
Alby baru saja turun dari ojek yang berhenti di depan rumah berpagar keliling putih. Tangannya langsung mendorong pintu pagar, setelah itu ia menapaki pijakan berbentuk batu tipis yang mengarah ke teras rumah.
Rumah orang tua Bia tampak sepi. Siapa pun tidak akan menyangka jika rumah itu telah lama tak di huni.
"Eh ... bojone mbak Bia toh?", sapa seseorang yang ada di sebelah rumah Bia.(Suaminya Bia?)
"Iya buk!", sahut Alby ramah tak lupa ia menyunggingkan senyumnya.
"Sopo yuk?", tanya perempuan yang ada di belakang tetangga Bia.
(Siapa mba?)
"Iki lho, bojone Bia. Ganteng'e rek!",sahut ibu itu.
(Ini lho suaminya Bia, ganteng ya)
Alby yang merasa di 'omong' pun mengangguk dan tersenyum tipis.
"Maaf Bu, kira-kira tahu nggak Bia ke mana? Rumahnya sepi!"
"Oh...kayanya di warung mas", sahut ibu itu.
"Oh... ya sudah terimakasih ya Bu. Kalo gitu saya langsung ke warung saja. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam, Iyo mas!", sahut ibu itu.
Alby pun berjalan menyusuri jalan yang mengarah ke warung. Dia jadi ingat masa-masa pengantin baru saat berdua dengan Bia melewati jalan ini. Niat hati ingin memberikan kejutan pada sang istri, tapi dia malah tak bertemu dengan istrinya.
.
.
Sementara itu di kantor kelurahan....
"Pak, pihak HS Group ingin bertemu langsung dengan ahli waris yang menolak pembebasan tanah. Bagiamana pak?", tanya orang kepercayaan Anton.
"Mereka masih berusaha meloby?", tanya Anton.
"Sepertinya mereka memang benar-benar menginginkan tanah tersebut. Soalnya, sudah dua bulan terakhir ini proyek pembangunan di berhentikan sementara."
"Kamu tahu kan, siapa ahli warisnya?", tanya Anton. Orang kepercayaan Anton pun mengangguk.
"Bagaimana bisa saya merayu Bia dan Sarman untuk setuju dengan pembebasan tanah itu. Bia saja tidak ingin bertemu apalagi bicara membahas seperti ini!", Anton meletakan kedua tangannya di dagu.
"Lewat ibu mungkin?", tanya orangnya Anton. Anton menatap tajam pada asistennya itu.
"Kamu meledek saya apa bagaimana? Kamu tahu dari dulu hubungan kami tidak baik dengan Bia."
Asisten Anton menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu, saya harus bilang apa pada pihak HS grup?"
"Ya sudah, kita bertemu mereka. Tapi soal Bia dan Sarman setuju atau tidak, itu biar pihak HS sendiri yang menangani."
"Baik pak. Kalau begitu, saya hubungi pihak HS secepatnya."
__ADS_1
"Ya!", sahut Anton singkat.
"Saya permisi pak."
Anton mengangguk pelan.
.
.
"Mba Bia, ngomong-ngomong mas Alby kok ga Melu mudik?", tanya Rina padaku. Kami berdua sudah dekat dengan warung ku.
(Ikut mudik)
"Kerja Rin!", jawabku singkat. Ya gimana nggak? Masa iya aku harus menceritakan semua yang sedang aku alami pada Rina.
"Oh, kerja mang ndi Saiki? Jeh Nang pabrik iku Tah...opo arane Astralll?", tanya Rina.
(Kerja dimana sekarang? Masih di pabrik itu kah?)
"Ga Rin."
Rina hanya mengangguk. Aku dan Rina masuk ke dalam warung yang cukup ramai di musim liburan anak-anak sekolah.
"Mba Bi!", panggil anak kecil, yang tak lain suara Esa.
Aku pun menengok ke arah yang memanggil ku. Esa duduk di bangku bersama teman-temannya lalu melambai ke arahku.
Aku tahu, Esa tidak bersalah di sini. Tapi entah kenapa aku masih enggan mengakui dia itu adikku sendiri.
"Rina ke kamar mandi dulu ya mbak. Kebelet ih!", kata Rina sedikit berlari menjauh menuju kamar mandi yang ada di belakang. Mau tak mau aku pun menghampiri Esa dan teman-temannya.
"Iki lho, mbak ku. Namanya Mba Bia. Ayu toh?", kata Esa memperkenalkan aku pada teman-teman seusianya. Aku tersenyum tipis.
"Mirip Ambi awakmu Yo Sa?", celetuk teman perempuan Esa.(Mirim sama kamu)
"Hooh rek, koyo potocopian. Gur mba Bia muka cewe, kamu cowok Sa!", sahut yang lain. Esa tampak cengar-cengir mendengar pujian temannya itu.
Pengen rasanya aku ketus pada Esa. Tapi melihat ia begitu senang memperkenalkan aku pada teman-temannya membuat ku tak enak. Aku masih punya hati nurani.
"Mba Bia, katanya mba Bia tinggal di Jawa barat ya? Baru pulang? Soalnya pas sunatan Esa kemarin, kayanya mba Bia ngga keliatan?", tanya teman Esa.
"Iya." Aku menyahut singkat. Esa menarik tangan ku.
"Lungguh'o kene mbak."
(Duduk sini mbak)
Dengan setengah hati aku ikut duduk di antara bocil-bocil ini.
"Mba, mas Alby ga melu mulih opo?", tanya Esa. (Mas Alby ngga ikut pulang)
Belum sempat ku jawab, ada tangan melingkar di bahuku. Mau tak mau aku pun mendongak menatap siapa yang berani memelukku. Apalagi di depan anak-anak seusia Esa.
"Neng!", sapa Alby lalu mengecup puncak kepalaku.
__ADS_1
Aku pun berdiri.
"Aa iraha kadieu?", tanya kaget. Aku pikir dia hanya main-main saat bilang aku disuruh menunggunya.(Aa kapan ke sini?)
"Tadi pagi neng."
Alby menengok ke arah bocah yang begitu mirip dengan istrinya.
"Ini Esa ya?", tanya Alby. Esa dan teman-temannya melongo.
"Esa?", Alby melambaikan tangannya ke depan wajah Esa.
"Eh... iya, mas Alby?", tanya Esa. Alby mengangguk dan tersenyum.
"Kamu udah besar ya Sa!", kata Alby. Esa mengangguk kikuk.
"Ibu, apa kabar?", tanya Alby pada Esa. Aku yang mendengar Alby menanyakan ibuku menjadi semakin kesal karena kehadirannya di sini.
"Alhamdulillah, sehat mas. Mas Alby baru nyusul mba Bia ke sini?"
"Iya, ada pekerjaan Sa."
Esa mengangguk.
"Ya udah, esa makan aja dulu sama teman-temannya. Mba sama mas Alby masuk ya!", kataku sambil menarik tangan suamiku agar menjauh dari Esa dan teman-temannya itu.
"Neng, Aa kangen banget sama Neng. Kenapa telpon Aa ngga di angkat? Wa Aa ngga di bales?", cerocos Alby.
Aku tak menyahuti ucapan Alby. Kami berdua langsung masuk ke dalam ruangan khusus. Tanpa ku sadari, ternyata ada lek Sarman yang sedang mengecek pembukuan warung.
"Jawab neng? Sebegitu marahnya kamu sama Aa sampe ngga mau angkat telpon Aa? Niat banget kamu pisah dari Aa? Iya?", Alby mencengkram bahuku.
"Aa egois tahu ngga!"
"Aa tahu aa salah. Tapi kamu kan tahu Neng, Aa cuma cinta sama neng!", kata Alby lagi.
Tiba-tiba saja, Lek Sarman menghampiri kami dan menonjok rahang Alby hingga badannya terhuyung.
"Ahhhh....!", pekik ku sambil menutup telinga ku.
"Masih punya nyali kamu nemuin Bia hah!", bentak lek Sarman yang kalap dan kembali memukul Alby.
"Stop lek...udah ...!", aku menarik badan lek Sarman yang tinggi besar itu.
"Apa yang lek lakukan ngga seberapa di banding dia yang udah nyakitin kamu Nduk!", kata Lek Sarman terengah-engah menahan emosinya.
"Iya lek. Tapi tangan pakai kekerasan. Tolong lek!", kata ku berusaha melerai mereka.
"Pergi kamu, jangan ganggu keponakan ku lagi. Dan satu lagi, kamu boleh menemui Bia jika kamu sudah setuju untuk melepaskan Bia. Camkan itu!", hardik Sarman di depan wajah Alby yang babak belur. Lek Sarman menyeret ku keluar dari ruangan itu. Dengan sedikit kasar lek Sarman membawaku menuju rumah nya yang tak jauh dari warung.
"Lek....!", panggil ku pelan.
"Ngga usah ngomong! Sekarang kamu masuk. Ngga usah pulang ke rumah dulu. Kamu disini saja!", kata lek Sarman padaku setelah ia membawa ku masuk ke rumahnya.
Aku hanya mampu menghela nafas ku lalu duduk di sofa ruang tamu minimalis ini.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang Alby lakukan di sini? Benarkah dia ingin memperjuangkan ku?