
Aku mengurai pelukan ku dengan Alby. Dia menghapus jejak air mataku. Dikecupnya kedua kelopak mataku bergantian.
Sungguh, semua ini menyakitkan!
Ku dorong pelan tubuh tegap yang selama ini menemani ku. Aku mendongak menatap wajahnya sekilas.
"Talak aku A Alby!", kataku pelan. Alby menggeleng cepat. Matanya terbelalak lebar.
"Ngga. Aa ngga akan pernah melakukannya Bia. Ngga akan!!!", ucapnya tegas sambil menahan kedua pipiku.
"Aa pengen aku bahagia kan? Aa cinta sama aku kan? Jadi tolong ...lepaskan Bia A. Lepaskan!", kataku. Aku tergugu lagi usai mengucapkan kalimat itu.
"Dengar sayang! Dengar Aa! Aa tahu, Aa egois! Tapi bagaimana mungkin Aa melepaskan istri Aa yang aa cinta Bia. Ngga bisa!"
"Tapi kamu juga ngga bisa melepaskan Silvy kan? Maaf A!", aku menakupkan kedua tangan ku.
Aku memundurkan diri dari depan Alby hingga dua atau tiga langkah.
"Maaf! Aku bukan barang yang bisa di pilih. Aku mundur A. Aku benar-benar tidak sanggup untuk berbagi A. Sungguh!"
"Tapi cinta Aa cuma buat neng seorang!"
"Tapi waktu dan tubuh Aa nggak! Cukup A! cukup! Kita selesaikan sampai di sini! Cukup A ...cukup!", badanku luruh ke lantai.
"Sampai kapan pun, kamu istri ku!", Alby mengangkat wajahku. Di raihnya benda kenyal yang ada di wajah ku. Dia menarik ku kasar hingga ke ranjang kamar hotel tempat ku menginap.
"Lepas A!", bentakku. Tapi Alby tak menghiraukan ku.
"Kamu menyakiti ku dan anak kita A!", teriakku tepat saat dia menenggelamkan kepalanya di leher ku.
Ucapanku mampu menghentikan kegilaannya yang ingin melampiaskan emosinya lewat bercinta.
"Kamu boleh sakitin aku A. Tapi jangan anak ku!", aku terisak.
Alby turun dari atas tubuhku. Badannya terjatuh di samping ku. Ia meraih ku dalam pelukannya.
"Maaf! Maafin Aa. Aa ngga akan memaksa seperti itu lagi. Tapi tolong! Tolong jangan pernah mengatakannya lagi. Aa ngga bisa melepaskan Bia. Aa cuma cinta sama Bia!", Alby terisak di samping ku.
Kami sama-sama terdiam. Larut dalam pikiran kami masing-masing.
"Bia mau pulang A. Bia ngga mau di sini!",kataku lirih. Alby memelukku erat.
"Ya, Bia di kampung. Aa ngga akan maksa neng di sini. Aa janji akan sering pulang. Buat neng, buat utun!"
Dia mengusap perut ku yang sedikit menonjol. Alby bangkit lalu menciumi perut ku lagi. Dia mendongak menatap wajah ku.
"Aa ingin Neng. Tolong jangan halangi Aa. Aa janji akan pelan-pelan. Aa ngga akan menyakiti kalian!", ucap Alby lirih.
Belum ku jawab apakah aku setuju atau tidak, dia sudah memulai meminta haknya.
(Jangan ngamuk ya Mak reader's 😅😅😅😅😅)
.
.
.
Dua pria tampan beda profesi saat ini tengah duduk di sebuah kafe. Pria berpakaian loreng dan pria berkemeja rapi yang tak lain Febri dan Sakti sedang menikmati kopinya.
"Bia ngga jawab telpon ku!", Febri mengadu pada Sakti.
__ADS_1
"Sama!", sahut Sakti singkat.
Keduanya sama-sama tersenyum masam. Konyol bukan????
"Lucu ngga sih kita kaya begini?",Febri meletakkan gelas nya di meja setelah ia menyesap nya tadi.
"Ya, benar-benar bodoh! Masih saja ya kita ngarep bini orang. Padahal belum tentu juga kalo Bia pisah dari Alby bakal pilih salah satu dari kita."
"Itu dialog siapa di episode sebelumnya?", tanya Febri. Sakti langsung melotot tajam pada sahabat barunya itu. Sedangkan Febri hanya terkekeh.
"Gue ngga nyangka aja gitu. Bisa-bisanya kita terjebak sama cinta lama kita."
"Heum! Namanya juga cinta, ga pilih-pilih kali mau jatuh ke hati yang mana."
"Njir, serem banget bahas Lo Sak!"
"Heheheh menghibur diri lah Feb."
"Kalo Dimas ngga bilang sama gue, mana gue tahu apa yang terjadi di sana. Ngga inget tugas, gue samperin tuh istri orang. Gue bawa balik ke sini!"
"Halah! Lagak Lo Feb! Ga sah ngadi-ngadi! Sok-sokan mau belain Bia. Liat si Alby aja Lo milih ngalah kok."
"Bukan ngalah Sak, gue cuma sadar diri. Sorry-sorry to say! Gue bukan pebinor ya."
"Yakin?", Sakit memicingkan matanya.
"Ga usah nuduh gue gimana-gimana. Lo ngga nyadar diri juga kalo Lo tuh ngarepin Bia pisah kan?"
"Sssstttt... Lo kalo ngomong suka bener!", celetuk Sakti lalu menyesap kopinya.
"Btw...Ika bisa gitu bersikap kaya gitu di acara nikahan sahabatnya?"
"Dimas yang cerita?", tanya Sakti.
"Sebenarnya gue kurang setuju sih sama sikap Ika. Dia udah kelewat ikut campur. Tapi ya balik lagi. Mungkin dia kecewa sahabat nya bisa melakukan hal serendah ini. Apalagi merebut suami orang yang jelas-jelas tuh orang ga mau sama dia. Pemaksaan!"
"Dipaksa tapi ujung-ujungnya mau kan ????"
"Mana gue tahu Feb!"
"Ika cerita kemarin, sebelumnya Silvy pacaran sama siapa gitu. Tapi dia di selingkuhi sama pacarnya yang ternyata malah macarin sahabat nya. Harusnya itu jadi bahan instrospeksi diri buat Silvy, eh...malah dianya yang jadi pelakor."
"Gue sih ga peduli sama cewek itu. Yang gue heran, kenapa Bia yang jadi korban disini."
"Ya gimana, udah jalan cerita nya begini!", sakti menyesap kopinya lagi.
.
.
Aku bangkit dari tempat tidur. Alby masih tertidur lelap di sampingku. Mungkin dia lelah dengan pergulatan kami yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku bergegas mandi lalu ku dirikan kewajiban ku.
Hampir setengah enam, aku selesai solat. Biasanya, aku akan membangunkannya untuk mandi atau solat. Tapi itu ketika keadaannya belum seperti ini.
Kali ini, mungkin aku akan sangat berdosa. Tak mengingatkannya untuk beribadah. Tapi, aku sengaja agar ia tak tahu jika aku akan pergi sebelum dia bangun.
Kuraih tas kecil ku. Tak lupa ponsel serta dompet dan semua isinya.
Kupandangi wajah lelahnya. Tampan! Alby ku memang sangat tampan!
Ku kecup keningnya untuk beberapa saat. Ada pergerakan kecil dari Alby. Tapi tak membuatnya terbangun.
__ADS_1
Aku pun keluar dari kamar hotel ku. Mencari taksi setelah aku berada di loby hotel.
"Stasiun Senen ya pak!", kataku pada supir taksi.
"Siap bu!", jawab supir itu. Aku meraih ponsel ku. Nama Lek Sarman yang akan ku hubungi.
[Assalamualaikum Lek]
[Walaikumsalam. Piye nduk? Tumben telpon lek mu? Lagek eling toh?]
(Gimana, tumben telpon pamanmu, sedang ingat ya?)
[Sepurone Yo lek!]
(Maaf ya paman)
Aku sedikit terisak. Tapi aku yakin lek Sarman mendengar isakan ku.
[Kenek opo? Lha po nangis?]
(Kenapa? Kok nangis?)
[Bia muleh lek. Nyuwun sewu, rumah bapak masih bisa di pake kan lek?]
[Koe muleh nduk? Ya masih lah. Rumah bapak mu masih bersih, masih bagus pokoke]
[Alhamdulillah!]
[Muleh ambi Alby toh?]
[Ora lek. Bia sendiri]
Sarman yang merasa heran pun tak ingin bertanya macam-macam. Mungkin nanti kalo si Bia sudah ada di rumah.
[Yo wes. kapan sampe sini?]
[Mungkin besok siang. Bia baru mau ke stasiun]
[Yo wes. Hati-hati! Nanti kalo sudah sampe stasiun sini, telpon lek mu Yo. Biar bisa jemput.]
[Iyo lek. Yo wes Yo. Assalamualaikum!]
[Walaikumsalam!]
Panggilan kami terputus. Ya, aku memang ingin mudik ke kampung halaman ku. Sebenarnya aku malas jika nanti di sana aki bertemu dengan ibuku dan anak-anaknya. Tapi.... terpaksa aku harus ke sana untuk menanyakan berkas apa saja yang harus ku siapkan untuk menggugat cerai Alby.
Mataku menatap jalanan ibu kota. Sudah lima belas menit berlalu azan Magrib berkumandang. Hampir jam tujuh malam, taksi masuk ke area stasiun. Usai membayar ongkos taksi, aku pun masuk ke stasiun. Aku segera mencari mushola sebelum aku benar-benar tertinggal waktu magrib.
Setelah istirahat beberapa waktu, aku Kabah menuju loket. Membeli tiket untuk hari ini. Beruntungnya, aku mendapat tiket untuk keberangkatan nanti jam satu malam.
Masih ada banyak waktu untuk ku menunggu jadwal kereta ku. Aku memilih menuju kafetaria yang ada di stasiun. Sekedar mengisi perut ku yang kosong. Meski aku hanya diam tanpa perlawanan saat Alby meminta haknya, nyatanya aku tetap merasa lelah dan lapar.
Ku ambil lagi ponsel ku yang ada di tas kecil.
Nama Alby mendominasi panggilan ponselku. Aku yakin dia sangat bingung saat aku tak ada di sampingnya lagi.
*****
Segini dulu ya gaes 🙏🙏🙏 maap kalo mengecewakan kalian 😋. Mamak juga lagi ngegarap judul on going yang lain.
Kalo berkenan mampir pun boleh kok, mangga....!!!
__ADS_1
Judulnya, Menikahi mantan kekasih ibu tiriku.
Makasih semua yang udah mampir sini ya!!! 🙏🙏🙏🙏🙏