Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 91


__ADS_3

"Marsha!"


Marsha yang sedang duduk di ruang tunggu kantor cabang HS grup langsung bangkit dari bangkunya.


"Ya Tuan!", sahut Marsha sambil berdiri.


"Siapkan penerbangan hari ini. Kita kembali ke Jakarta!", titah Hartama sambil berlalu menuju ruang kepala cabang.


"Baik tuan!", Marsha mengiyakan perintah bos nya. Matanya menelisik ke segala ruangan. Dia tak menjumpai Alby.


Alby nya ke mana? Monolog Marsha.


Dia pun memesan tiket penerbangan rute Surabaya-jakarta.


"Permisi Tuan!", kata Marsha. Saat ini, Hartama sedang berdiskusi dengan kepala cabang perusahaannya.


"Kenapa Sha?"


"Penerbangan nanti jam sembilan malam Tuan."


"Kenapa malam sekali? Tidak ada yang lebih cepat lagi?"


"Maaf tuan, tapi dari sini ke Surabaya memakan waktu yang cukup lama."


Hartama mengusap pelipisnya. Ya, dia investasi di kota ini karena melihat adanya peluang yang cukup besar melihat wisata alam yang cukup diminati pengunjung. Tapi sayangnya, akses menuju tempat ini kurang begitu mendukung jika memakai transportasi udara. Jauh dari bandara tentunya!


"Maaf tuan, jika berkenalan anda bisa menggunakan kereta. Dari sini stasiun kereta tidak begitu jauh. Tapi...nanti di Surabaya anda bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta cepat Surabaya Jakarta", kata kepala cabang.


"Baiklah! Ya udah sha, pesan tiket kereta api saja. Lagipula, entah sudah berapa lama saya tidak pernah menggunakan kereta."


"Baik Tuan. Tapi...emm...maaf, mas Alby belum kelihatan dari tadi Tuan?"


Hartama terdiam.


"Kamu pesan saja atas namanya. Urusan dia mau balik sama kita atau tidak, terserah dia. Atau kalau tidak kamu hubungi saja Alby."


"Siap tuan, saya permisi."


"Sha!"


"Iya tuan?"


"Tolong rapikan pakaian saya di penginapan!"


"Baik Tuan!", sahut Marsha.


Marsha pun keluar dari ruangan kepala cabang itu.


Fyuhhhh....gini amat jadi sekretaris ya? Keluh Marsha dalam hatinya.


Marsha kembali ke penginapan. Dia mulai merapikan pakaian bosnya. Tidak banyak, karena mereka baru dua hari di sini. Lagi pula, bosnya bukan tipe orang yang asal-asalan. Pakaian kotor nya pun sudah di paking dengan rapi. Jadi, dia hanya memasukkannya ke dalam koper.


Marsha memilih duduk di bangku depan kamar bosnya sebelum ia membereskan barangnya sendiri.


Jemari lentiknya memainkan benda pipih yang canggih itu. Benda kecil, tapi merupakan salah satu penunjang penting untuk mendapat rupiah.


Marsha menghubungi Alby.


[Hallo Sha?]


[Mas Alby di mana? Hari ini kita kembali ke Jakarta mas]


Terdengar helaan nafas Alby di seberang sana.


[Aku di masjid dekat warung Sha]


[Owh...]


[Apa bos mu marah-marah sekarang Sha?]


Marsha mengernyitkan alisnya. Ya, dia memang sempat melihat ketegangan di warung tadi. Tapi dia tidak mau ikut campur urusan keluarga itu.


[Barusan sih ngga. Cuma bilang, kita balik ke Jakarta. Dan... katanya terserah kamu mau ikut atau nggak]


[Aku bingung Sha]


Nada suara Alby seperti orang yang putus asa.


[Kenapa mas? Apa soal tadi?]


[Ya. Bia meminta cerai Sha]


[Ya Tuhan....]


[Aku bingung Sha. Jujur, aku ngga mau pisah sama Bia Sha. Tadi aku bilang di hadapan tuan Hartama, kalo aku lebih memilih Bia. Makanya aku tanya apa tuan masih marah-marah? Dan...Bia tetap memilih untuk pisah sama aku Sha]


Sekarang justru Marsha yang menghela nafasnya. Dia bingung, ini bukan urusannya. Tapi Alby sudah terlanjur bercerita padanya.


[Sebagai teman, aku cuma mau bilang mas. Kalo kamu memang cinta sama Bia, perjuangkan! Buktikan kalo kamu layak menjadi suaminya.]


[Bia mau mendaftarkan gugatan cerainya Sha]


[Baru mau kan mas? Lagi pula, memang dia sudah menyiapkan dokumen nya untuk mendaftar perceraian kalian di pengadilan agama sini? Kalian menikah di sini, tapi pasti surat-surat penting kalian tidak di sini kan?]


[Iya Sha, aku menyimpannya di kampung. Tapi buku nikah kami ada padaku. Aku pernah berpikir dia akan melakukan ini Sha. Makanya aku lebih dulu menyelamatkan buku nikah ini agar tak sampai ke tangan Bia.]


[Dasar licik!]


Marsha justru terkekeh.


[Kenapa kamu malah tertawa?]

__ADS_1


[Ya lagian kamu kok kepinteran amat sih mas?]


[Bukan gitu sha, aku benar-benar tak mau kehilangan Bia.]


[Ya...iya...! Jadi, intinya mas Alby mau ikut pulang ke Jakarta ngga?]


[Ya, aku akan pulang ke Jakarta. Aku akan memutuskan hubungan antara aku dan Silvy lebih dulu. Setelah itu aku fokus pada hubungan ku dengan Bia]


[Gila ya?! Resiko orang ganteng jadi rebutan sana-sini]


[Ngga usah bercanda Sha!]


[Oke...oke... semoga, tuan Hartama ngga mempersulit kamu ya mas. Mengingat sebelumnya kamu seperti ini karena tekanan dari dia]


[Ya...mungkin aku laki-laki tak tahu diri. Tapi ya sudahlah Sha. Aku akan mencoba tidak peduli lagi dengan Mak ku. Toh, sekarang dia sudah bertemu dengan anak kandungnya sendiri.]


[Ribet banget hidup mu ya mas]


[Heum. Ya udah, aku mau jalan ke penginapan. Tapi ...aku mau ke rumah mertua ku dulu]


[Ya....]


Panggilan itu pun terputus.


Pantas saja waktu di kasih tahu mau ada perjalanan dinas ke kota ini, Alby semangat banget. Ternyata pas kebetulan banget ini kampung halaman Bia, dan Bia nya ada di sini juga. Emang ya, kalo jodoh ga kemana!


Marsha ngomong sendiri hehehe.Dia pun melanjutkan membereskan pakaiannya.


.


.


Alby mendatangi rumah mertuanya. Untuk pertama kalinya selama menjadi suami Bia, dia datang ke sini. Karena setelah pernikahannya dengan Bia dulu, mereka langsung berangkat ke kota. Tak lama kemudian, muncul wabah covid yang tidak memungkinkan mereka untuk mudik. Di tambah lagi, Alby salah satu karyawan yang terdampak pengurangan jumlah karyawan di pabriknya. Alhasil, dia memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya dengan sang istri. Meski kerja serabutan, tapi Bia masih menerima keadaan itu. Sayangnya, kesehatan Mak yang saat itu cukup parah membuat ia salah langkah dan berakibat seperti sekarang ini.


"Sugeng sonten mas, madosi sinten nggeh?", tanya Asih.


(Selamat sore mas, cari siapa ya?)


Alby yang baru bertemu langsung dengan ibu mertuanya pun langsung mengulurkan tangannya kepada ibu mertua. Dasar menantu durhaka! Sudah hampir tiga tahun jadi menantunya, tapi tidak pernah bertegur sapa dengan beliau.


Asih yang baru ngeh dengan wajah Alby pun menyambut uluran tangan menantunya.


"Nak Alby ya?", tanya Asih.


"Iya Bu!"


"Duduk Nak!", pinta Asih.


Anton keluar dari ruang tengah sedang menggendong adiknya Esa.


"Lho, Alby?", sapa Anton.


Anton belum sempat menceritakan kejadian tadi siang di warung Sarman kepada asih.


"Kamu sendiri nak, Bia...ngga ikut?", tanya Asih. Alby hanya menggeleng.


"De, main sama mas Esa ya?", kata Anton pada anak bungsunya. Si kecil pun mengiyakan perintah bapaknya.


"Alby!", panggil Anton.


"Ya pak!"


"Maaf ya pak, mungkin ini keterlaluan sekali. Alby... baru kali ini mengunjungi ibu dan bapak."


"Ngga apa-apa By. Kami paham kok seperti apa Bia. Jadi, ini bukan salah kamu!", kata Asih.


"Eum... bagaimana soal tadi By?", tanya Anton.


Asih yang tidak tahu sama sekali pun jadi bingung sendiri.


"Bia...Bia..."


"Bia kenapa nak?", tanya Asih pada Alby.


"Bia kekeuh minta pisah dari Alby ,pak!", kata Alby lirih.


"Astaghfirullah!", Asih menutup mulutnya.


"Ada apa nak Alby? Kenapa bisa Bia minta pisah dari kamu? Ada masalah apa???", tanya Asih beruntun.


Alby pun menceritakan semua dari awal hingga berada di titik ini. Ia tak mengharapkan apa pun pada kedua mertuanya itu setelah ia menceritakan semuanya. Berbeda dengan sikap Sarman yang marah luar biasa, Anton lebih menyikapi dengan bijaksana. Mungkin karena dia tidak memilik hubungan darah dengan Bia. Tapi sikapnya mencerminkan dirinya memang layak di jadikan pemimpin.


"Bapak memang tidak ada hak apa pun By. Tapi bapak akan mendukung apa pun keputusan kamu. Yang penting, nantinya tidak ada yang tersakiti di antara kalian."


"Terima kasih pak."


Usia mengobrol dengan mertuanya. Alby pun kembali ke penginapan.


"Kasian Bia mas. Sebagai ibu, aku justru tidak bisa di sampingnya. Padahal dia sedang membutuhkan sandaran saat ini mas!", keluh asih.


"Sabar Bu, Bia anak yang baik. Aku yakin, suatu saat nanti dia akan memaafkan kita. Dan kamu, akan kembali dekat dengan Bia seperti saat Bia masih kecil."


Asih memeluk tubuh suaminya itu.


.


.


"Wei ...denger berita heboh ga?", celetuk salah seorang mahasiswa.


Silvy yang sedang menulis di mejanya pun tak ambil pusing. Dia fokus dengan buku dan penanya. Bukan dia banget sebenarnya! Tapi sejak Anika menjauhinya, dia memilih untuk sibuk dengan buku-bukunya.

__ADS_1


"Berita apaan njir???", pekik teman satunya.


Anika juga duduk tahu jauh dari Silvy. Hanya saja ia duduk dengan seorang teman lainnya.


"Si Vega cewek freak banget tahu ngga!"


"Paan sih Lo? ga je banget kasih info. Setengah-setengah!", sahut temennya.


"Tahu ih!", sahut yang lain.


"Makanya denger dulu! Kita semua kan tahu, kalo si Vega tuh ngerebut Malvin dari Silvy? Eh....dia malah selingkuh dari si Malvin! Gila kan?"


"Maksud Lo? Vega selingkuhin Malvin sama cowok lain?"


''Heum! Sama anak fakultas sebelah."


"Gila si Vega, putus dong mereka?"


"Ya kali. Tahu sendiri si Malvin kek gimana!"


"Ya sih....mungkin itu karma nya sih Malvin kali udah selingkuh dari Silvy. Sekarang kan kena imbasnya? Beruntung Silvy lepas dari Malvin dapetnya mas-mas ganteng!"


Anika memutar bola matanya malas.


"Namanya pacaran ya wajar putus kali! Toh masih bebas pilih-pilih! Dari pada rebut suami orang? Ya kan? Mending selingkuh pas pacaran, dari pada pas udah nikah!", celetuk teman Anika.


Tiba-tiba Anika terbatuk-batuk. Entah kenapa ucapan temannya itu mewakili unek-uneknya. Silvy meremas penanya tanpa sadar.


"An, kok kayanya Lo sama Silvy lagi ga akur ya? Ga main bareng. Ye ga?"


"Gak, biasa aja!", sahut Anika. Ternyata ponsel Anika bergetar.


Kak Dimas? Gumam Anika.


[Hallo kak? Tumben telpon, kangen ya sama Ika? Hehehe]


Dengan penuh percaya diri, Anika meledek Dimas.


[Ehem]


Suara deheman menyahuti dari ponsel Dimas. Dimas sendiri sudah ketar ketir di belakang atasannya.


[Kenapa kak? Batuk? Kakak sakit?]


Anika beruntun menanyakan keadaan kekasihnya.


[Dimas baik-baik saja!]


Deg! Jantung Anika berpacu lebih cepat.


[A...ayah?]


Suara Anika terputus-putus.


[Heum! Jadi, apa ada yang ayah tak tahu?]


Ayah Anika menengok ke belakang, ke arah Dimas tentunya. Sedang dua laki-laki yang ada di samping Dimas hanya menahan tawanya. Ya, Seto dan Febri ada di samping Dimas. Ayah Anika yang tak lain ayah sakti itu sengaja menghubungi Anika setelah mendapat aduan dari sakti yang mengatakan bahwa anak bungsunya berpacaran dengan salah satu ajudannya.


[Ayah? Eum...!]


[Nanti, kamu pulang di jemput sama ajudan baru ayah! Mulai sekarang, Dimas yang akan ikut ayah dinas]


[Yah....!]


Panggilan itu pun terputus.


"Febri!"


"Siap!"


"Mulai hari ini , tugas Dimas kamu ambil alih. Dan Dimas, ikut saya!", kata ayah Anika.


"Siap!", sahut Febri dan Dimas bersamaan.


Setelah sang jendral masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba Seto dan Febri tertawa lepas.


"Seneng Lo pada?", tanya Dimas. Tapi Febri dan Seto malah semakin tak tahan untuk tidak menertawakan sahabatnya.


"Tenang, gue masih setia nunggu cintanya suster Naya, Dim. Dan gue rasa, Febri juga masih nunggu jandanya Bia kan? Walopun paling ujung-ujungnya ntar bersaing sama mas Sakti. Wkwkwkwkkk!"


"Lambemu Kuwi....!", kata Febri kesal pada Seto. Padahal tadi mereka menertawakan Dimas.(Mulutmu itu ...)


"Ora usah ngeledek aku cah! Koen ga eling, suster Naya ga gelem karo koe. Kelasnya suster Naya iku dokter Sakti, duduk koe!", balas Dimas.


(Ngga usah meledek. Kamu ngga inget, suster Naya ngga mau sama kamu. Kelasnya suster Naya itu dokter Sakti, bukan kamu)


Akhirnya ketiganya malah ngakak bersama-sama. Tanpa mereka sadari, ternyata atasannya mendengar obrolan mereka bertiga. Sang jenderal hanya geleng-geleng kepala dari balik pintu.


*****


Masih nulis eps selanjutnya ya 😁


sambil nunggu ini Up, boleh mampir ke sini dulu. Yang ini cuma 20 eps. Bisa baca maraton kok heheheh


Ini pertama kali mamak nulis dan di kontrak sama Novel toon. Jadi harap maklum ya, hehehe


Percaya diri dikit boleh lah ya 😅😅😅😅


Makasih 🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2