
Ibarat menggenggam bara api, semakin di genggam semakin melukai. Meski pada akhirnya bara itu akan dingin dengan sendirinya, tapi bekas luka itu akan tetap abadi.
******
Suara azan subuh bersahutan pagi ini. Suasana hatiku jauh lebih baik. Mungkin karena aku merasa lebih nyaman berada di tempat ku sendiri. Aku masih masa nifas yang membuat ku masih libur untuk solat lima waktu. Tapi untuk sekedar Tasmi' atau mendengarkan tilawah dari Al Qur'an online ku masih bisa ku lakukan.
Cuaca pagi ini cukup mendung. Ada hawa dingin yang menyerang tulang persendian. Ah, mungkin aku memang sudah tua.
Tapi meski dingin, tak mengurangi niat ku untuk mandi sesubuh ini. Sudah jadi kebiasaan ku dari dulu. Kecuali, saat sakit atau dalam situasi yang tidak mendukung.
Usai mandi, aku menuju ke dapur untuk memasak air panas. Ku lihat isi kulkas ku. Saat ini sudah penuh dengan stok sayuran, daging dan buah. Siapa lagi tersangka nya jika bukan lek Dar? Dia terlalu pengertian! Alhamdulillah!
Karena tak ada cemilan di pagi hari ini, aku bermaksud menggoreng tempe yang ada di kulkas. Bahan semua sudah lek Dar siapkan.
Setelah semua siap, aku memulai acara Medang sendirian pagi ini. Memang siapa lagi yang ku harapkan untuk menemani ku???
Tiba-tiba aku merindukan Alby. Aku rindu saat-saat bersama nya dulu. Dia yang selalu memuja ku dengan kata-kata cintanya dengan tingkah lakunya.
Aku terus miris mengingat betapa bahagianya kami saat itu. Kini, semua akan segera berakhir. Alby akan menjadi sebagian kenangan dalam hidup ku. Tak mudah memang! Melupakan Alby yang menerima ku apa adanya. Kami saling melengkapi satu sama lain, tapi....hanya saat itu. Tidak untuk sekarang.
Yang sekarang tersisa hanya ada rasa marah dan kecewa.
Febri sudah tampan dengan sarung dan baju kokonya. Dia terlihat sumringah pagi ini. Ya...sudah ada janji akan menelpon istri orang...oops... mantan kekasihnya.
"Masih pagi, udah cengar-cengir!", kata Dimas yang sedang ngopi dan merokok di bangku taman.
"Ga seneng banget lho temenmu seneng!", kata Febri ketus.
"Diih... baper!", ledek Dimas.
Febri beranjak ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Tapi ternyata bibik sudah menyediakan untuknya.
"Makasih,bik!"
"Sama-sama mas Febri!", sahut bibik ramah.
Febri kembali ke taman untuk bergabung dengan Dimas. Ia menjatuhkan bobotnya ke bangku di sebelah Dimas. Pria tampan itu menyesap kopinya, setelah itu menyalakan rokok.
Dimas menatap warna jingga di ujung timur sana. Apa yang seorang Dimas pikirkan?
Febri mengambil ponselnya, ia melihat terakhir kali Bia membuka aplikasi chat berwarna hijau nya.
Ternyata, Bia udah bangun dari tadi. Febri tersenyum tipis.
"Koe Kesambet Nang ndi toh Feb?", tanya Dimas.
(Kamu kesurupan di mana Feb)
"Ngawur! Mang gak liat abis solat subuh? Setane wes insecure nyawang wong ganteng koyo aku!"
"Innalilahi...batirku kelewat narsis!", Dimas menggeleng cepat.
"Biarin!"
Febri menghubungi Bia, di panggilan ke dua barulah Febri mendengar suara Bia.
[Assalamualaikum mas]
[Waalaikumsalam]
Febri sumringah sangad gaes...padahal cuma jawab salam.
[Kenapa mas?]
[Lagi apa nduk?]
[Ngeteh]
[Oh...]
[Ada yang mau di omongin?]
__ADS_1
[Eum...soal ibu nduk]
[Kenapa lagi? Kan kemarin aku udah cerita via wa]
[Tapi ngga semua kamu bilang ke aku kan Bi?]
[Perasaan udah deh mas? Apalagi?]
[Soal restu?]
Hening. Tak terdengar sahutan apa pun.
[Nduk...]
[Mas... kita ngga boleh seperti ini]
[Maksudnya?]
[Aku perempuan bersuami mas...]
[Mas tahu nduk, tapi kan...kamu sebentar lagi...]
Terdengar helaan nafas dari Bia.
[Rasanya ngga etis sekali kita bicara seperti ini. Terlepas seperti apapun masa lalu kita mas. Tapi...ini salah!]
[Nduk, mas ngga akan rebut kamu dari Alby. Tapi mas harap, kamu tidak akan merubah lagi keputusan mu. Kamu berhak bahagia Nduk. Beri orang lain kesempatan untuk membuktikan bahwa dia bisa membuatmu bahagia. Dan...aku harap, orang itu aku Bi..]
Bia terdiam di seberang sana.
[Nduk, mas sayang sama kamu. Sampai kapanpun mas akan selalu menunggu mu!]
[Maaf mas, sepertinya kita tidak bisa melangkah obrolan ini. ***...]
[Tunggu nduk! Sebentar!]
[Aku memang sakit hati dengan semua yang sudah Alby lakukan padaku, tapi...apa bedanya aku sama Alby kalau aku malah membuka ruang dan memberi mu harapan mas? Aku ngga mau seperti itu!]
Dimas tersedak kopinya.
Sialan, omongannya Febri bikin otak traveling pagi-pagi. Dia mah enak, udah tahu rasanya 'nganu'! Lha aku kan masih polos! Batin Dimas. Ia pun menghentakkan kakinya menjauh dari temannya yang sudah menduda itu.
Febri sempat menengok sekilas temannya yang ngereog itu.
[Astaghfirullah, mas! cukup! ngga usah bahas seperti itu!]
[Maaf nduk. Tapi mas cuma meyakinkan kamu, biar kamu sadar kalo aku pasti masih menghuni di salah sudut hati kamu. Tolong jangan bohongi diri kamu sendiri. Sudah tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan nduk. Ibu sudah merestui kita.]
[Stop mas! Aku rasa omongan kita sudah di luar batas. Assalamualaikum]
Bia mematikan panggilannya dengan Febri. Febri sepertinya menyesali keterusterangannya pada Bia tadi. Tapi...bukankah jujur itu jauh lebih baik???
.
.
Alby keluar dari ruangan papa mertua nya sebelum subuh tadi. Dia hanya berpamitan pada Mang Sapto.
"Mang, Alby ngga ke sini ya?", tanya Silvy.
"Semalam ke sini jam sebelasan kayanya non. Tapi tadi sebelum subuh sudah pulang."
"Kok ga nemuin aku dulu sih!", mood bumil itu langsung berubah.
"Mungkin ada pekerjaan kantor nak. Kan kamu tahu sendiri, Alby sementara ganti tugas papa kamu nak."
"Tapi Bu, kenapa Alby masih saja ngga peduli sama aku dan anakku. Padahal kelas Bia sudah meninggalkan Alby."
Dan Bia meninggalkan Alby juga gara-gara kamu dan papa mu! Batin teh Mila kesal.
"Non silvy mau sarapan apa? Biar saya belikan ke kantin."
__ADS_1
"Aku ngga pengen apa-apa."
Silvy mencoba bangkit dari sofa, tapi ternyata kakinya tersandung dan tanpa disengaja ia kembali terjatuh ke sofa dengan posisi nya tengkurap.
"Arhhh....!" teriak Silvy.
"Astaghfirullah!", Titin langsung menghampirinya putrinya itu. Lalu memapahnya sampai posisinya kembali berbaring.
"Mana yang sakit?", tanya Titin panik.
"Perut ku kram lagi!"
Titin mengusap pelan perut putri nya itu. Usapan itu membuat Silvy merasa lebih nyaman.
"Aku pengen Alby yang usap perut ku!", rengek Silvy. Titin menghela nafasnya.
"Kalo ibu yang bilang, Alby pasti nurut. Beda kalo aku yang minta."
"Iya, nanti ibu bilang sama Alby."
Di kantor....
"Mas Alby, tuan Hotma sudah menunggu di ruangan tuan Hartama!", kata Marsha saat Alby baru tiba di kantor.
"Oh, iya Sha. Makasih!"
Marsha mengiyakan, lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya.
"Selamat pagi, tuan Hotma!", Alby mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Selamat pagi Alby!", balas Hotma sambil tersenyum."Bagaimana keadaan Tama saat ini?"
"Belum ada perubahan yang signifikan, tuan."
"Panggil saja om, jangan tuan."
Alby mengangguk."Iya, om."
"Jadi begini ya By!", Hotma mulai membicarakan hal penting itu.
"Sebelumya, Tama sudah berpesan kalo lima belas persen saham HS grup akan diserahkan atas nama Shabia Ayu, istri pertama kamu."
"Apa?", Alby cukup terkejut. Pasalnya, lima belas persen dari saham perusahaan ini bukan lagi itungan sejuta dua juta tapi berekor M.
"Dan...selama Tama sakit, dia mau kamu yang mengambil alih perusahaan ini. Sekaligus...saham atas nama istri mu itu."
"Tapi om...saya..."
"Om akan bantu sebisa om. Om yakin kamu mampu. Rasa bersalah Tama pada Bia akan sedikit terbayar."
"Kesalahan papa tidak akan sanggup di nilai dengan uang om. Om tahu? Bahkan bia sudah akan menggugat saya?"
Hotma menatap pria tampan dan muda itu. Seorang Silvy saja sampai tergila-gila pada pria tampan ini. Selain ucapannya yang lembut, Alby juga tipikal orang yang mudah di beri tahu.
''Semoga saja setelah ini , Bia akan membatalkannya."
"Maksud om?"
"Proyek homestay di kampung istri mu, kamu yang lanjutkan. Biarkan saja dia tak mau membebaskan lahan itu untuk Hs grup, tapi.... setelah semua proyek rampung, buat homestay itu atas nama Bia. Dan selama proses itu berlangsung, kamu akan sering ke sana. Berusaha lah untuk meyakinkan Bia, bahwa semua akan baik-baik saja. Andai Silvy tidak hamil, om ingin kamu berpisah dengannya!", kata Hotma menepuk bahu Alby. Alby sendiri tak tahu harus berbuat apa.
"Pikirkan apa yang saya katakan tadi Alby!", setelah mengucapkan itu, Hotma pun meninggalkan ruangan Hartama.
Alby di selimuti kegelisahan. Bia sudah pernah bilang jika sawah itu adalah lahan garapan petani yang tidak memiliki sawah sendiri. Betapa egoisnya jika Bia menjual sawah itu yang pada akhirnya akan membuat para petani itu kehilangan pekerjaannya.
Alby menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya terpejam. Ia mencoba merenung dan menimbang banyak hal. Akan ada saat nya nanti keputusan berat ini di ambil.
******
Jangan lupa like nya ya heheheh 😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1