Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 115


__ADS_3

Sakti yang berada di depan pintu itu berbalik ke arah luar.


"Lho, dok?", tanya seorang perawat. Sakti sedikit terkejut mendengar suara perempuan di belakangnya.


"Eh, iya sus!", kata sakti sedikit terkejut.


Perawat itu melihat jam di pergelangan tangannya. Mengerutkan keningnya sesaat.


"Dok, ini belum genap jam enam lho. Dokter Sakti pagi sekali sudah di sini?", sapa perawat itu.


"Eum, iya sus!", jawab sakti. Perawat itu sedikit melongok ke pintu yang tidak di tutup terlalu rapat.


"Semalam, yang nemenin pasien mas-mas ganteng sama ibu-ibu dok!", kata perawat itu memberitahu Sakti. Sakti pun mengangguk.


"Iya, saya tahu!", sahut sakti.


"Oh...kirain ngga tahu. Atau... jangan-jangan dokter Sakti mau gantian jagain pasien ya sebelum jadwal praktek?", tanya perawat itu dengan nada meledek. Dokter Sakti yang pernah magang di rumah sakit ini pun sudah terkenal dengan sikap dinginnya. Tapi entah kenapa perawat itu berani meledeknya.


"Ehem! Sepertinya saya harus ke ruangan saya!", kata sakti berubah ke mode seperti biasanya, dingin.


Perawat itu hanya mengedikkan bahunya.


Back to pasangan sah....


"Neng, beri Aa kesempatan untuk memperbaiki semuanya!", ulang Alby. Aku menggeleng pelan sambil mengusap sisa air mataku.


"Ngga ada lagi yang bisa di perbaiki A. Semua selesai sampai di sini."


Alby meluruhkan badannya ke lantai. Aku sempat terkesiap beberapa saat hingga aku menguasai diri ku.


"Neng! Maafkan Aa! Tapi tolong, Aa benar-benar ngga bisa lepasin neng. Aa sayang sama neng!", kata Alby tergugu.


Lelaki ku menangis? Hah! Ini untuk kesekian kalinya aku melihat lelaki ku menangis.


"Aa mohon neng!", dia menakup kaki ku yang menggantung di brankar. Ia menenggelamkan kepalanya di pangkuan ku. Aku merasa de javu. Pernah seperti ini! Tapi untuk kali ini aku sudah membulatkan tekad, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


"Aku cinta sama Aa. Sayang sama Aa. Tapi maaf, kesempatan untuk kita memperbaiki semuanya sudah habis. Semua sudah selesai, kesempatan itu hanyalah kesia-siaan yang pada akhirnya akan menyakiti masing-masing dari kita. Maaf! Aku tidak bisa menjadi Bia mu. Aku sudah tidak bisa menjadi pendamping yang tangguh untuk mu lagi. Aku sudah tidak bisa menjadi seseorang yang yang.....hiks...hiks....", bahkan untuk melanjutkan kalimatku saja aku sudah tak mampu. Jariku hanya bisa menyeka lelehan di pipiku.


Alby masih tertunduk di atas pangkuan ku. Drama ini usai saat ada perawat yang bertugas mengecek kondisi ku.


"Maaf!", kata perawat itu yang tak lain perawat yang sama di depan tadi.


Aku mengusap air mataku. Alby pun bangkit dari lantai. Berdiri perlahan.


"Ngga apa-apa sus!", kata ku. Alby pun mengusap matanya yang sembab. Mungkin perawat itu merasa heran dengan kami berdua.

__ADS_1


"Maaf mengganggu waktu nya, saya hanya ingin m mengecek kondisi ibu. Sebentar lagi kami akan tukar shift Bu!"


Aku mengangguk paham. Aku kembali membaringkan tubuhku di atas brankar. Perawat itu mengecek botol infus yang menyisakan sedikit cairan.


"Bapak masih sakit, sebaiknya kembali ke ruangan bapak ya? Anda masih terlihat pucat pak!", kata perawat itu pada Alby.


Alby masih terdiam di sisi ku.


"Bisakah saya di rawat di sini bersama istri saya?", tanya Alby.


"Maaf pak, bukan kah bapak juga di rawat di kamar yang sama dengan istri bapak yang satu lagi?", tanya perawat itu. Entah kenapa, aku merasa suara perawat itu agak....judes!


Alby baru mau membuka mulutnya, aku sudah menyelanya.


"Kembali ke kamar mu, nanti istrimu mencari mu!", kata ku sambil memalingkan wajah ku.


''Neng! Aa tahu dalam hati neng, neng ngga mau semua ini terjadi! Jadi tolong jangan....!"


"Keluar dari ruangan ku!", kata ku pelan.


"Neng...!"


"Keluar! Aku bilang keluar!!", suaraku lebih kencang dari sebelumnya meski tidak masuk kategori bentakan.


Perawat itu sepertinya tak ambil pusing. Dia masih sibuk dengan laporannya.


Alby pun keluar dari ruangan ku. Dia pasti kembali keruangan istri mudanya.


Ckkk.... menggelikan sekali ya! Istri tua istri muda!


"Bu, keadaan ibu sudah membaik. Infus nya nanti saya ganti. Sepertinya tidak sampai satu jam sudah habis kok."


"Iya sus, atur saja!", kataku.


Perawat itu menatap ku intens.


"Kenapa sus?", tanya ku.


"Ngga bu. Eum...hanya saja, tadi sebelum saya masuk. Saya ketemu sama dokter Sakti di depan pintu. Tapi beliau ngga jadi masuk. Cuma berdiri di depan pintu."


"Mas sakti? em... maksudnya dokter sakti datang sepagi ini?", tanyaku.


"Iya. Padahal jadwal praktek nya nanti jam delapan. Beliau kan dokter spesialis, bukan dokter umum yang harus standby di depan."


Apa mas sakti mendengar obrolan ku? Ah, sepertinya semua orang akan mengasihani ku.

__ADS_1


"Saya tanya, apa beliau mau menjenguk anda? Sepertinya sih iya bu. Tapi melihat anda sedang bersama suami anda, beliau ngga jadi masuk kali."


Aku mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya sus. Mungkin nanti beliau ke sini lagi."


Duh, seneng amat sih jadi si mbak. Yang nemplok orang ganteng semua. Dokter sakti, mas-mas ganteng yang jagain semalaman. Suaminya juga ganteng. Dia nya cakep kali ya??? Tapi...kasian sih, cantik aja masih di selingkuhi. Mana istri mudanya juga ga kalah cantik lagi! Halah....mikir apa aku ini! Perawat itu bermonolog dalam hatinya.


"Kalau begitu saya permisi ya Bu."


"Iya sus, makasih!", kataku.


"Sama-sama Bu."


.


.


"Nguap terus pak, kurang tidur?", tanya rekan Febri. Mereka semua sudah berada di kantor. Persiapan untuk apel seperti biasa.


"Iya, kurang tidur semalam."


"Kenapa? jagain istri melahirkan?", ledek nya. Dia tidak tahu kalo seorang Febri itu duren titi. Duda keren di tinggal mati.


"Ngga. jagain temen di rumah sakit. Istri dan anak saya sudah almarhum."


Rekan Febri mendadak pias. Tentu saja ada rasa tidak enak. Padahal mereka tidak begitu saling mengenal. Awalnya dia hanya melempar candaan. Tapi ternyata candaannya malah menyakiti hati orang lain.


"Maaf pak!", kata rekan Febri.


"Ngga apa-apa."


Febri kembali memasang wajah datarnya. Kali ini, jenderal Galang yang memimpin apel. Dimas berada di belakang pak jenderal. Ya, sepertinya beliau sengaja membuat Dimas selalu di dekatnya sejak tahu jika bocah gendeng itu memacari anak bungsunya.


Seto datang sedikit terlambat dibelakang Febri.


"Wes Nang kene ae awakmu Bambang!", kata Seto.(Sudah di sini aja kamu Bambang)


"Heum. Sengaja ben ga telat Parjono!", sahut Febri.


"Parjono iku jenenge bapaku!"


(Parjono itu nama bapaku)


"Lah... Bambang juga nama bapakku kok!", sahut Febri tak mau kalah.

__ADS_1


"Wes mbuh ah!", sahut Seto sewot.


Mereka menghentikan candaan garingnya setelah ada instruksi bahwa apel akan segera di mulai.


__ADS_2