
"Mba Bia!", panggil Esa.
Dia menghampiri ku lalu berdiri tepat di hadapan ku. Remaja tanggung entah anak-anak sebutannya yang lebih tepat. Esa mendongak menatapku.
Ya Allah! Kenapa wajahnya begitu mirip dengan ku????
"Mba Bia kapan datang?", tanya Esa. Terakhir aku bertemu dengan Esa dia masih sekitar kelas satu atau dua SD. Aku bahkan tak ingat berapa usianya sekarang.
"Tadi!", jawabku datar. Esa mengulurkan tangannya padaku.
"Mau salim mbak!", katanya. Dengan ragu aku mengulurkan tangan ku untuk di cium takzim.
Esa tersenyum tipis, benar-benar seperti melihat diriku sendiri ketika aku seumuran dengannya. Hanya versi laki-laki saja.
"Ya udah silahkan makan, aku mau pulang!", kataku hendak melanjutkan langkah ku.
"Pulang ke rumah kita kan mba?", tanya Esa lagi. Apa katanya? Rumah kita? Rumah mana yang dia maksud?
"Ya pulang ke rumah ku lah."
Aku berusaha bersikap biasa saja meski rasanya aku ingin melupakan emosi terlebih ada bapaknya anak itu.
Esa meraih tangan ku.
"Pulang yuk mba, ibu pasti senang kalo mba pulang!", rayu Esa. Tapi pelan, aku menepis tangan bocah itu.
"Aku memang pulang, pulang ke rumah bapakku. Bukan rumah kalian."
"Tapi mba....!", ucapan esa menggantung. Ponselku berdering di dalam tasku. Padahal seingat ku tadi sudah ku buta mode silent.
Ngapain sih nih orang video call aku???
Lek Dar dan Lek Sarman baru saja akan menghampiri keberadaan ku dan Esa. Tapi aku keburu angkat telpon. Ku hadapkan ponselku di depan wajahku.
[Assalamualaikum]
[Walaikumsalam. Alhamdulillah Nduk?? Akhirnya kamu angkat telpon mas juga. Kamu ke mana aja nduk? Kenapa susah banget di hubungi? Kamu baik-baik saja toh?]
[Aku baik mas. Ngga usah khawatir. Lagian kamu bukan siapa-siapa ku, ngga usah berlebihan mengkhawatirkan ku]
Lek Sarman dan yang lain mendengar obrolan ku dengan Febri. Ya, Febri yang menghubungi ku.
[Yo wes nek ngunu, tapi awakmu Saiki neng ndi toh? Aku lho Nang umah, tapi umah mu Jeh sepi?]
[Aku lagek muleh, kie Nang warung]
[Masyaallah, koe balik kapan nduk?]
[Mau awan]
[Yo wes nek wes jelas kamu di rumah. Aku wis ayem rek!]
[Heum!]
[Lagi di warung?]
[Iya]
__ADS_1
[Alby ngerti awakmu muleh?]
[Wis]
[Arep nyusul?]
[Ga tahu. Wes ah mas. Aku arep muleh umah bapakku dulu. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Aku kembali memasukkan ponsel ku ke dalam tas. Tapi saat aku kembali melangkah, lek Sarman memanggil ku.
"Nduk!", panggilnya. Mau tak mau aku pun berbalik badan. Bapaknya Esa berdiri di samping lek Sarman.
"Opo lek?"
Lek Sarman menengok ke sampingnya, bapak nya Esa.
"Reneo!"
(Sini dulu)
Dengan malas aku kembali mendekati mereka.
"Kamu ngga ngobrol dulu sama Esa?", tanya Lek Sarman.
"Udah tadi."
"Kamu masih marah sama bapak Bia?", tanya bapaknya Esa.
Dia mendekati ku, tapi aku memundurkan badanku.
"Bapak minta maaf!", katanya padaku.
"Punten lek, Bia pulang dulu!", kataku secepatnya pergi dari warung.
William hanya jadi penonton yang tak tahu episode sebelumnya seperti apa.
"Mas Sarman, mungkin memang Bia belum bisa menerima saya jadi bapak sambungnya."
Sarman hanya menghela nafasnya.
"Insyaallah Bia akan mengerti kok. Tapi Minh masih butuh waktu."
Bapaknya Esa hanya mengangguk. Pria bernama Anton yang saat ini kembali menjabat lurah untuk periode ke dua hanya bisa menatap punggung anak tirinya yang sudah dewasa itu.
Anton kembali duduk dengan Esa dan William. Sedangkan lek Sarman dan Lek Dar kembali ke dalam.
"Maksud nya apa ya mas?", tanya William.
"Kamu kenal Bia dimana? Di kota?", tanya Anton balik.
William menggeleng.
"Ngga, kenal semalam waktu di kereta."
Anton mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Jadi, Bia itu siapa?", tanya William lagi.
"Mba Bia itu mbak ku, om Will!", kata Esa.
"Maksudnya???"
"Iya, mba Bia itu anaknya ibu!", kata Esa lagi. William menatap wajah kakak sepupu nya, Anton.
Wajar William tidak kenal dengan Bia. Ini baru pertama kali ia bertemu dengannya meski kakak sepupunya sudah lama menikah. Yang dia tahu, Anton menikah dengan janda. Tapi tidak menyangka jika kakak iparnya sudah memiliki anak seusia Bia.
"Apa suami nya Bia orang Jawa barat?", tanya William lagi. Anton mengangguk.
"Tapi mas, sepertinya...Bia sedang bermasalah dengan suaminya."
"Jangan sok tahu kamu! Ngga usah ikut campur urusan rumah tangga orang ya Will!", nasehat Anton.
"Ngga sengaja mas. Kayanya mereka bertengkar hebat deh. Makanya Bia pulang kampung. Kalo ngga salah dengar sih, kayanya Bia butuh buku nikah buat apa gitu. Soalnya pas video call, aku lihat suami nya menunjukkan buku itu."
"Kamu nguping?"
"Dibilang nguping ngga juga sih, kan aku duduk bersebelahan sama Bia."
"Udah makan aja, habis itu pulang!", kata Anton. William pun mengangguk.
"Pak, mba Bia ngga mau di ajak pulang ke rumah kita ya?", celetuk Esa.
"Iya, mba Bia lebih senang tinggal di rumah bapaknya."
"Tapi rumah kita kan rumah mba Bia juga ?", tanya Esa lagi.
"Iya, udah ngga usah dipikirin. Sekarang makan saja dulu. Habis itu pulang, kasih tahu ibumu kalo mbak mu muleh!"
Esa mengangguk paham. Remaja tanggung yang baru di sunat beberapa waktu lalu itu pun mengangguk, menuruti ucapan bapaknya. Berbeda lagi dengan William. Seorang selebgram sekaligus foodvloger sibuk mereview makanan yang ada di depannya.
.
.
Aku cukup berjalan beberapa menit untuk sampai di rumah peninggalan bapakku. Ya, rumah ini masih asri dan selalu tampak bersih. Lek Dar memang sangat baik sudah mau merawat rumah peninggalan bapakku. Sayangnya, mereka belum di beri momongan lagi sejak sepupuku meninggal saat wabah covid kemarin.
Mengsediiiihhhh.....
Aku membuat pintu ruang tamu.
"Assalamualaikum!", kataku. Meski aku tahu tidak akan ada yang menyahuti salamku.
Aku langsung masuk menuju ruang makan. Dimana ada foto keluarga ku saat aku masih kecil dulu. Ku hampiri foto yang masih melekat di dinding ruang makan. Aku berada diantara bapak dan ibu. Foto itu di ambil saat usiaku sepuluh tahun.
Tapi tujuh tahun setelah itu, bapak pergi. Dan tiga bulan berikutnya, ibu menikah lagi dengan bapaknya Esa. Desas desus perselingkuhan mereka pun terdengar santer. Dan aku benci itu semua! Lebih menyakitkan lagi, ibu ku secara diam-diam meminjam sertifikat tanah dan sawah milikku, peninggalan bapakku untuk biaya mencalonkan diri bapaknya Esa sebagai lurah. Kenapa aku bilang meminjam? Karena sertifikat itu sudah di kembalikan.
Kuusap foto bapakku yang kala itu masih terlihat muda. Gagah dan tampan tentunya. Tapi sayang, setampan apa pun bapak buktinya ibu ku memilih bapaknya Esa meski baru jadi janda.
Ya, aku benci! Aku benci perselingkuhan! Aku benci mendua apa lagi di duakan!
Aku tertunduk di meja makan. Mengingat betapa banyak hal menyakitkan yang ku alami dari waktu ke waktu. Mulai dari kepergian bapak, perselingkuhan dan pernikahan ibuku, tidak direstui ibunya mas Febri, dan yang paling parah saat ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa Alby sudah menikah lagi. Padahal saat aku menikah dengan Alby, aku percaya bahwa dia satu-satunya orang yang bisa membuat ku merasa nyaman. Dan tidak akan pernah menyakiti ku. Tapi kenyataannya??? Justru dia paling membuat ku sesakit ini.
Aku akan mencari tahu syara apa saja yang aku butuhkan untuk menggugat cerai Alby. Bagaimana pun caranya nanti! Aku sudah lelah seperti ini!
__ADS_1