Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 147


__ADS_3

Aku sudah memarkirkan sepeda motorku di halaman warung. Suasana warung cukup ramai meski tidak seramai weekend.


Aku memilih langsung masuk ke ruangan lek Sarman.


"Dari mana aja kamu nduk?", tanya Lek Sarman.


"Dirumah wae lek. Kan hujan, ini baru dari bengkel."


"Oh, ya wis. Sana makan dulu ke rumah, lek Dar masak rendang daging di rumah."


Lek Sarman berdiri meninggalkan keponakannya itu.


"Iya lek!"


Aku pun menuruti perintah untuk pulang ke rumah. Benar saja di rumah Lek Salman sudah disediakan masakan yang aku suka. Tapi...memang semua yang Lek Dar masak, aku suka. Makanya warung tambah ramai karena kontribusi dari lek Dar.


Usai makan soreku, bukan makan malam ya...aku pun masuk ke kamar yang memang di sediakan untukku. Meski rumah lek Sarman tak sebesar rumah ku, tapi aku benar-benar merasa nyaman disini. Mungkin karena penghuni dan pemiliknya yang membuat suasana nyaman.


Sudah hampir magrib, tapi kondisi ku yang belum mulai solat membuat ku santai saja. Setelah azan magrib berlalu, aku pun menuju ke warung untuk membantu kedua lek ku. Alhamdulillah, benar saja. Ternyata mereka memang sibuk, itu artinya warung ini makin ramai. Tidak hanya melayani pelanggan di tempat, tapi kami juga menyediakan jasa delivery order ya... walopun memang jarak yang kami terima tak terlalu jauh. Masih di area kabupaten yang masih mudah di jangkau karyawan kami.


"Kok ke sini Nduk?", tanya lek Dar.


"Pengen bantu Lek."


Lek Dar tersenyum tipis.


"Ya wis, bantu itu yang di depan. Lek mau bantu kang masak dulu. Kasian kalo keteteran."


"Iya lek!"


Aku pun membantu anak-anak untuk menghampiri pelanggan yang sudah siap memesan masakan warung kami. Karena aku tak memakai seragam, aku mengambil celemek lalu kuikatkan ke pinggang ku.


Ku hampiri meja yang belum meminta pesanan.


"Selamat malam", sapa ku pada sekelompok laki-laki dan perempuan yang sepertinya mereka bukan asli orang sini.


"Selamat malam mba....woiih... pelayannya cakep bener nih! Kenalan dong!", kata salah seorang laki-laki di antara mereka.


"Maaf mas, mba...sudah pesan makanan?", tanya ku ramah.


"Cih...sombong amat sih mba, berasa cantik banget Lo ya?" sahut perempuan yang di sebelah laki-laki itu.


"Ya emang dia cantik Met!", celetuk si laki-laki yang mengajakku berkenalan tadi.


"Maaf, saya tanya sekali lagi, mau pesan apa?", tanya ku masih berusaha bersikap ramah.


"Udah-udah, gitu aja debat. Buruan pesan, kasian meja yang lain tuh. Lagi rame nih warungnya." Salah seorang laki-laki yang terlihat paling rapi di antara mereka semua.


Mereka memesan makanan yang ada di menu andalan warung kami.


"Tunggu mba!", panggil perempuan yang di sebelah laki-laki tadi.


"Ya? Ada lagi mba?"


"Kayanya gue pernah liat muka Lo di IG nya... William Adiraja bukan sih?"


Aku menghela nafas.


"Heum, iya...!", jawab ku.


"Wuih ...jadi benar dong Lo ceweknya William si selebgram itu?", tanya si cewek yang tadi ketus padaku.


"Bukan!", jawabku singkat.


"Mba, mba Bia. Biar saya yang lanjutin mba."


Tiba-tiba karyawan ku menghampiri ku.


"Kamu udah selesai?", tanyaku pada karyawan ku.


"Sudah mba, biar saya saja."


Aku pun memberikan daftar pesanan meja tadi.


"Silahkan di tunggu ya mba, mas!", kataku pada penghuni meja itu. Mereka tercengang beberapa saat. Aku pun meninggalkan meja itu lalu menuju ke dapur.


"Mba, memang dia siapa?", tanya si cewek judes tadi.


"Oh, itu mba Bia. Pemilik warung ini!"


"Apa????", pekik mereka semua.


"Iya , kenapa mba? Mas?"


"Masih single?", celetuk yang lain.


"Udah nikah lah mas!", kata si pelayan."Masih ada lagi yang mau di pesan?", lanjut nya.


"Ngga!", jawab mereka kompak.


Si pelayan pun meninggalkan meja itu lalu memberikan pesanan itu pada rekannya di dapur.


Ternyata di dapur cukup sibuk, tapi lek Dar malah meminta ku untuk ke rumah saja. Ya... akhirnya aku pun manut untuk balik ke rumah lek Dar.


Masih jam setengah delapan malam. Aku menyibukkan diri untuk memainkan ponselku, benar-benar pengangguran kelas kakap!


Melihat aplikasi berwarna hijau itu, aku mulai berpikir. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Alby selama aku memblokir nomor nya? Kenapa perasaan ku ngga enak ya? Sebenci apapun pada Alby, bohong sekali kalo aku ngga peduli!


Dengan ragu, aku membuka aplikasi hijau ku itu. Ya ... serentetan pesan dari Alby memenuhi room chat ku. Alby masih saja menghujani ku dengan kalimat yang itu-itu saja!


Baru ku letakkan ponselku, ponsel ku berdering. Alby yang menghubungi ku. Gercep banget dia ya, sampai bisa langsung tahu jika aku membuka blokirannya.


[Assalamualaikum]

__ADS_1


[Walaikumsalam neng. Ya Allah neng, akhirnya neng buka blokiran Aa]


[Ada apa lagi?]


[Neng, Aa mau ketemu neng. Tolong ya neng!]


[Udah ngga ada lagi yang perlu di omongin. Insyaallah keputusan ku udah bulat, jadi aku mohon jangan bikin ragu lagi]


[Neng, Aa tahu Aa sudah bikin kesalahan besar neng. Tapi aa mohon, beri kasih Aa kesempatan buat menjelaskan semuanya]


[ Ngga ada lagi yang perlu di jelaskan karena aku sudah tahu apa yang akan kamu bilang]


[Dokter yang menangani Silvy memberikan pilihan buat Aa. Siapa yang akan di selamatkan, Silvy atau bayinya]


Deg! Dadaku terasa sesak. Walaupun aku membenci Silvy karena kehadirannya sudah mengacaukan hidup ku, tapi sisi kemanusiaan dan naluriku sebagai ibu sekaligus perempuan tentu turut prihatin.


[Silvy minta bayinya yang di selamatkan, sedang aa minta Silvy yang harus diselamatkan lebih dulu. Karena jika Silvy sembuh nanti dia masih bisa memiliki anak lagi entah dari lelaki manapun yang kelak akan menjadi suaminya. Tapi jika bayi itu yang di selamatkan, tentu saja bayi itu tidak akan pernah merasakan kasih sayang ibu kandungnya sendiri]


Alby menjelaskan panjang lebar, tapi entah kenapa hatiku merasa tercubit. Aku perempuan, aku seorang ibu. Begitu pula Silvy! Meski dia masih mudah, buka berati dia tak memiliki naluri seorang ibu yang ingin menyelamatkan bayinya di bandingkan dirinya sendiri. Tapi...bayi itu juga punya hak yang sama untuk hidup dan menjalani masa depannya bukan?


[Kamu jahat!]


Dua kata itu keluar dari mulut ku, mungkin spontanitas setelah aku mendengar ucapan Alby.


[Neng!]


[Stop! Kamu ingat, apa yang sudah kamu janjikan pada Silvy sebelum aku benar-benar kehilangan bayiku? Kamu janji tidak akan meninggalkan mereka, tapi ini apa??? Belum cukup kamu kehilangan bayi dari rahim ku? Kamu juga mau menghilangkan nyawa bayimu dari rahim Silvy hanya untuk berusaha kembali padaku? Kamu sama sekali ngga pikirin bagaimana kondisi Silvy setelah itu? Ckkkk...aku memang benci dengan perencanaan yang sudah menghancurkan rumah tangga ku, tapi aku seorang perempuan. Aku seorang ibu! Aku tahu rasanya seperti apa di posisi itu! Dan dengan entengnya kamu bilang, kamu memilih Silvy untuk melanjutkan hidupnya setelah kamu melepaskan nya, begitu??? Kamu....!!! Kamu laki-laki paling jahat yang pernah aku kenal Alby!]


[Astaghfirullah neng!]


[Cukup! Tidak bisakah kamu buka hati nurani kamu? Ya, aku tidak sedang sok baik dan sok bijak. Tapi...aku...aku memposisikan diri ku sebagaimana Silvy sekarang. Kamu bukan mendukungnya malah menjatuhkan mentalnya dengan kalimat pedas kamu! Seandainya kamu paham, kamu sadar dengan ijab Kabul yang sudah kamu ucapkan di depan penghulu...kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Aku rela melepaskan mu demi kamu yang juga berkewajiban pada Silvy dan anakmu]


[Kamu ngomong apa sih neng! Aa cuma ingin yang terbaik, hanya itu jalan satu-satunya]


[Kamu tanya aku ngomong apa? jadi kamu ngga dengar dari tadi aku ngomong apa hah? Maaf, aku kasar! Aku bukan lagi istri kamu yang lugu dan selalu mengiyakan apa pun perkataan mu meski menyakiti diri ku sendiri. Aku capek! Dan...aku harap, sebagai seorang ayah sebagai seorang suami yang baik, berusaha lah untuk memperjuangkan ibu dan calon anakmu. Karena aku sudah tidak akan bisa lagi melakukannya untuk kamu, Alby!]


[Cukup neng! Aa pikir setelah Aa cerita seperti itu, neng akan berubah pikiran. Tapi ternyata aa salah! Kamu kekeh ingin lepas dari Aa bukan hanya karena Silvy kan? Tapi karena Febri yang sudah getol deketin kamu lagi, iya kan???]


[Ngga usah bawa-bawa orang asing di masalah kita. Harusnya kamu sadar kalo semua itu berawal dari kamu. Jangan coba-coba mengkambinghitamkan orang lain]


[Kamu berubah neng!]


Tut...Tut...Tut...


Alby menutup panggilannya sepihak. Aku mengelus dadaku. Sungguh, kali ini aku kembali emosi jiwa.


Aku tak menyangka sama sekali jika Alby berubah begitu cepat, bukan Alby yang ku kenal selama ini. Dan aku??? Aku bisa bicara sekasar itu pada suamiku sendiri????


Aku mengusap kasar wajah ku. Menyesal aku membuka blokir kontak Alby. Tahu akan seperti ini, lebih baik tadi aku tak usah membukanya. Tapi sudah terlanjur seperti ini, aku bisa apa?


Ditengah sibuk nya memikirkan Alby dan silvy, ingatanku kembali teringat akan ucapan Ali tadi. Ya, aku harus ngomong sama Febri. Sejauh apa dia menceritakan tentang mereka pada keluarganya. Memalukan!!!!


.


.


"Siapa?", tanya Anika bingung.


"Siapa lagi kalo bukan Silvy lah An...!", sahut nya kesal.


"Gue ngga tahu!", Anika mengangkat bahunya.


"Udah kelar nih, balik yuk!", ajak teman Anika yang lain.


"Oke, duluan aja. Gue nunggu jemputan!", sahut Anika lalu melambaikan tangan nya pada kedua temannya itu.


Beberapa menit berlalu sampai akhirnya dua orang cowok menghampiri Anika.


"Hai!", sapa cowok itu sambil duduk di depan Anika. Anika yang sedang memainkan ponselnya pun mendongak sebentar,lalu kembali menunduk fokus dengan ponselnya.


Dua cowok yang ada di depan Anika merasa kesal karena merasa di kacangin oleh Anika. Dia menggebrak meja Anika membuat gadis itu terlontar kaget.


"Lo siapa? Ngapain gebrakin meja gue?", tanya Anika.


"Ckkk...ngga usah sok kecakepan Lo!", sahut teman si cowok.


"Apaan sih? Ngga jelas!", Anika kembali fokus pada ponselnya sampai-sampai tanpa Anika sadari si cowok itu merebut ponsel Anika.


Sreeet ...


"Eh...eh?? Hei, balikin hp gue!", pekik Anika. Kondisi kafe cukup ramai sebenarnya, tapi sepertinya orang-orang enggan ikut campur dengan kejadian di meja itu.


"Balikin hp Lo? Lo pikir gampang?", ledek si cowok tengil yang menggebrak mejanya tadi.


"Gue ngga ada urusan sama kalian, jadi tolong balikin hp gue. Sebelum....", ucapan Anika terpotong.


"Sebelum Lo, c*** gue di sini!", kata si cowok tadi. Tawa keduanya pecah setelahnya.


"Jaga ucapan kalian!", suara bariton seorang laki-laki menghampiri Anika. Ya, tentu saja kakak Dimas tidak terima jika kekasih sekaligus anak atasannya itu di perlakukan seperti itu.


"Wuih... bodyguard Lo nih?", ledek si cowok yang lain.


"Ada apa,dek!", tanya Febri dan Seto yang menyusul Dimas. Dimas memang lebih dulu menghampiri meja Anika setelah ia mendapat chat bahwa teman-teman Anika sudah pulang.


Nyali kedua cowok tadi menciut seketika melihat kedua teman bodyguard Anika, yang mereka pikir seperti itu.


"Tahu nih mas, tiba-tiba aja mereka gebrak meja ku", adu Anika. Setelahnya, Anika menggenggam tangan kekasihnya.


"Ada masalah apa kalian sama dia?", tanya Dimas dengan mode tegasnya.


"Eum...kita....cuma mau ajak kenalan aja tadinya tapi ngga jadi...", jawab salah satu cowok.


Dimas mendekati dua ABG yang seumuran dengan Anika itu.

__ADS_1


"Kenalan?", tanya Dimas lirih tapi justru terdengar seram di telinga dua bocah itu. Terlebih, di pinggang Dimas ada tas kecil yang di pastikan itu isinya.....


"Ngga jadi deh pak...A...ayo cabut!", ajak salah seorang cowok menarik lengan sahabatnya. Tapi....sreeet! Dimas menarik cowok yang berada di belakang.


Dua ABG itu tampak ketakutan. Dan hal itu menjadi tontonan pengunjung kafe.


"Mau ke mana?", tanya Dimas dengan wajah datarnya lagi. Seto dan Febri yang paham kekesalan Dimas pun tak ikut campur, berbeda lagi jika sedang bercanda.


"Udah kak...!", Anika menahan lengan Dimas satu lagi.


"Kalian! Minta maaf, sekarang!", kata Dimas lirih tapi begitu tegas. Cocok dengan postur tubuhnya yang tegap. Kedua abg itu pun menuruti.


"Gue minta maaf!"


"Gue juga!", kata yang satunya. Dimas melepaskan tangan dari lengan cowok itu.


"Udah kak...udah, mereka udah minta maaf kok!", rengek Anika lagi. Dimas pun membiarkan dua ABG itu pergi sedikit berlari.


"Pulang!", ajak Dimas sambil menggandeng tangan kekasihnya itu. Febri dan Seto menggeleng pelan sambil mengikuti dari belakang.


Langkah Anika sedikit terseok-seok mengikuti langkah kaki jenjang milik Dimas. Tinggi tiga pria itu memang cukup menjual di bandingkan dengan Anika yang mungil.


"Kak Dim marah ya?", tanya Anika sambil menusuk-nusuk lengan keras Dimas. Tak ada sahutan dari Dimas.


Febri dan Seto memilih menjauh dari mereka terlebih dulu.


"Kalian ngomong dulu deh, kita tunggu di mobil. Udah malam, nanti di omelin bapak!", ujar Seto mengingatkan keduanya.


Dan di area parkir, sepasang kekasih itu berdiri.


"Kak Dim marah sama Ika?", tanya Ika sambil mendongak menatap kekasihnya itu.


"Menurut kamu?", tanya Dimas balik.


"Maaf!", kata itu keluar dari mulut Anika.


"Kakak kan udah bilang, kalo mau ke mana-mana bilang dulu! Kejadian kaya gini yang kakak ngga mau, dek! Bukan karena kakak takut sama bapak, bukan! Tapi kakak ngga mau terjadi apa-apa sama kamu!"


"Maaf!", kata Anika lirih, lalu memeluk tubuh kekar itu. Anika menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dimas.


"Lain kali jangan begini dek. Kakak khawatir!", Dimas mengecup puncak kepala Anika.


"Ya kak, maaf!", ulang Anika.


"Kakak maafin, tapi kakak masih kesal kenapa adek baru bilang minta di jemput setelah kamu sendirian. Kenapa ngga pas teman-teman mu masih di sana."


"Ya kak, Ika minta maaf. Udah dong!", rengek Anika sambil masih memeluk kekasihnya itu.


Dimas menghela nafas.


''Ya udah pulang! Udah malam!", kata Dimas melepaskan pelukan Anika.


"Iya...!", sahut Anika lirih. Dimas kembali menggandeng tangan kekasihnya.


"Coba aku masih temenan sama Silvy ya kak."


"Ya udah, kenapa kalian ngga baikan aja? Yang bermasalah kan Silvy sama Bia, kenapa kamu malah ikut putusin persahabatan kalian?"


"Ih...kak, aku ini perempuan lho. Wajar dong kalo aku ikut kecewa sama kelakuan sahabat aku!", sahut Anika manyun.


Dimas merengkuh bahu kekasihnya yang jauh lebih pendek darinya.


"Iya, kakak tahu. Itu hak adek! Tapi...emang bener Adek udah ngga peduli sama Silvy? Dia lagi sakit lho!", ujar Dimas.


"Sakit? Kok kak Dimas tahu?", tanya Anika heran.


"Tadi waktu dari rumah sakit abis anterin temen berobat, kakak ngga sengaja denger percakapan mas Alby sama mas Sakti. Tadinya sih, kakak mau nyapa mas sakti. Tapi mas sakti nya keburu ngobrol sama Alby. Dan....ya itu...Silvy sakit."


Anika terdiam tak menyahuti lagi ucapan Dimas.


"Kalo adek mau, besok kakak anterin adek ke sana buat jenguk Silvy!", kata Dimas. Anika menatap balik kekasih nya itu.


"Tapi...aku kecewa sama Silvy kak!"


"Kakak tahu, tapi ngga ada salahnya memperbaiki hubungan kalian. Siapa tahu...dia akan memperbaiki semuanya setelah kalian dekat lagi. Dan ...mba Bia bisa balikan sama Alby!"


"Eh...Big No! Oke, aku harap Silvy bisa berubah tapi kalo berharap mba Bia sama Alby lagi, ngga mau! Ngga boleh!", kata Anika.


Dimas mencubit hidung pesek Anika dengan gemas.


"Ssssttt...udah yuk pulang!"


Sepasang kekasih itu mendekat ke mobil. Seto yang mengendarai mobil, Febri di samping nya sedangkan sepasang kekasih itu duduk di bangku penumpang.


"Wes bar?", tanya Seto setelah keduanya duduk di bangku belakang.


(Sudah selesai)


"Wis!", sahut Dimas singkat.


Tak ada cuitan apa pun dari Anika. Mungkin gadis itu kelelahan, benar saja baru masuk mobil matanya sudah merem. Ketiga cowok ganteng itu hanya menggeleng.


Dering ponsel Febri tiba-tiba memecah kesunyian di dalam mobil. Mata Febri berbinar saat mengetahui siapa yang menghubunginya. Dua sahabatnya paham sekali, siapa si penelepon.


[Assalamualaikum Nduk]


[Walaikumsalam masssss!]


Febri menjauhkan ponselnya dari telinga. Bahkan Seto yang ada di belakang kemudi pun sampai mendengar suara dari dalam ponsel Febri.


*****""


🙏🙏😉😉😉 makasih ✌️

__ADS_1


__ADS_2