
Alby kembali ke kamar rawatnya. Sebenarnya ia ingin sekali menemani Bia. Tapi mungkin tidak untuk saat ini.
Hari sudah menjelang pagi, tapi Alby masih belum bisa memejamkan matanya lagi.
"Tos hudang maneh By?", tanya teh Mila.
(Sudah bangun kamu By?)
"Teu tiasa sare teh!", jawab Alby masih dengan tatapannya ke langit-langit kamar nya.
(Ga bisa tidur teh)
"Oh...mikirin neng Bia lin?"
Mila bangkit dari bangkunya.
"Muhun teh. Karunya si neng ,teh!", kata Alby dengan mata berkaca-kaca.
(Iya teh. Kasian si neng, teh)
"Sabar atuh jang. Insya Allah ngke ge di bere deui ku Gusti Allah."
(Sabar Jang. Insya Allah nanti juga di kasih lagi sama Gusti Allah)
Tak ada sahutan lagi dari Alby.
Semoga kesempatan itu ada Teh, batin Alby.
"Teteh solat subuh dulu ya!", kata teh Mila sambil berpamitan keluar dari kamar Alby. Alby mengangguk tipis. Teh Mila lebih memilih solat subuh di mushola rumah sakit dari pada di ruangan ini.
Alby menengok ke brankar sebelahnya. Tampak sang istri mudanya masih memejamkan matanya. Wajahnya masih pucat. Di usia mudanya yang masih awal dua puluhan itu dia harus merasakan jadi ibu hamil.
Alby meraih ponselnya, mencoba menghubungi Bia.
Aku sudah duduk di brankar ku. Mak juga sudah bangun, bahkan memberikan ku teh hangat yang mas Febri beli tadi sebelum subuh.
"Makasih mas, sudah mau nemenin aku dan Mak semalaman."
Mak pun mengangguk setuju.
"Makasih ya nak Febri."
"Sama-sama Nduk, Mak."
Pria gagah itu melempar senyum pada ku dan Mak.
"Tapi maaf, saya langsung pulang ya. Hari ini ada apel di markas. Jadi, ngga bisa nemenin Bia. Insyaallah nanti habis anterin Ika, saya kesini lagi."
"Ngga usah di paksakan mas. Kamu sibuk! Aku ngga apa-apa. Ada Mak yang nemenin kok!"
"Ya nak Febri. Ngga usah cemas, ada Mak. Alby juga sepertinya sudah mulai membaik kok!"
Skak mat!
Siapa Lo Feb??? Febri memaksakan diri untuk tersenyum.
"Iya Mak!"
Aku tahu ucapan Mak menyinggung perasaan Febri dan sepertinya Mak tak menyadari itu.
"Ya udah, nanti kalo memang Ika ngga ada kuliah, ajak aja ke sini. Kalo ada Ika, suasana nya rame."
Senyum Febri pun terbit.
"Iya Nduk! Kalo gitu,saya pamit ya Mak. Nduk!", Febri menyalami tangan Mak.
Tapi ragu-ragu untuk sekedar menyentuh ku. Ya, harusnya memang tak boleh kan?
__ADS_1
Sayang nya itu hanya dalam pemikiran ku. Tangan Febri terulur mengusap kepala ku.
"Cepat pulih!", kata Febri sambil tersenyum.
"Assalamualaikum!", pamit nya.
"Walaikumsalam!", sahut aku dan Mak.
Sepeninggal Febri, Mak menggenggam tangan ku.
"Neng, boleh Mak tanya?"
Ku tatap mata hazelnya.
"Naon Mak?"
"Apa kemarin neng ke kamar Alby?"
Aku terdiam sesaat. Lalu mengangguk.
"Apa karena kamu lihat ada Silvy di dalam, di rawat dalam satu ruangan dengan Alby?"
Aku mengangguk lagi.
"Bisa cerita ke Mak, hal apa yang membuat kamu bisa seperti ini?"
Perlahan aku melepaskan genggaman tangan Mak.
"Neng, neng udah anggap neng anak kandung Mak sendiri. Semua yang neng alami juga karena Mak. Jadi tolong, beri tahu Mak. Mak akan semampai merasa bersalah sama neng. Mak sudah berusaha untuk bersikap tidak ada apa-apa. Tapi Mak ngga bisa. Buat Mak, neng udah seperti anak kandung Mak."
Perempuan yang berusia lima puluh tahunan itu menunduk, ku lihat ada lelehan air mata di pipinya. Mungkin dia ingin berbicara padaku dari kemarin. Tapi, keberadaan Febri mengurungkan niatnya.
Belum sempat ku katakan, pintu kamar ku terbuka. Alby masuk ke dalam ruangan ku.
Mata ku dan alby saling bertemu. Ada cinta di mata kami?
"Neng!", Alby menyapa ku mendekati brankar.
"Ya udah, Mak keluar dulu. Kalian bicara saja. Neng nanti cerita ke Mak ya?", kata Mak mengusap kepala ku. Aku mengangguk pelan.
Sekarang, aku dan Alby hanya berdua di ruangan ini.
Alby hampir menyentuh tangan ku, tapi aku menghindar. Ku dengar helaan nafas dari mulut suamiku.
Dia mendudukkan dirinya di pinggir brankar, duduk berhadapan dengan ku.
"Gimana keadaan neng? Sudah lebih baik?", tanya Alby pelan.
"Iya."
Ku jawab singkat. Aku memalingkan wajah ku ke arah lain. Sungguh, aku tak mau nanti ku rasa goyah setelah menatap matanya.
Alby menakupkan kedua tangannya di wajah ku.
"Lihat Aa!", paksa alby. Mau tak mau, aku menatapnya. Tapi hanya beberapa detik. Aku bermaksud menurunkan tangannya dari pipiku. Tapi nyatanya, tangan Alby cukup kuat bertengger nyaman di pipi chubby ku.
"Bisa cerita sama Aa? Pasti ada sesuatu yang membuat neng seperti ini? Apa ini ada hubungannya dengan Aa?", tanya Alby sambil menatap mata ku.
"Untuk apa Aa masih di sini? Kenapa tidak menemani Silvy saja? dia lebih membutuhkan mu, bukan aku!"
"Neng...!", ucap Alby lirih bahkan sangat lirih.
"Mari kita berpisah A!", kataku sambil melepas tangan Alby dari pipiku. Takupan itu meluruh perlahan dari pipiku tanpa ku paksa seperti tadi.
"Aa ngga suka neng bicara seperti itu!"
"Aku tidak peduli Aa suka atau ngga. Yang pasti, aku hanya ingin kita berpisah. Cukup sampai di sini!"
__ADS_1
"Apa maksud neng? Ngga usah ngaco! Kita udah janji akan memperbaiki semuanya. Aa tahu kamu kecewa, kamu sedih kehilangan calon anak kita. Aa paham neng! Tapi jangan bicara seperti ini!", Alby menggenggam tangan ku.
"Tidak ada janji-janjian. Berhenti berjanji. Cukup kamu mengingkari janjimu sama aku. Tapi jangan pada Silvy dan calon anak mu!"
"Maksud neng apa sih?", Alby masih saja menanyakan hal tidak penting itu.
"Aku dengar kok A, dengan sadar mendengarnya! Aku rasa, perpisahan kita adalah yang terbaik. Silvy akan mendapatkan apa yang dia mau. Begitu pun kamu! Kamu ngga usah repot-repot untuk memikirkan bagaimana bersikap adil pada kedua istri mu. Tidak perlu A!"
"Kamu ngga akan pernah ninggalin Silvy dan anak kamu. Itu janji kamu! Jadi, tolong dengan amat sangat, lepas kan aku A!", lanjut ku.
"Neng! Sudah aa bilang, sampai kapan pun Aa ngga akan ningalin neng!"
"Tapi aku yang akan pergi!", kataku dengan suara lantang ku.
"Cukup neng!"
"Apa? Kenapa? Kamu mau aku bertahan dalam hubungan toxic ini? Ngga! Kalo kamu memang cinta sama aku A, harusnya kamu ngijinin aku bahagia A. Ngga kaya gini!"
Setelah meluapkan emosi ku, aku tergugu dalam dekapan alby. Dada seseorang yang selama ini menjadi tempat ternyaman tapi saat ini justru menjadi penyebab sakit hatiku.
"Ngga neng, jangan pernah bicara seperti itu. Neng tahu , Aa cinta sama neng. Sayang sama neng! Tolong jangan pernah bicara perpisahan sama Aa lagi neng."
Untuk beberapa saat kami saling diam. Sampai akhirnya ku katakan hal yang mungkin menyakitkan bagi kami berdua.
"Mungkin ini cara Tuhan memberikan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan ku selama ini. Mungkin DIA mengambilnya dari rahim ku agar aku sadar, kita tidak bisa bersama. Tidak lagi ada alasan aku harus bertahan dengan pernikahan kita!"
Dada Alby memegang. Dia sama sekali tak menyangka jika istri pertamanya akan berpikir seperti itu.
"Cukup neng! Anak itu rejeki, dan kita pasti akan mendapatkannya lagi neng. Jangan bicara seperti itu lagi. Aa mohon!"
"Aa akan segera mendapatkan anak, tapi bukan dari aku."
"Neng!", bentak Alby.
"Aku capek A. Aku menyerah!"
Kalimat itu yang Alby dengarkan semalam saat istrinya sedang bersama Febri.
"Tolong neng. Beri Aa kesempatan untuk membuktikan...."
"Cukup A! Cukup!"
"neng....!", Alby mencoba meraih bahuku tapi aku mengelak.
"Aku akan segera mengajukan gugatan perceraian kita. Silahkan Aa mau mencoba untuk mempersulit dengan menyembunyikan dokumen ku atau apa pun itu. Aku punya uang, aku bisa membayar pengacara untuk menyelesaikan semuanya!"
Hati Alby mencelos. Baru kali ini ia mendengar istrinya menyombongkan dirinya bahwa dia memiliki kekuatan uang. Tidak seperti dirinya yang hanya orang biasa, tapi berlagak seolah dia memiliki segalanya untuk membahagiakan Bia.
"Neng!", pipi Alby mulai basah. Aku tahu itu! Tapi aku tak ingin lagi melihat air mata itu. Aku takut aku luluh dan kembali goyah.
Dengan paksa, Alby meraih ku lagi dalam pelukannya. Kali ini aku tak sanggup lagi untuk menolaknya. Kami berdua menangis dengan saling berpelukan.
Kenapa? Kenapa semua harus seperti ini. Apa ini akhir dari perjalanan pernikahan kami?
Tanpa di sadari keduanya, Sakti berdiri di depan pintu. Ia tak sengaja menjadi pendengar obrolan sepasang suami istri itu.
Entah apa yang sakti rasakan saat ini. Ada rasa sakit melihat wanita pujaannya menangis seperti itu, tapi ...ada secercah harapan di dalam hatinya. Tidak munafik bukan? Andai Bia lepas dari belenggu cinta Alby yang hanya menyakiti hatinya, bukankah lebih baik jika Bia lepas dan mendapatkan kebahagiaan. Meski nanti, bisa saja kebahagiaan itu tidak bersama dirinya????
****
Semoga ga kelamaan di review sama mimin ya 🤭🙏. Maaf kalo banyak typo ya 🙏
Makasih yang udah berkenan ngintip sampai di sini. Udah di atas 100 eps ternyata 🤭 Alhamdulillah 🙏🙏🙏
Makasih juga buat komen dan jangan lupa like nya ya 🙏🙏🙏🤭
Tengkyu juga buat para silent reader's, apalah arti nya tulisan receh mamak ini tanpa kalian pembaca setia ku. 😁🤗🙈🙈🙈🙈. Padahal tulisan ini masih amat amburadul. Era Ning urang teh! 🙈
__ADS_1