istri saya sus?",tanya Alby. Suster itu menatap dokter sakti yang mengangguk tipis.
"Silahkan masuk saja pak, dokter Anita yang akan menjelaskannya. Saya permisi, ada beberapa barang yang harus saya ambil sebelum melakukan tindakan."
Perawat itu pun meninggalkan dua pria tampan itu.
"Masuk mas Alby!", kata dokter Sakti.
"Kamu, temani saya masuk?!", kata Alby. Sakti pun mengiyakan. Dia sebenarnya ingin bertanya, apa yang perawat tadi katakan bener. Alby dan sipvy juga dalam perawatan dokter.
*****
__ADS_1
Kira2 apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut??? 🤷🤷🤷🤷🤷
Tengkyu sudah mampir 🙏🙏🙏🙏