Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 232


__ADS_3

Aku dan Mas Febri berkunjung ke rumah para orang tua kami. Yang pertama kami kunjungan adalah rumah lek Sarman, yang memang letak nya paling dekat dengan rumah.


Masih ada sisa keriwehan di warung bekas acara kemarin. Para pekerja yang melepaskan segala asesoris dan tenda serta pelaminan belum selesai berkemas.


Anak-anak pun sibuk membereskan warung meski hari ini belom mulai beroperasi lagi. Kami berdua langsung menuju ke rumah lek Sarman yang berada di belakang warung.


"Assalamualaikum!", sapa kami saat memasuki rumah. Ternyata di dalam masih banyak kerabat yang membantu di dapur.


Ada acara apalagi????


"Waalaikumsalam!", sahut ibu-ibu kompak.


"Lha, manten anyar wes tekan rene neh?!", ledek salah satu ibu.


(Pengantin baru sudah sampe sini lagi)


"Hehehe iya budhe!", kataku. Setelah berbasa-basi dengan mereka, aku ingin menemui lek ku yang ternyata masih ada di dalam kamarnya.


"Mereka kecapean kali Nduk!", kata Mas Febri.


"Iya kayanya, jadi kita ngga usah nemuin mereka dulu?"


"Gampang nanti balik lagi. Sekarang kerumah Esa, baru nanti ke rumah ibuku!"


Aku pun menyetujuinya. Mungkin benar, kedua lek ku kelelahan setelah acara semalam.


Kami berdua kembali melesat menuju ke rumah ibuku. Ternyata di rumah hanya tinggal ibu dan Wibi. Bapak serta Esa sudah berangkat kerja dan sekolah.


"Masuk nduk, le!", kata ibu setelah kami mengucapkan salam tadi.


"Mba Bia....!", Wibi berlari meminta gendong padaku. Aku pun menyambutnya meski ada rasa pegal di pinggang ku karena ulah pak suami semalam.


"Wah, Wibi tambah Endut apa ya???", candaku.


"Wibi mam banyak mba!", celotehnya.


"Wibi, mba mu keberatan lho. Wibi kan udah besar!", kata ibuku agar Wibi turun dari gendongan ku.


"Ya udah, gendong om aja!", kata Wibi mengulurkan tangannya pada Febri. Febri pun menyambutnya.


"Kok om sih Wibi? Mas dong!", kata ibuku.


"Hehehe iya, mas Febi!", kata Wibi lagi. Lafal R nya memang belum lancar.


"Udah pada sarapan belom?", tanya ibuku.


"Udah Bu!", jawab kami.


"Jam segini udah keliling aja. Emang ngga capek?", tanya ibuku sambil melet minuman di hadapan kami berdua. Wibi masih anteng di pangkuan Febri.


"Capek sih Bu, tapi kan seneng. Lagi pula ngapain di rumah Mulu!", kataku. Ibu ku tersenyum tipis.


"Iya sih. Oh iya, sejak KB sama ibu waktu itu kamu ngga KB lagi kan?"


"Ya ngga lah Bu. Ada-ada aja!", kataku sambil terkekeh pelan.


"Berati ngga lama lagi ibu mau di kasih cucu dong?", ledek ibuku. Wajah ku memerah mendengar ocehan ibu. Yang bener saja. Baru nanam saham semalam, masa udah ngarepin keuntungan. Ada aja ibu mah!


"Doakan saja Bu! Di kasih cepat ya Alhamdulillah, kalo belum ya ngga apa-apa. Mungkin kita di suruh pacaran lagi Bu heheheh!", kata Febri.

__ADS_1


Tumben nih lempeng! Bisa bae ngambil hati orang tua. Beda banget kalo lagi berdua di kamar!


"Pacalan apa mas?", tanya Wibi. Aku dan ibuku pura-pura sibuk berdua. Biarkan saja Febri menjawab pertanyaan Wibi. Suruh siapa di mengatakan hal itu di depan Wibi yang memang masih serba ingin tahu.


Bukan Febri namanya kalo ngga banyak akal. Suhunya ngakalin orang kali 😆


"Pacaran itu, kaya gini. Mba Bia sama mas, berdua nih pacaran. Kan mba Bia sama mas udah besar, udah dewasa."


Bisa-bisanya mas Febri menggenggam tangan ku di depan Wibi. Sayang nya Wibi hanya mengangguk tipis.


"Belati bapak sama ibu juga pacalan? Suka pegangan tangan kaya gitu!", celetuk Wibi lagi.


Aku dan mas Febri hanya saling tukar pandangan.


"Udah, ngga usah bahas kaya begitu!", kata ibuku yang sepertinya nampak sedikit malu karena ucapan Wibi.


Setelah bercerita panjang lebar, kami pun pamit undur diri untuk pulang ke rumah ibu mertua ku. Sedikit lebih lama waktu tempuh ke sana jika dari rumah ibuku.


"Mas, belum beli apa-apa buat di bawa ke rumah ibu?"


"Ada, itu di belakang. Mas udah siapin!", kata mas Febri. Aku menoleh ke belakang, ternyata memang ada satu dus yang cukup besar.


"Isinya apa mas? Kapan belinya?"


"Yang jelas bukan beras, beras sama padi nya bapak udah banyak!", jawab nya sambil tertawa.


Apa sih yang di ketawain????


"Kayanya seneng banget sih? Segitu nya ketawa mas?"


"Seneng lah. Sudah punya istri!", jawab nya tanpa beban.


"Memang kenapa kalo udah punya istri, lagi?"


Aku menekankan kata lagi di ujung pertanyaan ku.


"Ya seneng aja. Udah ngga sendirian lagi. Udah ada yang nemenin tidur, ngelayanin makan, pokoknya mah seneng aja nduk!"


Aku pun hanya mengangguk. Dia mengusap kepala ku lalu mengecup sekilas.


"Lagi nyetir mas! Nanti kalo oleng gimana?", kataku saat ia sudah berada di posisi semula.


"Gitu doang mah ngga oleng nduk. Kecuali klo.....!", dia kembali menaik turunkan alisnya lagi.


"Ngga usah di lanjut!", kataku. Dia terkekeh sendiri.


Tak terasa, mobil kami sudah berada di halaman luas milik keluarga Bambang, mertuaku euy. Juragan padi !!


Kami berdua turun lalu menuju ke ruang tamu.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam! Eh, cah bagus, nduk ayu!", Bu Sri menghampiri kami.


Mas Febri meletakkan dus nya ke dapur.


"Dari rumah?"


"Dari keliling Bu. Abis dari warung lanjut ke rumah bapak Anton baru ke sini."

__ADS_1


Bu Sri merangkul bahuku. Mas Febri tampak langsung ke kamar mandi belakang.


"Gimana?", tanya Bu Sri. Aku yang bingung dengan pertanyaan 'gimana' pun hanya mengernyitkan alisku.


"Apa yang gimana Bu?"


"Pasti kepake kan apa yang ibu kasih kemarin???", kata Bu Sri tanpa beban. Dan benar saja, hal itu membuat wajahku memerah. Tapi aku juga menjawabnya dengan anggukan.


"Hehehe, Alhamdulillah kalo berguna. Kamu yang sabar! Namanya juga puasa lama, ya maklumin aja!", kata Bu Sri menepuk lengan ku pelan.


Aku tersenyum kaku.


Maklum lah Bu, maklum banget malahan! Batin ku.


"Udah pada makan?", tanya Bu Sri.


"Udah Bu!", jawab ku.


"Bapak ke mana Bu?", tanya Febri yang duduk di samping ku. Dia baru keluar dari kamar mandi.


"Gak tahu.Ngga bilang ke mana sih tadi!", jawab ibu.


"Eh, ibu mau ada arisan ibu-ibu RT an. Kalian istirahat saja di kamar. Nanti kalo ibu sama bapak balik, kita ngobrol lagi."


"Ibu , di datengin anak sama mantu malah di tinggal pergi!", celetuk Febri. Aku mencubit pinggang nya, yang bahkan tak bisa ku cubit.


"Halah! Paling Yo awakmu seneng toh Le. Nek ga enek ibu neng omah." Lalu beliau tertawa.


(Paling kamu seneng. Kalo ibu ga di rumah)


Febri tertawa lepas mendengarkan ucapan ibunya. Tapi tidak dengan ku. Entah apa yang mereka tertawakan.


"Yo wes. ibu berangkat dulu. Ajak Bia ke kamar Le!", pinta Bu Sri.


"Iya Bu!", sahut Febri.


"Ayok Nduk ke kamar!"


"Iya!", aku ngikut Bae lah. Sesampainya di kamar, ternyata sudah banyak yang berubah. Foto-foto almarhumah Aisyah juga sudah tak ada.


Usai mengunci pintu, Febri memeluk ku dari belakang.


"Mas!"


"Apa?", tanyanya.


"Ngga usah macem-macem deh!"


"Hahahaha kok tahu aja sih?"


"Tahu lah, udah kebaca!"


"Masa sih??? Ya udah deh. Istirahat aja, kamu pasti juga capek. Kurang tidur kan semalam."


"Heum!", kataku. Dia pun melepaskan pelukannya dari ku.


Aku melepaskan pashmina ku lalu berbaring di ranjang yang pernah aku tiduri beberapa waktu lalu. Mas Febri menyalakan kipas anginnya.


"Cuma tidur ya mas, ngga usah aneh-aneh!", kataku.

__ADS_1


"Ya Allah, su'uzon aja sama suami!", katanya. Dan setelah itu ia pun turut berbaring di samping ku. Kami benar-benar istirahat siang ini.


__ADS_2