
Acara resepsi pernikahan putra seorang jenderal besar yang berprofesi sebagai dokter spesialis dan memperistri kalangan biasa menjadi trending topik yang hangat di perbincangkan para tamu undangan.
Banyak yang menyayangkan keputusan seorang Galang yang merestui pernikahan itu, tapi banyak pula yang kagum pada sosok jenderal besar tersebut yang tak pernah memandang kasta.
Di tengah kemeriahan pesta pernikahan, seorang perempuan yang memakai gamis lebarnya mendatangi pesta pernikahan Sakti dan Bina.
flashback on
Awalnya, ada kesulitan saat akan masuk ke ballroom karena ia tak membawa undangan. Tapi ada sahabat Sakti, yakni Bram yang mengenal perempuan itu.
"Bia kan?", tanya Bram.
Aku menengok ke arah orang tersebut. Lalu mengangguk pelan. Di samping ku ada bapak Anton dan juga Esa. Sebenarnya ibuku dan Wibi ikut, kami memang berkunjung ke rumah Oma Marini. Jadi, lek Sarman mengijinkan aku menghadiri pesta pernikahan Sakti dan Bina.
"Iya, mas tahu saya?", tanyaku. Bram tersenyum tipis.
"Kamu lupa sama saya? Bram!", Bram mengulurkan tangannya pada ku. Tapi aku menakupkan kedua tanganku. Bukan sok alim, tapi aku sedang berusaha untuk belajar agar tak bersentuhan dengan yang bukan mahram.
Bram pun menarik tangannya kembali dan menirukan hal yang sama seperti ku.
"Bram, teman sakti yang di resto Xxx!"
Aku mengangguk, ingat pada sosok itu yang kini terlihat lebih berisi. Mungkin karena sudah berkeluarga.
"Ah, iya mas Bram. Maaf saya lupa mas. Udah lama ngga ketemu, mas Bram juga em...beda!"
"Bilang aja gendut gitu!", kata Bram terkekeh. Aku mengangguk tipis dan membalas senyumannya.
"Jadi, gimana ini nduk? Kita boleh masuk atau tidak? Kalo tidak ya kita balik ke rumah Oma saja!", ajak Anton.
"Ah, iya. Mas Bram, kita ngga bisa masuk karena ngga ada undangan ya? kalo gitu kami pulang saja ya!", kataku.
"Eh, jangan! Boleh lah! Kamu sama siapa Bi? Suami...mu?", tanya Bram pelan.
Aku tersenyum tipis.
"Oh iya lupa, beliau bapak ku dan ini adikku!"
Bram menyalami Anton dan Esa.
"Ini adik kamu? Mirip banget Bi?", tanya Bram. Dan aku hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Pak, ijinkan teman saya masuk. Mba ini sahabat mempelai kok. Saya yang bertanggung jawab!", ujar Bram.
"Baik pak Bram!", sahut penjaga pintu ballroom. Akhirnya kami bisa masuk.
flashback off
Aku menggandakan tangan Esa, bapak berjalan di belakang ku. Aku cukup minder berada di sini. Mereka orang-orang berkelas, berbeda dengan ku. Lihat lah, betapa glamornya tamu di pesta ini. Sedangkan aku? Hanya pakaian sederhana yang sedang ku coba pakai setiap hari.
Aku melihat Sakti dan Bina berdiri di pelaminan. Mereka nampak serasi sekali. Tampan dan cantik tentu nya. Bina perempatan beruntung yang bisa bersanding dengan laki-laki sebaik Sakti. Eh, mungkin keduanya sama-sama beruntung. Saat aku berjalan, tiba-tiba saja aku tak sengaja bersenggolan dengan seseorang.
"Eh...maaf!", latahku.
__ADS_1
"Ngga apa-apa mba, saya yang salah", ujar orang itu. Tapi detik berikutnya kami sama-sama tersenyum.
"Bia?", pekik Seto.
"Mas Seto!", sapaku.
"Masyaallah, ngga nyangka ketemu lagi di sini. Katanya ngga bisa Dateng, Mas sakti sama Febri sempet galau lho. Wah, ini kejutan."
Aku tak heran, memang karakter Seto seperti itu.
"Kebetulan kami sekeluarga sedang mengundang keluarga yang ada di sini, makanya...aku bisa sampai ke sini."
"Oh, kirain sekte kalo belum selesai masa Iddah ga bisa kemana-mana!", tanya Seto.
"Bukan sekte mas Seto, ya Allah. Memang sebaiknya seperti itu. Tapi aku kan ngga sendirian. Ini sama adekku, bapakku dan sebenarnya ada ibuku dan adikku satu lagi cuma ya ngga bisa ikut ke sini."
Seto manggut-manggut, lalu menunduk hormat pada Anton saat Bia memperkenalkan pria yang belum terlalu tua itu adalah bapaknya.
"Adikmu Bi? Mirip banget ya?", tanya Seto.
"Kamu orang yang keseratus yang bilang kaya gitu mas!", ujarku.
"Hahaha bisa aja. Ya udah Bi, mumpung lagi sepi tuh. Kamu samperin deh mas Sakti sama Bina. Pasti dia bakalan girang banget kamu datang ke sini!", kata Seto hiperbola.
"Lebay deh ah, ngga segitu nya juga kali mas Seto!"
Setelah berbasa-basi dengan Seto, aku menggandeng Esa dan bapak di belakang ku menuju ke pelaminan.
Benar kata Seto, sakti tertawa begitu lebar saat aku dan Esa melangkah ke arah sana.
Senyum nya semakin lebar.
"Kamu ngeprank aku ya Bi?", kata Sakti. Aku tak tahan untuk tidak tertawa melihat ekspresi wajahnya yang seperti anak kecil.
"Ngga mas. Hanya saja kebetulan, kami sekeluarga sedang ada urusan di rumah kerabat kami."
Sakti mengangguk.
"Selamat ya mas Sakti, mba Bina! Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah."
"Terimakasih Mba Bia!", sahut Bina.
Benarkah mas Sakti sudah bisa move dari Bia??? Batin Bina.
"Makasih lho Bi, serius aku ngga nyangka kamu bisa sampai ke sini."
"Anggap aja kejutan mas, ini juga karena bapakku jadi, lek Sarman mengijinkan ku ke sini."
Mata Sakti beralih pada Anto dan Esa. Sakti bersalaman dengan Anton dan Esa.
"Ini adik kamu Bi?", tanya Sakti.
"Jangan bilang kalo Esa mirip banget sama aku, kalo sampe bilang kaya gitu, entah kamu orang ke berapa mas!", kataku malas.
__ADS_1
"Hahahah! Bisa aja!", ujar Sakti.
Entah kenapa aku merasa ia menatapku begitu dalam, padahal...aku sedang mencoba membatasi diriku sendiri. Entah itu pandangan atau sentuhan dengan lawan jenis. Tapi... perlahan mungkin...
"Aku senang liat kamu ketawa lagi seperti ini Bi. Udah ya, jangan sedih dan nangis lagi. Oke?", kata Sakti sambil mengusap kepala ku. Aku menjadi tak enak sendiri karena ulah Sakti. Tak enak pada istri nya dong!
Tapi Bina justru tersenyum.
"Aku ngga cemburu kok mba Bia!", celetuk Bina. Sontak aku melebarkan mataku. Benarkah?????
"Buat mas, kamu itu sudah seperti adik mas sendiri Bi. Janji ya jangan sedih lagi!"
Aku mengangguk lalu aku memeluk....Bina!
"Lho, kok bina yang di peluk Bi? bukan aku?", tanya sakti.
"Maaf mas, bukan mahram!", jawabku. Sakti pun tersenyum tipis.
Selalu senyum ya Bi. Jangan ada air mata kesedihan seperti saat kamu bersama Alby dulu! Batin Sakti.
Usai cipika-cipiki aku, esa dan Bapak pun turun ke tempat perjamuan. Saking banyaknya stand, kami bingung mau ambil menu apa.
''Mba, esa bingung arep maem opo Iki?"
(Mba, esa bingung mau makan apa ini)
"Heum, kalo itu mau ngga? Spaghetti?", tanyaku.
"Enak ngga mba?", tanya Esa ragu.
"Kalo yang doyan mah enak Sa!", ujar bapak yang justru datang membawa nasi dan ayam entah masakan apa namanya.
"Kaya bapak aja deh!", ujar Esa.
"Ya udah,yok! Bapak tunggu di sini saja ya, biar ngga nyariin!", kata ku. Bapak pun mengangguk.
Setelah mengambilkan untuk esa, aku pun mengambil untukku diriku sendiri. Tapi, entah nih hidung kayanya mencium bau yang ku kenal. Bau parfum yang sangat ku kenal! Spontan aku menengok ke belakang ku yang ternyata sedang mengantri di belakang ku.
Mata kami saling bertemu. Aku sempat terkejut melihat sosok di belakang ku.
Dengan pelan, aku menelan salivaku. Matanya tak beralih barang sedetikpun dari mataku hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari situ.
"Neng!"
''Nduk!"
Panggilan dari orang yang berbeda tapi dengan makna yang sama!
*****
To be continue, 🤫🤫🤫🤫
Makasih ya....besok insya Allah up lagi heheheh
__ADS_1
Maaf banyak typo ya 🙏🙏🙏