Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 119


__ADS_3

"Malvin?", sapa ku balik.


"Lo abis jenguk Alby sama Silvy mbak?"


Lo gue??? Ah, ya aku lupa. Harusnya aku paham bocah model Malvin.


Kalo di lihat-lihat mba Bia jauh lebih cantik ke mana-mana di banding Silvy! Batin Malvin. Tapi secepatnya ia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa geleng-geleng gitu?", tanyaku.


"Ngga mba. Lo abis nengok mereka berdua mba? kok nangis?", tanya Malvin.


"Ngga. Siapa yang nangis!", kuusap sisa air mataku di pipi.


"Bisa ngga kita ngobrol berdua!"


''Bukannya kamu mau jenguk mantan kamu di dalam?", tanyaku.


"Tadi nya iya, tapi liat Lo Mba gue berubah pikiran."


"Maaf, kayanya kita ga ada urusan apa-apa."


"Mba, gue cuma mau bantu Lo biar Alby tetep sama Lo. Dan Silvy lepasin Alby!"


Aku terdiam beberapa saat.


"Ngga usah repot-repot! Kami bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuan kamu Vin. lebih baik kamu fokus sama pendidikan mu!"


Aku melangkahkan kaki ku.


"Apa Lo rela mba? Lo rela kalo suami Lo yang Lo cinta lebih milih cewek yang udah tidur dengan cowok lain sedangkan status nya masih sah istri kedua suami Lo? Lo rela suami Lo berbagi tubuh istrinya dengan orang lain?"


Deg!!!!


Aku mengurungkan langkah ku setelah itu berbalik badan menatap wajah Malvin.


"Maksud kamu apa?"


Malvin menggandeng lenganku tiba-tiba. Dari kejauhan dia pria yang dari tadi ngobrol tak penting itu melihat perempuan pujaannya di tarik laki-laki asing. Keduanya langsung beranjak mengikuti Bia dan Malvin.


"Apa-apaan ini? Lepasin! Ngga sopan kamu Vin!"


"Lagian mba Bia susah banget mau di ajak bicara! Aku cuma mau bantu mba buat pertahanin rumah tangga mba Bia sama Alby. Itu aja mba!"


"Tapi ngga usah tarik-tarik tanganku juga!"


Akhirnya Malvin melepaskan tangan nya dari lenganku.


Bersamaan pula dengan Febri dan sakti yang menarik pundak Malvin.


"Eh....eh...eh....!", jutsru aku yang kaget di buatnya.


"Apaan sih?", sergah Malvin sambil melepas tangan asing dari kedua bahu nya.


"Kamu yang apaan!", kata Febri datar. Aura nya sudah berbeda. Serem....


"Jangan kasar sama perempuan!", sahut sakti tak mau kalah.


"Mereka siapa sih mba?", tanya Malvin.

__ADS_1


Aku menghela nafas.


"Mas Febri teman aku sekaligus ajudan ayahnya Anika, dan itu dokter sakti kakaknya Anika!", jawabku.


Malvin sedikit terkejut melihat dokter sakti. Yang ia tahu selama ini Anika hanyalah gadis dari kalangan biasa. Bagaimana mungkin dia punya kakak dan ajudan segala.


"Cah Iki sopo toh nduk? Plonga-plongo!"


(Anak ini siapa)


"Iki Malvin mas, mantan pacarnya Silvy!"


"Oohh....!", kedua pria gagah itu ber'oh' ria. Kompak sekali ya keduanya?


"Jadi, dia keponakan bapak yang kamu bilang itu Nduk?"


"Heum!", sahutku singkat. Febri mendengar aku bercerita dengan Anika waktu cari kos kemarin. Tapi sakti yang belum tahu ceritanya memilih diam.


"Kalo mau ngajak ngobrol, ngga usah maksa atau narik tangan begitu. Ngga usah kasar!", kata Sakti membuka suara nya lagi.


"Gue cuma mau ngajak mba Bia ngobrolin hal penting. Tapi dia nya ngga mau."


"Kalo ngga mau ya ngga usah di paksa dong!", tiba-tiba Anika datang ditemani Dimas.


Sakti dan Febri heran, kok Dimas yang bersama Anika. Bukan Seto???


"Mbakku, udah sehat? Maaf baru sempet jenguk! Aku sibuk di kampus mba!", rengek Anika manja di lengan ku.


"Alhamdulillah, mba udah sehat dek!"


Malvin menatap heran pada mantan sahabatnya itu. Kenapa dia bisa begitu akrab dengan Bia.


"Ngapa Lo maksa mba Bia ngomong sama Lo? jangan bilang, Lo mau godain mba Bia karena mba Bia lebih cantik dari mantan Lo!", tuding Anika pada Malvin.


"Ciiih... sorry sorry to say! Lo bukan selera gue? Nih, cowok gue! Jauh lebih baik dari pada Lo!", Anika berpindah nemplok ke lengan Dimas.


Aku memijat pelipisku yang mendadak pening dengan situasi di depan ku.


"Dek!", panggil sakti penuh penekanan. Spontan, Anika melepaskan tangan nya dari Dimas. Febri dan Dimas mencoba menahan tawanya.


"Emang Malvin mau ngomong apa sih vin? Dan apa maksud omongin mu tadi?", tanyaku kembali fokus pada ucapan Malvin.


"Gue mau nya ngomong sama Lo mba. Ngga mau mereka denger! Rahasia!", kata Malvin.


"Lo ngga usah macem-macem ya Vin!"


"Adek!", kata Sakti lagi pada Anika.


"Ya udah, oke! Kita bicara sebentar! Tapi setelah ini, aku mau pulang ke kosan ku!"


"Ngapain ke kosan? Kenapa ngga ke rumah Oma. Oma ku kan Oma Lo juga!", tawar Malvin.


"Eh, bocah! Lama-lama kamu ngeselin ya!", kata Febri.


"Apa sih Feb, cemburu Karo bocah cilik!", ledek Dimas. Malvin menoleh ke arah Dimas.


Cemburu?Jadi, tentara ini punya sesuatu gitu sama Bia?


"Mas Dimas, udah! Oke, kita bicara Vin. Tapi tidak di sini!", kataku pada akhirnya. Aku menyesal setelah menolak ajakan Malvin justru malah memperkeruh suasana di lorong rumah sakit ini. Untung Alby tak turut keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Ya udah, kita tunggu di loby deh mba. Nanti aku sama kak Dimas yang anterin mba Bia ke kosan."


Aku mengangguk.


"Iya dek! Mba mau bicara sebentar sama Malvin."


"Tenan koe nduk muleh ambi Dimas Ika?", tanya Febri.


(Bener kamu nduk pulang sama Dimas Ika?)


"Iya mas. Kalo mas mau maksa ikut, ya terserah!", kata ku.


"Aku juga ikut!", sakti tak mau kalah. Aku larang mereka mati-matian pun ujung-ujungnya mereka bakal maksa juga.


"Mba Bia, kayanya sekali pun Lo cerai dari Alby dua cowok itu siap menantikan jandamu mba!", Malvin tersenyum devil.


"Ngga usah bicara macam-macam!"


"Kalo ngga inget rencana sih mba, gue juga mau antre kaya mereka!", sahut Malvin santai. Sontak ucapan nya itu membuat dua pria itu blingsatan.


"Udah bercanda nya? Jadi ngobrol ngga? Kalo ngga, aku mau pulang!", ancam ku pada Malvin.


"Oke! ayo!", ajak Malvin padaku.


Febri,Sakti, Dimas dan Anika memilih menjauh dari keduanya menuju loby. Sedikit lebih jauh dari kamar Alby, Malvin mengajak ku duduk.


Setelah kami sama-sama duduk, Malvin kembali ke mode seriusnya.


"Silvy tidur sama gue mba, beberapa hari yang lalu!", kata Malvin tiba-tiba. Wajah selengekan tadi sudah berubah.


"Silvy mabuk dan gue ngga bisa bawa dia balik ke rumah dalam keadaan mabuk parah saat itu. Selain karena gue takut om Tama marah, gue juga ogah ketemu suami Lo mba!"


Aku tidak mengomentari cerita Malvin.


"Gue tidur sama Silvy di hotel."


"Urusannya sama aku apa?", tanyaku. Malvin menoleh tiba-tiba padaku.


"Mba rela suami mba lebih milih cewek yang ngga setia sama suaminya, suami Lo?"


"Vin, itu urusan rumah tangga mereka. Bukan urusan ku lagi."


"Tapi gue ngga yakin Lo udah ngga cinta sama suami Lo! Apalagi anak yang Lo kandung...."


"Aku keguguran Vin. Jadi, ngga ada alasan apa pun buat ku mempertahankan hubungan kami. Alby akan mendapatkan anak, dari Silvy. bukan aku!", aku bangkit dari bangku.


"Mba..."


"Makasih kamu udah mau peduli Vin, padahal kita hanya saudara jauh. Dan juga kita baru saling mengenal satu sama lain. Tapi ..."


Aku menarik nafas ku pelan-pelan.


"Aku merelakan Silvy untuk Alby!", kataku sambil berlalu meninggalkannya.


"Tapi Lo berhak bahagia Mba. Biar Silvy menjadi urusan gue. Semua ini berawal dari ulah gue!"


Aku menghentikan langkahku.


"Gue masih cinta sama Silvy mba!", kata Malvin.

__ADS_1


Aku memutar badanku.


"Setidaknya, melihat orang yang kamu cintai itu bahagia ada rasa bahagia juga dalam hati kamu Vin!", detik itu juga aku benar-benar menjauh dari Malvin. Aku menuju ke loby. Dimana teman-teman ku sudah menunggu.


__ADS_2