
Sakti tak berhenti mengulas senyum sejak pulang dari rumah Sabrina. Ia tak pulang ke rumah Galang melainkan ke apartemennya karena ia ada praktek pagi.
Tapi kali ini ia tidak sendiri, Febri di ajak ke apartemennya. Entah sekedar untuk curhat atau ya... berbagi kebahagiaan. Sebentar ia ingin meminta Dimas juga menemaninya, hanya saja sepertinya Dimas belum...move on dari calon istrinya.
"Habis telpon Bia?", tanya Sakti.
''Iya'', jawabnya singkat.
"Dia baik-baik aja kan?", tanya Sakti. Sambil memicingkan mata, Febri menatap sahabatnya dengan pandangan penuh selidik.
"Masih peduli Lo? heh! Udah ada Bina juga!", celetuk Febri sinis.
"Hahaha ha-lo??? Ga usah segitu nya juga kali, gimana juga gue ngga bisa serta merta lupain Bia meski sudah ada Bina."
"Terus? Maksud Lo???"
"Ya, gimana juga Bia masih ada di hati gue Feb. Tapi konteksnya sudah berbeda. Dia bisa gue anggap adik, mungkin!", sakti mengedikkan bahunya.
"Halah! Karepmu lah Sak!", Febri merebahkan diri di karpet tebal yang ada di ruang tamu apartemen Sakti. Apartemen yang tak terlalu luas tapi cukup mewah.
"Kalo habis nikah, gue boyong Bina sama mertua gue di sini aja kali ya Feb? Apa ...gue beli rumah aja?", tanya Sakti.
"Ngga tahu lah. Lo yang bakal jalanin kok."
"Lo sendiri, waktu nikah sama almarhumah istri lo, Lo tinggal di mana?", tanya sakti.
"Gue nebeng di rumah ortu gue!"
"Lha? Pangkat tinggi, kagak punya rumah Lo?", ledek Sakti.
"Ngeledek Lo! Udah lah, cuma belum sempat kita huni, istri sama anak gue keburu ngga ada."
Sakti menggut-manggut.
"Lo bikin rumah di mana?", tanya Sakti.
"Di kampung lah. Di kota kaya Lo? Beli apartemen kaya Lo? Yang ada gue di incer sama atasan-atasan gue! Gaji segitu bisa beli apartemen! Ngepet???", kata Febri merendah.
"Ga segitunya juga kali Feb!",kata Sakti.
"Gue penasaran sama Lo. Lo...sama almarhumah bini Lo gimana? Lo bilang, Lo masih cinta sama Bia? Tapi Lo bisa sampe punya anak sama dia? Heum? Mencurigaka!"
"Ngga inget Lo anak atasan gue udah gue pites Lo Sak!"
"Lho, gue cuma mau tanya doang buat usir rasa penasaran gue? Salah? ngga dong?"
__ADS_1
"Ya... terserah Lo deh. Yang jelas, setelah gue ngucap ijab qobul, gue udah pasrahin semuanya sama yang diatas. Almarhumah emang jodoh gue waktu itu. Tapi gue ngga lama berjodoh sama dia. Dan kalo ada yang tanya gimana gue ke almarhumah, ya...gue masih punya perasaan juga dong. Tiap hari sama-sama selama dua tahun kok. Bohong kalo ngga ada perasaan apa-apa."
"Heum, intinya... sebenarnya Lo cuma CLBK sama Bia?"
"Mungkin! Tapi bukan cinta lama bersemi kembali, yang tepat cinta lama belum kelar. Aisyah juga ngga gampang dapetin hati gue Sak. Butuh waktu lama buat kami jadi suami istri beneran! Ya, Lo tahu lah maksud gue apa?"
"Ya, gue paham. Tapi...pas mereka ngga ada, Lo sedih kan?"
"Ngga usah di tanya kali Sak! bukan cuma sedih, pokoknya sedih banget. Mana Aisyah dimakamin nya bareng sama anak gue. kita sekeluarga ngga ada yang bisa liat dia buat yang terakhir kalinya gegara virus itu. Sedih nya ngga bisa di gambarin Sak. Lo kan nakes, tahu dong gimana kondisi waktu wabah itu parah banget!"
"Iya....dan itu benar-benar terjadi Feb. Alhamdulillah kita sudah melewati masa sulit itu. Semoga kedepannya tidak akan pernah lagi ada wabah seperti itu. Kelak, covid19 akan jadi cerita buat anak cucu kita."
"Heum!",gumam Febri. Ternyata dia memejamkan matanya di tambah lengan tangan nya menutupi mata.
"Feb, Lo tidur?"
''Heum, kenapa? Lo masih mau curhat? Apa mau interogasi gue?", sahut Febri tanpa membuka matanya.
"Gue....ah, ngga jadi deh. Udah tidur aja!", ujar sakti. Keduanya pun terlelap dalam mimpi nya masing-masing.
.
.
Pria tampan itu membuka pintu kamarnya. Dilihatnya sang istri kecilnya sudah tertidur pulas. Usai meletakkan barang-barangnya, Alby melepaskan kemejanya lalu menuju ke kamar mandi untuk merebahkan diri.Setelah itu, baru lah ia mendirikan kewajibannya. Ia melipat sajadahnya lalu meletakkan di tempat biasa yang ada di samping meja rias Silvy.
Matanya tertuju pada sebuah buku berwarna pink, buku untuk memeriksa kandungan. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin membuka buku itu. Padahal, sekalipun dia baca isinya dia tidak akan paham isinya.
Saat akan mengambil nya, tiba-tiba kertas kecil berwarna hitam jatuh.
Alby memungutnya, terlihat sebuah foto hasil USG 4D. Ada penjelasannya juga di sana jika janin itu berjenis kelamin laki-laki.
Dengan pelan, Alby mendudukkan dirinya dibangku Silvy. Di pandanginya foto usg itu berulang-ulang.
Laki-laki? Monolog Alby. Ia kembalikan lagi foto usg itu di tempat semula. Lalu ia berjalan menuju ke ranjang untuk merebahkan diri.
Pikirannya melayang teringat akan mimpinya saat itu. Yang ada dalam mimpinya dia melihat gadis kecil baju putih. Dan memanggil Silvy, bunda!
Kalau gadis itu memanggil ku papa, berarti dia anakku kan? Tapi kenapa saat USG jenis kelamin calon anakku dan Silvy laki-laki?
Huftt! Hanya mimpi, Alby!
.
.
__ADS_1
.
"Mama!", panggil seorang gadis kecil berkolaborasi putih menarik ujung gamisku.Aku pun menoleh ke arah bawah, dimana gadis itu berada.
"Kamu cari mama kamu ,nak?", tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling yang ternyata berwarna putih semua.
Gadis kecil itu menggeleng.
"Kan, mama aku di sini! Ini!", ia meletakkan telapak tangan nya di tengah dadaku. Aku bingung di buatnya.
Tapi setelah itu, ia mengusap punggung tangan ku.
"Mama jangan nangis lagi ya.Aku juga sedih kalo liat mama nangis. Papa ngga jahat kok ma, papa sayang sama mama."
"Papa? Mama? Siapa?", tanyaku.
"Papa Alby, papaku. Mama Bia, mamaku".
Aku mencerna beberapa saat ucapannya.
"Apa aku sedang bermimpi?", tanya ku oon.
Gadis itu mengangguk.
"Iya, cuma lewat mimpi aku bisa bicara sama mama dan papa ."
"Bagaimana bisa kamu menyebut kami mama papa?"
''Itu karena aku memang anak mama papa dan...bunda Silvy."
Aku berusaha bangun dari tidurku. Semakin aku ingin bangun, semakin susah.
"Kamu, anakku? Bagaimana bisa? Bahkan saat anakku di ambil paksa, aku tak sempat melihatnya."
"Terserah mama. Aku cuma mau bilang, kalo sayang sama mama dan papa."
Tuba sosok itu menghilang bersamaan dengan ku yang tiba-tiba bangun.
Sungguh, semua terasa nyata! Tapi benarkah itu hanya mimpi? Kenapa semua terasa begitu nyata.
Benarkah gadis itu anakku?
****
Maaf kalo banyak typo. Makajh
__ADS_1